Persahabatan Dan Rivalitas (tamat)
Nama aku masih sama, Rangga. Si bocah kampung yang entah gimana bisa berdiri di tengah turnamen internasional. Setelah pertandingan pertama yang bikin jantungku hampir keluar lewat tenggorokan, akhirnya hari ini kami punya waktu istirahat. Katanya sih, hari santai. Tapi kalau di tim ini, hari santai artinya push-up lebih sedikit dari biasanya, bukan gak ada sama sekali.
Pagi-pagi, coach udah teriak, “Bangun! Latihan ringan!” Aku buka mata pelan, dan hal pertama yang kulihat adalah wajah Dito yang lagi tidur sambil mangap. Aku lempar bantal ke mukanya. “Bro, bangun! Coach udah ngegas tuh.” Dia setengah sadar, “Lima menit lagi, Rangga.” Aku jawab cepat, “Lima menit lagi itu bisa jadi lima puluh push-up, bro.” Langsung dia duduk. Cepat juga refleksnya kalau urusan push-up.
Di lapangan, suasananya lebih santai. Pelatih cuma minta kami latihan passing dan sedikit joging. Matahari pagi hangat, angin lembut. Aku lari kecil sambil sesekali nendang bola ke arah Dito. “Eh Dito, tangkap nih!” Dia balas, “Itu bukan kerjaan kiper, bro!” Tapi dia tetap tangkap, dan bola malah kena mukanya. Aku ngakak sampai hampir jatuh. “Gak papa, kan, latihan refleks juga tuh.”
Setelah latihan selesai, kami dikasih waktu bebas. Nah, inilah bagian paling seru: makan malam bareng tim. Aku, Dito, Ari, dan beberapa pemain lain duduk satu meja. Di meja sebelah ada pelatih dan staf. Restoran hotel ini luar biasa, tapi jujur aja, lidahku masih kangen sama sambal buatan Ibu.
Aku nyendok nasi. “Wah, nasinya lembek banget ya.” Ari jawab, “Namanya juga hotel luar negeri, bro. Mungkin mereka pikir kita suka bubur.” Kami semua ketawa. Dito nyeletuk, “Yang penting bukan nasi gorengnya pake buah pir lagi.” Semua langsung ngakak. Soalnya kemarin kami pesen nasi goreng, eh ternyata isinya ada potongan buah pir. Aku hampir nangis waktu itu. “Biar sehat katanya,” kata pelayan. Tapi di lidahku rasanya kayak dosa kuliner.
Malam itu kami makan sambil becanda terus. Tapi di sela tawa, aku ngeliat sesuatu. Di pojokan restoran, ada satu pemain dari tim Jepangora yang juga lagi makan. Aku inget wajahnya, itu kiper mereka. Tingginya hampir dua meter, rambutnya rapi banget, kayak tiap helai disisir satu-satu. Aku langsung mikir, “Wah, saingan berat nih.”
Setelah makan, aku ngajak Dito jalan keliling hotel. Kami berhenti di area latihan kecil. Dan ternyata, si kiper Jepangora itu lagi latihan sendiri. Malam-malam, masih aja latihan. Tangannya kuat banget, refleksnya cepat. Aku nonton diam-diam. Dito nyenggol bahuku. “Bro, itu lawanmu tuh nanti.” Aku cuma ngangguk. “Iya. Tapi keren sih, dia rajin banget.” Dalam hati, aku janji, aku juga bakal latihan keras. Gak boleh kalah rajin.
Keesokan paginya, kami latihan gabungan antar tim. Katanya buat latihan koordinasi dan fun match. Tapi bagi aku, ini udah kayak perang kecil. Kami dibagi kelompok, dan aku satu tim sama kiper Jepangora itu, namanya Hiroshi. Coach menyuruh kami latihan adu penalti, saling tukar posisi, biar belajar refleks lawan.
Giliran pertama, aku nendang ke arah Hiroshi. Aku tendang sekuat tenaga, dan dia tepis dengan mudah. “Wow,” kataku pelan. Dia senyum dikit dan ngomong dalam bahasa Inggris, “Good try.” Aku balas, “Thanks bro, next time stronger.” Dalam hati aku ngomel, “Oke Rangga, kamu gak bisa kalah gaya begini.”
Sekarang giliranku yang jaga gawang. Hiroshi siap nendang. Aku fokus. Dia ancang-ancang, terus nendang pelan ke tengah. Aku lompat ke kanan. Bola masuk. Aku bengong. Dito teriak dari luar, “Rangga, dia nipu kamu!” Aku berdiri, “Iya tau! Aku kira bakal ke kanan, ternyata tengah. Licik banget tuh orang.” Hiroshi cuma ketawa kecil.
