Selamat Datang, Raina!
"Lulusan terbaik SMA Nusa Risalah diberikan kepada ... Raina Aruka Alma." Suara MC disambut dengan riuh tepuk tangan seluruh warga sekolah menggema. "Raina tidak hanya menjadi lulusan terbaik, ia juga lulusan termuda SMA Nuri Angkatan 27. Prestasinya di bidang akademik maupun non akademik begitu banyak. Salah satunya, peraih medali emas OSN Matematika 2025. Selamat! Sebelumnya SMA Nuri belum pernah mendapat penghargaan tersebut, tahun ini Raina menjadi salah satu perwakilan yang membanggakan. Tepuk tangan semuanya!"
Raina tersenyum hangat di balik kemeja putih beserta almamater SMA-nya. Hari ini ia tampil sederhana dengan make up tipis ala-ala dirinya dan Aska, lalu lelaki itu juga sempat menguncir rambutnya dengan beberapa kepangan kecil hingga tertata lebih rapi.
Gadis itu berjalan ke podium dengan langkah kecilnya. Berita mengenai siapa lulusan terbaik sudah menyebar cepat sebelum perpisahan digelar, menempel di dinding koridor, menjadi bahan percakapan para guru dan siswa. Anak yang tidak pernah terlihat bersinar di rumah, justru meledak seperti meteor di langit sekolah. Tawaran demi tawaran datang menghampiri. Mulai dari universitas ternama di dalam negeri, sampai luar negeri. Semua menyanjungnya, semua memintanya melangkah lebih jauh, lebih tinggi, lebih cepat. Hanya satu yang tidak ada di sana, kehadiran orang tuanya. Tidak, tidak. Ayahnya datang, tetapi bukan untuk menyambutnya. Untuk Jiva dan semua orang tahu bahwa kebenaran itu tak pernah hilang dari realita milik Raina. Sejauh apapun ia menghindar, gerbang menuju kenyataan itu menyambutnya terang-terangan.
Raina membungkuk setengah rukuk kepada semua orang. Ia menerima sertifikat serta marmer kecil bertuliskan lulusan terbaik angkatan 27 SMA Nusa Risalah, lalu bersaliman dengan kepala sekolah. Setelah itu, ia turun dan kembali ke tempat duduknya. Di sampingnya sudah ada lelaki yang selama ini menemaninya bangkit dari masa-masa kelam, Aska.
"Hebat! Adik kecil Kakak hebat!" kata Aska. "Nanti siang Mama sama Papa landing, mau jemput?"
Raina mengangguk. Ia menatap map berisikan beberapa amplop penerimaan mahasiswa baru dari berbagai universitas ternama. Namun, Raina memilih menutup itu, berhenti. Menyimpan semuanya di dalam kotak besar yang ada di lemari kamarnya. Ia menolak sebagian besar jalan yang dibuka untuknya. Bukan karena ia tidak mampu, bukan karena ia takut, tetapi karena tubuh dan jiwanya sudah terlalu lelah.
Setelah nyaris kehilangan hidupnya di sebuah malam gelap, setelah tubuhnya hampir menyerah pada luka yang tidak terlihat, Raina tahu tidak ada prestasi, tidak ada piala, tidak ada nilai rapor yang bisa menyelamatkannya dari dirinya sendiri. Karena itu, Raina memilih tenang. Ia bekerja di sebuah kafe buku kecil yang baru dibuka di kota itu. Tempat dengan aroma kopi yang hangat, roti bakar yang nikmat, tumpukan buku bekas, dan lampu kuning yang membuat orang betah berlama-lama. Dari kafe itu, ia belajar bahwa hidup tidak harus selalu berlari. Ia belajar menyeduh kopi, membakar roti, merapikan buku, menyapa pengunjung dengan senyum yang dulu jarang ia bagi. Di antara halaman-halaman buku yang ia rapikan, ia menemukan cara baru untuk mencintai hidupnya secara perlahan.
