Bab 10 - Hanya Aku
Siang ini begitu terik. Lapangan basket sekolahnya sesak dengan lalu lalang siswa yang tengah berolahraga. Raina duduk sendirian di tribun, setelah menyelesaikan lari keliling lapangan lima kali. Hari ini ia terlambat datang, pun tak membawa baju olahraga ganti. Itu sebabnya, dirinya dihukum sekarang.
Raina merasa sendirian di tengah keramaian. Semua orang hanya mengenalnya dari permukaan. Tak ada yang menanyakan bagaimana tidurnya semalam, atau apakah ia makan dengan tenang tanpa suara bentakan Ibu dan rengekan adiknya meminta ini itu. Teman-temannya hanya tahu Raina yang kuat, tetapi tak pernah peduli pada kerapuhannya. Itu membuatnya semakin yakin, bahwa sakitnya terlalu dalam untuk bisa dipahami orang lain.
Raina mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. Lalu, merapikan lengan kemejanya yang sedari tadi setengah ia gulung. Sementara itu, netranya sibuk menatap teman-teman sekelasnya yang tertawa riang mendengar bayolan sang guru. Ia menatap dengan pandangan getir, merasa ada sesak di dadanya.
Pagi tadi, ia kebingungan mencari di mana seragam olahraganya. Ternyata, masih ada di bak cucian, padahal Raina yakin sudah dicuci jauh hari. Naya datang dengan muka lesu. Ia bercerita, jika menjatuhkan beberapa pakaian saat membantu sang ibu mengangkat jemuran kemarin. Salah satunya, seragam Raina. Saat itu, Raina marah.
"Bajunya mau dipakai, Nya. Kenapa nggak bilang dari kemarin kalau kotor? Kan, bisa Mbak cuci lagi," kata Raina sedikit marah. "Nanti Mbak ada praktek lari lagi. Masa gak bawa baju olahraga, gimana nasib nilai, Mbak?"
Ibu baru datang dari warung. Membawa bahan belanjaan dan jajanan kesukaan Naya untuk dibawa bekal ke sekolah.
"Aku gak tahu, Mbak, maaf," jawab Naya sembari menunduk.
"Itu bukan salah adikmu. Lagian adikmu itu niatnya baik, bantuin Ibu angkat jemuran. Kamu gak usah marah-marah. Naya gak salah." Ibu membela.
"Tapi, hari ini aku ada praktek olahraga, Bu. Baju itu dipakai, wajib. Nanti nilaiku hilang dong."
"Ya, kan, bisa minjem temanmu. Ribet amat," jawab Ibu dengan nada ketus. "Naya, ayo! Ibu anter sekolah. Jangan bandel-bandel!"
Raina mengelus dadanya pelan. "Bu, ini aku gimana?"
"Ya, gimana? Itu juga salah kamu sendiri, udah tau bajunya dipakai malah gak diangkat dari jemuran. Kamu sendiri yang harus mikir konsekuensinya. Makanya, jadi anak cewek tuh harus sat-set sendiri. Jangan apa-apa nungguin ini itu dulu!" Ibu memasukkan kotak bekal ke tas Naya. "Ayo, Nya!"
Setelah itu meninggalkan Raina sendirian masih duduk di dapur.
"Jangan lupa kunci pintu kalau berangkat sekolah, Mbak!"
Sejauh apapun Raina berusaha mencoba, pasti akan dianggap salah terus. Raina tidak mendapatkan kesempatan untuk bersuara, meski kebenaran yang ada seperti itu. Yang dipikirkan oleh ibunya hanya Naya, Naya, dan Naya.
Raina meneguk minum dari tumblr. Tiba-tiba ia teringat Aska. Hanya Aska yang berbeda. Lelaki itu, dengan caranya yang sederhana, selalu tahu kapan Raina sedang menahan tangis. Ia tidak perlu banyak bertanya, cukup duduk di sampingnya, memberi ruang agar Raina bisa bernapas tanpa harus berpura-pura.
