Bab 13 - Menggantung Mimpi
Saat membuka mata, Raina mendapati sebuah hamparan tanah lapang luas di depannya. Bunga matahari terlihat tumbuh mekar nan indah. Udara di sekitarnya pun asri sekali. Gadis itu menyandarkan tubuh lelahnya di sebuah pohon. Ia menghalau sinar mentari yang menimpa wajahnya menggunakan salah satu lengan. Seperti impiannya, ia merasakan suasana yang teramat tenang di sini. Tidak ada bising orang-orang, tidak ada bentakan, tidak ada teriakan yang memintanya untuk bergerak cepat dan tidak boleh terlambat.
Sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama. Ketika menegakkan kembali tubuhnya, Raina mendapati sebuah rumah kecil ada di antara bunga-bunga matahari yang mulai merunduk. Ia berjalan ke arah rumah itu, lantas membuka pintunya. Kosong. Tidak ada satupun orang di dalamnya. Bahkan barang-barang yang ada di sana, mulai ditutupi oleh kain putih. Sudut-sudut ruangnya tampak lusuh, seperti tidak pernah ada orang singgah, bahkan sekadar membersihkan. Sayup-sayup, telinganya mendengar sebuah tangis kecil dari balik salah satu kamar. Karena merasa penasaran, Raina membawa langkahnya menuju ruangan tersebut.
Seorang gadis tengah duduk menekuk lutut. Tubuhnya bergetar hebat, suara tangisnya terdengar amat menyakitkan. Raina hendak mendekat, tetapi pintunya tiba-tiba tertutup sempurna, menimbulkan suara kencang. Ruangan itu mendadak kosong. Cahayanya remang-remang, seperti di tengah kegelapan. Di ruangan itu hanya ada Raina dan si gadis yang masih menekuk lutut dan menangis tanpa henti. Raina melangkahkan kaki perlahan, tetapi tak kunjung sampai di depan gadis itu. Ia bisa merasakan dunia seperti akan hancur dalam beberapa detik ke depan. Begitu sampai di depan si gadis, kepala Raina seperti dihantam sebuah batu besar yang membuat ia jatuh ke dalam jurang.
"Rai! Are you okay?" Aska mendekat. Ia melihat tidur Raina seperti gelisah. Keringat dingin membasahi dahi, gadis itu tiada henti meracau. Aska panik, ia menepuk pipi Raina sedikit lebih kencang. "Rai!"
Raina membuka matanya. Ia melihat Aska dengan air muka panik, lantas memandang sekitarnya. Ini kamarnya, kamar yang biasa ia gunakan tidur sepanjang hari.
"Lain kali, jangan gitu lagi, ya! Dunia boleh jahat sama kamu, tapi kamu gak boleh jahat sama diri sendiri! Di sini masih ada Kakak. Kamu gak sendirian. Biarin dunia hancur, tapi yang penting kamu tetep ada dan menjalani ini semua tanpa harus berakhir dengan terpaksa. Belum waktunya," ucap Aska panjang lebar.
Aska jelas sangat panik saat tidak mendapati Raina ada di food court. Bahkan, gadis itu tidak menjawab sama sekali puluhan panggilan miliknya. Aska mencari di setiap sudut food court, kamar mandi, barangkali adik kecilnya itu ke sana untuk buang hajat sekalipun. Sweater yang Raina kenakan tertinggal di salah satu bangku, membuat asumsi bahwa Raina tidak pergi jauh dari tempat itu. Namun, hampir setengah jam Aska menunggu, gadis itu tidak muncul sama sekali. Ia jelas panik. Apalagi setelah melihat seseorang yang sangat ia kenali tengah bersitegang, Aska tidak dapat berpikiran tenang.
"Lo tuh cuma pengacau, kenapa sih lo harus hadir di hadapan Raina?" ujar Aska geram.
Aska melihat Jiva keluar dari salah satu kedai dengan membawa sebuah bungkusan, mungkin makanan. Di tengah-tengah Jiva ada satu wanita, Aska tebak itu adalah ibu Jiva, satu pria dewasa, jelas itu ayah Raina. Aska tidak pernah lupa dengan pria yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.
"Paklik harusnya tahu gimana susahnya Raina hidup sendirian. Sekarang Paklik malah pergi sama orang dan ngebiarin dia semakin sendirian. Selama ini aku diam karena menghargai batasan keluarga kalian, tapi kalau sampai Raina kenapa-kenapa, aku gak akan maafin Paklik kali ini."
Aska pergi dengan langkah kecewa. Ia tidak bisa menebak bagaimana hancurnya perasan Raina mengetahui bahwa ayahnya berbahagia dengan keluarga lain di luar, sedangkan anak itu berjuang sendirian agar keluarganya tetap utuh seperti keluarga pada umumnya. Pasti, anak itu sudah melihat keharmonisan antara keluarga Jiva dan ayahnya, makanya Raina memutuskan pergi. Atau, mungkin terjadi sesuatu yang tak pernah Aska bayangkan. Aska segera menuju parkiran dan menyusuri jalanan yang kemungkinan Raina lewati. Tepat ketika di dekat lampu merah yang mengarah ke jalan lebih kecil, Aska melihat seorang gadis tengah berjalan di sebuah trotoar. Aska hendak menyeberang langsung apabila tidak mengingat jika jalan tersebut merupakan jalan satu arah, jadi ia harus memutar terlebih dahulu dan mengambil jalur lain.