Kami lanjut adu penalti beberapa kali. Kadang aku tepis, kadang kena tiang, kadang malah bolanya lewat di antara kaki. Setiap kali gagal, aku selalu bilang ke Hiroshi, “Cuma pemanasan.” Padahal dalam hati pengin nangis sedikit. Tapi aku gak nyerah. Aku pantang kalah.
Selesai latihan, Hiroshi nyamperin aku. “You good keeper,” katanya sambil nunjuk dadaku. Aku jawab, “You too good robot.” Dia ketawa keras. Kami saling tos. Sejak saat itu, entah kenapa, kami jadi sering ngobrol. Campur bahasa Inggris rusak, bahasa tubuh, dan bahasa universal: sepak bola. Kadang kami latihan bareng, saling lempar bola, atau tukar trik refleks. Dari situ aku belajar satu hal penting, kalau rival gak selalu berarti musuh. Kadang mereka justru bikin kamu lebih kuat.
Sore harinya, aku dan teman-teman duduk di taman depan mess. Dito bilang, “Gue salut, bro. Lo bisa akrab sama orang yang bakal lawan kita.” Aku jawab, “Ya kan biar seru. Kalau lawannya temen, jadi gak tegang. Tapi tetep harus menang.” Ari nyeletuk, “Wah, filosofis banget, Rangga. Besok lo jadi motivator aja.” Kami semua ketawa.
Di taman itu kami ngobrol macem-macem. Dari cita-cita, makanan favorit, sampai siapa yang paling sering lupa bawa kaos ganti (spoiler: aku). Dito tiba-tiba nanya, “Rangga, lo kenapa bisa jadi kiper sih? Kenapa gak striker aja biar bisa golin?” Aku senyum, “Karena gak semua orang lahir buat nyetak gol. Ada yang lahir buat nyelamatin.” Semua hening sejenak, terus Ari bilang, “Wih, dalem banget bro. Tapi kalau bola masuk gimana?” Aku jawab, “Ya tinggal bilang, bukan salah kiper, salah tiang gawang.” Kami semua ketawa sampai perut sakit.
Beberapa hari kemudian, latihan makin berat. Coach mulai ngajarin hal-hal kecil soal komunikasi di lapangan. “Kiper itu harus jadi otak belakang tim. Kamu yang liat semuanya. Kalau cuma diem, kalian bakal kebobolan,” katanya. Aku mulai belajar ngatur posisi bek, teriak kalau ada bahaya, kasih sinyal cepat. Awalnya agak canggung. Kadang aku malah teriak ke orang yang salah. “Dito, kanan!” padahal Dito di kiri. Dito teriak balik, “Kanan gue di mana sih, Rangga!”
Tapi lama-lama aku mulai ngerti. Komunikasi itu bukan cuma soal teriak, tapi soal timing. Dan anehnya, aku mulai suka jadi pemimpin kecil di belakang. Rasanya keren. Aku yang ngatur ritme, aku yang jagain mereka dari serangan. Setiap bola yang kutepis, aku ngerasa kayak jadi tameng timku sendiri.
Malamnya, aku dapet pesan dari coach lewat grup. “Rangga, latihan refleks jam enam pagi besok. Sendirian.” Aku langsung panik. Aku balas, “Coach, jam enam itu manusia belum sadar sepenuhnya.” Dia bales singkat, “Kiper gak boleh tidur lebih lama dari bola.” Waduh.
Besoknya aku datang tepat waktu. Masih gelap. Coach udah nunggu. Dia lempar bola kecil-kecil ke arahku terus-menerus, dari jarak dekat. Aku harus tangkap semua. “Refleks, Rangga! Jangan mikir, cuma reaksi!” katanya. Aku tangkap satu, dua, tiga… yang keempat kena pipi. “Aduh!” Coach cuma bilang, “Lumayan, muka kamu refleks juga.” Aku ketawa pelan.
Setelah latihan, aku duduk di pinggir lapangan, ngelihat matahari terbit. Anginnya lembut, rumputnya basah. Aku tarik napas panjang. “Wah, ternyata momen tenang begini lebih mahal dari kemenangan,” gumamku. Aku liat bola di tanganku. “Kamu tau gak, bola? Aku gak bakal berhenti. Aku bakal terus ngejar. Karena aku bukan cuma main buat menang, tapi buat orang-orang yang percaya aku bisa.”
