Tiga Mahasiswa
Gadis berkuncir kuda berkata, “Sore, Mbak. Kami dari Universitas Pelita. Izin tanya, kalo … mau bertemu Kepala Desa ini, di mana ya?”
Belum sempat Sekar menjawab, gadis yang mengenakan jilbab menyela, “Nad, solat dulu gak, sih? Gak sopan juga bertamu maghrib-maghrib begini. Ya nggak, Sa?” tanyanya pada si pemuda.
Pemuda satu-satunya itu mengangguk, tetapi matanya tetap menatap datar Sekar.
Gadis berkuncir kuda berkata lagi, “Iya juga, sih ….”
Sekar akhirnya angkat bicara. “Saya bisa anter ke mushola. Biasanya, Pak Kades suka solat jamaah di sana.”
“Wah, kebetulan banget! Boleh deh, Mbak!” seru gadis berkuncir kuda. “Minta tolong ya.”
Sekar mengantar ketiga mahasiswa itu menuju mushola satu-satunya yang ada di kampung ini. Mereka mengekori langkah Sekar dari belakang. Di tengah perjalanan, si gadis berkuncir kuda yang memang cerewet, kembali bicara.
“Oh ya, omong-omong, kita belom kenalan. Kalo boleh tahu, nama Mbak siapa? Saya Nadia.” Nadia maju selangkah ke depan dan kini berjalan tepat di sisi Sekar yang masih membawa bakul berisi sisa kue, seragam dan buku dari Bima. Dia menyodorkan tangannya.
“Sekar.” Sekar tersenyum, menjabat tangan Nadia.
“Oh, Sekar. Salam kenal ya, Mbak Sekar.”
“Panggil Sekar aja.”
“Oke deh.” Nadia memberikan jempolnya. “Eh, lu berdua juga kenalan lah!”
Si gadis berjilbab ikut menghampiri Sekar di sisi yang lain. “Saya Rani. Salam kenal juga ya, Sekar.”
Sekar mengangguk tersenyum.
Pemuda di belakang mereka baru saja ingin angkat bicara dan ambil giliran. Namun, bibirnya seketika kelu dan tangannya gagal bergerak saat Sekar justru memotong, “Kita udah sampe.”
Mereka berdiri tepat di depan mushola. Terlihat beberapa jamaah mulai meninggalkan tempat karena sholat maghrib sudah selesai.
“Ini beneran … ada Pak Kadesnya, Sekar?” tanya Nadia.
Sekar belum menjawab, tetapi matanya terus mengedar mencari keberadaan Pak Rojali di antara keramaian. “Itu, yang pake kaos hitam sama peci.”
“Guys, kita solat dulu, kan?” tanya Rani gelisah.
“Iya, Ran. Slow. Kita temuin dulu Pak Kadesnya biar gak kabur,” kata Nadia. “Sekar, hehe … boleh bantuin lagi, nggak?”
Sekar mengangguk. Kemudian, mereka menghampiri Pak Rojali yang masih berada di area mushola tetapi sedang berbincang dengan seseorang sebelum akhirnya orang itu pergi ketika melihat mereka datang. Sekar pun mempertemukan ketiga mahasiswa tersebut dengan kepala desanya.
Sekar memperhatikan Nadia memperkenalkan diri dan juga kedua temannya. Ketika Nadia menyebut satu-satunya orang yang baru Sekar tahu namanya, Sekar langsung melirik si pemuda yang kini tengah berjabat tangan dengan Pak Rojali.
“Raksa,” kata suara yang sudah Sekar dengar duluan, meski hanya satu kata ‘permisi’. Suara lelaki itu begitu tegas dan dalam.
Raksa melanjutkan, “Kami mau minta waktu Bapak sebentar buat bincang-bincang, tapi mungkin kami izin solat dulu mengingat waktu maghrib yang terbatas ….” Dia menepuk pelan arloji di tangan kirinya sambil tertawa pelan.
Nadia dan Rani ikut tertawa untuk mencairkan suasana.
"Bagaimana, Pak Rojali?" tanya Raksa lagi.
“Oh, hehehe … ya-ya silakan. Kebetulan saya juga nggak pulang, kok. Nunggu waktu Isya di sini bareng orang-orang yang pada tadarus. Tanggung,” jawab Pak Rojali.
