Panggilan Untuk Timnas U-15
Pagi itu, udara di Bandung terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari baru saja muncul, tapi hati Rangga terasa panas bukan karena cuaca, melainkan karena surat yang dipegangnya di tangan. Surat itu? Panggilan resmi dari Timnas U-15. Rangga menatap kertas itu sejenak, lalu tersenyum sambil menoleh ke pembaca.
Hei, kalian tahu kan, ini bukan panggilan biasa. Ini adalah kesempatan yang semua kiper muda impikan. Dan percayalah, rasanya seperti menang lotre sekaligus naik roller coaster yang muter-muter dan bikin perut mual.
Rangga mengangkat kepala, melihat ayahnya, Kim Sung-ho, yang duduk di kursi teras dengan mata berbinar. Ibu Rangga berdiri di samping, tangan menutupi mulutnya, menahan tangis bahagia.
"Rangga, ini seriusan?" tanya ibunya.
Rangga mengangguk, mencoba menahan senyum. "Iya, Bu. Aku dipanggil Timnas U-15."
Ayahnya langsung berdiri, menepuk bahu Rangga keras-keras. "Nak, aku bangga sama kamu! Semua kerja kerasmu membuahkan hasil."
Rangga tersenyum sambil menatap pembaca. Hei, percaya deh, momen ini luar biasa. Semua latihan, jatuh bangun di lumpur, diving di pasir, push-up sampai tangan keram, semuanya terbayar.
Namun, momen bahagia ini juga diselingi drama khas keluarga Rangga. Ibunya, sambil menitikkan air mata, berkata, "Tapi jauh sekali, Nak. Kamu harus tinggal di asrama, jauh dari rumah."
Rangga tersenyum. "Aku tahu, Bu. Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Aku janji akan berusaha sebaik mungkin."
Di stasiun, suasana semakin ramai. Kereta akan berangkat dalam satu jam. Orang-orang sibuk, pedagang makanan, penumpang buru-buru, dan tentu saja, adik-adik Rangga yang histeris teriak-teriak ingin ikut melihat kakaknya.
"Rangga, jangan lupa kirim kabar!" teriak adiknya.
"Jangan sampai kiper kita keteteran di sana!" teriak temannya sambil melambai-lambaikan topi bola plastik.
Rangga tertawa kecil sambil menatap pembaca. Hei, kalian lihat kan, support system itu penting. Tanpa keluarga dan teman, jadi kiper bukan cuma soal skill, tapi soal hati.
Ketika ia menaiki kereta, Rangga menoleh ke belakang. Ibunya melambaikan tangan sambil menangis, ayahnya tampak tegar tapi matanya berkaca-kaca. Rangga menarik napas dalam-dalam, menatap pembaca lagi. Hei, aku tahu ini jauh dari kampung, tapi aku siap. Aku akan menjaga gawang ini bukan cuma untuk diriku, tapi untuk semua orang yang percaya padaku.
Perjalanan ke Jakarta itu panjang. Rangga duduk di dekat jendela, bola plastik kenangan tetap ada di sampingnya. Ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan kampung, sawah, dan gunung-gunung yang selama ini menjadi saksi mimpinya.
"Hei, kalian di sana, pembaca. Ingat ini baik-baik. Perjalanan ini baru permulaan. Aku bocah kampung kecil, tapi aku akan menghadapi kiper-kiper hebat dari seluruh negeri. Dan percayalah, aku tidak akan menyerah."
Sesampainya di markas Timnas U-15, Rangga langsung merasakan perbedaan. Lapangan lebih luas, rumput lebih hijau, gawang lebih tinggi, dan aroma pemain berbakat dari seluruh Indonesia bertebaran di mana-mana. Semua mata tertuju pada bocah kecil dari Bandung yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Hei, itu bocah kiper dari Bandung?" tanya seorang pemain senior.
Rangga menatapnya. "Iya, itu aku."
Mereka menertawakan tubuh kecil Rangga, tapi Rangga tidak peduli. Dalam hati ia berkata ke pembaca. Hei, kecil atau besar, yang penting mental dan keberanian.
Latihan pertama Rangga di timnas membuatnya tercengang. Bola meluncur deras dari semua arah, tendangan keras, simulasi penalti, semua diuji. Tapi bocah ini? Ia menyelam, melompat, menepis, jatuh, bangkit lagi, kadang sambil menahan muka terkena bola.
Pelatih menatapnya serius. "Bocah kecil, mentalmu luar biasa. Tapi jangan pikir ini mudah. Timnas bukan hanya soal teknik, tapi soal hati."
