Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
2K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Sekar

SEKAR, gadis berusia 16 tahun yang hidup bersama ibunya di sebuah rumah berdinding anyam bambu dan berubin tanah. Sekar tak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP usai sang ayah lari dari tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Sang ibu yang terpukul, menjadi rentan dan mudah sakit-sakitan bahkan sedikit gila. Sebagai anak tunggal, Sekar terpaksa putus sekolah karena harus menemani dan merawat ibunya.

Malam ini sepulang jualan, seperti biasa Sekar langsung menjatuhkan dirinya duduk lesehan di tanah ruang tamu bersama bakul bambu yang biasa dia gunakan untuk menaruh kue-kue pasar buatannya. Di dalamnya, masih tersisa satu donat meses dan satu risol isi bihun.

Tangan Sekar meraih risol itu. Perutnya keroncongan. Dia lalu membuka plastiknya.

“Bismillah—” Namun, baru juga membuka mulut, tiba-tiba ….

Uhukk… uhukkk…!

Terdengar suara familier yang selalu Sekar dengar setiap hari, seperti melodi menyedihkan yang tak kunjung usai. Itu adalah ibunya, yang menderita TBC sejak lima tahun terakhir. Sekar akhirnya batal makan. Panggilan sang ibu menyelamatkannya dari risol yang sebenarnya sudah basi.

“Sekar? Uhukkk… Udah pulang? Sekar mana, Sekar? Sini!!!”

Sekar tak langsung menjawab suara lirih bercampur bentakan dari mulut ibunya di kamar. Gadis berambut panjang hitam itu terdiam sejenak, melepas lelah karena habis berkeliling seharian. Dia sebenarnya sudah muak dengan kemiskinan yang menghimpit keluarganya. Dia juga capek terus menerus berjuang sendirian.

Namun, meski hatinya bergemuruh, Sekar tidak pernah memperlihatkan kesedihan apalagi keluh kesahnya pada sang ibu. Dia sadar bahwa mental ibunya sudah agak terganggu sejak pria berengsek yang dulunya dia sebut ayah itu memutuskan untuk kawin lagi dan pindah entah ke mana.

Sekar menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi kedua pipinya. Dia menghela napas. Wajah murungnya dengan cepat berubah tegar.

“Sekar ….”

Bugh! Terdengar suara sesuatu terjatuh.

“Ibu?!” Sekar panik dan langsung berlari menuju kamar. Dilihatnya sang ibu sudah tergeletak di tanah.

“Ibu!” Sekar buru-buru menghampiri ibunya dan membantunya bangkit ke posisi duduk. “Ibu, bisa nggak tunggu sebentar? Jangan nekat! Nanti Sekar juga ke kamar, kok. Sekar baru sampe.”

Dari dulu, sifat ibu Sekar memang keras kepala.

“Kangen … Sekar, uhuk!” Wanita paruh baya itu lalu terbatuk lagi, mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya di punggung tangan. Pemandangan yang tak pernah lagi mengejutkan Sekar.

Sekar segera mengambil handuk kecil yang tergeletak di samping bantal, lalu menyeka darah dari mulut dan tangan ibunya. Sejak ayahnya pergi, ibunya benar-benar menjadi sangat bergantung padanya. Ucapan rindu sang ibu selalu mengudara setiap kali dia pulang berdagang.

“Ayo, Sekar bantu Ibu naik ke tempat tidur lagi,” ujar Sekar mencengkeram lembut lengan dan menggenggam tangan ibunya.

Usai ibunya kembali berbaring, Sekar duduk di tepi ranjang reyot itu. “Sekar ambilin makan, ya? Hari ini kan, Ibu baru makan sekali tadi siang. Maaf, Sekar terlambat pulang. Soalnya tadi jalan agak jauh, terus solat maghrib dulu di mushola.”

Ibunya hanya memandanginya dengan tatapan kosong tanpa bicara.

Setiap hari, Sekar berangkat sekitar pukul tujuh pagi. Menjelang siang, dia harus pulang sebentar untuk mengecek kondisi ibunya sekaligus memberi wanita itu makan. Setelah itu, dia akan kembali berjualan untuk menjajakkan sisa dagangannya. Kadang bisa pulang lebih awal jika sudah habis, tetapi bisa juga sampai Ashar jika sedang sepi pembeli.

“Bu, besok berobat, yuk?”

“Nggak. Gak mau!” Ibunya berseru kekeuh sambil menggeleng cepat, seolah langsung mengerti.

Sekar sudah berkali-kali mengajak ibunya pergi ke Puskesmas meski uang hasil berdagang kue sebenarnya hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Namun, Sekar sudah memperhitungkan hal itu. Dia bisa mengurangi jatah makannya demi berhemat, lalu dialokasikan untuk membeli bahan kue yang lebih banyak dari biasanya.

Sayangnya, sedari awal ibunya selalu menolak keras. Pernah sekali waktu Sekar nekat mendatangkan dokter dari Puskesmas dengan bantuan Pak Rojali, kepala di desanya, tetapi ibunya langsung memberontak seperti kesetanan lalu mengusir kedua orang itu pergi.