Raksa, Nadia, dan Rani mengangguk tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
“Sekar, juga solat di sini, kan?” tanya Rani.
Terbawa arus, Sekar berakhir ikutan sholat di mushola bersebelahan dengan Nadia dan Rani, dan diimami oleh Raksa. Setelah selesai, ketiga mahasiswa itu langsung menemui Pak Rojali di pelataran mushola. Sedangkan Sekar, dia masih di dalam mushola dan belum melepas mukenanya. Sekar terus memandangi lafadz tuhannya, Allah. Tersirat betapa lelahnya dia hari ini. Ditambah, dia juga harus memikirkan pesanan ayah Bima. Dia tak tahu, apakah dirinya akan sanggup atau tidak.
“Ya Allah … tolong ….” Sekar bermunajat.
Di sisi lain ….
“Benar sekali, Pak Rojali. Jadi bukan KKN, melainkan mengajar biasa untuk salah satu tugas praktek kuliah kami di jurusan pendidikan sekolah dasar (PGSD),” jelas Raksa. "Sehingga, waktunya lebih singkat."
“Oh, jadi nanti ngajarnya anak-anak SD aja gitu, ya?” tanya Pak Rojali hendak memastikan.
“Nggak kok, Pak. Semisal nanti ada anak SMP atau SMA yang mau konsultasi PR atau tugas sekolah, bisa juga ke kita,” kata Raksa lagi. “Dan untuk jangka waktunya sekitar 2 minggu. Jadwalnya bisa sore, bisa juga malam, karena jam kuliah kami kebetulan pagi.”
“Hmm, oke.” Pak Rojali manggut-manggut.
“Bagaimana, Pak, apakah diizinkan?” tanya Rani deg-degan. Sebab sebelum datang ke kampung ini, mereka bertiga sempat ditolak di kampung lain.
“Ya, boleh-boleh, kok. Tadi kan udah megang kontak saya juga tuh, nanti kabarin aja mulainya tanggal berapa. Biar saya bisa kasih tahu ibu-ibu di kampung ini kalo mas dan mbaknya mau ngajar les,” pesan Pak Rojali. "Yang penting jangan dadakan, ya."
“Alhamdulillah, oke siap, Pak.” Rani semringah mengusap wajahnya. Raksa dan Nadia ikut senang.
“Tapi, beneran gratis kan ya?” Pak Rojali terkekeh. “Saya bisa diamuk warga kalo tiba-tiba disuruh bayar, nih.”
“Iyalah, Pak,” celetuk Nadia terkekeh juga. “Gratis 100% tanpa embel-embel~"
Mereka tertawa bersama.
Raksa lalu melirik bakul kue milik Sekar yang ada di dekat mereka, di saat si empunya masih di dalam. Dia melihat ada buku dan seragam SMA di atasnya, tapi tak melihat sisa kue basah yang ada di bawahnya.
“Pak, mau tanya,” ujar Raksa perlahan mengempiskan tawa mereka. “Kalo Mbak Sekar yang nganter kita barusan, masih SMA ya? Atau sudah lulus?”
“Oh, dia mah gak sekolah.. Jualan kue aja dari dulu,” kata Pak Rojali. “Kalo gak salah abis kelar SD gak lanjut lagi.”
Pria berpeci itu lalu berkata lagi tetapi setengah berbisik, “Sekar, si Gadis Loak. Orang di sini nyebutnya begitu. Hehehe~”
Raksa dan lainnya kompak terdiam. Wajah Rani dan Nadia bahkan terlihat kaget. Batin mereka bertiga sama-sama berkata, "Gadis … Loak?"
Bersamaan dengan Sekar yang melangkah keluar dari mushola untuk mengambil bakul kuenya. Wajahnya agak sembab karena kelepasan menangis saat berdoa tadi. Semua orang memperhatikan.
Namun, sebelum Sekar sadar, Nadia memanggilnya, “Sekar, udah mau pulang?”
Sekar mengangguk. “Iya.”
“Sekar,” kata Pak Rojali. “Ini Mas sama Mbak mahasiswa mau ngajar di kampung ini. Nanti kamu ikutan aja. Gratis katanya.”
“Eh?” Sekar terkejut.