Ia masih mengingat malam ketika tubuhnya hampir tak tertolong. Ia masih bisa merasakan rasa dingin saat dengan sengaja memutus nadinya karena penuh rasa putus asa dalam dada. Ia pernah mengejar semua hal dengan gila-gilaan. Dari nilai sempurna, tambahan untuk mengajar les, sampai rumah pun ia masih bergelut dengan project-project freelance yang wajib dia setor, belum lagi belajar untuk latihan-latihan uji kompetensi, mengajar ekskul, dan semua itu ia ambil agar tak pernah merasakan sakitnya karena rumahnya yang hancur. Sampai tubuhnya menjerit sakit, sampai dirinya benar-benar runtuh tak bertenaga. Malam itu, ia nyaris menyerah untuk kesekian kali. Namun, Aska tidak pernah berhenti menahannya.
“Berdamai itu cuma ada kalau kamu mau, Rai. Bukan dari orang lain, tapi diri kamu sendiri," kata Aska saat Raina baru saja membuka mata. Ia tidak mengingat betapa lelahnya tubuhnya setelah menjalani hari-hari berat. Sampai ia baru saja membuka pintu kamar, tetapi tubuhnya lebih dulu limbung dan terbangun di kamar bernuansa putih, lengkap dengan kantong infus yang membalut tangan kanannya.
Kata itu melekat. Kata itu yang membuatnya berani membuka mata di esok hari. Kata itu yang membuatnya berani menjalani hidup baru, meski ibunya pergi entah ke mana, meski ayahnya lebih memilih berbahagia dengan orang lain di sana, meski Naya akhirnya tinggal bersama nenek, dan ia hanya bersama sunyi yang memenuhi sepanjang hari.
Rumah yang dulu ingin ia perjuangkan sudah tak bisa ia satukan. Anehnya Raina tidak lagi hancur karenanya. Ia belajar menerima bahwa tidak semua rumah harus bertahan. Rumah sejati bisa ia bangun di tubuhnya sendiri.
Tahun ini, Raina akan menginjakkan kaki di usia 17 tahun pada Desember akhir tahun nanti. Raina memberanikan diri untuk melangkah ke babak baru. Ia memasuki gerbang dewasa dan menjalani realita sebagai mahasiswa baru. Tidak lagi sebagai gadis pemurung yang membawa seribu luka di punggung, tetapi sebagai dirinya yang perlahan belajar berdamai. Ia lebih terbuka, lebih berani tersenyum, lebih bisa menerima bahwa luka tidak selalu harus lenyap untuk bisa hidup.
Malam itu, di kamarnya yang sederhana, Raina menulis surat terakhir untuk dirinya.
"Untuk diriku sendiri, yang pernah ingin berhenti di tengah jalan. Hai, aku akhirnya melihatmu lagi. Aku akhirnya mengulurkan tangan untuk memelukmu. Kamu bukan lagi musuhku, kamu adalah rumahku. Terima kasih karena sudah bertahan, meski semua ingin menjatuhkanmu. Kini, aku tidak lagi mencari rumah di luar sana. Aku mulai membangunnya di dalam diriku sendiri. Selamat datang, Raina. Kamu akhirnya pulang."
Surat itu ia lipat, ia simpan di antara halaman sebuah buku yang paling sering ia buka di kafe. Tidak ada yang tahu isinya, tidak ada yang tahu betapa beratnya proses sampai ia bisa menulis kata-kata itu. Namun, bagi Raina semua itu lebih dari cukup.
Yang hancur memang tidak akan pernah kembali menjadi satu kesatuan. Namun, Raina tidak lagi mengejar kesempurnaan. Ia hanya mencari keberanian untuk hidup hari demi hari. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia pulang. Bukan ke rumah berdinding retak, bukan ke keluarga yang pecah, melainkan ke dalam dirinya sendiri. Memeluk dirinya, mengatakan bahwa tidak akan pernah berhenti lagi, apalagi di tangan sendiri.