Saat sudah memutar, Aska panik tidak mendapati Raina di mana-mana. Ia segera melajukan motornya, takut jika sesuatu buruk terjadi. Aska menghentikan mesin motornya, ketika sirine kereta api berbunyi nyaring. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali jejak Raina terlihat di sana. Mengingat jalanan tersebut memiliki pencahayaan yang cukup remang, ia tidak bisa mengambil konsekuensi salah langkah. Suara klakson kereta panjang berbunyi, Aska panik. Ia jelas melihat Raina berdiri di dekat trotoar seorang diri. Aska melepas helm, melupakan kunci motor yang masih menancap, dan segera berlari menghampiri Raina. Gadis itu terlihat akan melakukan aksi yang tidak-tidak. Sebelum kejadian buruk terjadi, Aska segera menghentikannya.
Raina benar-benar mengambil ancang-ancang untuk lari ke tengah lintasan begitu kereta melewatinya cepat. Namun, tubuhnya kalah dengan kekuatan seseorang.
"Bodoh! Apa sih yang lagi kamu pikirin, ha? Kenapa gak pernah mikirin diri sendiri? Kamu mau mati, iya?"
Aska marah. Ia berhasil menarik tubuh ringkih Raina meski terantuk pembatas trotoar. Dua orang yang hendak menyeberang mendekat, mencoba membantu Aska. Namun, ia mengatakan agar mereka tidak apa-apa. Raina menangis dalam pelukan Aska, ia memukul dada laki-laki itu dan membiarkan emosinya meledak.
"Kenapa? Kenapa Kakak gak biarin aku mati aja? Aku mau mati!"
"Gak semua masalah solusinya mati. Kamu mau jadi pengecut dan melarikan diri, iya? Siapa yang ngajarin kayak gitu?"
Raina mendongak, ia menatap nyalang ke arah Aska. "Kakak gak pernah ngerti rasanya jadi aku. Gak ada orang yang ngajarin aku buat jadi manusia yang baik. Orang-orang sibuk nyalahin dan nuntut supaya aku jadi sempurna. Kenapa masih tanya siapa yang ngajarin? Mereka semua yang bikin aku kayak gini! Aku capek, Kak!"
Aska diam.
"Sekarang aku gak punya rumah lagi. Rumahku hancur. Aku gak punya tempat pulang. Ngapain aku ada kalau tujuan aja gak ada. Semua udah hancur. Buat apa aku hidup lagi?"
Aska menarik Raina ke dalam pelukannya.
"Aku capek, Kak, capek. Jadi anak emas gak pernah buat Ayah sama Ibu bersatu lagi. Aku udah nurutin apa kata mereka, rangkingku gak pernah turun, aku juara terus, aku jagain Naya, aku ngurusin Naya, aku kerja biar mereka gak kesusahan ngurusin biaya sekolahku yang mahal, aku usahain semua sendiri biar mereka gak kesusahan, tapi aku tetep nyusahin, kan? Buktinya aku ditinggalin sendirian sekarang."
Aska masih diam, membiarkan Raina menumpahkan beban berat miliknya. Ia mengelus pundak Raina lembut, mengeratkan pelukannya semakin erat.
"Aku pasti kurang banget di mata mereka. Aku gagal jadi anak ibu sama ayah, Kak. Aku gagal. Aku gak berguna. Aku gak becus. Harusnya aku gak ada. Harusnya aku mati aja. Harusnya mereka bisa bahagia tanpa harus ngurusin aku. Harusnya aku ... harusnya aku gak pernah lahir, Kak."
Air mata Aska yang berusaha ia bendung, akhirnya tumpah ruah. Ia merasakan tubuh Raina semakin bergetar hebat dan tangisannya sangat menusuk dadanya. Bagaimana gadis sekecil itu harus menghadapi ini semua seorang diri?
Aska semakin mengeratkan pelukan Raina, menyalurkan kehangatan di tengah dingin yang semakin menusuk kulit.
"Kamu nggak gagal. Kamu anak hebat! Makasih udah bertahan selama ini, Rai. Kamu hebat!" Aska mengusap matanya sendiri.
Beberapa menit, posisi keduanya tidak berganti. Aska merasakan beban berat semakin menumpu ke tubuhnya.
"Rai!" panggil Aska pelan. Ia lantas melihat wajah sembab Raina yang terpejam. Aska panik saat melihat hidung bangir gadis itu mengeluarkan cairan merah kental dan sebagian sudah mengotori bajunya. "Raina!"
Aska kalang kabut seorang diri, ditambah ibu Raina sangat sulit dihubungi, entah di mana wanita itu sekarang. Pun, ayah Raina yang justru malah melempar tanggung jawabnya pada orang lain.
"Maaf, Aska. Tapi, Paklik gak bisa. Kamu telpon Ibu Raina aja, ya!"
