Indah Pada Waktunya
Sudah seminggu dari meliput 7 keajaiban dunia. Bos sangat puas dengan hari reportase yang dibuat Dimas dan Devi.
Ivana benar-benar seperti hilang ditelan bumi, saat Devi masuk, meja Ivana sudah bersih. Sepertinya Ivana mencuri start, sesampainya Indonesia dia langsung urus semuanya, termasuk pengunduran diri yang mendadak.
Tak satupun yang tahu alasan Ivana mengundurkan diri secara tiba-tiba. Devi dan Dimas juga sepakat untuk tutup mulut.
Banyak yang salut dengan perubahan Devi yang sekarang berhijab, terutama kaum hawa, karena berkurang satu pemandangan menyenangkan buat kaum adam di kantor yang suka dengan tampilan buka-bukaan.
Tapi yang terutama sifat Devi juga lebih kalem dan tenang, bahkan nggak segan berbagi ilmu membuat semua semakin mendukung kalau Devi dan Dimas menikah maka akan memperkuat perusahaan ini.
***
Dua bulan bukan waktu yang panjang untuk mempersiapkan segala pernak-pernik perkawinan.
Tapi Devi dan Dimas sepakat bukan menggelar perkawinan yang megah seperti konsep awal saat dirinya sebelum berhijrah.
Devi dan Dimas ingin melakukan perkawinan yang sederhana tapi sakral, tidak perlu menghabiskan uang banyak untuk hal-hal yang sifatnya hanya mempertontonkan kemegahan semu.
Malah sebaliknya, Devi dan Dimas memutuskan lebih banyak mengundang anak-anak yatim yang bisa ikut berbahagia di hari yang paling membahagiakan mereka berdua.
Sesekali masih ada perselisihan hanya gara-gara hal sepele seperti menu maknan, souvenir, baju resepsi. Tapi berdua bisa bersikap lebih dewasa dan waspada untuk tidak memaksakan keinginan hati masing-masing.
“Devi aku tahu terkadang aku terlalu cuek dan tidak tahu apa yang jadi keinginan hati kamu terdalam dan sebaliknya. Apakah kamu siap lahir batin menerima aku untuk jadi imammu?”
Devi mendadak bingung dengan pertanyaan Dimas yang tinggal menghitung hari lagi dari ijab qobul.
“Dim... Insya Allah aku siap. Kita sudah melewati banyak hal dan hmmm... menjelajahi 7 keajaiban dunia ada cinta kita, benci dan hijrah datang bersama semakin membuat aku bersyukur. Walaupun mungkin bagi orang lain, berkunjung ke negara-negara lainnya sudah merupakan hal yang sangat biasa, tapi bagi aku pribadi, sungguh merupakan suatu “keajaiban”. Terutama lagi aku mengunjungi tanah suci. Tiada yang mustahil bagi Tuhan,bagi siapa yang percaya kepada-Nya dan mau mengubah nasibnya,” kata Devi bijak.
“Iya, aku percaya kalau Tuhan akan memberikan keindahan pada waktunya bila kita mau bersabar, ikhlas dan memaafkan orang yang telah berbuat zalim pada kita. Aku menyayangi kamu Devinta Anggraini, semata karena Allah,” Dimas berkata lembut dan tatapannya tidak lagi menatap tajam ke Devi, tapi ke arah senja yang sebentar lagi menyapa dengan azan magrib.
Other Stories
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...