Bab 8 - Raina Juga Sakit, Bu!
Hujan sore itu turun tanpa permisi. Deras, menusuk, dan membuat jalanan kota mendadak basah seperti lautan kecil. Raina menutup buku lesnya sedikit buru-buru, memasukkannya ke dalam tas yang sudah nyaris jebol resletingnya. Jas hujan? Tentu saja tidak ada. Ia lupa membawanya pagi tadi karena terburu-buru saat berangkat.
Pak Iqbal sempat menahan dan akan mengantarnya saja dengan mobil, setelah istrinya pulang. Namun, Raina menolak. Akan lebih lama jika menunggu kedatangan istri Pak Iqbal, mengingat sekarang sudah hampir isya. Istri Pak Iqbal paling cepat pulang pukul 20.00. Sedangkan, ibunya akhir-akhir ini dalam mood buruk. Jika, Raina pulang terlambat, ia tidak akan diizinkan masuk. Ia akan tidur di luar sepanjang malam, seperti beberapa hari yang lalu, sebab dirinya lupa melihat jam saat pergi ke perpustakaan kota.
Begitu keluar dari tempat les milik Pak Iqbal, udara dingin langsung menampar kulitnya. Aroma tanah basah bercampur dengan asap knalpot membuat kepalanya pening. Rambutnya langsung basah. Rintiknya turut membasahi seragamnya menempel di kulit. Langkahnya berat, tetapi ia tetap berjalan cepat. Tak ada pilihan lain, ia harus segera pulang. Jika, ia berdiam diri lebih lama, mungkin akan terjebak di sana entah sampai kapan. Sepertinya, hujannya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Sepanjang perjalanan, ia bergumam dalam hati.
“Kenapa aku harus selalu lupa bawa jas hujan? Kenapa aku harus selalu lari dari satu tempat ke tempat lain, kayak lagi lomba maraton hidup yang nggak ada garis finishnya?”
Ban sepedanya berputar dipenuhi lumpur, sesekali akan bersih kembali setelah menginjak genangan air di atas aspal. Sepasang netra Raina sudah pedih, menahan air hujan yang terus mengguyur. Sepedanya nyaris tergelincir di dekat tikungan, ia mengerem terlalu dadakan di medan yang licin. Jantungnya berdegup, bukan karena takut jatuh, tapi karena merasa tubuhnya mulai goyah. Angin dingin menusuk tulang bercampur dengan rasa lelah yang menumpuk berhari-hari, Raina mencoba abai. Ia mengayuh sepedanya semakin cepat agar sampai rumah. Setidaknya, lebih dulu sebelum ibunya pulang.
Saat berhasil memasuki pekarangan rumah, ia merasa sedikit lega. Raina segera memarkirkan sepeda ketempatnya, lantas menjemur sepatu di rak belakang rumah yang sempat ia lepas sebelum pulang tadi. Setelah itu, baru ia masuk ke rumah lewat pintu belakang. Bukannya disambut hangat, Raina dihadiahi suara tinggi ibunya.
“Kamu di mana aja?! Kenapa baru pulang? Sekarang jam berapa?” suara ibunya meledak dari ruang tamu. "Ibu, kan, udah ingetin berkali-kali jangan pulang malem-malem. Kamu mau jadi apa, anak gadis pulang malem-malem. Gak enak dilihat tetangga, tau. Mana belum ganti seragam. Mau mencoreng nama keluarga, iya?"
Raina mengucek mata, berusaha fokus. “Baru pulang ngajar, Bu … habis dari tempat Pak Iqbal.”
“Ngajarin orang lain?!” Ibunya berdiri, wajahnya merah, tangan bersedekap. "Kamu Ibu suruh ngajarin adek sendiri aja gak bisa, ngapain sibuk ngajarin orang lain, ha?"
Kalimat itu benar-benar menusuk dada Raina. Tidak ada yang menanyakan bagaimana kondisinya, tapi sibuk mengomentari agar ia tak memalukan nama baik keluarga.
“Naya jatuh di sekolah tadi, gara-gara berantem sama temennya. Kamu ke mana aja, hah? Ibu minta kamu ajarin dia supaya jadi anak baik-baik, malah berantem dan terluka gini, tapi kamu malah asyik ngajari anak orang lain. Kamu itu anak sulung, Mbak, harus bisa jadi panutan adikmu. Adikmu itu nakal, makanya jangan fokus ke orang lain terus.”
Raina terdiam. Hujan yang masih menetes dari seragamnya membuat lantai basah. Ia yakin, ibunya pasti bisa melihat dan akan marah sebentar lagi jika ia tidak segera membereskan kekacauannya. Tangan Raina gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena amarah yang ditahan.