Rangga menoleh ke pembaca. Hei, kalian dengar itu kan? Hati. Bukan cuma tangan dan kaki. Dan percaya deh, aku punya hati sebesar gawang.
Hari-hari berikutnya penuh latihan. Mulai dari lari sprint, diving di pasir, sampai menahan tendangan keras striker tinggi besar. Rangga beberapa kali jatuh, tangannya memar, kakinya lecet, tapi semangatnya tetap membara.
Di malam hari, Rangga duduk di balkon asrama, menatap lampu kota. Ia memegang bola plastik kecil yang selalu dibawanya. Dalam hati ia berkata, Hei, kalian tahu kan, semua ini untuk mimpi yang lebih besar. Suatu hari, aku akan berdiri di stadion internasional, bukan cuma di lapangan tarkam atau akademi.
Keesokan harinya, Rangga dipanggil oleh pelatih timnas. "Selamat, Rangga. Kamu terpilih sebagai kiper utama Timnas U-15."
Rangga terdiam sejenak. Napasnya tercekat, mata berkaca-kaca. Ia menatap pembaca. Hei, kalian lihat kan? Ini bukan mimpi. Aku berhasil. Semua kerja keras, jatuh bangun, latihan neraka, semuanya terbayar.
Ketika kabar ini sampai ke keluarga, tangis bahagia meledak. Ayahnya menepuk punggung Rangga sambil berkata, "Nak, kamu luar biasa!"
Ibu Rangga memeluknya erat. "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Tapi jangan lupa, hati tetap di kampung."
Di stasiun untuk keberangkatan pertama menuju turnamen internasional, suasana haru semakin terasa. Adik-adik Rangga berlari-lari mengelilinginya, teman-teman kampung melambaikan tangan, dan bahkan pedagang cilok di pinggir stasiun ikut memberi semangat.
Rangga menatap pembaca untuk terakhir kali sebelum naik kereta. Hei, kalian lihat kan? Dari lapangan tarkam ke akademi, dari lumpur dan pasir sampai jadi kiper utama timnas, perjalanan ini baru permulaan. Aku bocah kampung kecil, tapi aku akan menjaga gawang ini dengan seluruh kemampuan.
Kereta berangkat perlahan, meninggalkan kampung, meninggalkan sawah, meninggalkan semua yang dikenalnya. Tapi dalam hati Rangga, semua itu tetap bersamanya. Karena satu hal jelas: pantang menyerah adalah teman terbaik seorang kiper, dan mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Hei, kalian tahu kan, ini bukan panggilan biasa. Ini adalah kesempatan yang semua kiper muda impikan. Dan percayalah, rasanya seperti menang lotre sekaligus naik roller coaster yang muter-muter dan bikin perut mual.
Rangga mengangkat kepala, melihat ayahnya, Kim Sung-ho, yang duduk di kursi teras dengan mata berbinar. Ibu Rangga berdiri di samping, tangan menutupi mulutnya, menahan tangis bahagia.
"Rangga, ini seriusan?" tanya ibunya.
Rangga mengangguk, mencoba menahan senyum. "Iya, Bu. Aku dipanggil Timnas U-15."
Ayahnya langsung berdiri, menepuk bahu Rangga keras-keras. "Nak, aku bangga sama kamu! Semua kerja kerasmu membuahkan hasil."
Rangga tersenyum sambil menatap pembaca. Hei, percaya deh, momen ini luar biasa. Semua latihan, jatuh bangun di lumpur, diving di pasir, push-up sampai tangan keram, semuanya terbayar.
Namun, momen bahagia ini juga diselingi drama khas keluarga Rangga. Ibunya, sambil menitikkan air mata, berkata, "Tapi jauh sekali, Nak. Kamu harus tinggal di asrama, jauh dari rumah."
Rangga tersenyum. "Aku tahu, Bu. Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Aku janji akan berusaha sebaik mungkin."
Di stasiun, suasana semakin ramai. Kereta akan berangkat dalam satu jam. Orang-orang sibuk, pedagang makanan, penumpang buru-buru, dan tentu saja, adik-adik Rangga yang histeris teriak-teriak ingin ikut melihat kakaknya.
"Rangga, jangan lupa kirim kabar!" teriak adiknya.
"Jangan sampai kiper kita keteteran di sana!" teriak temannya sambil melambai-lambaikan topi bola plastik.
Rangga tertawa kecil sambil menatap pembaca. Hei, kalian lihat kan, support system itu penting. Tanpa keluarga dan teman, jadi kiper bukan cuma soal skill, tapi soal hati.