Aska benar-benar mengumpati orang tua Raina saat perjalanan ke klinik terdekat. Tangan Raina memegang erat pakaian yang digunakan Aska.
"Pulang, Kak!" kata Raina lirih.
"Kita ke rumah sakit aja! Kamu demam gini," jawab Aska.
"Pulang."
Mau tidak mau, berakhir keduanya di sini. Di rumah Raina yang tidak ada siapapun di sana. Aska menelepon asisten di rumahnya yang sudah pulang sejak tadi. Ia meminta maaf sebab malam-malam menghubungi dan meminta orang itu untuk datang ke rumah Raina. Aska masih memikirkan persepsi tetangga sekitar yang akan berpikiran aneh apabila dirinya menginap di rumah Raina ketika orang tuanya tidak ada. Maka, ia meminta untuk asistennya juga lebih baik menginap di sana, sekaligus membantu merawat Raina.
Di sinilah sekarang Aska berada. Menatap puluhan piagam berjajar di dinding, lalu medali disusun rapi dengan piala-piala yang ada di sebuah lemari kecil di kamar Raina. Nuansa kamar tersebut sangat damai, catnya biru laut, seakan membuatnya tenang. Sayangnya, ia tahu bahwa ruangan itu pasti menyimpan banyak sakit yang gadis itu sembunyikan rapat-rapat.
Baju sekolah yang Raina gunakan sudah berganti dengan piyama yang lebih hangat. Itu juga berkat asistennya yang datang dengan cepat dan membantu Aska. Ia membiarkan asistennya tidur di kamar tamu, selagi Aska menjaga Raina. Ia mengganti kompres berulang kali, memastikan tidur gadisnya tidak terganggu. Namun, ia mengeratkan genggamannya, saat Raina berulangkali meracau ingin berhenti, meski dalam lelapnya. Apakah seingin itu Raina dengan selesai?
Aska menggenggam erat jemari Raina yang dingin.
"Kamu tahu nggak, awal kita bertemu karena apa? Karena, dulu Kakak sering nangis pas ditinggal orang tua Kakak keluar kota. Kamu ngejek Kakak dan ngatain Kakak gak gentleman karena nangisan, padahal orang tua Kakak kerja keras demi Kakak. Sekarang, posisinya beda. Harusnya Kakak ngejek kamu, tapi gak bisa. Kamu adalah orang paling hebat, Rai. Kamu serba bisa, padahal Kakak aja gak bisa sehebat kamu pas seusia kamu. Kamu itu kayak Peri Kecil yang istimewa. Hidup lebih lama lagi, ya? Jangan dipendem terus amarahnya. Sekali-kali kamu boleh nangis kayak tadi, marah-marah, asal gak ngelakuin itu lagi. Kakak gak akan pernah bisa hidup kalau gak ada kamu, Rai. Bertahan, ya?"
Suara denting jarum jam terdengar teratur. Aska mengusak air mata Raina yang keluar, meski anak itu terlelap. Ia mengecek suhu tubuh gadis kecil itu dan mengembuskan napas lelah saat kondisinya tak kunjung membaik.
"Anak kuat, anak hebat, Peri Kecil Kakak, kuat!" Aska terus bergumam seperti itu, ia meletakkan kepalanya dan mengeratkan genggaman pada tangan Raina.
Matahari terbit lagi, tetapi Raina masih tak kunjung membuka mata. Aska bangun terlebih dahulu, saat asistennya membangunkan dirinya.
"Mas Aska, sudah pagi. Nggak ke kampus? Kalau ke kampus, nanti biar Bude aja yang jagain Adek," katanya.
Aska menggelengkan kepala. Ia meregangkan tubuhnya, lantas mengecek ponsel. Ia sempat bangun, tetapi setelah subuhan kembali tidur lagi.
"Nggak tenang, Bude, kalau ditinggal kuliah. Lagipula nanti bisa reschedule online tiba-tiba kan gak tahu," jawab Aska.
"Ya udah. Sarapan dulu kalau gitu. Bude udah buatin sayur asem tadi sama goreng tahu tempe. Kayaknya di rumah Adek gak ada sisa sayur lagi, adanya itu di kulkas. Mau Bude belanjain ta?"
Aska mengangguk. "Boleh. Nanti buatin bubur aja, ya, Bude. Sama beliin donat pasar langganan Bude biasanya. Raina suka banget itu, biar mood anaknya baikan pas bangun nanti."
"Oke."
Bude—asisten yang kerap disapa Aska itu mengangguk. Ia menerima dua lembar uang berwarna merah dari Aska, lalu pamit ke pasar. Aska mengembuskan napas panjang, ia mengecek ponsel apakah ada notifikasi dari ibu Raina atau tidak, sayangnya tidak ada. Ia lantas beranjak untuk mengecek suhu tubuh Raina.
"38,8 derajat. Kenapa masih tinggi juga sih? Malah lebih tinggian ini," gerutu Aska. Ia mengganti kompresannya, lantas membasuh lengan tangan Raina menggunakan air hangat yang Bude bawakan tadi. "Sehat-sehat, Peri Kecil."
