Barter Besar
“Tuh.” Bima menunjuk sebuah kardus cokelat dengan dagunya.
Sekar menoleh, menghampiri kardus yang Bima maksud lalu membukanya.
“Eh?” Sekar mengambil sesuatu dari dalam sana, mengangkat dan melebarkannya dengan kedua tangan. Itu adalah kemeja putih berlogo OSIS berwarna cokelat. Dia lalu beralih ke rok panjang abu-abu.
Sekar melirik Bima. Dia nyaris kehilangan kata-kata.
“Bimaaa, ini … seragam SMA.” Sekar menahan dirinya agar tidak terbawa suasana, tetapi raut wajahnya yang senang itu tak bisa dibohongi.
“Hehe~” Bima menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum bangga. “Ada lagi, di dalem.”
Sekar menyingkirkan sejenak seragam SMA tersebut dan beralih ke beberapa barang yang terpendam di dalam kardus yang sama. Dia lalu mengeluarkannya. Itu adalah buku-buku SMA; buku cetak dan LKS.
Sekar tertegun. Apa yang sedang Bima tunjukkan padanya bahkan lebih dari sekadar lengkap untuk ukuran barang bekas. Entah berapa banyak kue yang harus dia gelontorkan pada Bima agar bisa memiliki semua buku ini.
Bima berkata, “Sebenernya ada buku catetan juga, Kar. Tapi aku pisahin buat pengepul kertas.”
“Bima, itu sama sekali bukan masalah.” Sekar menelan ludahnya. “Tapi, kok kamu bisa dapet banyak gini, Bim? Mana bukunya masih bagus-bagus.”
Tangan Sekar mengelus salah satu sampul buku cetak.
“Oh, kebetulan aku ngelewatin rumah gede yang katanya sih pengen pindahan. Emang berantakan banget, Kar. Pagernya kebuka. Ada mobil pick up markir di halamannya. Nah, kardus yang lagi sama kamu itu salah satu yang mau mereka tinggalin. Eh … sebenernya ada seragam lain juga, Kar, kayak baju batik, baju olahraga, sama pramuka. Mau gak? Ada di kardus yang ono.”
Bima menunjuk kardus lain yang tertutup.
Sekar menggeleng pelan, tersenyum. ”Ini udah cukup, Bim.”
Sekar berdiri dan mulai mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu panjang itu. Dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin retak memanjang yang bersandar di dinding rumah Bima. Terpancar kebahagiaan di raut wajah gadis itu.
Bima memperhatikan Sekar. Lelaki itu tersenyum, seakan turut merasakan kebahagiaan Sekar. Dia menyeka wajahnya yang kumal dengan lengan baju.
Bersama gerobak kayuhnya, Bima sebenarnya tak sering mengunjungi komplek yang didominasi orang-orang kaya itu karena jaraknya yang lumayan jauh. Buku-buku sekolah yang dibarter oleh Sekar juga diperolehnya dari sana. Pokoknya kalau berburu barang bekas di komplek itu, dia tak pernah kembali dengan tangan kosong. Ada saja yang diangkut.
“Awas, jangan kebanyakan halu. Nanti kecewa loh~” ledek Bima pada Sekar yang sedang bersolek merentangkan rok abu-abunya dengan kedua tangan.
Wajah semringah Sekar berubah bete. “Jangan ngerusak suasana, kek!”
Di saat Sekar dan Bima sedang asyik mengobrol dan bersenda gurau, ayah Bima menguping dan memperhatikan dari balik jendela rumah.
“Hahaha, canda-canda!” Bima sambil melanjutkan pekerjaannya, menyortir barang bekas. Dia saat ini sedang melipat-lipat kardus. “Tapi, emang kamu serius, Kar, masih mau lanjutin sekolah? Bukannya udah terlambat ya? Kita sama-sama putus sekolah, bahkan aku dua tahun lebih duluan dari kamu. Kamu masih mending dapet ijazah SD, aku enggak.”
Sekar memperhatikan seragam SMA yang dikenakannya. “Aku juga gak tahu, Bim. Tapi yang jelas, aku seneng banget bisa dapetin buku-buku bekas dari kamu, bahkan … seragam sekolah ini. Meski aku tahu, aku gak akan pernah bisa sekolah beneran.”
Bima terdiam menyimak ucapan Sekar.
Sekar membalas tatapan Bima, tersenyum hangat. “Makasih banyak ya, Bima.”
Mata Bima membulat seraya menelan ludah. Lelaki dekil itu terpesona dengan senyuman Sekar yang manis. Dia gugup dan segera membuang pandangan ke lipatan kardus bekas di tangannya. “Ya, sama-sama.”