“Bu, aku nggak tau. Aku baru aja pulang. Naya kan di sekolah, bukan sama aku. Lagian, Ibu sama ayah juga jarang pulang. Naya anak Ibu sama ayah kan? Aku bukan orang tuanya, Bu.”
“Alasan! Selalu alasan! Kamu itu kakaknya! Kamu juga punya tanggung jawab sama dia. Ibu itu capek. Kerjaan Ibu banyak, tapi pulang-pulang kalian terus aja bikin masalah. Kenapa sih kamu nggak pernah ngertiin Ibu, Mbak?”
“Bu, aku juga capek …” suara Raina bergetar, hampir tak terdengar.
"Capek apa? Kerja aja enggak, bilang capek. Kamu itu cuma sekolah aja bilang capek. Gimana kerja?"
“Udahlah, Bu. Aku makin pusing denger Ibu marah-marah terus tiap hari.”
Ibunya mendengus, menepis. “Ah, sakit-sakit! Kamu itu nggak usah manja! Badan kamu kan sehat, masa sakit terus? Jangan lebay!”
Raina menunduk. Kata-kata itu lebih tajam daripada udara dingin yang menusuk tubuhnya. Setelah itu, Ibu pergi, dengan dumelan di bibir yang masih belum berhenti. Raina hanya mendengarnya dalam diam. Ia ingin menjawab, ingin berteriak bahwa dirinya juga manusia, tapi lidahnya kelu.
Naya muncul dari kamar, memegang lutut yang ditempeli plester. “Mbak …” panggilnya lirih.
Raina menoleh, matanya sayu. “Sakit, Nay?” Ia menemukan ada bekas cakaran memanjang di pipi adiknya.
Adiknya mengangguk pelan. Raina ingin memeluk Naya, tapi seragamnya masih basah. Ia hanya tersenyum tipis, dan mengusak rambut Naya lembut.
"Bukan aku yang mulai. Dia yang ngejek, katanya aku gak punya ayah sama ibu, makanya apa-apa diurusin Mbaknya terus. Dia juga dorong aku sampai lututku kena lantai, nih."
Raina tidak tahu, apakah adiknya itu berbohong atau tidak. Namun, Raina paham jika adiknya tidak akan mudah terpancing emosi apalagi mengenai ayah dan ibu, atau dirinya.
•
Raina benar-benar tumbang. Pukul dua pagi, ia terbangun saat merasakan demam menyerangnya. Tenggorokannya perih, kepalanya berdenyut, hidungnya tersumbat. Ia menggigil di balik selimut tipis, sementara dari luar kamar, suara televisi terdengar begitu keras.
Ayahnya pulang, Raina tahu. Saat ini, pria itu mungkin sedang menonton bola favoritnya. Makanya, suara televisi terdengar sampai ke kamarnya.
Raina hendak minum, tetapi naasnya botol minum di kamarnya kosong. Ia menahan diri, lantas kembali menidurkan tubuh ringkihnya.
Sehat, please. Jangan manja! Harus jadi cewek kuat, biar ibu gak marah-marah terus. Ibu aja yang kerja lembur-lembur tiap hari sehat, masa baru kehujanan sekali aja udah tumbang. Ayo, Raina, pasti bisa!
Raina meyugesti dirinya. Berharap, ketika bangun pagi tubuhnya akan baik-baik saja lagi.
Sayangnya, imajinasinya begitu tinggi. Bangun pagi, ia mendengar teriakan ibunya dari dapur.
“Bangun, Raina! Anak gadis bangunnya kesiangan terus, mau jadi apa?”
Memangnya, ia punya cita-cita selain hidup dengan tenang untuk esok dan seterusnya?
Akhirnya Raina terpaksa bangkit dengan langkah tertatih menuju kamar mandi. Kepalanya benar-benar seperti dihantam beban berton-ton yang tak mampu ia kendalikan. Kepalan tangan Raina sesekali memukulnya berkali-kali, berharap sakit itu sedikit mereda. Ia merasa tubuhnya seperti mau ambruk.
Ingatannya melayang ke masa kecil. Ia teringat saat kelas dua SD, ketika demam tinggi membuatnya hampir pingsan di sekolah. Gurunya menelpon rumah, tapi saat ibunya datang, bukannya dipeluk, Raina malah dimarahi.
