Keeper Of Destiny

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Keeper of destiny
Keeper Of Destiny
Penulis TJOE 21

Gawang Bambu Di Bandung

Namaku Kim Rangga Pradipta Sutisna. Nama yang panjang dan ribet, ya kan. Setengah Korea setengah Sunda. Lengkap sudah bahan buat diejek anak anak kampung. Kalau ada pertandingan bola plastik di lapangan tanah depan rumah, sudah pasti aku yang paling rame jadi bahan ledekan.

Lapangan itu bukan lapangan beneran. Rumputnya bolong bolong, tanahnya keras, kadang juga becek kalau habis hujan. Garis lapangan? Jangan harap. Kami cuma bikin garis pakai kapur seadanya atau kadang malah pakai sandal yang ditaruh di ujung ujung. Dan gawang? Nah, ini yang paling seru. Kami bikin dari bambu. Dua batang bambu panjang ditancap di tanah, diikat pakai tambang plastik. Kalau angin kencang, gawangnya bisa miring sendiri, jadi kalau ada bola masuk kadang suka debat, gol atau enggak.

Aku selalu minta jadi kiper. Padahal anak anak lain maunya jadi striker, pengen cetak gol, pengen jadi pahlawan. Aku beda sendiri. Entah kenapa aku suka sekali berdiri di depan gawang bambu itu, meski bolanya plastik dan tendangannya kadang ngawur. Ada sensasi deg degan kalau bola datang, aku loncat, jatuh, kadang sampai lutut lecet. Rasanya seru.

Ayahku, Kim Sung ho, sering nonton dari jauh sambil ketawa. Dia suka nyeletuk, “Rangga, kamu bukan tembok, kamu pintu bolong. Semua bola lewat.” Waktu kecil aku baper banget dengernya. Anak anak kampung langsung teriak, “Eh pintu bolong, jaga gawang jangan tidur.” Aku cuma bisa manyun, tapi dalam hati aku janji, suatu hari aku bakal buktiin kalau aku bukan pintu bolong, aku bakal jadi tembok sungguhan.

Kadang aku mikir, buat apa sih aku susah susah diving ke tanah keras gitu. Kan sakit. Tapi setiap kali bola kena tanganku, ada rasa puas. Itu kayak hadiah kecil yang bikin aku ketagihan. Dan jujur aja, aku seneng banget kalau habis tepis bola lalu temen temen teriak, “Mantap Rangga.”

Eh tapi jangan kira hidupku cuma soal bola plastik. Aku anak kampung yang sehari hari juga suka main layangan, suka mandi di kali, suka ikut lomba makan kerupuk tiap Agustusan. Tapi bola selalu jadi nomor satu di hatiku. Pernah suatu kali, Ibu teriak dari dapur, “Rangga, ayo mandi. Besok sekolah.” Aku jawab dari lapangan, “Sebentar Bu, lagi penalti.” Besoknya aku datang ke sekolah dengan seragam penuh tanah. Guruku geleng geleng kepala, “Kamu ini Rangga, kalau main bola semangat, kalau belajar suka ngantuk.”

Ya wajar sih, aku suka ngantuk di kelas karena malamnya aku suka nonton bola di warung sebelah rumah. Warung itu punya Mang Didi, dia pasang televisi tabung gede, dan setiap ada liga Eropa banyak bapak bapak nonton rame rame sambil ngopi. Aku duduk paling depan, kadang pura pura beli permen biar boleh nongkrong. Dari situlah aku kenal sosok kiper legendaris, Ediwan Vandesar.

Pertama kali aku lihat dia main, aku langsung bengong. Badannya tinggi banget, tangannya panjang, matanya tajam kayak elang. Waktu dia tepis penalti, aku sampai teriak, “Horeeee.” Bapak bapak nengok, terus ada yang bilang, “Eh si Rangga ini kiper juga kan. Cita citanya apa, Ga?” Aku jawab polos, “Mau jadi kiper nomor satu dunia.” Semua ketawa, “Weleh weleh, bocah kampung Bandung mau jadi kiper dunia.” Tapi aku tidak tersinggung. Aku justru makin yakin.

Di sinilah aku mau ngomong langsung ke kamu yang lagi baca. Jangan ketawa ya. Memang terdengar gila, bocah kampung, gawang bambu, bola plastik, mimpi jadi kiper nomor satu dunia. Tapi bukankah semua mimpi besar selalu terdengar konyol di awal. Kalau kamu punya mimpi yang bikin orang ketawa, berarti kamu di jalur yang benar. Aku sih percaya itu.