Aku liat kamera imajiner. “Eh iya, kalian yang ngikutin kisahku dari awal, makasih ya. Kalau kalian kira aku cuma bocah yang hoki, salah. Ini hasil dari banyak banget jatuh, gagal, dan diketawain. Tapi justru itu yang bikin aku kuat.” Aku nyengir, “Dan sedikit lucu juga, iya kan?”
Beberapa hari berikutnya, kami latihan gabungan lagi. Kali ini, adu penalti antar kiper. Aku dan Hiroshi masuk semifinal. Penonton lumayan rame. Teman-teman teriak, “Ayo Rangga!” Aku senyum, masuk ke gawang. Hiroshi nendang, aku tepis. Aku nendang balik, dia tangkap. Kami saling tos tiap kali berhasil. Di babak terakhir, aku berhasil tepis tendangannya yang paling keras. Semua bersorak. Aku lompat kegirangan.
Hiroshi jalan ke arahku, senyum lebar. “You strong now,” katanya. Aku jawab, “Thanks, you make me better.” Dia kasih sarung tangan cadangan buatku. “Gift,” katanya. Aku terima dengan bangga.
Malamnya di kamar, aku liatin sarung tangan itu lama banget. “Rival, tapi juga guru,” kataku pelan. Aku senyum. Dunia bola memang lucu. Kadang yang kamu anggap pesaing, justru yang bantu kamu tumbuh.
Aku rebahan, tangan masih pegang sarung tangan itu. Dito nyeletuk dari kasur sebelah, “Eh, jangan nikah dulu sama sarung tangan itu ya, Rangga.” Aku ketawa keras. “Tenang bro, aku masih cinta gawang.”
Aku pejamkan mata. Dalam hati aku tahu, perjalanan ini belum selesai. Ini baru awal dari sesuatu yang besar. Persahabatan, rivalitas, dan bola tiga hal yang bikin hidupku seru banget. Dan besok, entah apa lagi yang bakal terjadi. Tapi satu hal pasti, aku bakal tetap berdiri di depan gawang, dengan senyum, semangat, dan sedikit gaya konyol seperti biasa. Karena itulah aku. Rangga. Si Tembok Mini yang masih punya mimpi sebesar stadion.
Dan kalau kamu nanya aku takut kalah? Aku cuma jawab, “Enggak. Aku cuma takut gak mencoba lagi.”
Lalu lampu kamar padam. Tapi di dadaku, semangat itu masih nyala, terang banget.
Pagi-pagi, coach udah teriak, “Bangun! Latihan ringan!” Aku buka mata pelan, dan hal pertama yang kulihat adalah wajah Dito yang lagi tidur sambil mangap. Aku lempar bantal ke mukanya. “Bro, bangun! Coach udah ngegas tuh.” Dia setengah sadar, “Lima menit lagi, Rangga.” Aku jawab cepat, “Lima menit lagi itu bisa jadi lima puluh push-up, bro.” Langsung dia duduk. Cepat juga refleksnya kalau urusan push-up.
Di lapangan, suasananya lebih santai. Pelatih cuma minta kami latihan passing dan sedikit joging. Matahari pagi hangat, angin lembut. Aku lari kecil sambil sesekali nendang bola ke arah Dito. “Eh Dito, tangkap nih!” Dia balas, “Itu bukan kerjaan kiper, bro!” Tapi dia tetap tangkap, dan bola malah kena mukanya. Aku ngakak sampai hampir jatuh. “Gak papa, kan, latihan refleks juga tuh.”
Setelah latihan selesai, kami dikasih waktu bebas. Nah, inilah bagian paling seru: makan malam bareng tim. Aku, Dito, Ari, dan beberapa pemain lain duduk satu meja. Di meja sebelah ada pelatih dan staf. Restoran hotel ini luar biasa, tapi jujur aja, lidahku masih kangen sama sambal buatan Ibu.
Aku nyendok nasi. “Wah, nasinya lembek banget ya.” Ari jawab, “Namanya juga hotel luar negeri, bro. Mungkin mereka pikir kita suka bubur.” Kami semua ketawa. Dito nyeletuk, “Yang penting bukan nasi gorengnya pake buah pir lagi.” Semua langsung ngakak. Soalnya kemarin kami pesen nasi goreng, eh ternyata isinya ada potongan buah pir. Aku hampir nangis waktu itu. “Biar sehat katanya,” kata pelayan. Tapi di lidahku rasanya kayak dosa kuliner.