“Dasar lemah! Anak lain juga main hujan-hujanan, nggak ada yang sakit tuh! Kamu itu jangan bikin malu! Baru juga hujan-hujanan aja udah sakit. Kamu itu nggak kerja lho, Mbak. Jangan sakit-sakitan terus dong!”
Raina yang kecil hanya bisa menangis diam-diam di pojok kasur, menahan panas di kepala sambil memeluk boneka kumalnya. Sejak saat itu, ia belajar satu hal bahwa sakit tidak akan pernah jadi alasan yang diterima di rumah ini.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia masih merasakan hal yang sama. Di kamar sempitnya, ia terbaring dengan keringat dingin. Tubuhnya lemas, pikirannya kacau. Usai mandi, ia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk bangkit.
“Kenapa sih aku harus selalu kuat? Kenapa aku nggak pernah boleh lemah? Apa gunanya punya Ibu, kalau tiap kali aku butuh, yang aku dapat cuma bentakan?”
Matanya panas, bukan hanya karena demam, tapi juga karena air mata yang menggenang. Ia menengadah ke langit-langit kamar, seolah mencari jawaban.
Ponselnya bergetar. Notifikasi chat masuk. Jiva.
"Nai, ada tugas kimia, kan? Gue udah setengah nyerah. Lo udah ngerjain belum?"
Raina menyusun bantal lebih tinggi, setidaknya untuk menopang tubuhnya agar tidak terlalu pusing. Lantas, ia membuka buku yang kebetulan ada di samping bantalnya. Buku-buku itu akan ia masukkan ke tas dan ia bawa ke sekolah, tetapi pening yang kian menjadi-jadi, membuat aktivitasnya terhenti.
“Belum, Jiv. Bolos, ah, sehari."
Tak lama, sebuah balasan masuk lagi. Jiva pengirimnya.
"Bolas-bolos. Baik begitu? Ayolah, gak yakin gue kalau lo belum ngerjain. Please, ajarin dong. Nyontek deh, maksud gue."
Raina menimbang-nimbang, jika ia tetap memaksa masuk, kemungkinan dirinya akan dipulangkan jika ia timbang di sekolah. Ibunya akan semakin marah jika hal itu sampai terjadi.
“Lo oke, Nai? Jangan-jangan lo sakit, abis minum air hujan kemarin? Kemarin ujan deres sampai mau Subuh. Gue bilang juga apa, jangan suka nelen air gratisan dari langit.”
Sambungan pesan dari Jiva berhasil membuat senyum tipis di bibir Raina. Ia bangkit perlahan, tanpa ada niatan membalas pesan Jiva. Tangannya sibuk menata bukunya ke dalam ransel. Ia akan meminta bantuan Aska hari ini.
"Kak, bisa anter aku nggak?" kata Raina di papan pesan kepada Aska. Tak lama kemudian, Aska membalas dengan cepat.
"Hari ini hamba sedang tidak ada jadwal ke mana-mana, Tuan Putri. Hamba akan bersenang hati untuk mengantar jemput Tuan Putri."
Balasan Aska kontan membuat Raina semakin tertawa kecil. Ia seperti memiliki teman konyol sekarang. Sebelum keluar kamar, Raina membaca balasan dari Jiva lagi yang semakin membuat hatinya hangat.
"Kalau lo sakit, jangan berangkat, ya! Istirahat di rumah aja. Mau gue anterin bubur nggak? Gue bisa nyuri dari kantin. Biar Pak Satpam kejar-kejar gue. Lihat, pesona gue! Pak Satpam aja ngejar-ngejar gue, apalagi ciwi-ciwi. Atau, kalau lo nggak mau bubur, gue bawain pulpen baru aja. Biar yang ilang kemarin ada kembarannya. Lo jangan terus pura-pura kuat. Manusia pasti butuh istirahat, Nai."
Raina menatap layar, senyumnya samar. Ada getir di dadanya, tapi juga ada kehangatan aneh yang menyusup. Di saat semua orang di rumah menganggap sakitnya remeh, ia memiliki dua orang yang masih sempat bercanda untuk membuatnya merasa hidup. Aska dan Jiva.
Begitu ponsel dimatikan, rasa sakit kembali menyergap. Kepalanya semakin berat. Ia menutup mata, berharap bisa tidur.
“Jangan manja! Jangan lebay! Kamu harus kuat!”
Kalimat menyakitkan milik ibunya terus saja berputar di kepala seperti kaset rusak.
Raina memijit pelipisnya pelan, sebelum ia menyangklong tasnya. Lantas, ia membenarkan tatanan rambutnya agar lebih rapi. Ia mematut dirinya di depan cermin, bibirnya pucat, kantong matanya terlihat menghitam. Segera ia poles dengan bedak tipis dan lipbalm supaya tidak meninggalkan bekas pucatnya.