Aska turun ke dapur untuk sarapan. Lalu, ia mandi terlebih dulu dan mengganti pakaian dengan yang lebih bersih. Aska menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya sendiri dan mengambil beberapa buku serta perlengkapan kuliahnya. Tuhan benar-benar membantunya hari ini. Sebab dosennya ada dinas di luar kota dan meminta kelas supaya daring saja. Sisanya, untuk kegiatan himpunan, ia izin untuk absen satu hari.
Begitu membuka pintu belakang rumah Raina, Aska mendengar suara pecahan kaca nyaring dari lantai dua asalnya. Aska buru-buru ke kamar Raina, dan mendapati gadis itu sedang tergeletak di lantai. Aska terbelalak saat melihat ada genangan darah berceceran dan membasahi karpet putih yang ada. Sekali lagi, ia ingin sekali mengumpati Raina sekarang.
"Raina! Denger suara Kakak! Jangan tidur!"
Aska benar-benar merasa bodoh sekarang. Ia meninggalkan Raina begitu lama dan membiarkan gadis itu sendiri. Bude datang dengan tergesa, bahkan belum sempat meletakkan belanjaan dari pasarnya.
"Ya Allah, Mas! Bude panggilin Pak Amar, ya! Kita ke rumah sakit."
Aska mengangguk, ia memeluk tubuh ringkih Raina yang terpejam. "Iya, Bude. Cepetan!"
Aska tahu bahwa Raina sedang berada di titik terendahnya, tetapi ia tidak menyangka bahwa kedua kalinya gadis itu melakukan aksi untuk menghilangkan nyawanya dan hanya ia yang tahu. Raina benar-benar hancur sekarang. Aska berharap, semoga Raina masih memiliki sedikit harapan untuk hidup lebih lama. Aska tidak terbayang, jika Raina tidak terselamatkan.
Aska tidak memikirkan apapun tentang kondisinya. Ia ke rumah sakit tanpa mengenakan alas kaki. Kini, ia menunggu dokter yang menangani Raina bersama Bude di kursi panjang. Dering ponsel berbunyi, sebuah notifikasi yang ia tunggu-tunggu terbaca.
"Maaf, Nak Aska. Bulik gak sempet pulang kemarin. Ini Bulik langsung ke tempat agensi teman Bulik yang ngasih kerjaan ke China. Raina biasanya kalau demam obatnya ada di laci, Nak. Minta tolong, ya. Nanti sorean Bulik telpon."
Aska tidak srantan, ia membanting ponselnya. Ia pergi meninggalkan Bude yang berteriak dan tujuannya sekarang adalah, Jiva.
Benar dugaan Aska. Ketika sampai di depan gerbang sekolah, Aska melihat Jiva diantar oleh ayahnya. Lebih tepatnya ayah Raina. Tanpa aba-aba Aska memukul ayah Raina sampai pria itu tersungkur.
"Hebat! Anaknya lagi sekarat, tapi bapaknya langsung bahagia sama anak lain. Bukannya kalian belum resmi menikah, ya? Kok udah tinggal bersama aja. Apa kata tetangga kalau kayak gini," ucap Aska sembari bertepuk tangan.
"Apa-apaan sih lo!" Jiva mendorong Aska. Ia jelas tidak terima saat Ayahnya dipukul seperti ini.
"Lo yang apa-apaan? Lo sengaja, kan, datang sebagai teman Raina, ngasih kepercayaan ke dia jadi teman, atau bahkan dia udah mulai nyaman sama lo, tapi sekarang lo buat dia hancur. Lo sengaja, kan?" Aska menarik kerah kemeja Jiva. Ia menatap nyalang lelaki jauh lebih muda darinya itu sebelum melayangkan pukulan. "Kalian sama-sama brengsek! Brengsek!"
Aska beralih, menatap ayah Raina yang menunduk. "Paklik tahu, semalam Raina hampir nabrakin diri di depan kereta api. Terus tadi pagi, dia nyayat nadinya. Sekarang, dia ada di rumah sakit gak tahu mati atau hidup. Paklik senang melihat anak yang dulu katanya Paklik idam-idamkan gak punya semangat hidup? Raina gak cuma gantungin semua mimpinya demi menuruti apa kemauan kalian, tapi gantung diri, Paklik!"
Aska terisak. Ia jatuh berlutut di depan Ayah Raina. "Aku mati-matian diam, gak bilang ke kalian gimana frustrasinya dia bagi waktu supaya bisa jaga Naya, supaya dia belajar sendiri, dan kerja nyari duit sendiri. Ini yang kalian mau? Mungkin di masa lalu, kalian sebagai orang tua merasa orang tua kalian gagal mendidik kalian, tapi jangan dilampiaskan ke anak yang ..."
Aska menghentikan ucapannya. Ia mendongak, lantas maju selangkah mendekat ke arah Ayah Raina yang menangis. Pria dewasa itu menunduk.
"Kenapa Paklik nangis? Gak ada yang nyakitin Paklik. Apa pukulanku terlalu keras? Cemen banget jadi laki. Raina aja yang kalian pukul tiap hari tanpa sadar malah jadi wanita kuat, jadi anak hebat. Cemen banget."
Aska bangkit, ia menggenggam erat kedua tangan ayah Raina, lalu bertekuk lutut lagi.
