Bab 11 - Serba-serbi Klub Sambat
"Nai, lo dianter kah? Kok gue gak lihat sepeda lo di parkiran depan."
Hari ini, Raina terpaksa mengetuk pintu rumah Aska pagi-pagi. Mana, Aska baru bangun tidur setelah begadang semalaman dengan temannya di rumah. Itu juga sebab Aska yang cerita ketika perjalanan menuju sekolah tadi. Raina merasa bersalah karena seringkali merepotkan mahasiswa yang sedang riweh dengan persiapan magangnya. Namun, Aska justru senang sekali. Bahkan, Aska melupakan muka bantal dan piama yang masih melekat di tubuhnya. Lelaki itu hanya berpamitan pada Raina untuk mencuci muka, gosok gigi, dan mengambil jaket, lalu pergi mengantarnya sebab tak ingin terlambat lagi.
"Gak mandi tetep ganteng kan, Rai?" tanya Aska iseng.
"Iyain, biar cepet."
Raina tersenyum simpul. Ia merapikan buku-bukunya setelah itu mencangklong tas dan segera menuju ke ruang piket untuk menyerahkan buku absensi. Ia membiarkan Jiva di belakang mengikuti langkahnya.
"Aku dijemput, tuh!" Raina menunjuk dengan dagu ke arah sebuah motor yang ada di ujung gerbang. "Kajiv hati-hati pulangnya!"
Entah sejak kapan, Raina mulai menggunakan panggilan itu untuk memanggil Jiva.
"Tunggu! Di sini dulu jangan ke mana-mana! Gue ambil motor," kata Jiva membuat langkah Raina terhenti. Ia tidak mengerti, tetapi tetap menuruti perintah Jiva dan menunggu.
Lima menit kemudian, Jiva datang dengan motor dan helm di tangan. Keduanya, kemudian berjalan beriringan menuju gerbang. Benar, di sana ada Aska yang sudah menunggu di atas motor.
Pria dengan kasual kaus oblong yang tertutupi oleh jaket levis itu memberi kode kepada Raina menggunakan mata, seolah bertanya siapa pria yang ada di samping gadis itu.
"Temen yang sering nganterin aku," ucap Raina berbisik. Ia menerima helm yang disodorkan oleh Aska, lantas memakainya.
"Em ... lo siapanya Naina? Abangnya?" Jiva masih belum pergi.
"Makasih udah sering nganter Rai sampe rumah. Hari ini lo bisa langsung pulang," kata Aska dengan nada dipaksa ramah. Entah kenapa perasaannya tidak enak setelah melihat lelaki di depannya yang mengaku sebagai teman sekelas Raina.
Tak bisa dipungkiri, jika beberapa kali Raina menyebutkan ia memiliki teman dekat seorang lelaki di kelas. Keduanya sempat menjadi rival abadi, bahkan mungkin sampai saat ini. Raina menceritakan itu semua, termasuk bagaimana cara keduanya belajar bersama di kelas dan tanpa kehabisan satu topik untuk membahas seputar kegiatan akademik. Sayangnya, setelah melihat untuk pertama kali hari ini, Aska tiba-tiba dilanda gusar. Padahal, Raina selalu menceritakan tentang betapa menghiburnya sosok temannya tersebut.
"Sama-sama. Lagian gue sama Naina besti kali. Santai aja, ya, Nai."
Aska semakin menampilkan senyum yang penuh keterpaksaan. Apalagi mendengar lelaki itu memanggil nama Raina dengan sebutan yang berbeda. Aska mengangguk sekilas, lantas menyamakan tinggi badannya dengan Raina.
"Utang cerita abis ini sama Kakak," katanya lirih. Lalu, berusaha menampilkan senyum ramah kepada Jiva. "Ya, udah. Sana balik! Ngapain masih di sini?"
Raina menepuk lengan Aska perlahan. "Duluan, Kajiv! Makasih banyak!"
Setelah Jiva pergi dengan motornya, Raina baru naik ke boncengan motor Aska. Lelaki itu menstater kuda besi miliknya dan membelah jalanan.
"Hati-hati, Rai. Meskipun teman, sekalipun ia bisa membuat kamu tertawa, tidak menutup kemungkinan nanti akan menjadi luka. Kakak harap, kamu gak salah ambil langkah."