Nadia dan Rani mesem-mesem.
“Iya. Nanti kita kabarin kamu lagi ya, Sekar. Kita berharap kamu bisa ikutan juga,” ajak Nadia.
Sekar tersenyum canggung. Kemudian, dia pun pamit pulang setelah ketiga mahasiswa tersebut mengucapkan terima kasih.
Setiba di rumah, seperti biasa Sekar hendak menemui ibunya. Dia masih membawa bakulnya. Namun, ibunya tampak sudah terlelap. Sekar memutuskan untuk tidak mengganggu. Dia pun langsung menuju kamarnya sendiri.
Sekar meletakkan bakul kuenya ke meja, mengambil baju seragam SMA dari dalam situ. Kemudian, menggantungnya di luar pintu lemari. Dia lalu duduk di tepi kasur sambil memperhatikan baju yang tergantung tersebut.
“Belajar bersama, ya…,” gumam Sekar. Pikirannya padahal sedang kalut karena pesanan kue ayah Bima, tapi ucapan Pak Rojali dan para mahasiswa tadi benar-benar membekas di pikirannya.
Di sisa malam itu, Sekar kembali merawat ibunya dan membuat kue untuk dijual besok. Setelah selesai, dia iseng membuka buku yang baru didapatnya dari Bima, membacanya sekilas hingga dia jatuh tertidur.
Rutinitas berulang yang Sekar jalani sehari-hari.
***
Keesokan harinya, kantin Universitas Pelita, saat jam kosong menuju pergantian mata kuliah. Raksa terlihat sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Hingga Rani tiba-tiba datang mengagetkannya dari belakang.
“DOR!”
Raksa terperanjat dan sontak berhenti mengetik. “Ck! Ran.”
“Hehehe, maaf.” Rani bergabung duduk di sebelah Raksa. Ikut melihat ke layar laptop. “Silabus materi kita, ya?”
“Ya. Walaupun sistem ngajar kita nanti sesuai studi kasus di lapangan dan kebutuhan siswa, kita tetep harus bikin silabus.” Raksa menjawab dan kembali mengetik, wajahnya serius.
Rani mengangguk setuju. “Sa….”
“Hm?”
“Gue kepikiran Sekar.”
Belum sempat Sekar menjawab, gadis yang mengenakan jilbab menyela, “Nad, solat dulu gak, sih? Gak sopan juga bertamu maghrib-maghrib begini. Ya nggak, Sa?” tanyanya pada si pemuda.
Pemuda satu-satunya itu mengangguk, tetapi matanya tetap menatap datar Sekar.
Gadis berkuncir kuda berkata lagi, “Iya juga, sih ….”
Sekar akhirnya angkat bicara. “Saya bisa anter ke mushola. Biasanya, Pak Kades suka solat jamaah di sana.”
“Wah, kebetulan banget! Boleh deh, Mbak!” seru gadis berkuncir kuda. “Minta tolong ya.”
Sekar mengantar ketiga mahasiswa itu menuju mushola satu-satunya yang ada di kampung ini. Mereka mengekori langkah Sekar dari belakang. Di tengah perjalanan, si gadis berkuncir kuda yang memang cerewet, kembali bicara.
“Oh ya, omong-omong, kita belom kenalan. Kalo boleh tahu, nama Mbak siapa? Saya Nadia.” Nadia maju selangkah ke depan dan kini berjalan tepat di sisi Sekar yang masih membawa bakul berisi sisa kue, seragam dan buku dari Bima. Dia menyodorkan tangannya.
“Sekar.” Sekar tersenyum, menjabat tangan Nadia.
“Oh, Sekar. Salam kenal ya, Mbak Sekar.”
“Panggil Sekar aja.”
“Oke deh.” Nadia memberikan jempolnya. “Eh, lu berdua juga kenalan lah!”
Si gadis berjilbab ikut menghampiri Sekar di sisi yang lain. “Saya Rani. Salam kenal juga ya, Sekar.”
Sekar mengangguk tersenyum.
Pemuda di belakang mereka baru saja ingin angkat bicara dan ambil giliran. Namun, bibirnya seketika kelu dan tangannya gagal bergerak saat Sekar justru memotong, “Kita udah sampe.”