Malam itu kami makan sambil becanda terus. Tapi di sela tawa, aku ngeliat sesuatu. Di pojokan restoran, ada satu pemain dari tim Jepangora yang juga lagi makan. Aku inget wajahnya, itu kiper mereka. Tingginya hampir dua meter, rambutnya rapi banget, kayak tiap helai disisir satu-satu. Aku langsung mikir, “Wah, saingan berat nih.”
Setelah makan, aku ngajak Dito jalan keliling hotel. Kami berhenti di area latihan kecil. Dan ternyata, si kiper Jepangora itu lagi latihan sendiri. Malam-malam, masih aja latihan. Tangannya kuat banget, refleksnya cepat. Aku nonton diam-diam. Dito nyenggol bahuku. “Bro, itu lawanmu tuh nanti.” Aku cuma ngangguk. “Iya. Tapi keren sih, dia rajin banget.” Dalam hati, aku janji, aku juga bakal latihan keras. Gak boleh kalah rajin.
Keesokan paginya, kami latihan gabungan antar tim. Katanya buat latihan koordinasi dan fun match. Tapi bagi aku, ini udah kayak perang kecil. Kami dibagi kelompok, dan aku satu tim sama kiper Jepangora itu, namanya Hiroshi. Coach menyuruh kami latihan adu penalti, saling tukar posisi, biar belajar refleks lawan.
Giliran pertama, aku nendang ke arah Hiroshi. Aku tendang sekuat tenaga, dan dia tepis dengan mudah. “Wow,” kataku pelan. Dia senyum dikit dan ngomong dalam bahasa Inggris, “Good try.” Aku balas, “Thanks bro, next time stronger.” Dalam hati aku ngomel, “Oke Rangga, kamu gak bisa kalah gaya begini.”
Sekarang giliranku yang jaga gawang. Hiroshi siap nendang. Aku fokus. Dia ancang-ancang, terus nendang pelan ke tengah. Aku lompat ke kanan. Bola masuk. Aku bengong. Dito teriak dari luar, “Rangga, dia nipu kamu!” Aku berdiri, “Iya tau! Aku kira bakal ke kanan, ternyata tengah. Licik banget tuh orang.” Hiroshi cuma ketawa kecil.
Kami lanjut adu penalti beberapa kali. Kadang aku tepis, kadang kena tiang, kadang malah bolanya lewat di antara kaki. Setiap kali gagal, aku selalu bilang ke Hiroshi, “Cuma pemanasan.” Padahal dalam hati pengin nangis sedikit. Tapi aku gak nyerah. Aku pantang kalah.
Selesai latihan, Hiroshi nyamperin aku. “You good keeper,” katanya sambil nunjuk dadaku. Aku jawab, “You too good robot.” Dia ketawa keras. Kami saling tos. Sejak saat itu, entah kenapa, kami jadi sering ngobrol. Campur bahasa Inggris rusak, bahasa tubuh, dan bahasa universal: sepak bola. Kadang kami latihan bareng, saling lempar bola, atau tukar trik refleks. Dari situ aku belajar satu hal penting, kalau rival gak selalu berarti musuh. Kadang mereka justru bikin kamu lebih kuat.
Sore harinya, aku dan teman-teman duduk di taman depan mess. Dito bilang, “Gue salut, bro. Lo bisa akrab sama orang yang bakal lawan kita.” Aku jawab, “Ya kan biar seru. Kalau lawannya temen, jadi gak tegang. Tapi tetep harus menang.” Ari nyeletuk, “Wah, filosofis banget, Rangga. Besok lo jadi motivator aja.” Kami semua ketawa.
Di taman itu kami ngobrol macem-macem. Dari cita-cita, makanan favorit, sampai siapa yang paling sering lupa bawa kaos ganti (spoiler: aku). Dito tiba-tiba nanya, “Rangga, lo kenapa bisa jadi kiper sih? Kenapa gak striker aja biar bisa golin?” Aku senyum, “Karena gak semua orang lahir buat nyetak gol. Ada yang lahir buat nyelamatin.” Semua hening sejenak, terus Ari bilang, “Wih, dalem banget bro. Tapi kalau bola masuk gimana?” Aku jawab, “Ya tinggal bilang, bukan salah kiper, salah tiang gawang.” Kami semua ketawa sampai perut sakit.