Suara klakson motor terdengar dari luar. Aska tiba setelah semua orang sudah beranjak dari rumahnya. Ia tidak perlu berdebat batin ketika bertemu dengan ibunya, beruntunglah Raina.
"Tumben jam segini baru rapi, biasanya masih Subuh udah jalan," kata Aska menyambut. Ia memakaikan helm pada gadis yang ia anggap adik kecilnya itu senang hati. Namun, ia menemukan sorot mata tidak biasa. "Kamu sakit?"
Aska meletakkan telapak tangannya di kening Raina. Pantas saja, anak itu berjalan sedikit berbeda. Seperti beberapa kali akan tumbang.
"Enggak," jawab Raina.
"Bohong."
"Cuma capek aja."
"Kenapa masuk? Kamu belum pernah bolos sekalipun lho. Istirahat aja di rumah." Aska menahan tangan Raina. "Ini beneran panas. Kita ke dokter aja gimana?"
Raina menggelengkan kepala. "Gak usah. Aku gak apa-apa. Ayo, berangkat! Nanti aku telat, Kak."
Aska mengembuskan napas lelah. Gadis itu benar-benar keras kepala. "Takut bulik marah lagi, ya? Nanti aku marahin balik deh. Orang anaknya beneran sakit ini."
"Diem, deh, Kak. Pusing tau kepalaku kalau dengerin Kakak ngomel terus. Aku gak apa-apa, okay?"
Padahal Aska benar-benar khawatir. "Pasti tadi malem abis kehujanan. Kenapa gak minta jemput aja sih? Sepedanya biar di tempat Pak Iqbal aja."
"Kakak kalau gak diem, aku loncat dari motor ini." Ancam Raina. "Dibilang kepalaku pusing kok kalau dengerin Kakak ngomel terus."
Aska tertawa kecil dari balik helm. Lantas, ia menarik dua tangan Raina dan menggenggamnya erat. Dingin bercampur hangat. Gadis itu pasti sangat kesakitan sekarang.
"Iya, iya. Ini Kakak diem. Kamu jangan kuat terus, ya! Sesekali tidur juga boleh kok."
Tak ada balasan. Raina memejamkan mata. Jujur, pusingnya belum mereda, meski ia sempat menelan pil pereda sakit kepala sebelum berangkat tadi. Tubuhnya seperti benar-benar di ambang batasnya sekarang.
"Kak, bisa berhenti dulu nggak? Di depan supermarket. Aku mau beli air."
Setelah itu, Raina memejamkan matanya saat pening semakin mendera. Ia mengeratkan pelukannya pada Aska supaya tidak jatuh. Beberapa detik kemudian, ia merasakan kehangatan seperti melingkupi dadanya. Ia tidak tahu, tapi air matanya tiba-tiba lolos begitu saja.
Sampai di supermarket tujuannya, Raina duduk di kursi yang tersedia. Membiarkan Aska masuk dan membeli air yang ia minta. Ada banyak bangku kosong di sana, Raina meletakkan kepalanya di atas meja, dan menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya. Ia lelah, sungguhan.
"Minum dulu! Gak mau ke dokter, yakin?" tanya Aska sekali lagi. Lelaki itu membantu Raina membuka botol minum, saat melihat tangan si lebih muda terlihat gemeteran.
Raina mengangguk mantap. "Aku gak apa-apa, gak apa-apa."
Aska mengangguk. "Nanti kalau ada apa-apa di sekolah, semisal gak mau telpon paklik atau bulik, telpon Kakak aja. Kakak gak ada ke mana-mana. Nanti Kakak jemput. Oke?"
"Makasih banyak, Kak."
Aska tak menjawab, ia menepuk pundak kepala Raina pelan. "Sehat-sehat terus, ya! Makasih udah bertahan sejauh ini."
Raina menggenggam erat botol minumnya, sebelum bangkit. Namun, entah karena tak siap atau memang pusing di kepalanya belum hilang, ia kontan limbung. Untungnya, Aska sigap menangkap. Sayangnya, tak ada yang berpihak pada Raina.
"Kamu mimisan, Rai," kata Aska membuat Raina sukses berdiri tegak.
Aska memapah Raina kembali duduk. Atensi para pengunjung supermarket seketika mengarah padanya, pun karyawan di sana sigap membantu memberikan tisu dan air mineral.
"Ke dokter aja deh, gak usah sekolah!" Keputusan Aska bulat. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada adik kecilnya itu.