Mereka berdiri tepat di depan mushola. Terlihat beberapa jamaah mulai meninggalkan tempat karena sholat maghrib sudah selesai.
“Ini beneran … ada Pak Kadesnya, Sekar?” tanya Nadia.
Sekar belum menjawab, tetapi matanya terus mengedar mencari keberadaan Pak Rojali di antara keramaian. “Itu, yang pake kaos hitam sama peci.”
“Guys, kita solat dulu, kan?” tanya Rani gelisah.
“Iya, Ran. Slow. Kita temuin dulu Pak Kadesnya biar gak kabur,” kata Nadia. “Sekar, hehe … boleh bantuin lagi, nggak?”
Sekar mengangguk. Kemudian, mereka menghampiri Pak Rojali yang masih berada di area mushola tetapi sedang berbincang dengan seseorang sebelum akhirnya orang itu pergi ketika melihat mereka datang. Sekar pun mempertemukan ketiga mahasiswa tersebut dengan kepala desanya.
Sekar memperhatikan Nadia memperkenalkan diri dan juga kedua temannya. Ketika Nadia menyebut satu-satunya orang yang baru Sekar tahu namanya, Sekar langsung melirik si pemuda yang kini tengah berjabat tangan dengan Pak Rojali.
“Raksa,” kata suara yang sudah Sekar dengar duluan, meski hanya satu kata ‘permisi’. Suara lelaki itu begitu tegas dan dalam.
Raksa melanjutkan, “Kami mau minta waktu Bapak sebentar buat bincang-bincang, tapi mungkin kami izin solat dulu mengingat waktu maghrib yang terbatas ….” Dia menepuk pelan arloji di tangan kirinya sambil tertawa pelan.
Nadia dan Rani ikut tertawa untuk mencairkan suasana.
"Bagaimana, Pak Rojali?" tanya Raksa lagi.
“Oh, hehehe … ya-ya silakan. Kebetulan saya juga nggak pulang, kok. Nunggu waktu Isya di sini bareng orang-orang yang pada tadarus. Tanggung,” jawab Pak Rojali.
Raksa, Nadia, dan Rani mengangguk tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
“Sekar, juga solat di sini, kan?” tanya Rani.
Terbawa arus, Sekar berakhir ikutan sholat di mushola bersebelahan dengan Nadia dan Rani, dan diimami oleh Raksa. Setelah selesai, ketiga mahasiswa itu langsung menemui Pak Rojali di pelataran mushola. Sedangkan Sekar, dia masih di dalam mushola dan belum melepas mukenanya. Sekar terus memandangi lafadz tuhannya, Allah. Tersirat betapa lelahnya dia hari ini. Ditambah, dia juga harus memikirkan pesanan ayah Bima. Dia tak tahu, apakah dirinya akan sanggup atau tidak.
“Ya Allah … tolong ….” Sekar bermunajat.
Di sisi lain ….
“Benar sekali, Pak Rojali. Jadi bukan KKN, melainkan mengajar biasa untuk salah satu tugas praktek kuliah kami di jurusan pendidikan sekolah dasar (PGSD),” jelas Raksa. "Sehingga, waktunya lebih singkat."
“Oh, jadi nanti ngajarnya anak-anak SD aja gitu, ya?” tanya Pak Rojali hendak memastikan.
“Nggak kok, Pak. Semisal nanti ada anak SMP atau SMA yang mau konsultasi PR atau tugas sekolah, bisa juga ke kita,” kata Raksa lagi. “Dan untuk jangka waktunya sekitar 2 minggu. Jadwalnya bisa sore, bisa juga malam, karena jam kuliah kami kebetulan pagi.”
“Hmm, oke.” Pak Rojali manggut-manggut.
“Bagaimana, Pak, apakah diizinkan?” tanya Rani deg-degan. Sebab sebelum datang ke kampung ini, mereka bertiga sempat ditolak di kampung lain.
“Ya, boleh-boleh, kok. Tadi kan udah megang kontak saya juga tuh, nanti kabarin aja mulainya tanggal berapa. Biar saya bisa kasih tahu ibu-ibu di kampung ini kalo mas dan mbaknya mau ngajar les,” pesan Pak Rojali. "Yang penting jangan dadakan, ya."