Mendengar ucapan Aska, Raina terdiam.
"Aku sama Kajiv cuma temenan kok, Kak," katanya.
"Iya. Kakak paham. Kakak cuma mau kamu gak salah milih teman."
"Walaupun gara-gara dia aku sering di rangking bawahnya dan bikin Ayah sama Ibu marah terus, tapi dia baik kok sama aku."
"Cuaca aja yang banyak prediksinya tetap bisa berubah-ubah. Apalagi manusia, Rai," jawab Aska. Ia menggenggam erat jemari Raina. "Kakak gak mau kamu terluka terus-terusan."
"Hah? Apa?" Raina menaikkan helm milik Aska yang kebesaran di kepalanya. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Aska, sebab baru saja ada truck besar menyalip. "Maksudnya apa?"
Aska menggeleng. “Ya udah, lupain. Ini langsung pulang atau ke tempat Pak Iqbal dulu?"
"Ke mall yuk, Kak!"
Aska menoleh ke arah spion, memastikan pendengarannya tidak bermasalah. Pasalnya, ia jarang sekali mendengar Raina ingin pergi ke mall jika bukan karena mengantarnya membeli perlengkapan kuliah. Jelas ia terkejut.
"Tumben."
Raina hanya menyunggingkan senyumnya. "Hari ini anniversary Ayah sama Ibu. Aku mau beliin mereka couple sesuatu. Pas banget lagi ada diskonan."
Aska hanya mengangguk. Dalam hati, ia tertawa getir. Ia berpikir, terbuat dari apa hati Raina dengan tegar menjalani semua ini padahal Aska tak yakin apakah orang Raina memikirkan hari perayaan anak gadis pertamanya. Mungkin jawabannya tidak. Buktinya, setiap ulang tahun, bahkan Raina sendiri sering lupa dengan hari lahirnya itu.
Sesampai di mall tujuan Raina, gadis itu bersemangat penuh. Senyumnya tak pernah pudar seperti usai mendapat hadiah sertifikat tanah dan rumah.
"Kemarin malam, gajiku ditransfer lumayan banyak. Aku juga dapat kerjaan baru, lho, Kak. Kemarin aku coba apply nulis artikel, dan ternyata lolos. Terus selain project biasanya, aku bisa dapat tambahan lagi deh dari nulis artikel. Gak sia-sia aku berguru sama Bu Irma tiap abis ngajar anak-anak KIR," jelas Raina sepanjang perjalanan penuh antusias.
"Jangan kerja terlalu keras, tapi. Tiap Kakak bangun jam setengah tiga, lampu kamarmu masih nyala terang. Tidur berapa jam sehari?"
Raina menggeleng. Ia berjalan cepat ketika toko hadiah yang dia cari sudah di depan mata. Ayahnya suka sekali dengan hiasan-hiasan di mobil. Pun, ibunya juga suka dengan patung-patung kecil yang dibuat oleh ayahnya. Seminggu ke depan, di mall ini ada pameran seni yang melelang beberapa lukisan dan karya-karya seni rupa yang lainnya. Termasuk ada patung kecil couple yang dapat dijadikan pajangan di rumah atau dijadikan sebuah hiasan di mobil. Raina ingin membelikan itu untuk ayah dan ibunya sebagai hadiah anniversary mereka. Ia antusias memamerkan ikonik bentuknya yang sangat romantis kepada Aska. Tak elak, lelaki itu juga turut bahagia melihat gadis kecilnya tersenyum lebar sepanjang jalan.
Usai berbelanja hadiah, keduanya mampir di salah satu kedai ramen yang cukup tersohor. Baru saja akan mencari tempat duduk, Aska menarik lengan Raina untuk membuka buku menu.
"Dibungkus bisa, Kak?" tanya Aska. Setelah mendapatkan jawabannya, Aska segera menarik lengan Raina sedikit menjauh dari keramaian.
"Kakak kenapa?" tanya Raina penasaran.
Aska menggaruk rambutnya tak gatal. "Kakak lupa ada buku yang mau dibeli buat penunjang penelitian nanti. Abis ini ke Gramedia, ya!"
"Ooh. Kirain ada apa. Ayo, sih!"
Aska tersenyum lebar mendengar jawaban Raina. Ia mengusak surai lembut Raina, membuat gadis itu mencebik sebab hari ini ia tidak menguncir rambutnya dan membuat tatanannya berantakan.