“Jadi, berapa kue yang harus aku barter buat semua barang loak yang keren-keren ini?” tanya Sekar siap bertransaksi.
Belum sempat Bima menjawab, ayah Bima keluar dan berkata, “25 risol sama 25 kue mangkok.”
Sekar dan Bima terkejut dan langsung menengok ke sumber suara yang tiba-tiba muncul dari arah pintu rumah.
Bima terbelalak. “Buset, Pak. Ngapa jadi maruk amat?! Kasianlah si Sekar.”
Sekar terkekeh sambil mengelus belakang rambutnya yang panjang. “Eh … hehehe, berarti … 50 kue ya, Pakde?”
Bima langsung ikut berdiri.
“Gak-gak, Sekar. Pak!” serunya pada sang ayah. Kemudian, menaik-turunkan jari telunjuknya. “Nih, kan. Nih pasti gegara tidur sampe mau maghrib. Jadi kerasukan demit. Jangan bercanda, Pak!”
“Siapa yang bercanda? Bapak serius loh, Bim. Bentar lagi kan acara pengajian 40 harian ibukmu, ya … daripada beli kue di pasar, mending buatan Sekar yang udah jelas enak dan bisa barter barang loak, toh? Kita sama-sama untung, kan?” Ayah Bima meminta persetujuan Sekar.
Sekar mesem-mesem canggung. Dia jelas menimbang-nimbang uang terbatas yang dimilikinya dan hasil jualan hari ini untuk membeli tambahan bahan mentah.
“Lagian Sekar,” kata ayah Bima lagi. “Buku-buku dan seragam SMA itu masih bagus loh. Bima dapetinnya juga jauh. Jadi, setuju ya buatin Pakde kue 25-25? Eh, tambah 20 lagi deh. Tahu isi kayaknya sedep, tuh. Acaranya malem Minggu ini.”
“Pak!” seru Bima terbelalak. Ayahnya makin ngelunjak.
Sekar tak kalah tercengang mendengar jumlah dan tenggat waktu yang diberikan. Itu berarti, dia harus lebih ekstra lagi berjualan di sisa minggu ini untuk mengumpulkan modal.
“Uh, ya Pakde,” kata Sekar menyerah. Dia tak bisa berbuat banyak. Lagi pula, ini untuk keluarganya Bima yang sedari dulu selalu bersikap baik padanya.
“Sekar,” ujar Bima dengan dahi mengerut.
“Gapapa, Bim.” Sekar tersenyum sekenanya. “Segaknya aku ngasih sesuatu buat Almarhum Bude.”
“Nah, gitu dong!” Ayah Bima nyengir kuda. “Dah, itu baju sekolah sama buku-buku kalo mau langsung kamu bawa aja.”
“Eh, beneran Pakde? Kan belum—”
“Dah, angkut aja!” Ayah Bima langsung masuk lagi ke dalam rumah.
Sekar dan Bima lihat-lihatan.
“Sekar, aku anter ya?”
“Hmm, gak usah, Bim. Tapi, paling aku cicil bawa beberapa buku aja ya hari ini. Sisanya nanti pas kuenya udah jadi,” jelas Sekar.
Bima masih terdiam, memandang Sekar.
“Kar, ini beneran gapapa? Maafin Bapakku ya.”
Sekar tersenyum. “Kayak sama siapa aja. Lagian, kenapa kamu gak bilang kalo acara 40 harian Bude minggu ini?” Dia sambil melepas seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya, melipat dan meletakkannya ke dalam bakul kue. Dia juga mengambil sekitar 3 buku dari dalam kardus untuk dibawa.
“Lupa, Kar.” Bima garuk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal
“Aku titip sisanya, ya?”
Bima mengangguk. “Iya, aman. Kamu hati-hati ya, Sekar. Udah mau maghrib.” Dia lalu mendongak sejenak memandang langit senja.
Sekar lalu pamit pada Bima bersama bakul kuenya.
Berjalan kaki diiringi suara adzan maghrib, bukannya buru-buru, Sekar malah melangkah lesu bahkan sesekali kelepasan melamun. Dia masih memikirkan permintaan ayah Bima yang baginya cukup berat.
“Aku bisa nggak ya?” gumam Sekar menghela napas.
Tiba-tiba ….
“Permisi ….”
Terdengar suara maskulin membuyarkan lamunan Sekar. Langkahnya pun sontak terhenti. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pemuda dan dua wanita di sisi kiri dan kanannya. Ketiganya mengenakan pakaian senada, almamater kampus berwarna biru dongker.
Pandangan Sekar mengedar; menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu, lalu beralih ke gadis berkuncir kuda di sisi kiri, dan gadis berjilbab di sisi kanan. Kedua gadis itu tersenyum padanya.