Beberapa hari kemudian, latihan makin berat. Coach mulai ngajarin hal-hal kecil soal komunikasi di lapangan. “Kiper itu harus jadi otak belakang tim. Kamu yang liat semuanya. Kalau cuma diem, kalian bakal kebobolan,” katanya. Aku mulai belajar ngatur posisi bek, teriak kalau ada bahaya, kasih sinyal cepat. Awalnya agak canggung. Kadang aku malah teriak ke orang yang salah. “Dito, kanan!” padahal Dito di kiri. Dito teriak balik, “Kanan gue di mana sih, Rangga!”
Tapi lama-lama aku mulai ngerti. Komunikasi itu bukan cuma soal teriak, tapi soal timing. Dan anehnya, aku mulai suka jadi pemimpin kecil di belakang. Rasanya keren. Aku yang ngatur ritme, aku yang jagain mereka dari serangan. Setiap bola yang kutepis, aku ngerasa kayak jadi tameng timku sendiri.
Malamnya, aku dapet pesan dari coach lewat grup. “Rangga, latihan refleks jam enam pagi besok. Sendirian.” Aku langsung panik. Aku balas, “Coach, jam enam itu manusia belum sadar sepenuhnya.” Dia bales singkat, “Kiper gak boleh tidur lebih lama dari bola.” Waduh.
Besoknya aku datang tepat waktu. Masih gelap. Coach udah nunggu. Dia lempar bola kecil-kecil ke arahku terus-menerus, dari jarak dekat. Aku harus tangkap semua. “Refleks, Rangga! Jangan mikir, cuma reaksi!” katanya. Aku tangkap satu, dua, tiga… yang keempat kena pipi. “Aduh!” Coach cuma bilang, “Lumayan, muka kamu refleks juga.” Aku ketawa pelan.
Setelah latihan, aku duduk di pinggir lapangan, ngelihat matahari terbit. Anginnya lembut, rumputnya basah. Aku tarik napas panjang. “Wah, ternyata momen tenang begini lebih mahal dari kemenangan,” gumamku. Aku liat bola di tanganku. “Kamu tau gak, bola? Aku gak bakal berhenti. Aku bakal terus ngejar. Karena aku bukan cuma main buat menang, tapi buat orang-orang yang percaya aku bisa.”
Aku liat kamera imajiner. “Eh iya, kalian yang ngikutin kisahku dari awal, makasih ya. Kalau kalian kira aku cuma bocah yang hoki, salah. Ini hasil dari banyak banget jatuh, gagal, dan diketawain. Tapi justru itu yang bikin aku kuat.” Aku nyengir, “Dan sedikit lucu juga, iya kan?”
Beberapa hari berikutnya, kami latihan gabungan lagi. Kali ini, adu penalti antar kiper. Aku dan Hiroshi masuk semifinal. Penonton lumayan rame. Teman-teman teriak, “Ayo Rangga!” Aku senyum, masuk ke gawang. Hiroshi nendang, aku tepis. Aku nendang balik, dia tangkap. Kami saling tos tiap kali berhasil. Di babak terakhir, aku berhasil tepis tendangannya yang paling keras. Semua bersorak. Aku lompat kegirangan.
Hiroshi jalan ke arahku, senyum lebar. “You strong now,” katanya. Aku jawab, “Thanks, you make me better.” Dia kasih sarung tangan cadangan buatku. “Gift,” katanya. Aku terima dengan bangga.
Malamnya di kamar, aku liatin sarung tangan itu lama banget. “Rival, tapi juga guru,” kataku pelan. Aku senyum. Dunia bola memang lucu. Kadang yang kamu anggap pesaing, justru yang bantu kamu tumbuh.
Aku rebahan, tangan masih pegang sarung tangan itu. Dito nyeletuk dari kasur sebelah, “Eh, jangan nikah dulu sama sarung tangan itu ya, Rangga.” Aku ketawa keras. “Tenang bro, aku masih cinta gawang.”
Aku pejamkan mata. Dalam hati aku tahu, perjalanan ini belum selesai. Ini baru awal dari sesuatu yang besar. Persahabatan, rivalitas, dan bola tiga hal yang bikin hidupku seru banget. Dan besok, entah apa lagi yang bakal terjadi. Tapi satu hal pasti, aku bakal tetap berdiri di depan gawang, dengan senyum, semangat, dan sedikit gaya konyol seperti biasa. Karena itulah aku. Rangga. Si Tembok Mini yang masih punya mimpi sebesar stadion.
Dan kalau kamu nanya aku takut kalah? Aku cuma jawab, “Enggak. Aku cuma takut gak mencoba lagi.”
Lalu lampu kamar padam. Tapi di dadaku, semangat itu masih nyala, terang banget.
Other Stories
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...