Keeper Of Destiny

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bola Plastik Dan Cita Cita Gila

Pagi itu udara Bandung dingin sekali. Aku bangun kesiangan karena semalam nonton bola di warung Mang Didi sampai hampir tengah malam. Begitu buka mata, aku sudah panik. Aku lihat jam dinding di rumah. Waduh, sudah lewat jam tujuh. Ibu pasti sudah marah marah.

Aku buru buru cuci muka, ambil seragam SD yang masih agak kusut karena aku lupa nyetrika. Aku lari ke dapur sambil pakai sepatu. Ibu teriak, Rangga makan dulu. Aku jawab, Nanti saja Bu, kalau telat bisa kena hukuman lagi. Aku kabur keluar rumah sambil bawa bekal nasi uduk dibungkus kertas.

Sekolahku tidak jauh, cuma sepuluh menit jalan kaki. Tapi pagi itu aku lari kayak kiper yang dikejar striker. Aku sempat hampir jatuh karena sandal salah satu anak kampung yang tergeletak di jalan. Untung tidak nyungsep.

Sampai di kelas, guru sudah berdiri di depan papan tulis. Beliau guru kelas kami, namanya Bu Rini. Beliau terkenal tegas, tapi kalau lagi senyum bisa bikin anak anak lega. Aku masuk sambil ngos ngos an, Bu Rini melotot. Rangga kenapa telat lagi. Aku jawab dengan polos, Nonton bola semalam Bu. Satu kelas ketawa. Bu Rini tepuk jidat. Kamu ini Rangga, masa depanmu bukan cuma bola.

Tapi justru di hari itu ada kejadian yang bikin aku makin yakin dengan bola. Bu Rini sedang ngajarin kami tentang cita cita. Beliau menulis di papan tulis besar, Cita cita masa depan. Lalu beliau tanya satu per satu murid.

Aku duduk di barisan tengah. Temanku di depan namanya Ujang. Dia jawab dengan mantap, Saya mau jadi polisi Bu. Satu kelas manggut manggut. Lalu giliran Nisa, teman sebangkuku. Dia bilang mau jadi dokter biar bisa nolong orang sakit. Semua lagi lagi setuju.

Aku deg degan menunggu giliran. Rasanya jantungku mau copot. Aku tahu kalau aku jawab jujur, mereka pasti ketawa. Tapi aku sudah janji pada diri sendiri, aku tidak boleh bohong.

Akhirnya giliran aku. Bu Rini menatapku sambil senyum. Rangga, kalau kamu besar nanti, mau jadi apa. Aku tarik napas dalam dalam. Aku berdiri. Suasana kelas mendadak hening. Semua mata menatapku. Aku berkata lantang, Saya mau jadi kiper nomor satu dunia.

Begitu kalimat itu keluar, seluruh kelas meledak ketawa. Ada yang sampai tepuk meja, ada yang saking ngakaknya sampai keluar air mata. Ujang teriak, Mana bisa kiper kampung jadi nomor satu dunia. Nisa menutup mulut sambil senyum geli. Aku hanya berdiri kaku, tapi mataku menatap lurus ke papan tulis.

Bu Rini terdiam sejenak. Beliau lalu bilang dengan suara lembut, Tidak ada cita cita yang salah. Kalau kamu yakin, kamu bisa berusaha. Tapi kamu harus rajin belajar juga.

Aku duduk lagi dengan pipi panas. Telingaku merah menahan malu. Dalam hati aku ngomong, biar kalian ketawa sekarang, suatu hari aku akan bikin kalian teriak bukan karena ngetawain aku, tapi karena bangga.

Hei kamu yang lagi baca, pernah nggak sih kamu ngomong sesuatu yang buatmu serius, tapi orang lain malah ketawa. Rasanya kayak ditusuk jarum kecil kecil. Perih, tapi justru bikin darahmu berdesir. Itu yang aku rasakan pagi itu.

Jam istirahat tiba. Aku masih jadi bahan ejekan. Ujang bilang, Ga, kalau kamu jadi kiper nomor satu dunia, aku mau jadi presiden. Teman teman lain ikut ikutan, ada yang bilang mau jadi superman, ada yang bilang mau jadi ninja. Mereka semua tertawa puas. Aku cuma bisa nyengir. Tapi dalam hati aku berkata, kalian lihat saja nanti.