Oke balik lagi ke cerita.

Satu sore, aku dan teman teman main bola. Bolanya plastik murah yang kalau kena batu bisa langsung kempes. Kami main sampai matahari merah tenggelam. Aku jaga gawang. Tiba tiba bola melayang kencang. Aku loncat. Jatuh. Sakit. Tapi tanganku kena bola. Semua teriak, “Hebat Ga.” Dadaku bangga sekali.

Tapi pas aku bangun, lututku berdarah. Sakitnya luar biasa. Aku hampir nangis, tapi aku tahan. Aku nggak mau kelihatan lemah. Aku pulang jalan pincang. Ibu marah besar, “Rangga, kamu kenapa. Aduh anak ini bikin pusing aja.” Ayah cuma ketawa sambil ambil obat merah. “Tenang aja, Bu. Namanya juga calon tembok dunia.” Aku cuma senyum kecut.

Kadang aku bingung. Ayahku bisa berubah cepat. Kalau di lapangan suka bilang aku pintu bolong. Tapi kalau di rumah dia suka bilang aku calon tembok dunia. Aku tahu dia sebenarnya bangga, cuma caranya beda.

Malam itu aku nggak bisa tidur. Lutut perih. Aku menatap langit langit kamar. Aku mikir, gimana caranya bisa jadi sehebat Vandesar. Aku bukan orang Belanda, aku bukan orang terkenal, aku cuma anak kampung di Bandung. Tapi aku punya tekad. Dan aku percaya tekad bisa mengalahkan kekurangan.

Besok paginya aku bikin janji sama diriku sendiri. Aku akan latihan lebih keras. Kalau teman teman main bola satu jam, aku main dua jam. Kalau mereka diving sekali, aku diving sepuluh kali. Kalau mereka ketawa ketawa, aku akan serius.

Kamu mungkin mikir, wah serius banget bocah ini. Tapi jujur aja, aku juga masih bocah yang kadang malas. Ada hari di mana aku lebih milih main layangan daripada latihan. Ada hari di mana aku pengen tidur siang daripada lari lari di lapangan. Tapi setiap kali aku inget Vandesar tepis penalti, semangatku balik lagi.

Aku inget suatu sore, ayah ngajak aku jalan ke pasar. Di perjalanan kami lihat ada poster turnamen tarkam. Ayah tunjuk ke aku, “Suatu hari kamu harus main di sana, Rangga. Dari tarkam ke dunia.” Aku ngakak, “Dari tarkam ke dunia? Emang bisa Yah.” Ayah cuma bilang, “Kalau kamu percaya, semua bisa.”

Dan di sinilah awal petualanganku dimulai. Dari gawang bambu di Bandung, dari bola plastik yang ringan, dari ejekan pintu bolong.

Aku tahu perjalanan ini nggak bakal mudah. Aku tahu aku bakal sering jatuh, berdarah, diejek, bahkan mungkin gagal. Tapi aku juga tahu, setiap kali aku jatuh, aku bisa bangun lagi.

Kamu yang baca mungkin juga pernah diejek soal mimpimu. Mungkin kamu pengen jadi penulis, penyanyi, atlet, atau apa saja. Orang orang ketawa, bilang kamu nggak mungkin bisa. Tapi kalau kamu mau belajar dari aku, ketawanya orang lain itu bukan penghalang, justru jadi bahan bakar.

Hari itu aku berdiri di bawah gawang bambu, matahari mulai tenggelam, suara azan berkumandang dari surau kecil dekat lapangan. Teman teman pulang satu satu. Aku masih berdiri, tanganku menyentuh bambu yang kasar. Aku berbisik ke diriku sendiri, “Suatu hari aku akan jaga gawang besar, gawang sungguhan, di stadion besar, dengan ribuan orang bersorak. Aku akan jadi tembok, bukan pintu bolong.”

Dan aku janji, kalau hari itu tiba, aku bakal ingat kembali lapangan tanah ini, gawang bambu ini, bola plastik ini, dan masa masa di mana semua orang ketawa saat aku bilang aku mau jadi kiper nomor satu dunia.

Hei kamu, iya kamu yang lagi baca. Ingat baik baik. Ini baru awal cerita. Jangan kemana mana. Karena aku, Kim Rangga Pradipta Sutisna, baru saja membuka bab pertama dari petualangan panjangku. Dari Bandung, aku akan berjalan jauh. Dan percayalah, aku tidak akan berhenti sampai aku berdiri di puncak.


Other Stories
Ophelia

Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Download Titik & Koma