Akan tetapi, Raina masih enggan. Setelah mengucap terima kasih pada orang-orang yang membantunya, Raina memeluk Aska erat.
"Capek, Kak."
Pak Iqbal sempat menahan dan akan mengantarnya saja dengan mobil, setelah istrinya pulang. Namun, Raina menolak. Akan lebih lama jika menunggu kedatangan istri Pak Iqbal, mengingat sekarang sudah hampir isya. Istri Pak Iqbal paling cepat pulang pukul 20.00. Sedangkan, ibunya akhir-akhir ini dalam mood buruk. Jika, Raina pulang terlambat, ia tidak akan diizinkan masuk. Ia akan tidur di luar sepanjang malam, seperti beberapa hari yang lalu, sebab dirinya lupa melihat jam saat pergi ke perpustakaan kota.
Begitu keluar dari tempat les milik Pak Iqbal, udara dingin langsung menampar kulitnya. Aroma tanah basah bercampur dengan asap knalpot membuat kepalanya pening. Rambutnya langsung basah. Rintiknya turut membasahi seragamnya menempel di kulit. Langkahnya berat, tetapi ia tetap berjalan cepat. Tak ada pilihan lain, ia harus segera pulang. Jika, ia berdiam diri lebih lama, mungkin akan terjebak di sana entah sampai kapan. Sepertinya, hujannya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Sepanjang perjalanan, ia bergumam dalam hati.
“Kenapa aku harus selalu lupa bawa jas hujan? Kenapa aku harus selalu lari dari satu tempat ke tempat lain, kayak lagi lomba maraton hidup yang nggak ada garis finishnya?”
Ban sepedanya berputar dipenuhi lumpur, sesekali akan bersih kembali setelah menginjak genangan air di atas aspal. Sepasang netra Raina sudah pedih, menahan air hujan yang terus mengguyur. Sepedanya nyaris tergelincir di dekat tikungan, ia mengerem terlalu dadakan di medan yang licin. Jantungnya berdegup, bukan karena takut jatuh, tapi karena merasa tubuhnya mulai goyah. Angin dingin menusuk tulang bercampur dengan rasa lelah yang menumpuk berhari-hari, Raina mencoba abai. Ia mengayuh sepedanya semakin cepat agar sampai rumah. Setidaknya, lebih dulu sebelum ibunya pulang.
Saat berhasil memasuki pekarangan rumah, ia merasa sedikit lega. Raina segera memarkirkan sepeda ketempatnya, lantas menjemur sepatu di rak belakang rumah yang sempat ia lepas sebelum pulang tadi. Setelah itu, baru ia masuk ke rumah lewat pintu belakang. Bukannya disambut hangat, Raina dihadiahi suara tinggi ibunya.
“Kamu di mana aja?! Kenapa baru pulang? Sekarang jam berapa?” suara ibunya meledak dari ruang tamu. "Ibu, kan, udah ingetin berkali-kali jangan pulang malem-malem. Kamu mau jadi apa, anak gadis pulang malem-malem. Gak enak dilihat tetangga, tau. Mana belum ganti seragam. Mau mencoreng nama keluarga, iya?"
Raina mengucek mata, berusaha fokus. “Baru pulang ngajar, Bu … habis dari tempat Pak Iqbal.”
“Ngajarin orang lain?!” Ibunya berdiri, wajahnya merah, tangan bersedekap. "Kamu Ibu suruh ngajarin adek sendiri aja gak bisa, ngapain sibuk ngajarin orang lain, ha?"
Kalimat itu benar-benar menusuk dada Raina. Tidak ada yang menanyakan bagaimana kondisinya, tapi sibuk mengomentari agar ia tak memalukan nama baik keluarga.
“Naya jatuh di sekolah tadi, gara-gara berantem sama temennya. Kamu ke mana aja, hah? Ibu minta kamu ajarin dia supaya jadi anak baik-baik, malah berantem dan terluka gini, tapi kamu malah asyik ngajari anak orang lain. Kamu itu anak sulung, Mbak, harus bisa jadi panutan adikmu. Adikmu itu nakal, makanya jangan fokus ke orang lain terus.”
Raina terdiam. Hujan yang masih menetes dari seragamnya membuat lantai basah. Ia yakin, ibunya pasti bisa melihat dan akan marah sebentar lagi jika ia tidak segera membereskan kekacauannya. Tangan Raina gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena amarah yang ditahan.