“Alhamdulillah, oke siap, Pak.” Rani semringah mengusap wajahnya. Raksa dan Nadia ikut senang.
“Tapi, beneran gratis kan ya?” Pak Rojali terkekeh. “Saya bisa diamuk warga kalo tiba-tiba disuruh bayar, nih.”
“Iyalah, Pak,” celetuk Nadia terkekeh juga. “Gratis 100% tanpa embel-embel~"
Mereka tertawa bersama.
Raksa lalu melirik bakul kue milik Sekar yang ada di dekat mereka, di saat si empunya masih di dalam. Dia melihat ada buku dan seragam SMA di atasnya, tapi tak melihat sisa kue basah yang ada di bawahnya.
“Pak, mau tanya,” ujar Raksa perlahan mengempiskan tawa mereka. “Kalo Mbak Sekar yang nganter kita barusan, masih SMA ya? Atau sudah lulus?”
“Oh, dia mah gak sekolah.. Jualan kue aja dari dulu,” kata Pak Rojali. “Kalo gak salah abis kelar SD gak lanjut lagi.”
Pria berpeci itu lalu berkata lagi tetapi setengah berbisik, “Sekar, si Gadis Loak. Orang di sini nyebutnya begitu. Hehehe~”
Raksa dan lainnya kompak terdiam. Wajah Rani dan Nadia bahkan terlihat kaget. Batin mereka bertiga sama-sama berkata, "Gadis … Loak?"
Bersamaan dengan Sekar yang melangkah keluar dari mushola untuk mengambil bakul kuenya. Wajahnya agak sembab karena kelepasan menangis saat berdoa tadi. Semua orang memperhatikan.
Namun, sebelum Sekar sadar, Nadia memanggilnya, “Sekar, udah mau pulang?”
Sekar mengangguk. “Iya.”
“Sekar,” kata Pak Rojali. “Ini Mas sama Mbak mahasiswa mau ngajar di kampung ini. Nanti kamu ikutan aja. Gratis katanya.”
“Eh?” Sekar terkejut.
Nadia dan Rani mesem-mesem.
“Iya. Nanti kita kabarin kamu lagi ya, Sekar. Kita berharap kamu bisa ikutan juga,” ajak Nadia.
Sekar tersenyum canggung. Kemudian, dia pun pamit pulang setelah ketiga mahasiswa tersebut mengucapkan terima kasih.
Setiba di rumah, seperti biasa Sekar hendak menemui ibunya. Dia masih membawa bakulnya. Namun, ibunya tampak sudah terlelap. Sekar memutuskan untuk tidak mengganggu. Dia pun langsung menuju kamarnya sendiri.
Sekar meletakkan bakul kuenya ke meja, mengambil baju seragam SMA dari dalam situ. Kemudian, menggantungnya di luar pintu lemari. Dia lalu duduk di tepi kasur sambil memperhatikan baju yang tergantung tersebut.
“Belajar bersama, ya…,” gumam Sekar. Pikirannya padahal sedang kalut karena pesanan kue ayah Bima, tapi ucapan Pak Rojali dan para mahasiswa tadi benar-benar membekas di pikirannya.
Di sisa malam itu, Sekar kembali merawat ibunya dan membuat kue untuk dijual besok. Setelah selesai, dia iseng membuka buku yang baru didapatnya dari Bima, membacanya sekilas hingga dia jatuh tertidur.
Rutinitas berulang yang Sekar jalani sehari-hari.
***
Keesokan harinya, kantin Universitas Pelita, saat jam kosong menuju pergantian mata kuliah. Raksa terlihat sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Hingga Rani tiba-tiba datang mengagetkannya dari belakang.
“DOR!”
Raksa terperanjat dan sontak berhenti mengetik. “Ck! Ran.”
“Hehehe, maaf.” Rani bergabung duduk di sebelah Raksa. Ikut melihat ke layar laptop. “Silabus materi kita, ya?”
“Ya. Walaupun sistem ngajar kita nanti sesuai studi kasus di lapangan dan kebutuhan siswa, kita tetep harus bikin silabus.” Raksa menjawab dan kembali mengetik, wajahnya serius.
Rani mengangguk setuju. “Sa….”
“Hm?”
“Gue kepikiran Sekar.”
Other Stories
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...