"Seenggaknya tolong lihat dia sebagai anak yang bisa rapuh, bukan anak yang bisa segalanya sendiri. Gak! Dia rapuh, dia gak berdaya. DIA NYARIS MATI! ADIK AKU MAU MATI!"
Sayangnya, ketenangan itu tak berlangsung lama. Ketika menegakkan kembali tubuhnya, Raina mendapati sebuah rumah kecil ada di antara bunga-bunga matahari yang mulai merunduk. Ia berjalan ke arah rumah itu, lantas membuka pintunya. Kosong. Tidak ada satupun orang di dalamnya. Bahkan barang-barang yang ada di sana, mulai ditutupi oleh kain putih. Sudut-sudut ruangnya tampak lusuh, seperti tidak pernah ada orang singgah, bahkan sekadar membersihkan. Sayup-sayup, telinganya mendengar sebuah tangis kecil dari balik salah satu kamar. Karena merasa penasaran, Raina membawa langkahnya menuju ruangan tersebut.
Seorang gadis tengah duduk menekuk lutut. Tubuhnya bergetar hebat, suara tangisnya terdengar amat menyakitkan. Raina hendak mendekat, tetapi pintunya tiba-tiba tertutup sempurna, menimbulkan suara kencang. Ruangan itu mendadak kosong. Cahayanya remang-remang, seperti di tengah kegelapan. Di ruangan itu hanya ada Raina dan si gadis yang masih menekuk lutut dan menangis tanpa henti. Raina melangkahkan kaki perlahan, tetapi tak kunjung sampai di depan gadis itu. Ia bisa merasakan dunia seperti akan hancur dalam beberapa detik ke depan. Begitu sampai di depan si gadis, kepala Raina seperti dihantam sebuah batu besar yang membuat ia jatuh ke dalam jurang.
"Rai! Are you okay?" Aska mendekat. Ia melihat tidur Raina seperti gelisah. Keringat dingin membasahi dahi, gadis itu tiada henti meracau. Aska panik, ia menepuk pipi Raina sedikit lebih kencang. "Rai!"
Raina membuka matanya. Ia melihat Aska dengan air muka panik, lantas memandang sekitarnya. Ini kamarnya, kamar yang biasa ia gunakan tidur sepanjang hari.
"Lain kali, jangan gitu lagi, ya! Dunia boleh jahat sama kamu, tapi kamu gak boleh jahat sama diri sendiri! Di sini masih ada Kakak. Kamu gak sendirian. Biarin dunia hancur, tapi yang penting kamu tetep ada dan menjalani ini semua tanpa harus berakhir dengan terpaksa. Belum waktunya," ucap Aska panjang lebar.
Aska jelas sangat panik saat tidak mendapati Raina ada di food court. Bahkan, gadis itu tidak menjawab sama sekali puluhan panggilan miliknya. Aska mencari di setiap sudut food court, kamar mandi, barangkali adik kecilnya itu ke sana untuk buang hajat sekalipun. Sweater yang Raina kenakan tertinggal di salah satu bangku, membuat asumsi bahwa Raina tidak pergi jauh dari tempat itu. Namun, hampir setengah jam Aska menunggu, gadis itu tidak muncul sama sekali. Ia jelas panik. Apalagi setelah melihat seseorang yang sangat ia kenali tengah bersitegang, Aska tidak dapat berpikiran tenang.
"Lo tuh cuma pengacau, kenapa sih lo harus hadir di hadapan Raina?" ujar Aska geram.
Aska melihat Jiva keluar dari salah satu kedai dengan membawa sebuah bungkusan, mungkin makanan. Di tengah-tengah Jiva ada satu wanita, Aska tebak itu adalah ibu Jiva, satu pria dewasa, jelas itu ayah Raina. Aska tidak pernah lupa dengan pria yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.
"Paklik harusnya tahu gimana susahnya Raina hidup sendirian. Sekarang Paklik malah pergi sama orang dan ngebiarin dia semakin sendirian. Selama ini aku diam karena menghargai batasan keluarga kalian, tapi kalau sampai Raina kenapa-kenapa, aku gak akan maafin Paklik kali ini."
Aska pergi dengan langkah kecewa. Ia tidak bisa menebak bagaimana hancurnya perasan Raina mengetahui bahwa ayahnya berbahagia dengan keluarga lain di luar, sedangkan anak itu berjuang sendirian agar keluarganya tetap utuh seperti keluarga pada umumnya. Pasti, anak itu sudah melihat keharmonisan antara keluarga Jiva dan ayahnya, makanya Raina memutuskan pergi. Atau, mungkin terjadi sesuatu yang tak pernah Aska bayangkan. Aska segera menuju parkiran dan menyusuri jalanan yang kemungkinan Raina lewati. Tepat ketika di dekat lampu merah yang mengarah ke jalan lebih kecil, Aska melihat seorang gadis tengah berjalan di sebuah trotoar. Aska hendak menyeberang langsung apabila tidak mengingat jika jalan tersebut merupakan jalan satu arah, jadi ia harus memutar terlebih dahulu dan mengambil jalur lain.