Ketika ia menaiki kereta, Rangga menoleh ke belakang. Ibunya melambaikan tangan sambil menangis, ayahnya tampak tegar tapi matanya berkaca-kaca. Rangga menarik napas dalam-dalam, menatap pembaca lagi. Hei, aku tahu ini jauh dari kampung, tapi aku siap. Aku akan menjaga gawang ini bukan cuma untuk diriku, tapi untuk semua orang yang percaya padaku.
Perjalanan ke Jakarta itu panjang. Rangga duduk di dekat jendela, bola plastik kenangan tetap ada di sampingnya. Ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan kampung, sawah, dan gunung-gunung yang selama ini menjadi saksi mimpinya.
"Hei, kalian di sana, pembaca. Ingat ini baik-baik. Perjalanan ini baru permulaan. Aku bocah kampung kecil, tapi aku akan menghadapi kiper-kiper hebat dari seluruh negeri. Dan percayalah, aku tidak akan menyerah."
Sesampainya di markas Timnas U-15, Rangga langsung merasakan perbedaan. Lapangan lebih luas, rumput lebih hijau, gawang lebih tinggi, dan aroma pemain berbakat dari seluruh Indonesia bertebaran di mana-mana. Semua mata tertuju pada bocah kecil dari Bandung yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Hei, itu bocah kiper dari Bandung?" tanya seorang pemain senior.
Rangga menatapnya. "Iya, itu aku."
Mereka menertawakan tubuh kecil Rangga, tapi Rangga tidak peduli. Dalam hati ia berkata ke pembaca. Hei, kecil atau besar, yang penting mental dan keberanian.
Latihan pertama Rangga di timnas membuatnya tercengang. Bola meluncur deras dari semua arah, tendangan keras, simulasi penalti, semua diuji. Tapi bocah ini? Ia menyelam, melompat, menepis, jatuh, bangkit lagi, kadang sambil menahan muka terkena bola.
Pelatih menatapnya serius. "Bocah kecil, mentalmu luar biasa. Tapi jangan pikir ini mudah. Timnas bukan hanya soal teknik, tapi soal hati."
Rangga menoleh ke pembaca. Hei, kalian dengar itu kan? Hati. Bukan cuma tangan dan kaki. Dan percaya deh, aku punya hati sebesar gawang.
Hari-hari berikutnya penuh latihan. Mulai dari lari sprint, diving di pasir, sampai menahan tendangan keras striker tinggi besar. Rangga beberapa kali jatuh, tangannya memar, kakinya lecet, tapi semangatnya tetap membara.
Di malam hari, Rangga duduk di balkon asrama, menatap lampu kota. Ia memegang bola plastik kecil yang selalu dibawanya. Dalam hati ia berkata, Hei, kalian tahu kan, semua ini untuk mimpi yang lebih besar. Suatu hari, aku akan berdiri di stadion internasional, bukan cuma di lapangan tarkam atau akademi.
Keesokan harinya, Rangga dipanggil oleh pelatih timnas. "Selamat, Rangga. Kamu terpilih sebagai kiper utama Timnas U-15."
Rangga terdiam sejenak. Napasnya tercekat, mata berkaca-kaca. Ia menatap pembaca. Hei, kalian lihat kan? Ini bukan mimpi. Aku berhasil. Semua kerja keras, jatuh bangun, latihan neraka, semuanya terbayar.
Ketika kabar ini sampai ke keluarga, tangis bahagia meledak. Ayahnya menepuk punggung Rangga sambil berkata, "Nak, kamu luar biasa!"
Ibu Rangga memeluknya erat. "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Tapi jangan lupa, hati tetap di kampung."
Di stasiun untuk keberangkatan pertama menuju turnamen internasional, suasana haru semakin terasa. Adik-adik Rangga berlari-lari mengelilinginya, teman-teman kampung melambaikan tangan, dan bahkan pedagang cilok di pinggir stasiun ikut memberi semangat.
Rangga menatap pembaca untuk terakhir kali sebelum naik kereta. Hei, kalian lihat kan? Dari lapangan tarkam ke akademi, dari lumpur dan pasir sampai jadi kiper utama timnas, perjalanan ini baru permulaan. Aku bocah kampung kecil, tapi aku akan menjaga gawang ini dengan seluruh kemampuan.
Kereta berangkat perlahan, meninggalkan kampung, meninggalkan sawah, meninggalkan semua yang dikenalnya. Tapi dalam hati Rangga, semua itu tetap bersamanya. Karena satu hal jelas: pantang menyerah adalah teman terbaik seorang kiper, dan mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Other Stories
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...