“Bu, aku nggak tau. Aku baru aja pulang. Naya kan di sekolah, bukan sama aku. Lagian, Ibu sama ayah juga jarang pulang. Naya anak Ibu sama ayah kan? Aku bukan orang tuanya, Bu.”
“Alasan! Selalu alasan! Kamu itu kakaknya! Kamu juga punya tanggung jawab sama dia. Ibu itu capek. Kerjaan Ibu banyak, tapi pulang-pulang kalian terus aja bikin masalah. Kenapa sih kamu nggak pernah ngertiin Ibu, Mbak?”
“Bu, aku juga capek …” suara Raina bergetar, hampir tak terdengar.
"Capek apa? Kerja aja enggak, bilang capek. Kamu itu cuma sekolah aja bilang capek. Gimana kerja?"
“Udahlah, Bu. Aku makin pusing denger Ibu marah-marah terus tiap hari.”
Ibunya mendengus, menepis. “Ah, sakit-sakit! Kamu itu nggak usah manja! Badan kamu kan sehat, masa sakit terus? Jangan lebay!”
Raina menunduk. Kata-kata itu lebih tajam daripada udara dingin yang menusuk tubuhnya. Setelah itu, Ibu pergi, dengan dumelan di bibir yang masih belum berhenti. Raina hanya mendengarnya dalam diam. Ia ingin menjawab, ingin berteriak bahwa dirinya juga manusia, tapi lidahnya kelu.
Naya muncul dari kamar, memegang lutut yang ditempeli plester. “Mbak …” panggilnya lirih.
Raina menoleh, matanya sayu. “Sakit, Nay?” Ia menemukan ada bekas cakaran memanjang di pipi adiknya.
Adiknya mengangguk pelan. Raina ingin memeluk Naya, tapi seragamnya masih basah. Ia hanya tersenyum tipis, dan mengusak rambut Naya lembut.
"Bukan aku yang mulai. Dia yang ngejek, katanya aku gak punya ayah sama ibu, makanya apa-apa diurusin Mbaknya terus. Dia juga dorong aku sampai lututku kena lantai, nih."
Raina tidak tahu, apakah adiknya itu berbohong atau tidak. Namun, Raina paham jika adiknya tidak akan mudah terpancing emosi apalagi mengenai ayah dan ibu, atau dirinya.
•
Raina benar-benar tumbang. Pukul dua pagi, ia terbangun saat merasakan demam menyerangnya. Tenggorokannya perih, kepalanya berdenyut, hidungnya tersumbat. Ia menggigil di balik selimut tipis, sementara dari luar kamar, suara televisi terdengar begitu keras.
Ayahnya pulang, Raina tahu. Saat ini, pria itu mungkin sedang menonton bola favoritnya. Makanya, suara televisi terdengar sampai ke kamarnya.
Raina hendak minum, tetapi naasnya botol minum di kamarnya kosong. Ia menahan diri, lantas kembali menidurkan tubuh ringkihnya.
Sehat, please. Jangan manja! Harus jadi cewek kuat, biar ibu gak marah-marah terus. Ibu aja yang kerja lembur-lembur tiap hari sehat, masa baru kehujanan sekali aja udah tumbang. Ayo, Raina, pasti bisa!
Raina meyugesti dirinya. Berharap, ketika bangun pagi tubuhnya akan baik-baik saja lagi.
Sayangnya, imajinasinya begitu tinggi. Bangun pagi, ia mendengar teriakan ibunya dari dapur.
“Bangun, Raina! Anak gadis bangunnya kesiangan terus, mau jadi apa?”
Memangnya, ia punya cita-cita selain hidup dengan tenang untuk esok dan seterusnya?
Akhirnya Raina terpaksa bangkit dengan langkah tertatih menuju kamar mandi. Kepalanya benar-benar seperti dihantam beban berton-ton yang tak mampu ia kendalikan. Kepalan tangan Raina sesekali memukulnya berkali-kali, berharap sakit itu sedikit mereda. Ia merasa tubuhnya seperti mau ambruk.
Ingatannya melayang ke masa kecil. Ia teringat saat kelas dua SD, ketika demam tinggi membuatnya hampir pingsan di sekolah. Gurunya menelpon rumah, tapi saat ibunya datang, bukannya dipeluk, Raina malah dimarahi.
“Dasar lemah! Anak lain juga main hujan-hujanan, nggak ada yang sakit tuh! Kamu itu jangan bikin malu! Baru juga hujan-hujanan aja udah sakit. Kamu itu nggak kerja lho, Mbak. Jangan sakit-sakitan terus dong!”
Raina yang kecil hanya bisa menangis diam-diam di pojok kasur, menahan panas di kepala sambil memeluk boneka kumalnya. Sejak saat itu, ia belajar satu hal bahwa sakit tidak akan pernah jadi alasan yang diterima di rumah ini.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia masih merasakan hal yang sama. Di kamar sempitnya, ia terbaring dengan keringat dingin. Tubuhnya lemas, pikirannya kacau. Usai mandi, ia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk bangkit.
“Kenapa sih aku harus selalu kuat? Kenapa aku nggak pernah boleh lemah? Apa gunanya punya Ibu, kalau tiap kali aku butuh, yang aku dapat cuma bentakan?”
Matanya panas, bukan hanya karena demam, tapi juga karena air mata yang menggenang. Ia menengadah ke langit-langit kamar, seolah mencari jawaban.
Ponselnya bergetar. Notifikasi chat masuk. Jiva.
"Nai, ada tugas kimia, kan? Gue udah setengah nyerah. Lo udah ngerjain belum?"
Raina menyusun bantal lebih tinggi, setidaknya untuk menopang tubuhnya agar tidak terlalu pusing. Lantas, ia membuka buku yang kebetulan ada di samping bantalnya. Buku-buku itu akan ia masukkan ke tas dan ia bawa ke sekolah, tetapi pening yang kian menjadi-jadi, membuat aktivitasnya terhenti.
“Belum, Jiv. Bolos, ah, sehari."
Tak lama, sebuah balasan masuk lagi. Jiva pengirimnya.
"Bolas-bolos. Baik begitu? Ayolah, gak yakin gue kalau lo belum ngerjain. Please, ajarin dong. Nyontek deh, maksud gue."
Raina menimbang-nimbang, jika ia tetap memaksa masuk, kemungkinan dirinya akan dipulangkan jika ia timbang di sekolah. Ibunya akan semakin marah jika hal itu sampai terjadi.
“Lo oke, Nai? Jangan-jangan lo sakit, abis minum air hujan kemarin? Kemarin ujan deres sampai mau Subuh. Gue bilang juga apa, jangan suka nelen air gratisan dari langit.”
Sambungan pesan dari Jiva berhasil membuat senyum tipis di bibir Raina. Ia bangkit perlahan, tanpa ada niatan membalas pesan Jiva. Tangannya sibuk menata bukunya ke dalam ransel. Ia akan meminta bantuan Aska hari ini.
"Kak, bisa anter aku nggak?" kata Raina di papan pesan kepada Aska. Tak lama kemudian, Aska membalas dengan cepat.
"Hari ini hamba sedang tidak ada jadwal ke mana-mana, Tuan Putri. Hamba akan bersenang hati untuk mengantar jemput Tuan Putri."
Balasan Aska kontan membuat Raina semakin tertawa kecil. Ia seperti memiliki teman konyol sekarang. Sebelum keluar kamar, Raina membaca balasan dari Jiva lagi yang semakin membuat hatinya hangat.
"Kalau lo sakit, jangan berangkat, ya! Istirahat di rumah aja. Mau gue anterin bubur nggak? Gue bisa nyuri dari kantin. Biar Pak Satpam kejar-kejar gue. Lihat, pesona gue! Pak Satpam aja ngejar-ngejar gue, apalagi ciwi-ciwi. Atau, kalau lo nggak mau bubur, gue bawain pulpen baru aja. Biar yang ilang kemarin ada kembarannya. Lo jangan terus pura-pura kuat. Manusia pasti butuh istirahat, Nai."
Raina menatap layar, senyumnya samar. Ada getir di dadanya, tapi juga ada kehangatan aneh yang menyusup. Di saat semua orang di rumah menganggap sakitnya remeh, ia memiliki dua orang yang masih sempat bercanda untuk membuatnya merasa hidup. Aska dan Jiva.
Begitu ponsel dimatikan, rasa sakit kembali menyergap. Kepalanya semakin berat. Ia menutup mata, berharap bisa tidur.
“Jangan manja! Jangan lebay! Kamu harus kuat!”
Kalimat menyakitkan milik ibunya terus saja berputar di kepala seperti kaset rusak.
Raina memijit pelipisnya pelan, sebelum ia menyangklong tasnya. Lantas, ia membenarkan tatanan rambutnya agar lebih rapi. Ia mematut dirinya di depan cermin, bibirnya pucat, kantong matanya terlihat menghitam. Segera ia poles dengan bedak tipis dan lipbalm supaya tidak meninggalkan bekas pucatnya.