Saat sudah memutar, Aska panik tidak mendapati Raina di mana-mana. Ia segera melajukan motornya, takut jika sesuatu buruk terjadi. Aska menghentikan mesin motornya, ketika sirine kereta api berbunyi nyaring. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali jejak Raina terlihat di sana. Mengingat jalanan tersebut memiliki pencahayaan yang cukup remang, ia tidak bisa mengambil konsekuensi salah langkah. Suara klakson kereta panjang berbunyi, Aska panik. Ia jelas melihat Raina berdiri di dekat trotoar seorang diri. Aska melepas helm, melupakan kunci motor yang masih menancap, dan segera berlari menghampiri Raina. Gadis itu terlihat akan melakukan aksi yang tidak-tidak. Sebelum kejadian buruk terjadi, Aska segera menghentikannya.
Raina benar-benar mengambil ancang-ancang untuk lari ke tengah lintasan begitu kereta melewatinya cepat. Namun, tubuhnya kalah dengan kekuatan seseorang.
"Bodoh! Apa sih yang lagi kamu pikirin, ha? Kenapa gak pernah mikirin diri sendiri? Kamu mau mati, iya?"
Aska marah. Ia berhasil menarik tubuh ringkih Raina meski terantuk pembatas trotoar. Dua orang yang hendak menyeberang mendekat, mencoba membantu Aska. Namun, ia mengatakan agar mereka tidak apa-apa. Raina menangis dalam pelukan Aska, ia memukul dada laki-laki itu dan membiarkan emosinya meledak.
"Kenapa? Kenapa Kakak gak biarin aku mati aja? Aku mau mati!"
"Gak semua masalah solusinya mati. Kamu mau jadi pengecut dan melarikan diri, iya? Siapa yang ngajarin kayak gitu?"
Raina mendongak, ia menatap nyalang ke arah Aska. "Kakak gak pernah ngerti rasanya jadi aku. Gak ada orang yang ngajarin aku buat jadi manusia yang baik. Orang-orang sibuk nyalahin dan nuntut supaya aku jadi sempurna. Kenapa masih tanya siapa yang ngajarin? Mereka semua yang bikin aku kayak gini! Aku capek, Kak!"
Aska diam.
"Sekarang aku gak punya rumah lagi. Rumahku hancur. Aku gak punya tempat pulang. Ngapain aku ada kalau tujuan aja gak ada. Semua udah hancur. Buat apa aku hidup lagi?"
Aska menarik Raina ke dalam pelukannya.
"Aku capek, Kak, capek. Jadi anak emas gak pernah buat Ayah sama Ibu bersatu lagi. Aku udah nurutin apa kata mereka, rangkingku gak pernah turun, aku juara terus, aku jagain Naya, aku ngurusin Naya, aku kerja biar mereka gak kesusahan ngurusin biaya sekolahku yang mahal, aku usahain semua sendiri biar mereka gak kesusahan, tapi aku tetep nyusahin, kan? Buktinya aku ditinggalin sendirian sekarang."
Aska masih diam, membiarkan Raina menumpahkan beban berat miliknya. Ia mengelus pundak Raina lembut, mengeratkan pelukannya semakin erat.
"Aku pasti kurang banget di mata mereka. Aku gagal jadi anak ibu sama ayah, Kak. Aku gagal. Aku gak berguna. Aku gak becus. Harusnya aku gak ada. Harusnya aku mati aja. Harusnya mereka bisa bahagia tanpa harus ngurusin aku. Harusnya aku ... harusnya aku gak pernah lahir, Kak."
Air mata Aska yang berusaha ia bendung, akhirnya tumpah ruah. Ia merasakan tubuh Raina semakin bergetar hebat dan tangisannya sangat menusuk dadanya. Bagaimana gadis sekecil itu harus menghadapi ini semua seorang diri?
Aska semakin mengeratkan pelukan Raina, menyalurkan kehangatan di tengah dingin yang semakin menusuk kulit.
"Kamu nggak gagal. Kamu anak hebat! Makasih udah bertahan selama ini, Rai. Kamu hebat!" Aska mengusap matanya sendiri.
Beberapa menit, posisi keduanya tidak berganti. Aska merasakan beban berat semakin menumpu ke tubuhnya.
"Rai!" panggil Aska pelan. Ia lantas melihat wajah sembab Raina yang terpejam. Aska panik saat melihat hidung bangir gadis itu mengeluarkan cairan merah kental dan sebagian sudah mengotori bajunya. "Raina!"
Aska kalang kabut seorang diri, ditambah ibu Raina sangat sulit dihubungi, entah di mana wanita itu sekarang. Pun, ayah Raina yang justru malah melempar tanggung jawabnya pada orang lain.
"Maaf, Aska. Tapi, Paklik gak bisa. Kamu telpon Ibu Raina aja, ya!"
Aska benar-benar mengumpati orang tua Raina saat perjalanan ke klinik terdekat. Tangan Raina memegang erat pakaian yang digunakan Aska.
"Pulang, Kak!" kata Raina lirih.
"Kita ke rumah sakit aja! Kamu demam gini," jawab Aska.
"Pulang."