Puas berkeliling di mall, keduanya segera pulang. Mengingat matahari sudah tidak terlihat lagi, pasti jika Raina tidak segera pulang, akan ada masalah besar lagi. Namun, saat motor Aska berhenti di perempatan, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Raina.
"Mbak, pinjem uang buat belanja, ya? Naya minta dibuatin dimsum sama ayam kecap besok. Hari ini kamu gajian kan, dari Pak Iqbal? Sekalian kamu belanjain, ya! Ibu gak lembur, tapi pulang agak telat. Tadi, Naya nginep di rumah nenek katanya, minta dijemput besok Subuh sebelum sekolah."
Tidak apa. Raina bersyukur, setidaknya uang yang ia kumpulkan untuk membeli hadiah tidak terpotong. Namun, ia berpikir keras sebab sisa tabungannya mungkin akan menipis untuk membeli bahan masakan yang diminta ibunya hari ini.
Raina membalas seadanya, tetapi ia meminta Aska untuk mampir ke supermarket dekat rumah guna membeli titipan sang ibu. Gunanya part time seperti ini memang mencari uang. Sisanya, entah itu uangnya habis untuk dirinya foya-foya atau keluarga, yang penting adalah ia menjadi anak baik untuk ayah dan ibunya.
"Banyak banget belanjanya?" tanya Aska.
"Ibu, nitip," jawab Raina singkat disertai dengan senyum tipis.
"Nitip apa kamu yang belanjain?"
Raina tidak menjawab, Aska pun paham di luar kepala.
Keduanya duduk di teras supermarket setelah berbelanja. Netra Raina tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal. Lantas, ia mendekat. Mulanya, Aska menahan dan memintanya untuk segera pulang. Namun, Raina menolak dan Aska pun akhirnya mengekor di belakang.
"Kajiv, kenapa? Bukannya tadi udah pulang, kok di sini?"
Jiva. Iya, lelaki yang dilihat Raina adalah Jiva. Lelaki itu masih mengenakan seragam persis dengan Raina. Hanya dibalut hoodie putih dan di depannya ada dua kaleng kopi.
"Gue lagi kecewa aja. Lo juga, bukannya dari tadi udah balik?" tanya Jiva balik. Ia menatap Aska yang menatapnya sedikit tidak mengenakkan.
"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Raina. Ia duduk di kursi seberang.
"Gue kangen bokap," kata Jiva lirih. "Gue ketemu orang, dia temen bunda. Deket banget. Kayaknya mereka juga pada suka, tapi entah kenapa bunda kayak maju mundur. Padahal, gue oke banget kalau semisal bunda nikah lagi. Gue bosen jadi yatim dari lahir. Pengen deh punya bapak kayak lo."
Raina terkejut sedikit banyak. Pasalnya, hari-hari ia mengenal Jiva, tidak ada paras rupanya yang memperlihatkan lelaki itu seperti anak tidak memiliki beban. Jiva selalu bilang bahwa orangtuanya tidak pernah menuntut dirinya menjadi sempurna, sebab standar tinggi memang dari Jiva sendiri. Hari ini, Raina benar-benar terkejut mendengarnya.
Tanpa izin, Aska ikut menarik kursi lain, lantas membuka satu kaleng kopi milik Jiva tanpa izin empunya.
"Jangan lihat sesuatu dari covernya. Orang cuma pencitraan doang, semua pasti yang terlihat cuma baik-baiknya doang." Aska meneguk kopinya dalam beberapa kali tegukan. Jiva menatap Aska kesal. "Abis ini gue ganti, sepuluh," sambungnya.
“Nai, bokap lo baik? Nyokap lo pasti bangga deh punya anak emas kayak lo.”
Iya, tapi dalam mimpi.
"Gue bahkan gak inget wajah bokap gue. Gue lahir, setelah seminggu kemudian dia kecelakaan. Bunda sempet depresi dan akhirnya gue diurus nenek sampai lulus SD. Awalnya, Bunda gak mau tahu sama gue dan sibuk kerja sana-sini. Tapi, setelah ketemu sama temen cowoknya, dia jadi baik banget sama gue. Pun, cowok itu. Salah gak kalau gue berharap dia bisa jadi bokap gue? Soalnya, gue punya abang, tapi entahlah dia di mana. Gak paham."
