Hadiah Kecil
Di tempat lain, Bima menghentikan kayuhan gerobak loaknya dan memutuskan untuk istirahat sebentar di bawah pohon pinggir jalan, tepat di depan sebuah rumah biasa. Lelaki bertopi itu lalu menenggak hampir setengah botol plastik air mineral yang dibawanya dari rumah.
“Hah ….” Bima menutup lalu melempar botol itu ke dalam gerobaknya. “Perasaan panas banget dah hari ini.”
Bima melepas topinya untuk dijadikan kipas. Peluh membasahi kening dan lehernya.
Tanpa sengaja, mata Bima menangkap sesuatu di atas tempat sampah milik rumah tempatnya berhenti saat ini.
“Eh, apaan tuh?” Bima turun dari gerobaknya, lalu mendekati tempat sampah tersebut. Diambilnya sepasang sandal selop wanita berwarna hitam yang kulitnya sudah mengelupas, tetapi tampak masih layak digunakan. Bagian depannya yang mangap juga bisa diperbaiki. “Wah, ini beneran dibuang, kan?”
Bima meyakini. Lagi pula, orang normal mana yang meletakkan barang yang masih digunakan di tempat sampah?
Lelaki itu tersenyum. “Kayaknya muat ini di kakinya si Sekar.” Dia lalu meletakkan sandal itu ke gerobaknya. “Kira-kira, hari ini Sekar mampir ke rumah gak ya?”
Kakinya mulai mengayuh lagi gerobak loak itu. “Barang bekas, barang bekas ….”
Bima tak sabar memberi tahu Sekar apa yang baru saja dia dapat hari ini. Rencananya, dia mau memberikan sandal selop itu secara percuma, sebagai hadiah kecil untuk Sekar tanpa harus gadis itu menukarnya dengan kue.
Malam harinya ….
Usai kelar menyortir, Bima nongkrong di depan rumahnya sambil memperbaiki bagian mangap di kedua sandal selop itu dengan lem keras. Dengan teliti, dia juga merontoki kulit yang mengelupas. Untungnya sandal itu berwarna hitam, sehingga cacatnya tidak terlalu kentara. Selesai.
Bima menghela napas, di antara suara samar jangkrik yang menggema di kejauhan. Rumahnya memang dekat rerumputan liar. Sejujurnya, dia agak kecewa Sekar hari ini tak mampir.
“Nih, nih … pasti gegara permintaan Bapak, Sekar pasti lagi kerepotan sekarang.” Bima jengkel tetapi tak bisa berbuat banyak. Sama seperti ibunya Sekar, ayah Bima juga keras kepala. “Harusnya aku yang ke sana. Besok kali, ya?”
Bima mendongak memandang langit. Tak ada satupun bintang yang tertangkap oleh matanya. Padahal, biasanya juga ada meski satu atau dua. Bulan juga tak menampakkan batang hidungnya. Entah pada kemana para hiasan langit itu. Antara memahami atau sedang meledek hatinya yang sendu.
“Apa sekarang aja?” gumam Bima terpikirkan untuk bertandang ke rumah Sekar. Dia melirik jam dinding. Masih jam 8 malam.
Di rumah Sekar.
Bukan membuat kue, Sekar saat ini sedang mencoba belajar matematika. Wajahnya tampak serius mempelajari materi yang seharusnya memang sudah levelnya jika menilik usia. Itu dari buku terbaru yang diberikan Bima kemarin untuk tingkat SMA.
Sekar mulai mengerjakan soal tentang phytagoras. Materi dasarnya sudah dia pelajari di buku SMP. Sedangkan yang ini lebih kompleks.
“Hehe, gampang.” Sekar tertawa kecil, menikmati proses belajarnya malam ini sambil tengkurap di atas ranjangnya.
Belajar sudah seperti hiburan bagi Sekar apalagi setelah insiden di pasar tadi. Sekar memutuskan untuk libur membuat kue malam ini, dan mengalihkannya besok pagi. Dia berencana berangkat lebih siang untuk berjualan di luar kampung.
Sekar mulai menemukan soal matematika yang agak sulit. Dia tertahan cukup lama di sana. “Ini gimana ya?”
Sekar bingung.
“Assalamualaikum ….”
Terdengar suara seorang lelaki mengucap salam di depan rumahnya.
“Siapa ya, malem-malem gini?” Sekar kaget, lalu bangkit untuk segera membuka pintu. Sebelum itu, dia mengintip dulu dari celah jendela.
“Eh?” Mata Sekar membulat. “Wa-Waalaikumsalam.”
