Menapaki Kota Suci Makkah
Akhirnya kami tiba juga di Kota Makkah, sebuah kota yang sangat dirindukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Untuk menunaikan ibadah Haji dan Umroh. Demi menunaikan rukun Islam yang kelima.
Menginjakkan kaki di Bandara King Abdul Azis, Jeddah. Airport yang sangat besar dan berasitektur unik. Atapnya berbentuk tenda-tenda raksasa yang bisa dibuka dan ditutup secara hidrolik.
Aku mencari informasi tentang hotel murah yang lokasinya tidak jauh dari Ka’bah. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di hotel Rabwat Al Safwah, yang berada di Jl. Alhajohn street, Mecca, Makkah, Arab Saudi. Dengan tarif Rp387.982. Aku mengambil paket tur agar tidak repot mencari mobil dan guide untuk kelancaran liputan kami.
Kebetulan saat ini di Kota Makkah sedang musim hujan. Walaupun hujan yang mengguyur hanya sekitar satu atau dua jam. Tapi cukup untuk membuat cuaca berubah menjadi sejuk. Suhu setelah hujan berkisar antara 21 – 32 derajat celsius.
“Setelah selesai meliput, gimana kalau kita umroh?” tanyaku pada Ivana yang sedang asyik melihat foto-foto hasil jepretannya di kamera.
“Good idea,” katanya sambil mengacungkan jempolnya padaku. “Berarti kita harus belanja baju muslim dulu dong?”
“Pastinya,” jawabku ringan. “Nanti malem kita pergi ke Pasar Balad.”
“Pasar Balad? Ada di mana tuh?”
“Ada di kawasan kota tua Jeddah. Nanti kita belanja di toko Ali Murah.”
“Barang -barang di toko itu murah, gitu?”
“Nggak juga sih, tapi pelayan tokonya kebanyakan orang Indonesia, terus yang punyanya juga bisa berbahasa Indonesia. And than, transaksinya juga bisa pakai rupiah.”
“Oh. Siplah kalau begitu. Gue tidur dulu deh. Entar malam kita gerilya,” kata Ivana sambil merebahkan tubuhnya. Tak lama kemudian ia telah menapaki alam mimpinya.
Kupandangi wajah Ivana yang sedang terlelap. Tiba-tiba kembali terngiang ucapan Dimas yang mengatakan jika Ivana dan Rifky bersekongkol untuk menghancurkan hubunganku dengan Dimas.
“Apakah benar begitu? Tapi apa mungkin sahabatku bisa berbuat sekeji itu padaku? Apa salahku padanya hingga sebegitu besar keinginannya untuk menghancurkanku? Tapi kalau melihat dari wajahnya, sikapnya, perhatiannya… rasanya tidak mungkin Ivana berbuat seperti yang dituduhkan Dimas. Tapi kalau memang salah, untuk apa Dimas memfitnah Ivana? Apa untungnya buat dia? Sejauh ini hubungan mereka berdua baik-baik saja. Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti. “
Kurebahkan tubuhku di samping Ivana, kucoba untuk menyusulnya ke alam mimpi. Namun hatiku tetap gelisah. Kembali teringat ucapan Dimas yang menyuruhku untuk me-reply ulang kejadian aneh yang ditunjukkan Ivana, dari sebelum berangkat sampai ke Paris. Secara otomatis otakku me-reply semua kejadian yang kualami dari sebelum berangkat ke Borobudur sampai ke Paris.
“Saran Ivana agar aku dan Dimas tidak melewati Singo Urung. Karena menurut mitos, sepasang kekasih yang melewati Arca tersebut akan putus. Itu tidak aneh menurutku, karena bukan hanya Ivana yang mengatakan hal itu. Ia selalu ngecek setiap saat di mana keberadaanku. Itupun tak aneh, menurutku wajar sebagai bentuk perhatian seorang sahabat. Kedatangan Ivana yang begitu cepat ke Paris, hanya beberapa jam setelah kutelepon. Perjalanan Jakarta - Paris memakan waktu 15 jam 30 menit. Belum lagi perjalanan dari rumah ke bandara. Ivana pun mengetahui hotel tempatku menginap, padahal aku belum memberi tahunya. Ini baru aneh. Saat di Mesir, sepulang meliput Piramida. Ivana mendapat SMS, ia keluar. Saat kembali ke kamar ia membawa segelas teh manis. Aku meminumnya, dan setelah itu aku tak mengingat apa-apa lagi. Sedangkan menurut Dimas malam itu Ivana memberiku obat tidur. Apa iya? Entahlah, aku tidak akan percaya begitu saja. Karena Ivana adalah sahabat terbaikku. “
***
Aku dan Ivana terbangun mendengar suara azan dari Masjidil Haram yang dipasang lewat pengeras suara. Suara azan itu terdengar sangat kencang, dan akan membuat semua tamu hotel yang sedang beristirahat mau tidak mau segera beranjak dan melaksanakan salat.