Raina berkedip. "Berharap itu—"
"Di dunia ini manusia diciptakan memang dengan harapan yang tinggi-tinggi, kan?" Aska meneguk kopinya lagi. Ia menatap jalanan lurus di depan, sebelum beralih pada kaleng kopinya. "Gue lahir sebagai anak tunggal. Gak paham gimana rasanya punya saudara. Gue punya orang tua lengkap, duit banyak, bahkan buat beli apartemen di depan kayaknya masih ada meluber tuh kembalian. Sayangnya, mereka kerja banting tulang jauh, gak pernah pulang. Pulang-pulang paling sekali dua kali. Itupun kalau inget, tapi balik lagi. Semua manusia diciptakan tanpa rasa puas. Gue termasuk salah satunya. Kadang, kalau dipikir-pikir manusia itu kurang pandai bersyukur. Mereka terlalu melihat ke atas langit, padahal tanah yang mereka pijaki yang membuatnya berdiri lebih kuat."
"Manusia punya hak buat capek masing-masing kok. Kalau gak kuat ya, tinggal resign jadi manusia. Kan, gampang. Kasih surat pengunduran diri ke Tuhan. Nanti ada penggantinya kok.” Raina terkekeh. "Manusia punya kapasitas sepatu yang berbeda, jadi gak bisa disamakan. Kajiv boleh berharap kalau orang itu memang bisa jadi ayah Kajiv, tapi jangan lupa tentang perjuangan ibu Kajiv juga. Hargai perasaan dan utamakan Ibu lebih dulu. Sama halnya dengan Kak Aska. Kak Aska boleh kok kalau lagi kangen, Kakak bisa telpon langsung orang tua buat pulang. Pasti mereka akan menyisakan waktu. Seperti yang Kakak bilang, mereka pasti punya alasan akan hal itu."
"Buat kamu juga, ya," celetuk Aska. Ia menatap penuh ke arah Raina, sebab tahu bagaimana kondisi gadis itu yang sebenarnya.
"Enak kayaknya jadi lo, Nai. Lo berprestasi, keluarga lengkap, pasti—" Jiva belum selesai berbicara, tetapi ia mendapat toyoran di kepala dari Aska.
"Lo kurang kasih sayang banget kayaknya. Mulutnya lemes amat," katanya.
"Ya, emang," jawab Jiva. "Lo siapa sih? Pacar bukan, sodara bukan. Ngintip mulu perasaan."
"Bangsul! Gue ini Askara. Gue lahir lebih dulu daripada lo dan tahu lebih banyak tentang hidup Rai daripada lo, ya!" Aska hampir saja melempar kaleng bekas kopinya ke kepala Jiva jika tidak dilerai oleh Raina. "Enteng banget tuh congornya. Pen gue kuncir."
"Kok malah berantem sih. Tadi aja saling ngasih mukadimah." Raina menatap Aska dan Jiva bergantian.
"Dia aja kali yang nyerobot. Datang-datang langsung nyinyir." Jiva menatap tajam ke arah Aska.
"Emang anak sekarang perlu dididik keras," geram Aska. "Gue ini lebih tua daripada lo! Gue Kakaknya Raina! Yang sopan lo! Salim sama suhu, sini!"
Jiva melirik tak percaya. "Apa iya?"
Raina menggeleng. "Kak Aska ini tetanggaku. Dari kecil emang kita udah barengan. Dia udah aku anggep abang sendiri. Tetangga juga sering ngira kita kakak adek soalnya ke mana-mana pasti bareng, tapi kita bukan saudara kandung kok."
"Tapi, lo jangan semena-mena, ya! Awas aja kalau lo nyakitin Raina. Abis lo di tangan gue."
Malam itu, menjadi malam pertama ketiganya berkumpul. Jiva si anak yang ngidam sosok ayah, tiba-tiba ada Aska yang merindukan kedua orangtuanya yang tengah banting tulang bekerja keras untuknya di dunia antah berantah, serta ada Raina yang dalam hati berteriak lantang bahwa ia tengah lelah dengan dunianya. Topengnya terlalu kuat, sehingga orang mengira bahwa sempurna bukan berarti tak bisa terluka.