Sekar membuka pintu secara perlahan. Dilihatnya Raksa, Nadia, dan juga Rani. Bibir Sekar kelu karena masih terkejut dengan kedatangan ketiga mahasiswa itu ke rumahnya.
“Hai, Sekar!” sapa Nadia ramah. “Belom tidur, kan?”
Sekar tersenyum, menggeleng. “Belum.” Dia melirik Rani yang tersenyum, dan … Raksa yang melihatnya tanpa ekspresi tetapi mata lelaki itu seperti menyiratkan banyak hal. Anehnya, Sekar tidak merasa terganggu.
“Sekar, maaf ya kita ganggu malam-malam.” Rani buru-buru mengonfirmasi. “Oh ya, kita bawain ini buat kamu. Snack, hehe. Buat iseng.” Dia menyerahkan plastik berlogo mini market
Sekar menerimanya.
“Terima kasih. Tapi … uh, kok … bisa tahu rumah saya?” tanya Sekar agak canggung. Meski mereka sudah berkenalan, ini pertama kalinya dia ngomong agak panjang. Dia bahkan tak tahu, bagaimana harus memanggil ketiganya.
“Dari Pak Rojali. Kita abis rapat tadi di rumah beliau,” jelas Nadia.
Sekar manggut-manggut. Pikirnya mereka baru tiba.
“Oh, iya ….” Sekar tiba-tiba kelabakan. “Duduk dulu ya. Maaf … seadanya.” Dia meminta mereka duduk di sebuah kursi panjang kayu yang berada tepat di pelataran rumah.
“Makasih, Sekar. Eh, tapi boleh numpang ke kamar mandi, gak?” Nadia sedari tadi kebelet, tetapi tak enak meminjam kamar mandi Pak Rojali.
“Eh, aku juga dong,” timpal Rani. Perjalanan pulang mereka masih lumayan jauh. Dia tak mau ada insiden di tengah jalan.
“Boleh.”
Sekar lalu mengantar Nadia dan Rani ke kamar mandi di dalam rumahnya. Sementara Raksa masih berdiri membatu di depan bangunan semi permanen itu. Dia diam-diam mengamati. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lampu kuning yang remang menambah kesan ketidaknyamanan.
Sekar yang kembali membuat Raksa terkejut. Mereka bertemu mata.
“Uh, anu ….” Sekar mau menawari minum, tetapi dia malu karena cuman ada air putih masak dan teh.
“Sekar, nanti mau ikut belajar juga, kan?” tanya Raksa memecah kecanggungan. “Waktunya udah ditentuin. Kita mulai Senin depan. Tempatnya di Balai Desa.”
“Senin depan ya ….” Sekar terbawa alur perbincangan yang diciptakan Raksa. Kegugupannya seketika hilang. “Tapi, saya kan bukan anak-anak. Apa masih boleh?”
“Boleh, dong. Nggak ada yang bisa membatasi apalagi menghalangi seseorang untuk belajar, termasuk usia,” jelas Raksa. Untuk pertama kalinya dia tersenyum setelah banyaknya tekanan yang dia rasakan karena tugas kuliah yang menumpuk..
Sekar ikut tersenyum, mengangguk. “Saya mau ikut.”
“Bagus.” Raksa tersenyun puas. “Oh ya, sebentar.” Lelaki itu membuka ritsleting tas punggungnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. “Ini, hadiah kecil-kecilan buat Sekar.”
Raksa menyerahkan sekotak bening berisi alat tulis seperti pensil, pulpen, penghapus, dan penggaris ujian.
“Eh, gak usah repot-repot.”
“Ambil.”
Tatapan mata Raksa yang tajam seakan 'memaksa' Sekar untuk menerima pemberian lelaki itu. Dia sama sekali tidak bisa menolak. Perlahan tangannya meraih kotak pensil tersebut.
“Ini, beneran?” tanya Sekar. Kebetulan sekali, pensil satu-satunya yang dia punya tinggal sepanjang kelingking. Hapusannya sudah buluk. Rautannya sudah tumpul.
Raksa mengangguk. “Ya. Jujur aja kita bertiga udah denger banyak hal tentang kamu dari Pak Rojali. Kamu suka belajar, ya?”
Wajah Sekar memerah menahan malu. Jadi, sejauh ini dia dijadikan topik perbincangan? Dia berharap Pak Rojali tak menceritakan bagian tentang dirinya yang suka barter barang loak ke Bima.
Sayangnya, Sekar tak tahu Pak Rojali benar-benar telah mengatakan semua hal yang pria paruh baya itu ketahui tentangnya tanpa filter.
