Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Reads
4K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
cinta di 7 keajaiban dunia
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Penulis Nenny Makmun

Keagungan-mu Menguatkan Cintaku

Aku terbangun kaget saat telepon genggamku berdering. Terlihat nama Hasan memanggil. Ya Tuhan! Aku kesiangan, kami baru pulang dari Masjidil Haram setelah selesai salat subuh.
“You’re ready for a trip today?” suara Hasan terdengar saat telepon genggam kuangkat.
“Sorry Hasan, I oversleep. I just got up,” kataku sambil membangunkan Ivana.
Ia pun tak kalah kagetnya, setengah loncat dari tempat tidur langsung menyambar handuk dan mandi. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.
“Wait for us one more hour,” kataku pada Hasan.
“It’s ok.”
Klik!
Suara telepon genggam ditutup. Giliranku kali ini yang panik, sebelum mandi aku siapkan semua keperluan untuk liputan hari ini.
“Ivana, buruan mandinya! Jangan lama-lama, Hasan udah nungguin di lobby,” kataku sambil mempersiapkan baju muslim yang akan kukenakan. Karena rencanaku setelah liputan nanti aku dan Ivana akan langsung melaksanakan ibadah Umroh.
Setengah berlari kami menuju lobby. Di sana terlihat Hasan dan Adi sudah menunggu.
“Sory to make you wait,” kataku dengan napas agak terengah-engah.
“It’s Ok. Well surprice, you look beautiful by wearing Muslim clothing.”
“Thank you,” kataku sama Ivana hampir bersamaan.
***
Hasan mulai menceritakan sejarah tentang Ka’bah, tape recorder pun telah siap di tanganku. Seperti biasa Ivana sibuk dengan kamera SLR-nya.
Ka’bah adalah kiblat bagi umat Islam. Arah bagi kaum muslimin menghadap dalam salat mereka. Bentuknya hampir kubus dibangun di tengah-tengah Masjidil Haram. Stuktur bangunan Ka’bah kira – kira tinggi 13,10 M dengan sisi 11.03 M x 12.62 M.
Tidak sembarang orang bisa memasuki Ka’bah. Menurut dokumenter Kerajaan Arab Saudi, isi dalam Ka’bah hanya berupa ruangan kosong. Bagian dalam Ka’bah terdapat tiga pilar dari kayu gaharu terbaik.
Atap dalamnya dipenuhi dengan ukiran-ukiran mengagumkan. Diberi lampu-lampu indah yang terbuat dari emas murni dan dari perhiasan-perhiasan indah lainnya. Sedangkan lantainya terbuat dari batu pualam putih. Dinding dalam Ka’bah dibalut dengan batu pualam warna-warni, dan dihiasi ukiran gaya Arab. Ka’bah selalu ditutup dengan Kiswah. Kain beludru hitam dengan kaligrafi ayat al Qur’an berwarna kuning emas.
Hasan menerangkan beberapa hal tentang keajaiban-keajaiban yang ada di Kota Makkah. Tentang Hajar Aswad, batu hitam yang letaknya di dekat Ka’bah.
Dahulu Hajar Aswad ini berwarna putih dan sinarnya mampu menerangi Kota Makkah, lama kelamaan warnanya berubah menjadi hitam karena perbuatan dosa manusia. Batu ini pun memiliki wangi yang sangat khas.
Masjidil Haram, Masjid yang mengelilingi Ka’bah. Dan merupakan masjid terbesar di dunia. Masjid ini terdiri dari empat lantai dan menampung 2 juta jemaah. Salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 kali salat di masjid lain.
Air zam-zam, memiliki molekul yang berbentuk kristal. Sumur Zam-zam letaknya kira-kira 20 M dari Ka’bah. Air zam-zam ini bermula saat Siti Hajar kehausan di tengah padang pasir bersama bayinya, Ismail. Allah mengirim Malaikat Jibril, dan jejak kaki Malaikat Jibril membuat retakan dan dari retakan itu keluarlah air yang jernih.
Azan zuhur berkumandang dari Masjidil Haram. Kami pun menghentikan kegiatan dan bergegas menuju Masjidil Haram untuk menunaikan salat.
Selesai shalat, Ivana ngajak aku untuk makan siang. “Dev, kita makan dulu yu! Laper nih gue, tadi pagi cuma sarapan roti sepotong,” Ivana mengelus-elus perutnya yang sudah keroncongan.
“Sama, gue juga. Ya udah kita tunggu Hasan sama Adi dulu,” tak lama kemudian kedua orang yang ditunggu pun muncul.
“Let’s have lunch. We want to eat Indonesian food.”
“Mbak Devi sama Mbak Ivana kangen sayur asem sama semur jengkol ya?” seloroh Adi.
“Kalau semur jengkol sih, itu makanan kesukaannya Ivana,” kataku sambil ketawa. Disambut dengan tawanya Adi. Mata Ivana melotot mendengar kami menertawakannya.
Kami menuju lantai P3, di sana banyak restoran yang menyajikan makanan khas Indonesia. Ada Mr Sate, warung Mpok Minah, dan Restoran Tasneem. Pelayan-pelayan di restoran tersebut adalah orang Indonesia.
Setelah menyantap makanan khas tanah air, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Thaif. Jaraknya 67 km, dengan jarak tempuh 1 jam 45 menit dari Kota Makkah. Kota ini terkenal dengan perkebunan kurma, delima dan sayuran.