Beberapa hari lalu, Aska mengajaknya berbelanja kebutuhan tugas kuliah lelaki itu. Berbagai buku masuk keranjang, Raina tidak tahu apa saja. Selain itu, beberapa novel pun masuk ke keranjang lelaki itu, sayangnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk Raina. Katanya, buku-buku bacaan itu bisa dijadikan teman kesepian. Memang benar, Raina suka membaca buku, ia bersyukur Aska memberinya cuma-cuma hari itu. Setelah dari toko buku, keduanya mampir di salah satu kedai pinggir jalan. Tidak ramai, tapi ada berbagai figur action terpajang sebagai hiasan. Raina bergumam, ia menatap figur action itu mengingatkan pada seseorang.
“Kak, kalau aku hilang suatu hari nanti,kira-kira ada yang nyariin nggak, ya?” suara Raina pelan, hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh dunia.
Aska menoleh, menatap wajah yang menunduk itu. "Nggak. Kamu nggak bakal hilang. Kamu nggak akan ke mana-mana. Kakak nggak bakal ngizinin kamu pergi.”
Jawaban itu seharusnya menghibur, tetapi hatinya berdesir perih. Sebab ia tahu, tak ada yang benar-benar bisa menahan seseorang untuk tetap tinggal ketika luka sudah terlalu dalam. Raina berteriak dalam hati. Kenapa hanya ia yang harus tahu rasanya sakit ini? Kenapa hanya dirinya yang harus menanggung semuanya sendirian?
Aska mungkin mengerti sebagian, tetapi tetap saja, ada bagian dari dirinya yang tak bisa ia bagi kepada siapa pun. Ada perasaan asing di dalam dadanya. Entah kesepian yang bahkan kehadiran Aska atau Jiva pun tak bisa sepenuhnya sembuhkan. Bahkan, ketika di tengah keramaian mana pun, Raina tetap merasakan hampa.
Hanya ia. Hanya dirinyalah yang tahu. Hanya ia yang benar-benar merasakan betapa sepi dan beratnya hidup ini.
Raina merasa sendirian di tengah keramaian. Semua orang hanya mengenalnya dari permukaan. Tak ada yang menanyakan bagaimana tidurnya semalam, atau apakah ia makan dengan tenang tanpa suara bentakan Ibu dan rengekan adiknya meminta ini itu. Teman-temannya hanya tahu Raina yang kuat, tetapi tak pernah peduli pada kerapuhannya. Itu membuatnya semakin yakin, bahwa sakitnya terlalu dalam untuk bisa dipahami orang lain.
Raina mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. Lalu, merapikan lengan kemejanya yang sedari tadi setengah ia gulung. Sementara itu, netranya sibuk menatap teman-teman sekelasnya yang tertawa riang mendengar bayolan sang guru. Ia menatap dengan pandangan getir, merasa ada sesak di dadanya.
Pagi tadi, ia kebingungan mencari di mana seragam olahraganya. Ternyata, masih ada di bak cucian, padahal Raina yakin sudah dicuci jauh hari. Naya datang dengan muka lesu. Ia bercerita, jika menjatuhkan beberapa pakaian saat membantu sang ibu mengangkat jemuran kemarin. Salah satunya, seragam Raina. Saat itu, Raina marah.
"Bajunya mau dipakai, Nya. Kenapa nggak bilang dari kemarin kalau kotor? Kan, bisa Mbak cuci lagi," kata Raina sedikit marah. "Nanti Mbak ada praktek lari lagi. Masa gak bawa baju olahraga, gimana nasib nilai, Mbak?"
Ibu baru datang dari warung. Membawa bahan belanjaan dan jajanan kesukaan Naya untuk dibawa bekal ke sekolah.
"Aku gak tahu, Mbak, maaf," jawab Naya sembari menunduk.