Bukankah yang paling sempurna itu paling banyak cacatnya, ya?
Hari ini, Raina terpaksa mengetuk pintu rumah Aska pagi-pagi. Mana, Aska baru bangun tidur setelah begadang semalaman dengan temannya di rumah. Itu juga sebab Aska yang cerita ketika perjalanan menuju sekolah tadi. Raina merasa bersalah karena seringkali merepotkan mahasiswa yang sedang riweh dengan persiapan magangnya. Namun, Aska justru senang sekali. Bahkan, Aska melupakan muka bantal dan piama yang masih melekat di tubuhnya. Lelaki itu hanya berpamitan pada Raina untuk mencuci muka, gosok gigi, dan mengambil jaket, lalu pergi mengantarnya sebab tak ingin terlambat lagi.
"Gak mandi tetep ganteng kan, Rai?" tanya Aska iseng.
"Iyain, biar cepet."
Raina tersenyum simpul. Ia merapikan buku-bukunya setelah itu mencangklong tas dan segera menuju ke ruang piket untuk menyerahkan buku absensi. Ia membiarkan Jiva di belakang mengikuti langkahnya.
"Aku dijemput, tuh!" Raina menunjuk dengan dagu ke arah sebuah motor yang ada di ujung gerbang. "Kajiv hati-hati pulangnya!"
Entah sejak kapan, Raina mulai menggunakan panggilan itu untuk memanggil Jiva.
"Tunggu! Di sini dulu jangan ke mana-mana! Gue ambil motor," kata Jiva membuat langkah Raina terhenti. Ia tidak mengerti, tetapi tetap menuruti perintah Jiva dan menunggu.
Lima menit kemudian, Jiva datang dengan motor dan helm di tangan. Keduanya, kemudian berjalan beriringan menuju gerbang. Benar, di sana ada Aska yang sudah menunggu di atas motor.
Pria dengan kasual kaus oblong yang tertutupi oleh jaket levis itu memberi kode kepada Raina menggunakan mata, seolah bertanya siapa pria yang ada di samping gadis itu.
"Temen yang sering nganterin aku," ucap Raina berbisik. Ia menerima helm yang disodorkan oleh Aska, lantas memakainya.
"Em ... lo siapanya Naina? Abangnya?" Jiva masih belum pergi.
"Makasih udah sering nganter Rai sampe rumah. Hari ini lo bisa langsung pulang," kata Aska dengan nada dipaksa ramah. Entah kenapa perasaannya tidak enak setelah melihat lelaki di depannya yang mengaku sebagai teman sekelas Raina.
Tak bisa dipungkiri, jika beberapa kali Raina menyebutkan ia memiliki teman dekat seorang lelaki di kelas. Keduanya sempat menjadi rival abadi, bahkan mungkin sampai saat ini. Raina menceritakan itu semua, termasuk bagaimana cara keduanya belajar bersama di kelas dan tanpa kehabisan satu topik untuk membahas seputar kegiatan akademik. Sayangnya, setelah melihat untuk pertama kali hari ini, Aska tiba-tiba dilanda gusar. Padahal, Raina selalu menceritakan tentang betapa menghiburnya sosok temannya tersebut.
"Sama-sama. Lagian gue sama Naina besti kali. Santai aja, ya, Nai."
Aska semakin menampilkan senyum yang penuh keterpaksaan. Apalagi mendengar lelaki itu memanggil nama Raina dengan sebutan yang berbeda. Aska mengangguk sekilas, lantas menyamakan tinggi badannya dengan Raina.
"Utang cerita abis ini sama Kakak," katanya lirih. Lalu, berusaha menampilkan senyum ramah kepada Jiva. "Ya, udah. Sana balik! Ngapain masih di sini?"
Raina menepuk lengan Aska perlahan. "Duluan, Kajiv! Makasih banyak!"
Setelah Jiva pergi dengan motornya, Raina baru naik ke boncengan motor Aska. Lelaki itu menstater kuda besi miliknya dan membelah jalanan.
"Hati-hati, Rai. Meskipun teman, sekalipun ia bisa membuat kamu tertawa, tidak menutup kemungkinan nanti akan menjadi luka. Kakak harap, kamu gak salah ambil langkah."
Mendengar ucapan Aska, Raina terdiam.
"Aku sama Kajiv cuma temenan kok, Kak," katanya.