"Kata Kak Aska, kamu besok ambil jas sama perlengkapan mahasiswa baru jam delapan pagi, beneran? Jangan sendirian, ya! Mama sama Papa anterin pokok. Jam lima Subuh harus udah cantik dan kita otw dari rumah. Besok kita quality time ya, Putri Mama."
Selamat datang di gerbang baru, Raina! Semoga selamat sampai tamat.
[Shodaqallahul'adzim, tamat]
Terima kasih.
Raina tersenyum hangat di balik kemeja putih beserta almamater SMA-nya. Hari ini ia tampil sederhana dengan make up tipis ala-ala dirinya dan Aska, lalu lelaki itu juga sempat menguncir rambutnya dengan beberapa kepangan kecil hingga tertata lebih rapi.
Gadis itu berjalan ke podium dengan langkah kecilnya. Berita mengenai siapa lulusan terbaik sudah menyebar cepat sebelum perpisahan digelar, menempel di dinding koridor, menjadi bahan percakapan para guru dan siswa. Anak yang tidak pernah terlihat bersinar di rumah, justru meledak seperti meteor di langit sekolah. Tawaran demi tawaran datang menghampiri. Mulai dari universitas ternama di dalam negeri, sampai luar negeri. Semua menyanjungnya, semua memintanya melangkah lebih jauh, lebih tinggi, lebih cepat. Hanya satu yang tidak ada di sana, kehadiran orang tuanya. Tidak, tidak. Ayahnya datang, tetapi bukan untuk menyambutnya. Untuk Jiva dan semua orang tahu bahwa kebenaran itu tak pernah hilang dari realita milik Raina. Sejauh apapun ia menghindar, gerbang menuju kenyataan itu menyambutnya terang-terangan.
Raina membungkuk setengah rukuk kepada semua orang. Ia menerima sertifikat serta marmer kecil bertuliskan lulusan terbaik angkatan 27 SMA Nusa Risalah, lalu bersaliman dengan kepala sekolah. Setelah itu, ia turun dan kembali ke tempat duduknya. Di sampingnya sudah ada lelaki yang selama ini menemaninya bangkit dari masa-masa kelam, Aska.
"Hebat! Adik kecil Kakak hebat!" kata Aska. "Nanti siang Mama sama Papa landing, mau jemput?"
Raina mengangguk. Ia menatap map berisikan beberapa amplop penerimaan mahasiswa baru dari berbagai universitas ternama. Namun, Raina memilih menutup itu, berhenti. Menyimpan semuanya di dalam kotak besar yang ada di lemari kamarnya. Ia menolak sebagian besar jalan yang dibuka untuknya. Bukan karena ia tidak mampu, bukan karena ia takut, tetapi karena tubuh dan jiwanya sudah terlalu lelah.
Setelah nyaris kehilangan hidupnya di sebuah malam gelap, setelah tubuhnya hampir menyerah pada luka yang tidak terlihat, Raina tahu tidak ada prestasi, tidak ada piala, tidak ada nilai rapor yang bisa menyelamatkannya dari dirinya sendiri. Karena itu, Raina memilih tenang. Ia bekerja di sebuah kafe buku kecil yang baru dibuka di kota itu. Tempat dengan aroma kopi yang hangat, roti bakar yang nikmat, tumpukan buku bekas, dan lampu kuning yang membuat orang betah berlama-lama. Dari kafe itu, ia belajar bahwa hidup tidak harus selalu berlari. Ia belajar menyeduh kopi, membakar roti, merapikan buku, menyapa pengunjung dengan senyum yang dulu jarang ia bagi. Di antara halaman-halaman buku yang ia rapikan, ia menemukan cara baru untuk mencintai hidupnya secara perlahan.
Ia masih mengingat malam ketika tubuhnya hampir tak tertolong. Ia masih bisa merasakan rasa dingin saat dengan sengaja memutus nadinya karena penuh rasa putus asa dalam dada. Ia pernah mengejar semua hal dengan gila-gilaan. Dari nilai sempurna, tambahan untuk mengajar les, sampai rumah pun ia masih bergelut dengan project-project freelance yang wajib dia setor, belum lagi belajar untuk latihan-latihan uji kompetensi, mengajar ekskul, dan semua itu ia ambil agar tak pernah merasakan sakitnya karena rumahnya yang hancur. Sampai tubuhnya menjerit sakit, sampai dirinya benar-benar runtuh tak bertenaga. Malam itu, ia nyaris menyerah untuk kesekian kali. Namun, Aska tidak pernah berhenti menahannya.
