Prolog
“Aku ada di mana? Siapa yang membawaku ke sini?” tanyaku panik.
Aku berada di tengah kuburan yang entah kuburan siapa. Kuburan-kuburan itu sangat asing di mataku.
Suasana tiba-tiba sungguh mencekam. Bulu kudukku berdiri semua. Ya Tuhan, aku takut berada di sini. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?
Aku mencoba berjalan menyusuri kuburan, berusaha mencari jalan keluar. Namun bukan jalan keluar yang aku temui, melainkan kuburan dengan batu nisannya tertulis nama Arizal Ridwan Maulana.
Tanggal lahir, nama ayah yang tertulis di batu nisan sama persis dengan data Arizal, orang yang aku cintai sejak Sekolah Dasar.
“Nggak mungkin kalau ini makamnya Arizal!” pekikku.
“Iya, Airin. Itu memang makamku,” terdengar suara Arizal di belakangku.
Aku membalikkan badan. Arizal telah berdiri tegak mengenakan kemeja dan celana serba putih.
“Arizal, akhirnya kamu menemuiku lagi. Aku senang bertemu denganmu karena aku sangat merindukanmu.”
“Airin! Berhentilah merindukan dan mencintaiku. Aku sudah meninggal. Sampai kapanpun kita takkan bersatu. Mencintaiku hanya akan membuatmu terluka.”
“Nggak mungkin. Kamu pasti bohong. Kamu pasti masih hidup!” aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Arizal.
“Adakah kebohongan tersirat di wajahku Rin? Arizal berkata lebih lanjut dan sepertinya dia mengatakan hal yang sejujur-jujurnya.”
Aku memperhatikan wajah Arizal saksama. Ya benar, tak ada kebohongan tersirat di wajahnya. Aku menggelengkan kepala. Tapi sepertinya nggak mungkin Arizal meninggal. Aku belum siap menerima kenyataan itu.
“Rin, kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa kita takkan bersatu. Di saat mentari terbit, kita enggan untuk melihatnya. Tapi ketika mentari itu terbenam, barulah kita menyadari betapa indahnya ia. Begipu pula dengan cinta, seseorang yang menghiasi hari-harimu kamu anggap biasa saja. Tapi ketika seseorang itu pergi, barulah kamu menyadari betapa berharganya ia di hidupmu. Rin, cintailah orang yang mencintaimu sebelum penyesalan itu datang!”
“Zal, tolong bilang sama aku, siapa orang yang mencintaiku?”
“Hanya lewat tatapan mata, kamu bisa mengetahui ketulusan cinta seseorang. Tatapan mata orang yang tulus padamu berbeda dengan tatapan mata yang mencintai semata nafsu yang ingin memilikimu.”
Dahiku berkerut, otakku berpikir apa maksud perkataan Arizal?
Other Stories
Rahasia Desa Teluk Roban
Farhan selalu tak betah ketika libur akhir tahun harus kembali ke Desa Teluk Roban. Desa i ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...