Setelah bel pulang, aku jalan kaki ke rumah dengan kepala tertunduk. Tiba tiba ada suara dari belakang. Ternyata Nisa. Dia bilang pelan, Rangga, jangan sedih. Aku percaya kamu bisa. Aku kaget, serius Nis. Dia angguk, iya. Kamu kan suka latihan tiap sore, beda sama yang lain. Aku langsung merasa lebih baik.

Sampai rumah, aku ceritakan semua pada Ibu. Ibu cuma geleng geleng kepala sambil tertawa kecil. Kamu ini Rangga, cita citanya tinggi sekali. Tapi Ibu dukung kok, asal kamu rajin sekolah juga. Aku senyum lebar, janji Bu, aku akan belajar lebih rajin. Walau dalam hati aku tahu, yang paling bikin aku bersemangat tetap bola.

Malam itu, Ayah pulang kerja lebih cepat. Aku ceritakan juga ke Ayah soal kelas tadi. Dia malah ketawa keras, Hahaha kiper nomor satu dunia. Ayah bangga kamu berani ngomong. Banyak orang takut ketawa orang lain, tapi kamu tidak. Itu bagus. Aku menatap wajah Ayah yang penuh peluh, dan aku tahu kata katanya tulus.

Sejak hari itu, aku merasa harus latihan lebih keras. Sore sore setelah sekolah, aku ambil bola plastik yang sudah agak penyok. Aku bawa ke lapangan tanah. Aku minta teman teman nendang sekuat mungkin ke arah gawang bambu. Aku loncat jatuh bangun. Kadang sakit. Kadang kena batu. Tapi aku tidak peduli. Aku terus latihan.

Pernah suatu sore, hujan deras turun. Semua anak kabur pulang. Aku masih di lapangan sendirian. Baju basah kuyup, tanah becek, bola menggelinding pelan. Aku tetap berdiri di depan gawang. Aku teriak ke langit, Aku kiper nomor satu dunia. Suaraku tenggelam oleh suara hujan. Tapi aku yakin langit dengar.

Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Gila ya bocah kecil teriak teriak di tengah hujan sendirian. Tapi bukankah semua petualangan besar dimulai dengan sedikit kegilaan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Aku makin terbiasa jadi bahan ejekan. Tapi aku tidak peduli. Setiap kali ada yang bilang aku pintu bolong, aku jawab, pintu bolong aja bisa ditutup rapat, apalagi aku. Mereka tambah ngakak, tapi aku merasa menang karena bisa jawab balik.

Sampai suatu hari ada kejadian yang bikin aku makin yakin kalau cita citaku tidak sekadar mimpi kosong.

Sekolah kami ikut lomba antar SD di kecamatan. Tim bola kami dipilih. Tentu saja aku daftar jadi kiper. Pelatih awalnya ragu. Dia bilang, Kamu kecil, Rangga. Lawan lawanmu lebih besar. Tapi aku memohon, kasih aku kesempatan. Akhirnya dia setuju.

Pertandingan pertama, aku gemetar. Bola yang dipakai bukan bola plastik, tapi bola karet yang lebih berat. Lawan menendang kencang sekali. Aku takut. Tapi begitu bola datang, instingku jalan. Aku loncat, tanganku berhasil menepis. Semua penonton berteriak. Rasanya luar biasa.

Pertandingan itu kami menangi tipis. Dan orang orang mulai melihat aku bukan cuma anak kampung yang suka berkhayal, tapi benar benar bisa menjaga gawang.

Pulang ke rumah, aku ceritakan pada Ibu dan Ayah. Ibu terharu sampai matanya berkaca kaca. Ayah menepuk pundakku keras keras. Bagus Rangga. Dari bola plastik ke bola sungguhan. Dari gawang bambu ke gawang beneran. Ini baru langkah awal.

Aku tersenyum. Aku tahu perjalanan masih panjang. Tapi aku juga tahu, aku sudah memulainya.

Dan kalau kamu tanya aku sekarang, apakah aku masih malu diejek teman teman. Tidak. Aku justru berterima kasih. Karena tanpa tawa mereka, mungkin aku tidak akan sekeras ini mengejar mimpi.

Jadi ingat baik baik. Kalau ada orang ketawa saat kamu ngomong mimpi, jangan kecil hati. Anggap saja itu suara penonton yang nanti akan berbalik jadi sorakan.

Aku Kim Rangga, anak setengah Korea setengah Sunda, kiper gawang bambu, si pintu bolong. Tapi percayalah, suatu hari aku akan jadi tembok yang tidak tertembus. Itu janji.

Dan perjalanan itu sudah dimulai dari bola plastik dan cita cita gila di kelas SD.

Other Stories
Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma