Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
4.6K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

Seribu Makna Pesan Ivana

Pukul. 18.30
Setelah sibuk berpotret dari segala posisi berlatar bangunan indah ini, kami menonton pertunjukan Tari Kalakriti, penari lincah dengan kostum berwarna-warni khas India, bercerita tentang epik Mahabbat The Taj atau The Saga of Love. Drama romantika, Great show in Agra.
Malamnya menginap di hotel lama dengan bangunan antik yang masih layak, sekaligus makan malam disuguhi lagu-lagu India dengan alat musik tradisional. Dimas tiba-tiba saja menghampiri mereka, pemain musik dan berbisik-bisik.
Mereka menyanyikan lagu Kuch kuch Hota Hai dengan cengkok lembut nan khas India, sungguh enak didengar sambil makan, walau sebenarnya aku tidak terlalu hafal lagu-lagu soundtrack film Bollywood. Rupanya lagu itu dipersembahkan untukku, sedikit luruh kekesalanku kepadanya.
“Uuuhhh, so sweet, Dimas. Shukriya alias terima kasih My Sweety, honey boney.” ujarku mulai lebay.
***
Jaipur
Sepanjang perjalanan menuju Jaipur, kami bisa melihat unta dan kuda yang menarik gerobak atau sapi bahkan anjing-anjing pun berkeliaran, hal itu adalah pemandangan biasa di sana.
Ciiiiiit!!
Rem diinjak cepat, mobil terpaksa berhenti. Binatang berkaki empat yang didewakan itu sejenak lewat dan melenguh tepat mendadak di depan kendaraan yang kami tumpangi. Kami harus menunggu beberapa menit hingga sapi suci itu berlenggok anggun menepi.
“Ya, ampun, sapi-sapi berkeliaran,” keluhnya.
“Aah, you must be angry,” kata Balaram sambil memberi salam India.
“No... No... I am just shocked. Well, Mr. Israr Khan is a good driver.”
“Ok, but how are you feeling now?”
“Good, I am Good. Thanks.”
“Nice,” sahutnya.
“Devi, kamu baik-baik saja kan Sayang?” Dimas pun tak mau kalah dengan Balaram, posesif mulai menyergapinya.
“Iiiiyaa, aku gak apa-apa, tenang saja Dim,” Aku tertegun dengan tingkahnya. Dimas itu sulit ditebak, kemarin cuek banget tapi sekarang jadi sangat perhatian.
Jaipur dikelilingi bukit dan gurun. Kami tiba di sana dan tinggal di Mansigh Palace. Jaipur, Provinsi Rajashtan, negara bagian terkaya di India. Penduduknya ada yang berpenampilan apa adanya. Meskipun dia seperti pengemis namun di kampungnya ia punya rumah besar. Kami melihat Museum Kuil BM Birla. Kuil yang terbuat dari pualam putih di dalamnya ada patung Ganesh yang berkepala gajah, salah satu dewa di India.
Ring handphone berbunyi, kugeser layar sentuh telepon selulerku, “Haloo Ivana. Gue sudah sampai di Jaipur.” Langsung saja aku menyerocos banyak cerita sama Ivana sampai tingkah Dimas yang sedikit aneh. Ivana diam dan mendengarkan dengan seksama tanpa menyanggah, akhir kata dia hanya bilang akan ada kejutan untukku.
“Tunggulah,” sahut Ivana.
“Hmm, ada apa lagi ini?” tanyaku heran. Ivana sok misterius banget sih, tapi aku suka kejutan. Kejutan? Siapa takut!
Di kawasan perbukitan menuju Istana Rajastan yang di dalamnya ada ruang pertemuan petinggi kerajaan berornamen kaca, dikelilingi tembok-tembok tinggi dan besar seperti tembok Cina. Balaram menantang kami jika menuju ke sana tanpa menggunakan mobil melainkan dengan menaiki gajah.
“What? Are you kidding me,” aku terperangah.
Namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan dan akhirnya gajah pun kami tunggangi.
***
Kembali ke Delhi.
Berangkat pagi dari Jaipur, siangnya sudah sampai di Delhi. Sambil menyiapkan penerbangan kami selanjutnya ke Paris pada pukul sembilan malam waktu setempat.
Sisa-sisa hari terakhir di Delhi, kembali kami mengunjungi pasar untuk berbelanja dan oleh-oleh cindera mata.
“Ya, aku ambil yang itu, aksesori kalung, gelang dan selendang. Hmm nggal lupa juga celana Aladdin dan kain sari.”
“Ooh, juga Salwar-kameez, atasan dan celana bawahan ini manis kan Dimas?” aku minta pendapat Dimas yang lebih banyak diam.
