Scout Persebundar Menyaksikan
Hari itu udara Bandung agak mendung. Lapangan tarkam masih penuh sisa lumpur kemarin sore. Bau tanah basah bercampur bau bakso mangkal, ditambah suara anak-anak kecil teriak-teriak main kelereng. Pokoknya suasana khas kampung yang kalau kamu datang pasti langsung betah, kecuali kalau sepatumu baru dicuci.
Rangga datang dengan langkah penuh semangat. Setelah jadi pahlawan di pertandingan sebelumnya, rasa percaya dirinya naik dua tingkat. Sarung tangan robek masih setia dipakai, meski kalau dilihat-lihat lebih cocok jadi lap meja warung. Tapi hei, jangan remehkan sarung tangan ini. Mungkin penampilannya lusuh, tapi di baliknya ada sejarah.
"Rangga, main lagi ya hari ini," kata Budi, striker jangkung yang jadi kapten tim.
Rangga mengangguk. "Selama masih bisa berdiri, aku bakal jaga gawang."
Nah, di sisi lapangan, tanpa ada yang tahu, seorang pria berkemeja rapi dengan topi hitam duduk sambil pura-pura beli cilok. Dia adalah pemandu bakat klub besar Persebundar. Namanya Pak Jaka. Matanya tajam memperhatikan setiap gerakan pemain. Khususnya satu bocah kecil di bawah mistar.
Hei, pembaca, kamu jangan mikir Pak Jaka ini mata-mata rahasia. Dia memang terlihat misterius, tapi pekerjaannya jelas mencari bakat bola kampung yang bisa diorbitkan. Dan hari itu, tanpa Rangga sadari, namanya hampir tercatat di buku catatan kecil Pak Jaka.
Pertandingan dimulai. Lawannya kali ini lebih gila lagi. Tim lawan punya penyerang bertubuh besar, panggilannya Goro. Serius, badannya segede lemari es. Kalau kamu bayangkan bocah SMP biasa, Goro ini setingkat raksasa. Orang bilang dia bisa tendang bola sampai menembus pagar bambu.
"Rangga, hati-hati sama si Goro," bisik teman setim.
Rangga menatap ke arah lawan itu, lalu menoleh ke pembaca. Hei, serius deh, kalau aku selamat dari tendangan Goro, aku patut dapat medali.
Laga berjalan keras. Baru lima menit, Goro sudah lepaskan tendangan. Bola melesat seperti roket. Rangga refleks lompat, dan... "Buumm!" Bola menabrak tangannya. Sakitnya luar biasa, jari hampir bengkok. Tapi bola berhasil mental ke luar. Penonton berteriak, setengah kagum, setengah khawatir.
Rangga meringis sambil memegangi tangan. "Aduh, sakit."
Tapi ia berdiri lagi. "Aku masih bisa."
Pak Jaka di pinggir lapangan mengernyit. Dia menulis sesuatu di bukunya. Bocah ini kecil, tapi nyali besar. Tidak takut lawan yang dua kali lipat lebih gede. Itu poin penting.
Permainan makin seru. Beberapa kali Rangga membuat penyelamatan gokil. Ada satu momen bola meluncur ke kanan, dia sudah telat langkah, lalu terjatuh dengan posisi aneh. Penonton kira bakal gol. Eh, tiba-tiba bola mengenai pantatnya dan keluar lapangan.
"Wooo!" Penonton tertawa ngakak.
Budi berlari ke arah Rangga. "Kamu sengaja ya?"
Rangga tersipu. "Enggak sengaja. Tapi yang penting enggak gol, kan."
Hei pembaca, jangan remehkan pantat. Kadang, bagian tubuh yang tidak kamu sangka bisa jadi penyelamat tim.
Pak Jaka yang melihat ikut tersenyum. Ia catat lagi: refleks unik, modal nekat.
Menit demi menit berjalan. Goro makin frustrasi. Tendangannya ditahan terus oleh bocah kiper kecil. Lalu datang momen paling dramatis. Menit terakhir, skor masih imbang. Lawan dapat penalti. Dan tentu saja, penendangnya adalah Goro.
Semua orang menahan napas. Penonton diam. Hanya terdengar suara angin dan tukang bakso ngaduk kuah.
Goro menatap Rangga dengan tatapan predator. "Kali ini kamu enggak bakal selamat."
Rangga berdiri di garis gawang. Kakinya gemetar, tapi matanya menyala. Dalam hati ia berkata, hei pembaca, kalau aku bisa tahan ini, tolong jangan lupa ceritakan ke seluruh dunia.
Peluit berbunyi. Goro menendang sekuat tenaga. Bola meluncur deras ke sudut kiri bawah. Semua yakin itu gol. Tapi tiba-tiba, Rangga melompat. Tangannya terulur. Waktu terasa melambat. Dan... "Plak!" Bola berhasil ditepis!
