Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
4K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

Serasa Ada Di Zaman Cinta Kuno

Pagi di Kota Beijing, tak beda dengan di Jakarta. Jalanan penuh polusi. Asap kendaraan sudah seperti kabut. Aku tetap memakai masker jika keluar hotel. Mencegah hal-hal yang tak di inginkan. Agenda hari ini adalah liputan ke Tembok Cina.
Dari pusat Kota Beijing, kami mengambil jarak yang terdekat untuk sampai ke sana. Aku dan Dimas dengan berkendara mobil sewaan dari hotel mengambil jarak tempuh ke sisi Badaling.
Pukul 10.00 tepat waktu Beijing.
Kami berangkat menyusuri jalan tol. Dalam waktu kira-kira 1,5 jam kami sudah sampai di Tembok Besar Cina. Aku berdecak kagum setelah sampai di atas tembok.
“Subhanallah! Amazing! Sebuah pemandangan alam yang sangat memukau dan menyejukkan hati,” ujarku.
“Wonderfull!” ucap Dimas yang berdiri di sampingku. Aku dan Dimas saling pandang dalam senyum.
Guide wisata mulai menceritakan sejarah Tembok Besar Cina padaku yang telah siap dengan tape recorder di tanganku. Dimas pun mulai sibuk mengambil foto dengan kamera SLR-nya. Tembok yang membentengi kekaisaran Cina dari serangan bangsa Mongolia dari arah utara ini terbentang dari Tiongkok Barat hingga ke Provinsi Liaoning Tiongkok Timur Laut, Negara Cina.
Sungguh dramatis karena pembangunan tembok ini menelan jutaan korban manusia. Tembok ini telah mulai dibuat sebelum Dinasti Qin berkuasa. Dan terakhir pembuatan tembok dilanjutkan lagi pada zaman Dinasti Ming. Aku terpaku. Begitu semangatnya rakyat Cina untuk pembuatan tembok ini hingga tak memikirkan jutaan nyawa manusia sebagai taruhannya.
Dimas mengarahkan kameranya padaku dan guide wisata. Aku merapatkan baju hangat yang kupakai. Syal yang melingkar di leherku juga aku betulkan letaknya. Udara di Tembok Besar Cina ini begitu dingin.
Sreek…jreet !
Kamera Dimas selesai mengambil gambarku. Aku melihat Biconvex Pulley (kereta kecil yang berjalan di atas rel). Ada beberapa orang di dalamnya sedang menuju ke atas tembok. Aku dan Dimas naik Sky Lift ( kereta gantung) untuk sampai di atas tembok ini tadi.
Kembali kulepas pandangku ke sepanjang Tembok Besar Cina ini. Lagi-lagi kumemuji nama Tuhan. Kalau bukan atas ridho Allah, mana mungkin tembok yang panjangnya 6.400 km ini dapat berdiri? Dibutuhkan waktu ratusan tahun dengan korban jutaan nyawa manusia dalam pembuatannya.
“Mr. Lee, ni keyi qing dajia dui women liang geren de huamian?”[1] Dimas sepertinya meminta Mr.Lee untuk mengambil gambar kita berdua. Kulihat guide itu langsung mengambil kamera dari tangan Dimas. Tiga gambar telah diambil dan Dimas kembali menyapu tiap sudut pandang untuk mencari objek yang spektakuler.
Sekali lagi aku berdecak kagum. Tak ada yang meragukan lagi bahwa tempat ini memang layak menjadi salah satu dari keajaiban dunia. Dan kami datang di bulan yang tepat. Menurut Mr. Lee, guide yang memimpin perjalanan kami, bulan Oktober adalah bulan yang tepat untuk mengunjungi Tembok Besar Cina.
Malam telah bersandar pada tempatnya. Aku dan Dimas telah kembali ke hotel. Perjalanan panjang yang menyenangkan dan tak akan terlupakan. Terbayang indahnya foto pre weeding di sana. Memakai kostum tradisional Cina dan berpose di Tembok Besar Cina berdua dengan calon suamiku. “Wow!” aku berdecak dalam hati.
***
Hari ketiga di Beijing.
Aku dan Dimas duduk santai di lobby hotel sambil menunggu kru studio foto yang akan mengambil gambar pre weeding kami. Rupanya bukan orang Indonesia aja yang ngaret, terbukti sudah lewat 15 menit dari waktu yang dijanjikan.
Dua puluh menit, mereka baru datang menjemput kami. Kembali kami menyusuri jalan tol agar cepat sampai di Tembok Besar Cina. Mobil yang kami tumpangi agak sempit karena ada alat-alat kamera dan tiga orang kru studio di dalam mobil.
Satu di antara mereka ada seorang perias wanita yang akan meriasku dan Dimas di sana. Rencananya kami akan memakai kostum tradisional Cina dan baju pengantin ala Cina.
Pukul 13.30 waktu Beijing.