Dengan hati-hati, Sekar menyuapi ibunya nasi dengan sayur bening. Berlanjut menemani wanita itu hingga terlelap tidur. Setelah selesai, Sekar bersiap melanjutkan pekerjaan rutinnya di dapur. Dia hendak membuat beberapa kue basah untuk dijual besok. Pertama adalah kue mangkuk gula merah. Dia membuat adonan, menuangnya ke dalam cetakan-cetakan kecil, lalu memindahkannya ke dalam kuali kukusan yang sudah panas.

Menunggu kue mangkuk gula merah matang, Sekar beralih ke adonan lain. Kali ini, dia akan membuat adonan bolu kukus biasa. Tidak sampai di situ, dia juga membuat donat goreng dan risol isi bihun. Khusus besok, dia hanya akan menjual empat jenis. Kadang-kadang diselingi juga dengan kue pukis dan martabak telur. Dahulu sebelum sakit, ibunya yang selalu membuat kue-kue pasar tersebut dan menjualnya berkeliling bahkan hingga ke luar kampung.

Sekar benar-benar menggantikan peran ibu sekaligus ayah untuk dirinya sendiri.

Sekar baru selesai sekitar pukul 12 malam lewat sedikit. Dia akhirnya bisa melepas penat di dalam kamarnya setelah mandi. Namun, dia tidak terbiasa langsung tidur meski badannya yang mungil itu terasa letih bukan main. Dia lalu membuka sebentar buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 6 SD yang tampak lecak dan kusam. Dia mendapatkan buku itu dari tempat loak milik teman masa kecilnya, Bima. Tertera nama orang lain di sampul buku tersebut.

“Besok ke tempat loakan Bima kali, ya?” gumam Sekar.

Sambil berbaring di ranjang, Sekar mencuri waktu untuk belajar. Seharusnya, saat ini dia sudah duduk di bangku 2 SMA. Meski sudah lama tak bersekolah, semangat belajarnya tak pernah padam. Dia selalu membaca buku loakan random dari Bima setiap malam sebelum tidur.

Sekar menguap, matanya berair karena sudah mengantuk.

“BPUPKI, badan yang dibentuk … Jepang … pada 29 April … 19 … 45. Eh!” Sekar berusaha tetap terjaga, “… untuk mempersiapkan … rencana kemerdekaan … Indo … nesia ….”

Tanpa sadar, gadis itu pun tertidur sambil memeluk buku.

***

Keesokan harinya, Sekar berangkat berjualan kue di area kampungnya. Dia mengincar orang-orang yang mencari sarapan ringan.

“Kue.. kuenya, Bu… Pak ….”

“Sekar! Sini,” panggil seorang ibu berdaster dari teras rumahnya sambil melambaikan tangan sekali. Kemudian, melangkah keluar pagar. “Ada donat meses?”

Sekar menghampiri. “Ada-ada, Bu. Buat Rehan, ya?”

Mereka berjongkok. Sekar memperlihatkan isi bakul bambunya.

“Iya, dia mah sukanya cokelat mulu. Maklum-lah, anak-anak.” Si ibu mengambil satu donat meses, sambil melihat-lihat yang lain. “Ini bolu apaan ya? Keju, bukan?”

“Eh, bolu biasa aja sih, Bu. Mentega, gula,” jawab Sekar terkekeh canggung.

“Hmm … bikin bolu yang ada rasanya-lah sekali-sekali, Sekar. Biar gak bosen gitu.” Ibu itu mengambil beberapa kue lagi ke pangkuan dasternya.

“Oh, iya-iya, Bu. Nanti Sekar coba bikin.”

Saat Sekar masih mengobrol dengan pembeli tersebut, di rumah lainnya tampak sebuah warung nasi uduk yang sepi pembeli. Penjualnya adalah Mpok Mina, yang sedari tadi memperhatikan Sekar dan tetangga rumahnya.

Dahulu Sekar dan keluarganya tinggal di RT ini sebelum ayahnya pergi dan rumah tersebut berakhir dilepas murah untuk menyambung hidup. Oleh sebab itulah, Sekar sudah dikenal apalagi semenjak menggantikan ibunya berjualan kue. Kini, mereka pindak ke RT belakang yang orang-orangnya didominasi masyarakat kurang mampu. Rumahnya lebih kecil bahkan tampak kumuh, tetapi itu milik sendiri.

Mata Mpok Mina memicing. “Gua pindah jualan kue aja apa, ya?”

Wanita dengan polesan menor di wajahnya itu melirik nasi uduk, lauk pauk, dan sayuran yang masih utuh di hadapannya.

“Bujug buneng dah ni hari belum ada yang beli dagangan gua. Pada ke mana dah orang-orang, hah?!”

Mpok Mina dongkol sambil menggerakkan kipas tangan ke wajahnya. Apalagi melihat dagangan Sekar ada yang beli, membuatnya semakin kepanasan meski ini masih pagi.


Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Download Titik & Koma