“Ya?” ujar Sekar.
Sekar menoleh, menghampiri kardus yang Bima maksud lalu membukanya.
“Eh?” Sekar mengambil sesuatu dari dalam sana, mengangkat dan melebarkannya dengan kedua tangan. Itu adalah kemeja putih berlogo OSIS berwarna cokelat. Dia lalu beralih ke rok panjang abu-abu.
Sekar melirik Bima. Dia nyaris kehilangan kata-kata.
“Bimaaa, ini … seragam SMA.” Sekar menahan dirinya agar tidak terbawa suasana, tetapi raut wajahnya yang senang itu tak bisa dibohongi.
“Hehe~” Bima menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum bangga. “Ada lagi, di dalem.”
Sekar menyingkirkan sejenak seragam SMA tersebut dan beralih ke beberapa barang yang terpendam di dalam kardus yang sama. Dia lalu mengeluarkannya. Itu adalah buku-buku SMA; buku cetak dan LKS.
Sekar tertegun. Apa yang sedang Bima tunjukkan padanya bahkan lebih dari sekadar lengkap untuk ukuran barang bekas. Entah berapa banyak kue yang harus dia gelontorkan pada Bima agar bisa memiliki semua buku ini.
Bima berkata, “Sebenernya ada buku catetan juga, Kar. Tapi aku pisahin buat pengepul kertas.”
“Bima, itu sama sekali bukan masalah.” Sekar menelan ludahnya. “Tapi, kok kamu bisa dapet banyak gini, Bim? Mana bukunya masih bagus-bagus.”
Tangan Sekar mengelus salah satu sampul buku cetak.
“Oh, kebetulan aku ngelewatin rumah gede yang katanya sih pengen pindahan. Emang berantakan banget, Kar. Pagernya kebuka. Ada mobil pick up markir di halamannya. Nah, kardus yang lagi sama kamu itu salah satu yang mau mereka tinggalin. Eh … sebenernya ada seragam lain juga, Kar, kayak baju batik, baju olahraga, sama pramuka. Mau gak? Ada di kardus yang ono.”
Bima menunjuk kardus lain yang tertutup.
Sekar menggeleng pelan, tersenyum. ”Ini udah cukup, Bim.”
Sekar berdiri dan mulai mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu panjang itu. Dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin retak memanjang yang bersandar di dinding rumah Bima. Terpancar kebahagiaan di raut wajah gadis itu.
Bima memperhatikan Sekar. Lelaki itu tersenyum, seakan turut merasakan kebahagiaan Sekar. Dia menyeka wajahnya yang kumal dengan lengan baju.
Bersama gerobak kayuhnya, Bima sebenarnya tak sering mengunjungi komplek yang didominasi orang-orang kaya itu karena jaraknya yang lumayan jauh. Buku-buku sekolah yang dibarter oleh Sekar juga diperolehnya dari sana. Pokoknya kalau berburu barang bekas di komplek itu, dia tak pernah kembali dengan tangan kosong. Ada saja yang diangkut.
“Awas, jangan kebanyakan halu. Nanti kecewa loh~” ledek Bima pada Sekar yang sedang bersolek merentangkan rok abu-abunya dengan kedua tangan.
Wajah semringah Sekar berubah bete. “Jangan ngerusak suasana, kek!”
Di saat Sekar dan Bima sedang asyik mengobrol dan bersenda gurau, ayah Bima menguping dan memperhatikan dari balik jendela rumah.
“Hahaha, canda-canda!” Bima sambil melanjutkan pekerjaannya, menyortir barang bekas. Dia saat ini sedang melipat-lipat kardus. “Tapi, emang kamu serius, Kar, masih mau lanjutin sekolah? Bukannya udah terlambat ya? Kita sama-sama putus sekolah, bahkan aku dua tahun lebih duluan dari kamu. Kamu masih mending dapet ijazah SD, aku enggak.”
Sekar memperhatikan seragam SMA yang dikenakannya. “Aku juga gak tahu, Bim. Tapi yang jelas, aku seneng banget bisa dapetin buku-buku bekas dari kamu, bahkan … seragam sekolah ini. Meski aku tahu, aku gak akan pernah bisa sekolah beneran.”
Bima terdiam menyimak ucapan Sekar.
Sekar membalas tatapan Bima, tersenyum hangat. “Makasih banyak ya, Bima.”
Mata Bima membulat seraya menelan ludah. Lelaki dekil itu terpesona dengan senyuman Sekar yang manis. Dia gugup dan segera membuang pandangan ke lipatan kardus bekas di tangannya. “Ya, sama-sama.”
“Jadi, berapa kue yang harus aku barter buat semua barang loak yang keren-keren ini?” tanya Sekar siap bertransaksi.