"Iya. Kakak paham. Kakak cuma mau kamu gak salah milih teman."
"Walaupun gara-gara dia aku sering di rangking bawahnya dan bikin Ayah sama Ibu marah terus, tapi dia baik kok sama aku."
"Cuaca aja yang banyak prediksinya tetap bisa berubah-ubah. Apalagi manusia, Rai," jawab Aska. Ia menggenggam erat jemari Raina. "Kakak gak mau kamu terluka terus-terusan."
"Hah? Apa?" Raina menaikkan helm milik Aska yang kebesaran di kepalanya. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Aska, sebab baru saja ada truck besar menyalip. "Maksudnya apa?"
Aska menggeleng. “Ya udah, lupain. Ini langsung pulang atau ke tempat Pak Iqbal dulu?"
"Ke mall yuk, Kak!"
Aska menoleh ke arah spion, memastikan pendengarannya tidak bermasalah. Pasalnya, ia jarang sekali mendengar Raina ingin pergi ke mall jika bukan karena mengantarnya membeli perlengkapan kuliah. Jelas ia terkejut.
"Tumben."
Raina hanya menyunggingkan senyumnya. "Hari ini anniversary Ayah sama Ibu. Aku mau beliin mereka couple sesuatu. Pas banget lagi ada diskonan."
Aska hanya mengangguk. Dalam hati, ia tertawa getir. Ia berpikir, terbuat dari apa hati Raina dengan tegar menjalani semua ini padahal Aska tak yakin apakah orang Raina memikirkan hari perayaan anak gadis pertamanya. Mungkin jawabannya tidak. Buktinya, setiap ulang tahun, bahkan Raina sendiri sering lupa dengan hari lahirnya itu.
Sesampai di mall tujuan Raina, gadis itu bersemangat penuh. Senyumnya tak pernah pudar seperti usai mendapat hadiah sertifikat tanah dan rumah.
"Kemarin malam, gajiku ditransfer lumayan banyak. Aku juga dapat kerjaan baru, lho, Kak. Kemarin aku coba apply nulis artikel, dan ternyata lolos. Terus selain project biasanya, aku bisa dapat tambahan lagi deh dari nulis artikel. Gak sia-sia aku berguru sama Bu Irma tiap abis ngajar anak-anak KIR," jelas Raina sepanjang perjalanan penuh antusias.
"Jangan kerja terlalu keras, tapi. Tiap Kakak bangun jam setengah tiga, lampu kamarmu masih nyala terang. Tidur berapa jam sehari?"
Raina menggeleng. Ia berjalan cepat ketika toko hadiah yang dia cari sudah di depan mata. Ayahnya suka sekali dengan hiasan-hiasan di mobil. Pun, ibunya juga suka dengan patung-patung kecil yang dibuat oleh ayahnya. Seminggu ke depan, di mall ini ada pameran seni yang melelang beberapa lukisan dan karya-karya seni rupa yang lainnya. Termasuk ada patung kecil couple yang dapat dijadikan pajangan di rumah atau dijadikan sebuah hiasan di mobil. Raina ingin membelikan itu untuk ayah dan ibunya sebagai hadiah anniversary mereka. Ia antusias memamerkan ikonik bentuknya yang sangat romantis kepada Aska. Tak elak, lelaki itu juga turut bahagia melihat gadis kecilnya tersenyum lebar sepanjang jalan.
Usai berbelanja hadiah, keduanya mampir di salah satu kedai ramen yang cukup tersohor. Baru saja akan mencari tempat duduk, Aska menarik lengan Raina untuk membuka buku menu.
"Dibungkus bisa, Kak?" tanya Aska. Setelah mendapatkan jawabannya, Aska segera menarik lengan Raina sedikit menjauh dari keramaian.
"Kakak kenapa?" tanya Raina penasaran.
Aska menggaruk rambutnya tak gatal. "Kakak lupa ada buku yang mau dibeli buat penunjang penelitian nanti. Abis ini ke Gramedia, ya!"
"Ooh. Kirain ada apa. Ayo, sih!"
Aska tersenyum lebar mendengar jawaban Raina. Ia mengusak surai lembut Raina, membuat gadis itu mencebik sebab hari ini ia tidak menguncir rambutnya dan membuat tatanannya berantakan.