“Terima kasih, Kak Raksa.” Perdana, Sekar memanggil nama lelaki itu ditambah embel-embel ‘Kak’.
Raksa tersenyum hangat. Ekspresi yang bahkan jarang dia tampakkan ke kedua temannya.
“Sama-sama. Nanti bilang aja kalo perlu sesuatu lagi ya. Bisa ke saya atau Rani dan Nadia. Tenang aja, perlakuan kami bertiga sama kok ke semua peserta belajar.”
Sekar lega mendengarnya. Dia jadi tak perlu segan menerima hadiah kecil itu. “Oh ya, Kak Raksa sama yang lainnya udah kuliah tahun ke berapa? Uh ….”
“Maksud Sekar, semester?”
Saat Sekar dan Raksa masih berbincang santai bahkan sesekali diselingi tawa ringan, sedari tadi di kejauhan Bima sudah memperhatikan. Tangannya menenteng sandal selop yang ingin dia berikan pada Sekar.
“Sekar, ngobrol sama siapa tuh? Baru liat,” gumam Bima menegaskan pandangannya pada Raksa. Ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah asing itu. Jaraknya yang agak jauh membuatnya tak bisa mendengar apa yang mereka sedang bicarakan.
Bima berpikir Sekar tak datang ke rumah loaknya hari ini karena sedang kedatangan tamu. Dia lalu melirik sandal selopnya, lantas menjadi urung untuk menghampiri Sekar. “Yaudalah, besok aja.”
Namun, Sekar menangkap punggung seseorang yang begitu familier di matanya. Bima tampak hendak berbalik berlawanan arah rumahnya.
“Loh? Bima!” panggil Sekar.
Bima langsung terhenti. Entah kenapa, dia merasa seperti maling yang sedang ketangkap basah. Akhirnya, dia pun berbalik lagi dan mau tak mau melambaikan tangan ke arah Sekar dan Raksa.
“Yo, Sekar!” Bima nyengir kikuk.
“Sini, Bim!” Sekar melambaikan tangan.
Raksa memperhatikan Bima. Ekspresi wajahnya kembali ke setelan awal.
Bersamaan dengan Nadia dan Rani yang keluar dari rumah Sekar dengan wajah lega habis buang air kecil.
“Lah, kok rame?” gumam Bima. Kakinya terus melangkah menuju orang-orang itu, padahal sebenarnya dia sangat ingin kabur.
“Hah ….” Bima menutup lalu melempar botol itu ke dalam gerobaknya. “Perasaan panas banget dah hari ini.”
Bima melepas topinya untuk dijadikan kipas. Peluh membasahi kening dan lehernya.
Tanpa sengaja, mata Bima menangkap sesuatu di atas tempat sampah milik rumah tempatnya berhenti saat ini.
“Eh, apaan tuh?” Bima turun dari gerobaknya, lalu mendekati tempat sampah tersebut. Diambilnya sepasang sandal selop wanita berwarna hitam yang kulitnya sudah mengelupas, tetapi tampak masih layak digunakan. Bagian depannya yang mangap juga bisa diperbaiki. “Wah, ini beneran dibuang, kan?”
Bima meyakini. Lagi pula, orang normal mana yang meletakkan barang yang masih digunakan di tempat sampah?
Lelaki itu tersenyum. “Kayaknya muat ini di kakinya si Sekar.” Dia lalu meletakkan sandal itu ke gerobaknya. “Kira-kira, hari ini Sekar mampir ke rumah gak ya?”
Kakinya mulai mengayuh lagi gerobak loak itu. “Barang bekas, barang bekas ….”
Bima tak sabar memberi tahu Sekar apa yang baru saja dia dapat hari ini. Rencananya, dia mau memberikan sandal selop itu secara percuma, sebagai hadiah kecil untuk Sekar tanpa harus gadis itu menukarnya dengan kue.
Malam harinya ….
Usai kelar menyortir, Bima nongkrong di depan rumahnya sambil memperbaiki bagian mangap di kedua sandal selop itu dengan lem keras. Dengan teliti, dia juga merontoki kulit yang mengelupas. Untungnya sandal itu berwarna hitam, sehingga cacatnya tidak terlalu kentara. Selesai.
Bima menghela napas, di antara suara samar jangkrik yang menggema di kejauhan. Rumahnya memang dekat rerumputan liar. Sejujurnya, dia agak kecewa Sekar hari ini tak mampir.