“Hei, lihat dupatta, selendang ini serasi bukan? Warnanya matching ama aku,” ujarku bersemangat meminta pendapatnya.
“Tapi warna yang dipilih dari dulu merah sama kuning, apa nggak ada warna yang lain gitu?” ketus Dimas.
“Ini kan warna kesenanganku, kenapa kamu keberatan?” tanyaku, dengan wajah mengekspresikan kekesalan.
“Oke sih. Tapi nggak bisa pilih warna yang lain, yang lebih soft dikit. Ngapain beli warna yang itu-itu aja?”
“Adduuuh Honey. Kamu kok jadi cerewet gini sih, warna ini kan bikin aku percaya diri dan nyaman saja, biar selalu tampil oke, kan kamu bangga dong kalau aku, Devinta Anggraini calon Nyonya Dimas selalu tampil cantik dan elegan,” aku mencoba membuat suasana gembira, entahlah perjalanan kami di India ini rasanya kok membuat kami jauh.
“Sudahlah!! Ini,” Dimas mengeluarkan kartu kredit ke penjaga counter.
“Eh, aku aja yang bayar ini,” aku mengeluarkan dompet.
“Sudahlah, Devi. Biar aku saja,” bentak Dimas.
“Ya, sudah kalau kamu memaksa, aku akan mencari warna yang lain,” aku mengalah.
Penjaga counter datang membawa slip pembayaran dan kartu kredit.
“Ya, terima kasih, ini barang-barangnya,” jawabku pada Dimas, namun Dimas diam. Tampangnya begitu bete. Aku akhirnya mengambil kantong belanjaan.
“Tak perlu kamu ganti warnanya sekarang, tapi lain kali gantilah dengan warna yang lebih soft,” Dimas melembut. Kemudian ia jalan.
“Honeey... kok kamu marah-marah emosian gitu sih belakangan ini?” tanyaku sambil berjalan menyusulnya. Agak kerepotan sih berjalan menenteng dua kantong tas belanjaan tadi.
“Jangan marah dong Hon... kamu jadi sensi mulu sih? Sebel deh... kalau kayak gini terus kita jauhan dulu. Cuma hal sepele, kamu marahnya meledak-ledak. Kamu kenapa Dimas?” tanyaku lagi. Dan sekian kalinya Dimas tak menjawab.
“Berani marah-marah lagi! Baru kali ini aku lihat kamu kayak gini. Belum nikah kamu sudah berani bentak-bentak aku, mau jadi apa rumah tangga kita nanti? Bisa-bisa gue dipukul juga ama elo! KDRT alias Kejahatan Dalam Rumah Tangga,” ujarku sambil membuang muka.
Pertengkaran keduanya menarik perhatian orang sekitar, termasuk Balaram.
“Maaf, Gue nggak mau bertengkar, mungkin karena lelah dan banyak pikiran saja,” sesal Dimas.
Melihat gelagat kami, Balaram menghampiri.
“Miss. Devi, are you interested in Mehandi Design’s like Indian Ladies?” tanyanya.
“Oh, yes sure. Thank you.”
“Let’s follow me, I shall show you it. Ooh, both of you, please relax, Ok!
“You happy, don’t you?” tanyanya pada Dimas.
“Yeah, happy, absolutel!”
Sebagai pelipur lara, Balaram mengajak kami makan siang di restoran Chindian, restoran Cina yang dibuat ala India. Bumbu masakannya pas dengan lidah Indonesia. Setelah makan siang, lanjut ke India Gate yang ramai seperti di Monas, Jakarta. Tak lupa kami pun mengunjungi toko yang menjual khusus teh-teh India dan Ayurveda sejenis olive oil.
Di penginapan yang minimalis dan modern, kami beristirahat. Mempersiapkan perjalanan yang masih panjang.
“Hmm, semoga semakin menyenangkan dan nggak ada acara bete-bete-an lagi sama Dimas,” ucapku dalam hati sebelum akhirnya aku berhasil memejamkan mata.
***
Keesokan paginya kami check out.
Lalu lintas padat. Beberapa jalanan banjir. Perjalanan menjadi terhambat dan memakan waktu kira-kira tujuh jam dari lima jam yang seharusnya. Pada suatu jalur jalan yang kami lewati terjadi kecelakaan, tabrakan mobil hingga menewaskan beberapa penumpang. Sungguh nahas perjalanan kami kali ini. Mobil kami semakin tertahan di sana.
“Balaram, is it everything ok?” Dimas mengecek situasi.
“Yes, everything gonna be ok, please relax. The police and ambulance will come soon to help them,” jelasnya menenangkan.
“Sorry for this happening.”
“Great!No... No... I mean... I’m just wondering about the accident of victims.”
Dan ternyata mereka datang dengan sigap menangani.
***

Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Download Titik & Koma