Kota ini memiliki hawa yang sejuk seperti Puncak Pas, Bogor. Di saat siang seperti ini diperkirakan suhunya 20 derajat celsius.
Jalanan menuju Thaif ketika melewati pegunungan Asir dan Al Hada berkelok- kelok, panjang dan menanjak mengelilingi pinggiran pegunungan hingga puncak. Pegunungan di daerah ini tandus, berbatu dan berpasir. Saat memasuki Kota Al Hada sebelum Thaif, baru ditemukan pepohonan dan perkebunan kurma.
Kesejukan Kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan wisata di musim panas. Di kota ini sering diadakan perlomabaan balap unta. Saat musim dingin pada bulan Oktober hingga Januari. Di kawasan Al Safa musim delima dan anggrek.
Di saat Hasan asyik berceloteh panjang lebar, Ivana tak mau memalingkan kameranya dari setiap sudut tempat yang kami lewati. Sambil sesekali terdengar decak kagum keluar dari mulutnya. Sesekali aku mengintip hasil bidikannya di kamera.
“Hem, sepertinya tidak salah aku menjadikannya fotografer menggantikan Dimas,” bisik hatiku, walau ada juga kecurigaan apa yang Dimas infokan waktu lalu bila itu benar adanya. Tapi aku tidak mau menuduh sahabatku begitu saja tanpa bukti yang jelas.
Perjalanan yang sangat menyenangkan, walaupun terasa lelah. Menjelang isya kami sudah kembali lagi ke hotel. Niat untuk langsung melaksanakan Umroh kami tunda dulu, rasanya aku ingin segera menyiram tubuh dengan sejuknya air.
Setelah mandi dan makan malam, aku dan Ivana duduk santai di depan tv. “Kapan kita mau Umroh, Dev?” katanya sambil memainkan channel tv.
“Aku sih maunya malem ini, habis Umroh kita menghabiskan waktu semalaman buat ibadah di Masjidil Haram. Gimana, mau?”
“Maulah, mumpung ada di Makkah. Jadi kita gunakan waktu sebaik-baiknya.”
“Ya udah, kalau gitu kita siap-siap yu!” kami segera mempersiapkan semua keperluan untuk ibadah Umroh.
Dengan diantar Adi, kami menuju Masjid Tan’im (Masjid Aisah) untuk melakukan miqat. Jaraknya 7.5 km di sebelah utara Masjidil Haram.
Sepanjang perjalanan dari Masjid Tan’im menuju Masjidil Haram, kami membaca kalimat talbiyah sebanyak-banyaknya.
Sesampai di Masjidil Haram, aku meminta Adi untuk kembali ke hotel.
“Mas Adi pulang aja. Nggak usah nungguin aku sama Ivana.”
“Nanti Mbak Devi sama Mbak Ivana pulangnya naik apa?” ia terlihat cemas.
“Kami berdua pulangnya sehabis salat subuh kok, Mas.”
“Berarti besok pagi saya jemput?”
“Nggak usah! Kami jalan kaki aja, anggap aja jalan pagi, biar sehat,” kataku berusaha meyakinkan.
“Ya udah kalau begitu. Hati- hati ya, Mbak. Kalau perlu saya, telepon aja.”
“Ok, Mas. Maaf ya udah ngerepotin,” Adi segera pergi dengan mobilnya, meninggalkan kami berdua.
Aku dan Ivana melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Batas awal tawaf adalah antara pintu Ka’bah dan lampu yang dipasang di sisi Masjid. Pada putaran 1-3 berlari-lari kecil. Putaran 4-7 berjalan biasa. Setelah tawaf kami melaksanakan salat 2 rakaat di depan makam Nabi Ibrahim. Lalu meminum air zam–zam dan melakukan Sa’i antara Shofa dan Marwa, 7 kali bolak balik. Sa’i dilakukan dengan berjalan, tapi pada batas antara 2 lampu berlari-lari kecil. Sebagai tanda selesai Umroh, kami menggunting beberapa helai rambut.
Jam menunjukkan pukul satu malam saat kami menyelesaikan Umroh. Aku dan Ivana langsung menuju Masjidil Haram. Sepanjang malam kuisi dengan ibadah. Membaca Al Qur’an dan berzikir. Hingga jam setengah tiga pagi lalu aku melakukan salat tahajud. Dan dilanjutkan dengan doa, untuk mohon petunjuk dari-Nya.
“Ya… Allah, aku datang kepada-Mu memohon ampun atas segala dosa. Baik yang disengaja maupun tidak. Tuntunlah aku ke jalan yang benar yang Engkau ridhoi. Berikanlah petunjuk dan jalan keluar bagi semua masalah yang sedang hamba hadapi. Mantapkanlah hati atas keraguan yang menyelimuti, jelaskanlah semua yang terlihat samar menurut mata lahir dan mata batin hamba. Bukakanlah mata hati hamba, agar hamba bisa mengetahui, yang tersembunyi di balik sepengetahuan hamba. Jernihkanlah hati hamba, agar hamba bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mudahkanlah segala sesuatu yang menurut hamba sulit. Karena tidak ada satu hal pun yang mudah, kecuali telah Engkau jadikan mudah. Hanya kepada-Mu hamba berlindung dan berserah diri.”

Other Stories
Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Download Titik & Koma