Mau tidak mau, berakhir keduanya di sini. Di rumah Raina yang tidak ada siapapun di sana. Aska menelepon asisten di rumahnya yang sudah pulang sejak tadi. Ia meminta maaf sebab malam-malam menghubungi dan meminta orang itu untuk datang ke rumah Raina. Aska masih memikirkan persepsi tetangga sekitar yang akan berpikiran aneh apabila dirinya menginap di rumah Raina ketika orang tuanya tidak ada. Maka, ia meminta untuk asistennya juga lebih baik menginap di sana, sekaligus membantu merawat Raina.
Di sinilah sekarang Aska berada. Menatap puluhan piagam berjajar di dinding, lalu medali disusun rapi dengan piala-piala yang ada di sebuah lemari kecil di kamar Raina. Nuansa kamar tersebut sangat damai, catnya biru laut, seakan membuatnya tenang. Sayangnya, ia tahu bahwa ruangan itu pasti menyimpan banyak sakit yang gadis itu sembunyikan rapat-rapat.
Baju sekolah yang Raina gunakan sudah berganti dengan piyama yang lebih hangat. Itu juga berkat asistennya yang datang dengan cepat dan membantu Aska. Ia membiarkan asistennya tidur di kamar tamu, selagi Aska menjaga Raina. Ia mengganti kompres berulang kali, memastikan tidur gadisnya tidak terganggu. Namun, ia mengeratkan genggamannya, saat Raina berulangkali meracau ingin berhenti, meski dalam lelapnya. Apakah seingin itu Raina dengan selesai?
Aska menggenggam erat jemari Raina yang dingin.
"Kamu tahu nggak, awal kita bertemu karena apa? Karena, dulu Kakak sering nangis pas ditinggal orang tua Kakak keluar kota. Kamu ngejek Kakak dan ngatain Kakak gak gentleman karena nangisan, padahal orang tua Kakak kerja keras demi Kakak. Sekarang, posisinya beda. Harusnya Kakak ngejek kamu, tapi gak bisa. Kamu adalah orang paling hebat, Rai. Kamu serba bisa, padahal Kakak aja gak bisa sehebat kamu pas seusia kamu. Kamu itu kayak Peri Kecil yang istimewa. Hidup lebih lama lagi, ya? Jangan dipendem terus amarahnya. Sekali-kali kamu boleh nangis kayak tadi, marah-marah, asal gak ngelakuin itu lagi. Kakak gak akan pernah bisa hidup kalau gak ada kamu, Rai. Bertahan, ya?"
Suara denting jarum jam terdengar teratur. Aska mengusak air mata Raina yang keluar, meski anak itu terlelap. Ia mengecek suhu tubuh gadis kecil itu dan mengembuskan napas lelah saat kondisinya tak kunjung membaik.
"Anak kuat, anak hebat, Peri Kecil Kakak, kuat!" Aska terus bergumam seperti itu, ia meletakkan kepalanya dan mengeratkan genggaman pada tangan Raina.
Matahari terbit lagi, tetapi Raina masih tak kunjung membuka mata. Aska bangun terlebih dahulu, saat asistennya membangunkan dirinya.
"Mas Aska, sudah pagi. Nggak ke kampus? Kalau ke kampus, nanti biar Bude aja yang jagain Adek," katanya.
Aska menggelengkan kepala. Ia meregangkan tubuhnya, lantas mengecek ponsel. Ia sempat bangun, tetapi setelah subuhan kembali tidur lagi.
"Nggak tenang, Bude, kalau ditinggal kuliah. Lagipula nanti bisa reschedule online tiba-tiba kan gak tahu," jawab Aska.
"Ya udah. Sarapan dulu kalau gitu. Bude udah buatin sayur asem tadi sama goreng tahu tempe. Kayaknya di rumah Adek gak ada sisa sayur lagi, adanya itu di kulkas. Mau Bude belanjain ta?"
Aska mengangguk. "Boleh. Nanti buatin bubur aja, ya, Bude. Sama beliin donat pasar langganan Bude biasanya. Raina suka banget itu, biar mood anaknya baikan pas bangun nanti."
"Oke."
Bude—asisten yang kerap disapa Aska itu mengangguk. Ia menerima dua lembar uang berwarna merah dari Aska, lalu pamit ke pasar. Aska mengembuskan napas panjang, ia mengecek ponsel apakah ada notifikasi dari ibu Raina atau tidak, sayangnya tidak ada. Ia lantas beranjak untuk mengecek suhu tubuh Raina.
"38,8 derajat. Kenapa masih tinggi juga sih? Malah lebih tinggian ini," gerutu Aska. Ia mengganti kompresannya, lantas membasuh lengan tangan Raina menggunakan air hangat yang Bude bawakan tadi. "Sehat-sehat, Peri Kecil."
Aska turun ke dapur untuk sarapan. Lalu, ia mandi terlebih dulu dan mengganti pakaian dengan yang lebih bersih. Aska menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya sendiri dan mengambil beberapa buku serta perlengkapan kuliahnya. Tuhan benar-benar membantunya hari ini. Sebab dosennya ada dinas di luar kota dan meminta kelas supaya daring saja. Sisanya, untuk kegiatan himpunan, ia izin untuk absen satu hari.