Puas berkeliling di mall, keduanya segera pulang. Mengingat matahari sudah tidak terlihat lagi, pasti jika Raina tidak segera pulang, akan ada masalah besar lagi. Namun, saat motor Aska berhenti di perempatan, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Raina.
"Mbak, pinjem uang buat belanja, ya? Naya minta dibuatin dimsum sama ayam kecap besok. Hari ini kamu gajian kan, dari Pak Iqbal? Sekalian kamu belanjain, ya! Ibu gak lembur, tapi pulang agak telat. Tadi, Naya nginep di rumah nenek katanya, minta dijemput besok Subuh sebelum sekolah."
Tidak apa. Raina bersyukur, setidaknya uang yang ia kumpulkan untuk membeli hadiah tidak terpotong. Namun, ia berpikir keras sebab sisa tabungannya mungkin akan menipis untuk membeli bahan masakan yang diminta ibunya hari ini.
Raina membalas seadanya, tetapi ia meminta Aska untuk mampir ke supermarket dekat rumah guna membeli titipan sang ibu. Gunanya part time seperti ini memang mencari uang. Sisanya, entah itu uangnya habis untuk dirinya foya-foya atau keluarga, yang penting adalah ia menjadi anak baik untuk ayah dan ibunya.
"Banyak banget belanjanya?" tanya Aska.
"Ibu, nitip," jawab Raina singkat disertai dengan senyum tipis.
"Nitip apa kamu yang belanjain?"
Raina tidak menjawab, Aska pun paham di luar kepala.
Keduanya duduk di teras supermarket setelah berbelanja. Netra Raina tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal. Lantas, ia mendekat. Mulanya, Aska menahan dan memintanya untuk segera pulang. Namun, Raina menolak dan Aska pun akhirnya mengekor di belakang.
"Kajiv, kenapa? Bukannya tadi udah pulang, kok di sini?"
Jiva. Iya, lelaki yang dilihat Raina adalah Jiva. Lelaki itu masih mengenakan seragam persis dengan Raina. Hanya dibalut hoodie putih dan di depannya ada dua kaleng kopi.
"Gue lagi kecewa aja. Lo juga, bukannya dari tadi udah balik?" tanya Jiva balik. Ia menatap Aska yang menatapnya sedikit tidak mengenakkan.
"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Raina. Ia duduk di kursi seberang.
"Gue kangen bokap," kata Jiva lirih. "Gue ketemu orang, dia temen bunda. Deket banget. Kayaknya mereka juga pada suka, tapi entah kenapa bunda kayak maju mundur. Padahal, gue oke banget kalau semisal bunda nikah lagi. Gue bosen jadi yatim dari lahir. Pengen deh punya bapak kayak lo."
Raina terkejut sedikit banyak. Pasalnya, hari-hari ia mengenal Jiva, tidak ada paras rupanya yang memperlihatkan lelaki itu seperti anak tidak memiliki beban. Jiva selalu bilang bahwa orangtuanya tidak pernah menuntut dirinya menjadi sempurna, sebab standar tinggi memang dari Jiva sendiri. Hari ini, Raina benar-benar terkejut mendengarnya.
Tanpa izin, Aska ikut menarik kursi lain, lantas membuka satu kaleng kopi milik Jiva tanpa izin empunya.
"Jangan lihat sesuatu dari covernya. Orang cuma pencitraan doang, semua pasti yang terlihat cuma baik-baiknya doang." Aska meneguk kopinya dalam beberapa kali tegukan. Jiva menatap Aska kesal. "Abis ini gue ganti, sepuluh," sambungnya.
“Nai, bokap lo baik? Nyokap lo pasti bangga deh punya anak emas kayak lo.”
Iya, tapi dalam mimpi.
"Gue bahkan gak inget wajah bokap gue. Gue lahir, setelah seminggu kemudian dia kecelakaan. Bunda sempet depresi dan akhirnya gue diurus nenek sampai lulus SD. Awalnya, Bunda gak mau tahu sama gue dan sibuk kerja sana-sini. Tapi, setelah ketemu sama temen cowoknya, dia jadi baik banget sama gue. Pun, cowok itu. Salah gak kalau gue berharap dia bisa jadi bokap gue? Soalnya, gue punya abang, tapi entahlah dia di mana. Gak paham."