"Itu bukan salah adikmu. Lagian adikmu itu niatnya baik, bantuin Ibu angkat jemuran. Kamu gak usah marah-marah. Naya gak salah." Ibu membela.
"Tapi, hari ini aku ada praktek olahraga, Bu. Baju itu dipakai, wajib. Nanti nilaiku hilang dong."
"Ya, kan, bisa minjem temanmu. Ribet amat," jawab Ibu dengan nada ketus. "Naya, ayo! Ibu anter sekolah. Jangan bandel-bandel!"
Raina mengelus dadanya pelan. "Bu, ini aku gimana?"
"Ya, gimana? Itu juga salah kamu sendiri, udah tau bajunya dipakai malah gak diangkat dari jemuran. Kamu sendiri yang harus mikir konsekuensinya. Makanya, jadi anak cewek tuh harus sat-set sendiri. Jangan apa-apa nungguin ini itu dulu!" Ibu memasukkan kotak bekal ke tas Naya. "Ayo, Nya!"
Setelah itu meninggalkan Raina sendirian masih duduk di dapur.
"Jangan lupa kunci pintu kalau berangkat sekolah, Mbak!"
Sejauh apapun Raina berusaha mencoba, pasti akan dianggap salah terus. Raina tidak mendapatkan kesempatan untuk bersuara, meski kebenaran yang ada seperti itu. Yang dipikirkan oleh ibunya hanya Naya, Naya, dan Naya.
Raina meneguk minum dari tumblr. Tiba-tiba ia teringat Aska. Hanya Aska yang berbeda. Lelaki itu, dengan caranya yang sederhana, selalu tahu kapan Raina sedang menahan tangis. Ia tidak perlu banyak bertanya, cukup duduk di sampingnya, memberi ruang agar Raina bisa bernapas tanpa harus berpura-pura.
Beberapa hari lalu, Aska mengajaknya berbelanja kebutuhan tugas kuliah lelaki itu. Berbagai buku masuk keranjang, Raina tidak tahu apa saja. Selain itu, beberapa novel pun masuk ke keranjang lelaki itu, sayangnya bukan untuk dibaca, melainkan untuk Raina. Katanya, buku-buku bacaan itu bisa dijadikan teman kesepian. Memang benar, Raina suka membaca buku, ia bersyukur Aska memberinya cuma-cuma hari itu. Setelah dari toko buku, keduanya mampir di salah satu kedai pinggir jalan. Tidak ramai, tapi ada berbagai figur action terpajang sebagai hiasan. Raina bergumam, ia menatap figur action itu mengingatkan pada seseorang.
“Kak, kalau aku hilang suatu hari nanti,kira-kira ada yang nyariin nggak, ya?” suara Raina pelan, hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh dunia.
Aska menoleh, menatap wajah yang menunduk itu. "Nggak. Kamu nggak bakal hilang. Kamu nggak akan ke mana-mana. Kakak nggak bakal ngizinin kamu pergi.”
Jawaban itu seharusnya menghibur, tetapi hatinya berdesir perih. Sebab ia tahu, tak ada yang benar-benar bisa menahan seseorang untuk tetap tinggal ketika luka sudah terlalu dalam. Raina berteriak dalam hati. Kenapa hanya ia yang harus tahu rasanya sakit ini? Kenapa hanya dirinya yang harus menanggung semuanya sendirian?
Aska mungkin mengerti sebagian, tetapi tetap saja, ada bagian dari dirinya yang tak bisa ia bagi kepada siapa pun. Ada perasaan asing di dalam dadanya. Entah kesepian yang bahkan kehadiran Aska atau Jiva pun tak bisa sepenuhnya sembuhkan. Bahkan, ketika di tengah keramaian mana pun, Raina tetap merasakan hampa.
Hanya ia. Hanya dirinyalah yang tahu. Hanya ia yang benar-benar merasakan betapa sepi dan beratnya hidup ini.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...