“Nih, nih … pasti gegara permintaan Bapak, Sekar pasti lagi kerepotan sekarang.” Bima jengkel tetapi tak bisa berbuat banyak. Sama seperti ibunya Sekar, ayah Bima juga keras kepala. “Harusnya aku yang ke sana. Besok kali, ya?”
Bima mendongak memandang langit. Tak ada satupun bintang yang tertangkap oleh matanya. Padahal, biasanya juga ada meski satu atau dua. Bulan juga tak menampakkan batang hidungnya. Entah pada kemana para hiasan langit itu. Antara memahami atau sedang meledek hatinya yang sendu.
“Apa sekarang aja?” gumam Bima terpikirkan untuk bertandang ke rumah Sekar. Dia melirik jam dinding. Masih jam 8 malam.
Di rumah Sekar.
Bukan membuat kue, Sekar saat ini sedang mencoba belajar matematika. Wajahnya tampak serius mempelajari materi yang seharusnya memang sudah levelnya jika menilik usia. Itu dari buku terbaru yang diberikan Bima kemarin untuk tingkat SMA.
Sekar mulai mengerjakan soal tentang phytagoras. Materi dasarnya sudah dia pelajari di buku SMP. Sedangkan yang ini lebih kompleks.
“Hehe, gampang.” Sekar tertawa kecil, menikmati proses belajarnya malam ini sambil tengkurap di atas ranjangnya.
Belajar sudah seperti hiburan bagi Sekar apalagi setelah insiden di pasar tadi. Sekar memutuskan untuk libur membuat kue malam ini, dan mengalihkannya besok pagi. Dia berencana berangkat lebih siang untuk berjualan di luar kampung.
Sekar mulai menemukan soal matematika yang agak sulit. Dia tertahan cukup lama di sana. “Ini gimana ya?”
Sekar bingung.
“Assalamualaikum ….”
Terdengar suara seorang lelaki mengucap salam di depan rumahnya.
“Siapa ya, malem-malem gini?” Sekar kaget, lalu bangkit untuk segera membuka pintu. Sebelum itu, dia mengintip dulu dari celah jendela.
“Eh?” Mata Sekar membulat. “Wa-Waalaikumsalam.”
Sekar membuka pintu secara perlahan. Dilihatnya Raksa, Nadia, dan juga Rani. Bibir Sekar kelu karena masih terkejut dengan kedatangan ketiga mahasiswa itu ke rumahnya.
“Hai, Sekar!” sapa Nadia ramah. “Belom tidur, kan?”
Sekar tersenyum, menggeleng. “Belum.” Dia melirik Rani yang tersenyum, dan … Raksa yang melihatnya tanpa ekspresi tetapi mata lelaki itu seperti menyiratkan banyak hal. Anehnya, Sekar tidak merasa terganggu.
“Sekar, maaf ya kita ganggu malam-malam.” Rani buru-buru mengonfirmasi. “Oh ya, kita bawain ini buat kamu. Snack, hehe. Buat iseng.” Dia menyerahkan plastik berlogo mini market
Sekar menerimanya.
“Terima kasih. Tapi … uh, kok … bisa tahu rumah saya?” tanya Sekar agak canggung. Meski mereka sudah berkenalan, ini pertama kalinya dia ngomong agak panjang. Dia bahkan tak tahu, bagaimana harus memanggil ketiganya.
“Dari Pak Rojali. Kita abis rapat tadi di rumah beliau,” jelas Nadia.
Sekar manggut-manggut. Pikirnya mereka baru tiba.
“Oh, iya ….” Sekar tiba-tiba kelabakan. “Duduk dulu ya. Maaf … seadanya.” Dia meminta mereka duduk di sebuah kursi panjang kayu yang berada tepat di pelataran rumah.
“Makasih, Sekar. Eh, tapi boleh numpang ke kamar mandi, gak?” Nadia sedari tadi kebelet, tetapi tak enak meminjam kamar mandi Pak Rojali.
“Eh, aku juga dong,” timpal Rani. Perjalanan pulang mereka masih lumayan jauh. Dia tak mau ada insiden di tengah jalan.
“Boleh.”
Sekar lalu mengantar Nadia dan Rani ke kamar mandi di dalam rumahnya. Sementara Raksa masih berdiri membatu di depan bangunan semi permanen itu. Dia diam-diam mengamati. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lampu kuning yang remang menambah kesan ketidaknyamanan.
Sekar yang kembali membuat Raksa terkejut. Mereka bertemu mata.
“Uh, anu ….” Sekar mau menawari minum, tetapi dia malu karena cuman ada air putih masak dan teh.