Begitu membuka pintu belakang rumah Raina, Aska mendengar suara pecahan kaca nyaring dari lantai dua asalnya. Aska buru-buru ke kamar Raina, dan mendapati gadis itu sedang tergeletak di lantai. Aska terbelalak saat melihat ada genangan darah berceceran dan membasahi karpet putih yang ada. Sekali lagi, ia ingin sekali mengumpati Raina sekarang.
"Raina! Denger suara Kakak! Jangan tidur!"
Aska benar-benar merasa bodoh sekarang. Ia meninggalkan Raina begitu lama dan membiarkan gadis itu sendiri. Bude datang dengan tergesa, bahkan belum sempat meletakkan belanjaan dari pasarnya.
"Ya Allah, Mas! Bude panggilin Pak Amar, ya! Kita ke rumah sakit."
Aska mengangguk, ia memeluk tubuh ringkih Raina yang terpejam. "Iya, Bude. Cepetan!"
Aska tahu bahwa Raina sedang berada di titik terendahnya, tetapi ia tidak menyangka bahwa kedua kalinya gadis itu melakukan aksi untuk menghilangkan nyawanya dan hanya ia yang tahu. Raina benar-benar hancur sekarang. Aska berharap, semoga Raina masih memiliki sedikit harapan untuk hidup lebih lama. Aska tidak terbayang, jika Raina tidak terselamatkan.
Aska tidak memikirkan apapun tentang kondisinya. Ia ke rumah sakit tanpa mengenakan alas kaki. Kini, ia menunggu dokter yang menangani Raina bersama Bude di kursi panjang. Dering ponsel berbunyi, sebuah notifikasi yang ia tunggu-tunggu terbaca.
"Maaf, Nak Aska. Bulik gak sempet pulang kemarin. Ini Bulik langsung ke tempat agensi teman Bulik yang ngasih kerjaan ke China. Raina biasanya kalau demam obatnya ada di laci, Nak. Minta tolong, ya. Nanti sorean Bulik telpon."
Aska tidak srantan, ia membanting ponselnya. Ia pergi meninggalkan Bude yang berteriak dan tujuannya sekarang adalah, Jiva.
Benar dugaan Aska. Ketika sampai di depan gerbang sekolah, Aska melihat Jiva diantar oleh ayahnya. Lebih tepatnya ayah Raina. Tanpa aba-aba Aska memukul ayah Raina sampai pria itu tersungkur.
"Hebat! Anaknya lagi sekarat, tapi bapaknya langsung bahagia sama anak lain. Bukannya kalian belum resmi menikah, ya? Kok udah tinggal bersama aja. Apa kata tetangga kalau kayak gini," ucap Aska sembari bertepuk tangan.
"Apa-apaan sih lo!" Jiva mendorong Aska. Ia jelas tidak terima saat Ayahnya dipukul seperti ini.
"Lo yang apa-apaan? Lo sengaja, kan, datang sebagai teman Raina, ngasih kepercayaan ke dia jadi teman, atau bahkan dia udah mulai nyaman sama lo, tapi sekarang lo buat dia hancur. Lo sengaja, kan?" Aska menarik kerah kemeja Jiva. Ia menatap nyalang lelaki jauh lebih muda darinya itu sebelum melayangkan pukulan. "Kalian sama-sama brengsek! Brengsek!"
Aska beralih, menatap ayah Raina yang menunduk. "Paklik tahu, semalam Raina hampir nabrakin diri di depan kereta api. Terus tadi pagi, dia nyayat nadinya. Sekarang, dia ada di rumah sakit gak tahu mati atau hidup. Paklik senang melihat anak yang dulu katanya Paklik idam-idamkan gak punya semangat hidup? Raina gak cuma gantungin semua mimpinya demi menuruti apa kemauan kalian, tapi gantung diri, Paklik!"
Aska terisak. Ia jatuh berlutut di depan Ayah Raina. "Aku mati-matian diam, gak bilang ke kalian gimana frustrasinya dia bagi waktu supaya bisa jaga Naya, supaya dia belajar sendiri, dan kerja nyari duit sendiri. Ini yang kalian mau? Mungkin di masa lalu, kalian sebagai orang tua merasa orang tua kalian gagal mendidik kalian, tapi jangan dilampiaskan ke anak yang ..."
Aska menghentikan ucapannya. Ia mendongak, lantas maju selangkah mendekat ke arah Ayah Raina yang menangis. Pria dewasa itu menunduk.
"Kenapa Paklik nangis? Gak ada yang nyakitin Paklik. Apa pukulanku terlalu keras? Cemen banget jadi laki. Raina aja yang kalian pukul tiap hari tanpa sadar malah jadi wanita kuat, jadi anak hebat. Cemen banget."
Aska bangkit, ia menggenggam erat kedua tangan ayah Raina, lalu bertekuk lutut lagi.
"Seenggaknya tolong lihat dia sebagai anak yang bisa rapuh, bukan anak yang bisa segalanya sendiri. Gak! Dia rapuh, dia gak berdaya. DIA NYARIS MATI! ADIK AKU MAU MATI!"
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...