Lapangan langsung meledak. Penonton berteriak sekencang mungkin. Teman-teman Rangga berlari menghampiri, mengangkat tubuhnya ke atas.
"Rangga pahlawan!"
"Si bocah bambu gila!"
"Ini kiper ajaib!"
Pak Jaka berdiri dari bangkunya. Ia menutup buku catatan dan tersenyum puas. Dalam hati ia bergumam, anak ini harus masuk akademi Persebundar.
Pertandingan berakhir seri lagi, tapi bagi kampung, hasil itu sudah terasa seperti juara. Rangga pulang dengan wajah penuh lumpur, tangan pegal, tapi hati bahagia.
Di jalan pulang, ia berjalan sendirian sambil menggiring bola plastik yang sudah penyok. Angin sore bertiup, matahari jingga menyorotinya. Ia menatap pembaca lagi. Hei, aku enggak tahu siapa yang barusan nonton tadi, tapi rasanya ada orang penting memperhatikanku. Entah kenapa, aku merasa langkahku akan berubah besar setelah hari ini.
Dan benar saja. Dari balik pepohonan, Pak Jaka memperhatikan Rangga sampai menghilang. Bibirnya berbisik pelan. "Bocah ini masa depan Persebundar."
Besoknya, kabar kemenangan bocah kiper kecil menyebar ke kampung sebelah. Anak-anak mulai memanggilnya dengan sebutan baru: Si Tembok Mini. Rangga hanya nyengir tiap mendengarnya.
Malam harinya, di rumah sederhana, ayahnya Kim Sung-ho duduk sambil menyeruput kopi. "Kamu hebat sekali, Nak. Tapi jangan lupa belajar."
Ibunya menimpali sambil menyiapkan makan malam. "Iya, kiper boleh, tapi PR jangan ketinggalan."
Rangga menatap mereka sambil garuk kepala. "Aku bisa kok dua-duanya."
Hei pembaca, jangan ketawa. Memang susah jadi kiper sekaligus murid teladan. Tapi percayalah, aku akan coba.
Di luar rumah, suara jangkrik menggema. Malam itu sederhana, tapi di balik kesederhanaan ada sesuatu yang besar. Nama Rangga sudah masuk catatan seorang scout. Jalan panjang menuju mimpi baru saja terbuka.
Dan Rangga? Ia masih anak kampung biasa, yang tidur dengan bola plastik di samping bantalnya. Tapi di mimpinya malam itu, ia sudah mengenakan jersey besar, berdiri di stadion megah, ribuan orang bersorak.
Hei pembaca, siap-siaplah. Karena perjalanan baru saja dimulai.
Rangga datang dengan langkah penuh semangat. Setelah jadi pahlawan di pertandingan sebelumnya, rasa percaya dirinya naik dua tingkat. Sarung tangan robek masih setia dipakai, meski kalau dilihat-lihat lebih cocok jadi lap meja warung. Tapi hei, jangan remehkan sarung tangan ini. Mungkin penampilannya lusuh, tapi di baliknya ada sejarah.
"Rangga, main lagi ya hari ini," kata Budi, striker jangkung yang jadi kapten tim.
Rangga mengangguk. "Selama masih bisa berdiri, aku bakal jaga gawang."
Nah, di sisi lapangan, tanpa ada yang tahu, seorang pria berkemeja rapi dengan topi hitam duduk sambil pura-pura beli cilok. Dia adalah pemandu bakat klub besar Persebundar. Namanya Pak Jaka. Matanya tajam memperhatikan setiap gerakan pemain. Khususnya satu bocah kecil di bawah mistar.
Hei, pembaca, kamu jangan mikir Pak Jaka ini mata-mata rahasia. Dia memang terlihat misterius, tapi pekerjaannya jelas mencari bakat bola kampung yang bisa diorbitkan. Dan hari itu, tanpa Rangga sadari, namanya hampir tercatat di buku catatan kecil Pak Jaka.
Pertandingan dimulai. Lawannya kali ini lebih gila lagi. Tim lawan punya penyerang bertubuh besar, panggilannya Goro. Serius, badannya segede lemari es. Kalau kamu bayangkan bocah SMP biasa, Goro ini setingkat raksasa. Orang bilang dia bisa tendang bola sampai menembus pagar bambu.
"Rangga, hati-hati sama si Goro," bisik teman setim.
Rangga menatap ke arah lawan itu, lalu menoleh ke pembaca. Hei, serius deh, kalau aku selamat dari tendangan Goro, aku patut dapat medali.
Laga berjalan keras. Baru lima menit, Goro sudah lepaskan tendangan. Bola melesat seperti roket. Rangga refleks lompat, dan... "Buumm!" Bola menabrak tangannya. Sakitnya luar biasa, jari hampir bengkok. Tapi bola berhasil mental ke luar. Penonton berteriak, setengah kagum, setengah khawatir.