Aku dan Dimas langsung didandani ala pengantin Cina oleh Mrs. Shu. Dimas mengenakan jubah Labuh dan aku memakai baju Cheongsam. Di Beijing dikenal dengan nama ‘Qipao’ yang digunakan bangsa Manchu. Sebutan Cheongsam lebih di kenal dalam artian pakaian panjang dengan lengan lebar dan kain longgar.
Aku dan Dimas berdiri di tepi tembok dengan posisi Dimas memelukku dari belakang. Satu lagi dalam pose tangan kami saling berpegangan. Lima pose telah diambil untuk foto pre weeding kami dengan latar tembok Besar Cina. Rasanya aku tak sabar untuk melihat hasilnya.
Malam hari kami baru tiba kembali di hotel. Seharian ini aku tak merasakan lelah padahal kegiatan kami cukup padat.
Tok tok tok…
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Siapa? Tanyaku heran. Aku beranjak dari tempat tidur. Kulihat arloji yang melingkar di tangan kananku menunjukkan pukul 20.30 menit.
“Siapa?” tanyaku sebelum membuka pintu kamar.
“Aku Dimas, Dev…” sahutnya. Segera aku membuka kunci pintu kamar. Kulihat Dimas dengan sebuah kotak di tangannya. “Ini kubawakan cemilan untukmu. Pasti kalau malam begini kamu suka iseng, kan?”
Aku tersenyum. Baiknya calon suamiku ini, selalu saja ia ingat kebiasaanku. Pintu kembali kututup saat Dimas sudah berlalu dari kamarku. Dimas nggak takut apa kalau aku gemuk, ucapku sambil mengunyah cemilan yang dibawanya barusan. Romantisnya Dimas memang tak terkalahkan.
Aku jadi teringat kisah cinta Ahei dan Ashima. Cerita legenda yang popular di negeri Cina. Ashima telah diculik oleh anak laki-laki seorang raja iblis dan memaksa Ashima untuk menikahinya. Mengetahui hal tersebut, kemudian kekasihnya, Ahei, pergi menyelamatkan Ashima dengan busur sihir dan anak panahnya.
Ahei dan para penculik bersaing menyanyikan lagu selama tiga hari dan tiga malam. Akhirnya Ahei menang dan tahan lebih lama daripada lawannya. Namun sayangnya dalam perjalanan pulang, Ashima dihanyutkan oleh banjir dan menjadi apa yang dikenal saat ini sebagai batu Ashima. Berdiri di sana dengan mengenakan pakaian tradisional, menjinjing sebuah keranjang dan memandang ke arah kejauhan.
Kisah itu kubaca di mbah google kemarin malam. Kisah cinta yang berakhir tragis. Pengorbanan memang tak selamanya berakhir kebahagiaan. Takdir lebih berperan dalam menentukan kisah akhir suatu hubungan. Seperti kisah cintaku dengan Rifky yang berakhir dengan kepedihan.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Tujuh tahun kami saling setia memperjuangkan cinta kami. Tapi pada akhirnya Rifky lebih memilih keputusan Mamanya ketimbang mempertahankan cintaku. Luka itu terkuak lagi. Aku menyeka bulir bening yang sudah menetes di pipiku.
Shiit!!
Aku beranjak dari tempat tidur dan berlari ke washtafel untuk mencuci muka. Nggak ada sejarahnya seorang Devi cengeng dan terus larut dalam kesedihan. Untuk apa pula aku menangisi Rifky lagi, sedang di hadapanku sudah ada Dimas yang akan segera menjadi suamiku?
Drrrt... drrrt… drrrt..
Fibrasi ponselku terdengar jelas. Sengaja kalau sudah malam gini kumatikan ringtone-nya dan hanya memakai fibrasi biar tidurku nggak terganggu dengan telepon yang nggak jelas. Aku berlari kecil menjatuhkan tubuhku di tempat tidur sembari ambil Hp.
Ivana, itu nama yang kulihat di layar ponsel.
“Haloo...” sapaku
“Wew, belum tidur lo?” tanya si cerewet Ivana.
“Ya belumlah! Kalau gue udah molor masa bisa jawab telepon lo?”
“He he he… ada kabar apa nih? Udah sampai mana perjalanan lo sama Dimas?”
Aku langsung bercerita perjalanan liputanku dengan Dimas sambil mengunyah cemilan yang tadi dibawa Dimas. Ivana sepertinya menyimak tiap kalimatku dengan nggak banyak bersuara. Dan aku masih larut pada kisah Ahei dan Ashima. Ya Tuhan, seperti apakah akhir kisah cintaku dengan Dimas?
Mata yang lelah ini kupejamkan. Kenapa akhir-akhir ini aku mudah terbawa pada situasi di mana tempat yang aku singgahi? Kemarin itu di Candi Borobudur, aku terusik dengan Arca Urung. Dan sekarang di Tembok Besar Cina dengan kisah cinta Ahei dan Ashima. Semoga itu hanya kisah dan tak masuk dalam kehidupanku. Kupejamkan mata untuk dapat mengistirahatkannya. Semoga perjalananku ke Paris semakin menyenangkan nantinya.
***
[1] Bisa tolong ambil gambar kami berdua?

Other Stories
Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Download Titik & Koma