Raina berkedip. "Berharap itu—"
"Di dunia ini manusia diciptakan memang dengan harapan yang tinggi-tinggi, kan?" Aska meneguk kopinya lagi. Ia menatap jalanan lurus di depan, sebelum beralih pada kaleng kopinya. "Gue lahir sebagai anak tunggal. Gak paham gimana rasanya punya saudara. Gue punya orang tua lengkap, duit banyak, bahkan buat beli apartemen di depan kayaknya masih ada meluber tuh kembalian. Sayangnya, mereka kerja banting tulang jauh, gak pernah pulang. Pulang-pulang paling sekali dua kali. Itupun kalau inget, tapi balik lagi. Semua manusia diciptakan tanpa rasa puas. Gue termasuk salah satunya. Kadang, kalau dipikir-pikir manusia itu kurang pandai bersyukur. Mereka terlalu melihat ke atas langit, padahal tanah yang mereka pijaki yang membuatnya berdiri lebih kuat."
"Manusia punya hak buat capek masing-masing kok. Kalau gak kuat ya, tinggal resign jadi manusia. Kan, gampang. Kasih surat pengunduran diri ke Tuhan. Nanti ada penggantinya kok.” Raina terkekeh. "Manusia punya kapasitas sepatu yang berbeda, jadi gak bisa disamakan. Kajiv boleh berharap kalau orang itu memang bisa jadi ayah Kajiv, tapi jangan lupa tentang perjuangan ibu Kajiv juga. Hargai perasaan dan utamakan Ibu lebih dulu. Sama halnya dengan Kak Aska. Kak Aska boleh kok kalau lagi kangen, Kakak bisa telpon langsung orang tua buat pulang. Pasti mereka akan menyisakan waktu. Seperti yang Kakak bilang, mereka pasti punya alasan akan hal itu."
"Buat kamu juga, ya," celetuk Aska. Ia menatap penuh ke arah Raina, sebab tahu bagaimana kondisi gadis itu yang sebenarnya.
"Enak kayaknya jadi lo, Nai. Lo berprestasi, keluarga lengkap, pasti—" Jiva belum selesai berbicara, tetapi ia mendapat toyoran di kepala dari Aska.
"Lo kurang kasih sayang banget kayaknya. Mulutnya lemes amat," katanya.
"Ya, emang," jawab Jiva. "Lo siapa sih? Pacar bukan, sodara bukan. Ngintip mulu perasaan."
"Bangsul! Gue ini Askara. Gue lahir lebih dulu daripada lo dan tahu lebih banyak tentang hidup Rai daripada lo, ya!" Aska hampir saja melempar kaleng bekas kopinya ke kepala Jiva jika tidak dilerai oleh Raina. "Enteng banget tuh congornya. Pen gue kuncir."
"Kok malah berantem sih. Tadi aja saling ngasih mukadimah." Raina menatap Aska dan Jiva bergantian.
"Dia aja kali yang nyerobot. Datang-datang langsung nyinyir." Jiva menatap tajam ke arah Aska.
"Emang anak sekarang perlu dididik keras," geram Aska. "Gue ini lebih tua daripada lo! Gue Kakaknya Raina! Yang sopan lo! Salim sama suhu, sini!"
Jiva melirik tak percaya. "Apa iya?"
Raina menggeleng. "Kak Aska ini tetanggaku. Dari kecil emang kita udah barengan. Dia udah aku anggep abang sendiri. Tetangga juga sering ngira kita kakak adek soalnya ke mana-mana pasti bareng, tapi kita bukan saudara kandung kok."
"Tapi, lo jangan semena-mena, ya! Awas aja kalau lo nyakitin Raina. Abis lo di tangan gue."
Malam itu, menjadi malam pertama ketiganya berkumpul. Jiva si anak yang ngidam sosok ayah, tiba-tiba ada Aska yang merindukan kedua orangtuanya yang tengah banting tulang bekerja keras untuknya di dunia antah berantah, serta ada Raina yang dalam hati berteriak lantang bahwa ia tengah lelah dengan dunianya. Topengnya terlalu kuat, sehingga orang mengira bahwa sempurna bukan berarti tak bisa terluka.
Bukankah yang paling sempurna itu paling banyak cacatnya, ya?
Other Stories
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Tes
tes ...