Belum sempat Bima menjawab, ayah Bima keluar dan berkata, “25 risol sama 25 kue mangkok.”
Sekar dan Bima terkejut dan langsung menengok ke sumber suara yang tiba-tiba muncul dari arah pintu rumah.
Bima terbelalak. “Buset, Pak. Ngapa jadi maruk amat?! Kasianlah si Sekar.”
Sekar terkekeh sambil mengelus belakang rambutnya yang panjang. “Eh … hehehe, berarti … 50 kue ya, Pakde?”
Bima langsung ikut berdiri.
“Gak-gak, Sekar. Pak!” serunya pada sang ayah. Kemudian, menaik-turunkan jari telunjuknya. “Nih, kan. Nih pasti gegara tidur sampe mau maghrib. Jadi kerasukan demit. Jangan bercanda, Pak!”
“Siapa yang bercanda? Bapak serius loh, Bim. Bentar lagi kan acara pengajian 40 harian ibukmu, ya … daripada beli kue di pasar, mending buatan Sekar yang udah jelas enak dan bisa barter barang loak, toh? Kita sama-sama untung, kan?” Ayah Bima meminta persetujuan Sekar.
Sekar mesem-mesem canggung. Dia jelas menimbang-nimbang uang terbatas yang dimilikinya dan hasil jualan hari ini untuk membeli tambahan bahan mentah.
“Lagian Sekar,” kata ayah Bima lagi. “Buku-buku dan seragam SMA itu masih bagus loh. Bima dapetinnya juga jauh. Jadi, setuju ya buatin Pakde kue 25-25? Eh, tambah 20 lagi deh. Tahu isi kayaknya sedep, tuh. Acaranya malem Minggu ini.”
“Pak!” seru Bima terbelalak. Ayahnya makin ngelunjak.
Sekar tak kalah tercengang mendengar jumlah dan tenggat waktu yang diberikan. Itu berarti, dia harus lebih ekstra lagi berjualan di sisa minggu ini untuk mengumpulkan modal.
“Uh, ya Pakde,” kata Sekar menyerah. Dia tak bisa berbuat banyak. Lagi pula, ini untuk keluarganya Bima yang sedari dulu selalu bersikap baik padanya.
“Sekar,” ujar Bima dengan dahi mengerut.
“Gapapa, Bim.” Sekar tersenyum sekenanya. “Segaknya aku ngasih sesuatu buat Almarhum Bude.”
“Nah, gitu dong!” Ayah Bima nyengir kuda. “Dah, itu baju sekolah sama buku-buku kalo mau langsung kamu bawa aja.”
“Eh, beneran Pakde? Kan belum—”
“Dah, angkut aja!” Ayah Bima langsung masuk lagi ke dalam rumah.
Sekar dan Bima lihat-lihatan.
“Sekar, aku anter ya?”
“Hmm, gak usah, Bim. Tapi, paling aku cicil bawa beberapa buku aja ya hari ini. Sisanya nanti pas kuenya udah jadi,” jelas Sekar.
Bima masih terdiam, memandang Sekar.
“Kar, ini beneran gapapa? Maafin Bapakku ya.”
Sekar tersenyum. “Kayak sama siapa aja. Lagian, kenapa kamu gak bilang kalo acara 40 harian Bude minggu ini?” Dia sambil melepas seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya, melipat dan meletakkannya ke dalam bakul kue. Dia juga mengambil sekitar 3 buku dari dalam kardus untuk dibawa.
“Lupa, Kar.” Bima garuk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal
“Aku titip sisanya, ya?”
Bima mengangguk. “Iya, aman. Kamu hati-hati ya, Sekar. Udah mau maghrib.” Dia lalu mendongak sejenak memandang langit senja.
Sekar lalu pamit pada Bima bersama bakul kuenya.
Berjalan kaki diiringi suara adzan maghrib, bukannya buru-buru, Sekar malah melangkah lesu bahkan sesekali kelepasan melamun. Dia masih memikirkan permintaan ayah Bima yang baginya cukup berat.
“Aku bisa nggak ya?” gumam Sekar menghela napas.
Tiba-tiba ….
“Permisi ….”
Terdengar suara maskulin membuyarkan lamunan Sekar. Langkahnya pun sontak terhenti. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pemuda dan dua wanita di sisi kiri dan kanannya. Ketiganya mengenakan pakaian senada, almamater kampus berwarna biru dongker.
Pandangan Sekar mengedar; menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu, lalu beralih ke gadis berkuncir kuda di sisi kiri, dan gadis berjilbab di sisi kanan. Kedua gadis itu tersenyum padanya.
“Ya?” ujar Sekar.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Tilawah Hati
Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...