Rangga meringis sambil memegangi tangan. "Aduh, sakit."
Tapi ia berdiri lagi. "Aku masih bisa."
Pak Jaka di pinggir lapangan mengernyit. Dia menulis sesuatu di bukunya. Bocah ini kecil, tapi nyali besar. Tidak takut lawan yang dua kali lipat lebih gede. Itu poin penting.
Permainan makin seru. Beberapa kali Rangga membuat penyelamatan gokil. Ada satu momen bola meluncur ke kanan, dia sudah telat langkah, lalu terjatuh dengan posisi aneh. Penonton kira bakal gol. Eh, tiba-tiba bola mengenai pantatnya dan keluar lapangan.
"Wooo!" Penonton tertawa ngakak.
Budi berlari ke arah Rangga. "Kamu sengaja ya?"
Rangga tersipu. "Enggak sengaja. Tapi yang penting enggak gol, kan."
Hei pembaca, jangan remehkan pantat. Kadang, bagian tubuh yang tidak kamu sangka bisa jadi penyelamat tim.
Pak Jaka yang melihat ikut tersenyum. Ia catat lagi: refleks unik, modal nekat.
Menit demi menit berjalan. Goro makin frustrasi. Tendangannya ditahan terus oleh bocah kiper kecil. Lalu datang momen paling dramatis. Menit terakhir, skor masih imbang. Lawan dapat penalti. Dan tentu saja, penendangnya adalah Goro.
Semua orang menahan napas. Penonton diam. Hanya terdengar suara angin dan tukang bakso ngaduk kuah.
Goro menatap Rangga dengan tatapan predator. "Kali ini kamu enggak bakal selamat."
Rangga berdiri di garis gawang. Kakinya gemetar, tapi matanya menyala. Dalam hati ia berkata, hei pembaca, kalau aku bisa tahan ini, tolong jangan lupa ceritakan ke seluruh dunia.
Peluit berbunyi. Goro menendang sekuat tenaga. Bola meluncur deras ke sudut kiri bawah. Semua yakin itu gol. Tapi tiba-tiba, Rangga melompat. Tangannya terulur. Waktu terasa melambat. Dan... "Plak!" Bola berhasil ditepis!
Lapangan langsung meledak. Penonton berteriak sekencang mungkin. Teman-teman Rangga berlari menghampiri, mengangkat tubuhnya ke atas.
"Rangga pahlawan!"
"Si bocah bambu gila!"
"Ini kiper ajaib!"
Pak Jaka berdiri dari bangkunya. Ia menutup buku catatan dan tersenyum puas. Dalam hati ia bergumam, anak ini harus masuk akademi Persebundar.
Pertandingan berakhir seri lagi, tapi bagi kampung, hasil itu sudah terasa seperti juara. Rangga pulang dengan wajah penuh lumpur, tangan pegal, tapi hati bahagia.
Di jalan pulang, ia berjalan sendirian sambil menggiring bola plastik yang sudah penyok. Angin sore bertiup, matahari jingga menyorotinya. Ia menatap pembaca lagi. Hei, aku enggak tahu siapa yang barusan nonton tadi, tapi rasanya ada orang penting memperhatikanku. Entah kenapa, aku merasa langkahku akan berubah besar setelah hari ini.
Dan benar saja. Dari balik pepohonan, Pak Jaka memperhatikan Rangga sampai menghilang. Bibirnya berbisik pelan. "Bocah ini masa depan Persebundar."
Besoknya, kabar kemenangan bocah kiper kecil menyebar ke kampung sebelah. Anak-anak mulai memanggilnya dengan sebutan baru: Si Tembok Mini. Rangga hanya nyengir tiap mendengarnya.
Malam harinya, di rumah sederhana, ayahnya Kim Sung-ho duduk sambil menyeruput kopi. "Kamu hebat sekali, Nak. Tapi jangan lupa belajar."
Ibunya menimpali sambil menyiapkan makan malam. "Iya, kiper boleh, tapi PR jangan ketinggalan."
Rangga menatap mereka sambil garuk kepala. "Aku bisa kok dua-duanya."
Hei pembaca, jangan ketawa. Memang susah jadi kiper sekaligus murid teladan. Tapi percayalah, aku akan coba.
Di luar rumah, suara jangkrik menggema. Malam itu sederhana, tapi di balik kesederhanaan ada sesuatu yang besar. Nama Rangga sudah masuk catatan seorang scout. Jalan panjang menuju mimpi baru saja terbuka.
Dan Rangga? Ia masih anak kampung biasa, yang tidur dengan bola plastik di samping bantalnya. Tapi di mimpinya malam itu, ia sudah mengenakan jersey besar, berdiri di stadion megah, ribuan orang bersorak.
Hei pembaca, siap-siaplah. Karena perjalanan baru saja dimulai.
Other Stories
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Mission Escape
Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...