“Berdamai itu cuma ada kalau kamu mau, Rai. Bukan dari orang lain, tapi diri kamu sendiri," kata Aska saat Raina baru saja membuka mata. Ia tidak mengingat betapa lelahnya tubuhnya setelah menjalani hari-hari berat. Sampai ia baru saja membuka pintu kamar, tetapi tubuhnya lebih dulu limbung dan terbangun di kamar bernuansa putih, lengkap dengan kantong infus yang membalut tangan kanannya.
Kata itu melekat. Kata itu yang membuatnya berani membuka mata di esok hari. Kata itu yang membuatnya berani menjalani hidup baru, meski ibunya pergi entah ke mana, meski ayahnya lebih memilih berbahagia dengan orang lain di sana, meski Naya akhirnya tinggal bersama nenek, dan ia hanya bersama sunyi yang memenuhi sepanjang hari.
Rumah yang dulu ingin ia perjuangkan sudah tak bisa ia satukan. Anehnya Raina tidak lagi hancur karenanya. Ia belajar menerima bahwa tidak semua rumah harus bertahan. Rumah sejati bisa ia bangun di tubuhnya sendiri.
Tahun ini, Raina akan menginjakkan kaki di usia 17 tahun pada Desember akhir tahun nanti. Raina memberanikan diri untuk melangkah ke babak baru. Ia memasuki gerbang dewasa dan menjalani realita sebagai mahasiswa baru. Tidak lagi sebagai gadis pemurung yang membawa seribu luka di punggung, tetapi sebagai dirinya yang perlahan belajar berdamai. Ia lebih terbuka, lebih berani tersenyum, lebih bisa menerima bahwa luka tidak selalu harus lenyap untuk bisa hidup.
Malam itu, di kamarnya yang sederhana, Raina menulis surat terakhir untuk dirinya.
"Untuk diriku sendiri, yang pernah ingin berhenti di tengah jalan. Hai, aku akhirnya melihatmu lagi. Aku akhirnya mengulurkan tangan untuk memelukmu. Kamu bukan lagi musuhku, kamu adalah rumahku. Terima kasih karena sudah bertahan, meski semua ingin menjatuhkanmu. Kini, aku tidak lagi mencari rumah di luar sana. Aku mulai membangunnya di dalam diriku sendiri. Selamat datang, Raina. Kamu akhirnya pulang."
Surat itu ia lipat, ia simpan di antara halaman sebuah buku yang paling sering ia buka di kafe. Tidak ada yang tahu isinya, tidak ada yang tahu betapa beratnya proses sampai ia bisa menulis kata-kata itu. Namun, bagi Raina semua itu lebih dari cukup.
Yang hancur memang tidak akan pernah kembali menjadi satu kesatuan. Namun, Raina tidak lagi mengejar kesempurnaan. Ia hanya mencari keberanian untuk hidup hari demi hari. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia pulang. Bukan ke rumah berdinding retak, bukan ke keluarga yang pecah, melainkan ke dalam dirinya sendiri. Memeluk dirinya, mengatakan bahwa tidak akan pernah berhenti lagi, apalagi di tangan sendiri.
"Kata Kak Aska, kamu besok ambil jas sama perlengkapan mahasiswa baru jam delapan pagi, beneran? Jangan sendirian, ya! Mama sama Papa anterin pokok. Jam lima Subuh harus udah cantik dan kita otw dari rumah. Besok kita quality time ya, Putri Mama."
Selamat datang di gerbang baru, Raina! Semoga selamat sampai tamat.
[Shodaqallahul'adzim, tamat]
Terima kasih.
Other Stories
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...