Aku melapor ke resepsionis hotel, minta disiapkan mobil dan guide. Tidak lama seorang laki-laki menghampiri kami.
“Sorry, if you were named Ms. Ivana and Ms. Devi?”
“Yes, We were.”
“My name is Hasan. I was guiding you.”
“From which country comes?
“We are came from Indonesia.”
“Where do you want to go?”
“We wanted to go to the shopping center, Balad.”
“Oke,” kata Hasan, sambil mempersilakan kami masuk ke dalam mobil.
“Ms. Ivana and Ms. Devi. our driver from Indonesia, his name is Adi.”
“Oh, asalnya dari mana Mas,” tanya Ivana sama Adi.
“Dari Bogor, Mbak. Mbak berdua dari mana?”
“Dari Jakarta,” akhirnya kami pun terlibat obrolan yang mengasyikkan baik dengan Hasan maupun dengan Adi. Tidak terasa kami telah sampai di pusat perbelanjaan di Balad.
Pusat perbelanjaan di kota tua Jeddah ini pada malam hari terlihat ramai. Karena selain pusat perbelanjaan kelas tinggi, dipadati pula pedagang tradisional dan pasar terbuka.
Dengan bantuan Hasan, tidaklah sulit menemukan toko Ali Murah. Dan tidak sulit pula berbelanja di toko tersebut, karena memang semua pelayannya berasal dari Indonesia dan mereka menerima pembayaran dengan rupiah.
Aku dan Ivana membeli beberapa setel baju muslim lengkap dengan aksesorinya. Setelah selesai berbelanja, kami langsung mendatangi tempat kuliner yang ada di sekitar situ. Sepiring nasi kebuli satu paket dengan gulai kambingnya sangat menggoda selera.
Untuk paket nasi tersebut harganya berkisar antara 5-10 riyal. Ditambah segelas susu panas ala Arab yang sehat dan bergizi, harganya hanya 2 riyal per gelas.
Karena asyik berbelanja dan wisata kuliner, tidak terasa waktu sudah hampir mendekati tengah malam.
“Kita pulang yu, Dev. Kayaknya gue cape nih,” ajak Ivana.
“Cape apa kenyang lo?” kujulurkan lidah ke arahnya.
“Hehehe... dua-duanya sih. Jadi gue ngantuk deh.”
“Ah, biasa deh lo. Ya udah yuk balik! Lagian besok kita mulai petualangan lagi.”
“Where else would we go now?” tanya Hasan saat kami sudah di dalam mobil.
“We returned to the hotel, I was exhausted,” jawab Ivana. Sambil merebahkan kepalanya di jok mobil.
“Yes some rest, because tomorrow will be a tiring day,” ujar Hasan sambil melemparkan senyumnya ke arah Ivana.
Sesampai di hotel, kami segera menuju kamar.
Bruk!
Ivana langsung melemparkan barang bawaannya ke bawah, dan langsung membanting badannya ke tempat tidur.
“Oh, nikmat banget kalau udah tiduran begini,” katanya sambil merentangkan kedua tangan.
“Dunia serasa milik gue sendiri,” Ivana berteriak bebas.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
“Dunia milik gue sendiri? Lo di dunia ini ngontrak tahu. Lo udah bayar kontrakannya belom? Udah salat isya belom? Enak aja mau tidur, belom salat juga,” kataku sambil berkacak pinggang.
‘Iya! Iya! Galak banget sih lo, kaya emak gue aja,” katanya sambil bangkit dari tempat tidur.
“Eh, tapi Dev, gimana kalau kita salatnya di Masjidil Haram aja.”
“Boleh juga, tapi lo bilang tadi cape, mau tidur,” kataku mengingatkan.
“Nggak jadi tidur deh gue. Tapi kita ke sananya naik apa ya? Kasian juga kalau nyuruh Mas Adi nganterin,” tanya Ivana sambil garuk-garuk kepala.
“Jalan kaki aja kali. Jaraknya cuma 0,5 km. Lagian situasi aman, soalnya biarpun malem tapi rame kok.”
Aku dan Ivana berjalan kaki ke Masjidil Haram. Masjid terbesar di dunia ini, semakin malam semakin ramai dikunjungi orang. Mereka semua akan melaksanakan ibadah malam dan mendekatkan diri pada sang Khalik.
Di Masjid ini aku seakan dekat dengan-Nya. Aku berdoa dan berserah diri memohon petunjuk dan mohon diberikan jalan keluar bagi semua masalah yang sedang kuhadapi.
Other Stories
Horor
horor ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Dentistry Melody
Stella ...