Suara klakson motor terdengar dari luar. Aska tiba setelah semua orang sudah beranjak dari rumahnya. Ia tidak perlu berdebat batin ketika bertemu dengan ibunya, beruntunglah Raina.
"Tumben jam segini baru rapi, biasanya masih Subuh udah jalan," kata Aska menyambut. Ia memakaikan helm pada gadis yang ia anggap adik kecilnya itu senang hati. Namun, ia menemukan sorot mata tidak biasa. "Kamu sakit?"
Aska meletakkan telapak tangannya di kening Raina. Pantas saja, anak itu berjalan sedikit berbeda. Seperti beberapa kali akan tumbang.
"Enggak," jawab Raina.
"Bohong."
"Cuma capek aja."
"Kenapa masuk? Kamu belum pernah bolos sekalipun lho. Istirahat aja di rumah." Aska menahan tangan Raina. "Ini beneran panas. Kita ke dokter aja gimana?"
Raina menggelengkan kepala. "Gak usah. Aku gak apa-apa. Ayo, berangkat! Nanti aku telat, Kak."
Aska mengembuskan napas lelah. Gadis itu benar-benar keras kepala. "Takut bulik marah lagi, ya? Nanti aku marahin balik deh. Orang anaknya beneran sakit ini."
"Diem, deh, Kak. Pusing tau kepalaku kalau dengerin Kakak ngomel terus. Aku gak apa-apa, okay?"
Padahal Aska benar-benar khawatir. "Pasti tadi malem abis kehujanan. Kenapa gak minta jemput aja sih? Sepedanya biar di tempat Pak Iqbal aja."
"Kakak kalau gak diem, aku loncat dari motor ini." Ancam Raina. "Dibilang kepalaku pusing kok kalau dengerin Kakak ngomel terus."
Aska tertawa kecil dari balik helm. Lantas, ia menarik dua tangan Raina dan menggenggamnya erat. Dingin bercampur hangat. Gadis itu pasti sangat kesakitan sekarang.
"Iya, iya. Ini Kakak diem. Kamu jangan kuat terus, ya! Sesekali tidur juga boleh kok."
Tak ada balasan. Raina memejamkan mata. Jujur, pusingnya belum mereda, meski ia sempat menelan pil pereda sakit kepala sebelum berangkat tadi. Tubuhnya seperti benar-benar di ambang batasnya sekarang.
"Kak, bisa berhenti dulu nggak? Di depan supermarket. Aku mau beli air."
Setelah itu, Raina memejamkan matanya saat pening semakin mendera. Ia mengeratkan pelukannya pada Aska supaya tidak jatuh. Beberapa detik kemudian, ia merasakan kehangatan seperti melingkupi dadanya. Ia tidak tahu, tapi air matanya tiba-tiba lolos begitu saja.
Sampai di supermarket tujuannya, Raina duduk di kursi yang tersedia. Membiarkan Aska masuk dan membeli air yang ia minta. Ada banyak bangku kosong di sana, Raina meletakkan kepalanya di atas meja, dan menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya. Ia lelah, sungguhan.
"Minum dulu! Gak mau ke dokter, yakin?" tanya Aska sekali lagi. Lelaki itu membantu Raina membuka botol minum, saat melihat tangan si lebih muda terlihat gemeteran.
Raina mengangguk mantap. "Aku gak apa-apa, gak apa-apa."
Aska mengangguk. "Nanti kalau ada apa-apa di sekolah, semisal gak mau telpon paklik atau bulik, telpon Kakak aja. Kakak gak ada ke mana-mana. Nanti Kakak jemput. Oke?"
"Makasih banyak, Kak."
Aska tak menjawab, ia menepuk pundak kepala Raina pelan. "Sehat-sehat terus, ya! Makasih udah bertahan sejauh ini."
Raina menggenggam erat botol minumnya, sebelum bangkit. Namun, entah karena tak siap atau memang pusing di kepalanya belum hilang, ia kontan limbung. Untungnya, Aska sigap menangkap. Sayangnya, tak ada yang berpihak pada Raina.
"Kamu mimisan, Rai," kata Aska membuat Raina sukses berdiri tegak.
Aska memapah Raina kembali duduk. Atensi para pengunjung supermarket seketika mengarah padanya, pun karyawan di sana sigap membantu memberikan tisu dan air mineral.
"Ke dokter aja deh, gak usah sekolah!" Keputusan Aska bulat. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada adik kecilnya itu.
Akan tetapi, Raina masih enggan. Setelah mengucap terima kasih pada orang-orang yang membantunya, Raina memeluk Aska erat.
"Capek, Kak."
Other Stories
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...