“Sekar, nanti mau ikut belajar juga, kan?” tanya Raksa memecah kecanggungan. “Waktunya udah ditentuin. Kita mulai Senin depan. Tempatnya di Balai Desa.”
“Senin depan ya ….” Sekar terbawa alur perbincangan yang diciptakan Raksa. Kegugupannya seketika hilang. “Tapi, saya kan bukan anak-anak. Apa masih boleh?”
“Boleh, dong. Nggak ada yang bisa membatasi apalagi menghalangi seseorang untuk belajar, termasuk usia,” jelas Raksa. Untuk pertama kalinya dia tersenyum setelah banyaknya tekanan yang dia rasakan karena tugas kuliah yang menumpuk..
Sekar ikut tersenyum, mengangguk. “Saya mau ikut.”
“Bagus.” Raksa tersenyun puas. “Oh ya, sebentar.” Lelaki itu membuka ritsleting tas punggungnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. “Ini, hadiah kecil-kecilan buat Sekar.”
Raksa menyerahkan sekotak bening berisi alat tulis seperti pensil, pulpen, penghapus, dan penggaris ujian.
“Eh, gak usah repot-repot.”
“Ambil.”
Tatapan mata Raksa yang tajam seakan 'memaksa' Sekar untuk menerima pemberian lelaki itu. Dia sama sekali tidak bisa menolak. Perlahan tangannya meraih kotak pensil tersebut.
“Ini, beneran?” tanya Sekar. Kebetulan sekali, pensil satu-satunya yang dia punya tinggal sepanjang kelingking. Hapusannya sudah buluk. Rautannya sudah tumpul.
Raksa mengangguk. “Ya. Jujur aja kita bertiga udah denger banyak hal tentang kamu dari Pak Rojali. Kamu suka belajar, ya?”
Wajah Sekar memerah menahan malu. Jadi, sejauh ini dia dijadikan topik perbincangan? Dia berharap Pak Rojali tak menceritakan bagian tentang dirinya yang suka barter barang loak ke Bima.
Sayangnya, Sekar tak tahu Pak Rojali benar-benar telah mengatakan semua hal yang pria paruh baya itu ketahui tentangnya tanpa filter.
“Terima kasih, Kak Raksa.” Perdana, Sekar memanggil nama lelaki itu ditambah embel-embel ‘Kak’.
Raksa tersenyum hangat. Ekspresi yang bahkan jarang dia tampakkan ke kedua temannya.
“Sama-sama. Nanti bilang aja kalo perlu sesuatu lagi ya. Bisa ke saya atau Rani dan Nadia. Tenang aja, perlakuan kami bertiga sama kok ke semua peserta belajar.”
Sekar lega mendengarnya. Dia jadi tak perlu segan menerima hadiah kecil itu. “Oh ya, Kak Raksa sama yang lainnya udah kuliah tahun ke berapa? Uh ….”
“Maksud Sekar, semester?”
Saat Sekar dan Raksa masih berbincang santai bahkan sesekali diselingi tawa ringan, sedari tadi di kejauhan Bima sudah memperhatikan. Tangannya menenteng sandal selop yang ingin dia berikan pada Sekar.
“Sekar, ngobrol sama siapa tuh? Baru liat,” gumam Bima menegaskan pandangannya pada Raksa. Ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah asing itu. Jaraknya yang agak jauh membuatnya tak bisa mendengar apa yang mereka sedang bicarakan.
Bima berpikir Sekar tak datang ke rumah loaknya hari ini karena sedang kedatangan tamu. Dia lalu melirik sandal selopnya, lantas menjadi urung untuk menghampiri Sekar. “Yaudalah, besok aja.”
Namun, Sekar menangkap punggung seseorang yang begitu familier di matanya. Bima tampak hendak berbalik berlawanan arah rumahnya.
“Loh? Bima!” panggil Sekar.
Bima langsung terhenti. Entah kenapa, dia merasa seperti maling yang sedang ketangkap basah. Akhirnya, dia pun berbalik lagi dan mau tak mau melambaikan tangan ke arah Sekar dan Raksa.
“Yo, Sekar!” Bima nyengir kikuk.
“Sini, Bim!” Sekar melambaikan tangan.
Raksa memperhatikan Bima. Ekspresi wajahnya kembali ke setelan awal.
Bersamaan dengan Nadia dan Rani yang keluar dari rumah Sekar dengan wajah lega habis buang air kecil.
“Lah, kok rame?” gumam Bima. Kakinya terus melangkah menuju orang-orang itu, padahal sebenarnya dia sangat ingin kabur.
Other Stories
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...