Gerbang Desa Alun
Masih memegang stir mobil, Pak Joko menoleh ke sisi kanan jalan. Dia melihat seekor kucing hitam sedang melangkah santai di antara remang kuning lampu jalan. Untungnya jalan ini sepi meski ada saja motor dan mobil yang melintas. Daripada itu … tentu saja kucing tersebut bukan penyebab mengapa dia tiba-tiba ngerem mendadak.
“Sa, ada apa sih?!” tanya Nadia berseru. Jantungnya masih berdegup kencang. Pikirnya, dia akan mati malam ini.
Rani tak berkomentar. Dia bersandar kaku sambil memejamkan mata. Bibirnya terus bergerak mengucap istighfar tanpa suara.
“Pak?” tegur Raksa.
“Eh, maaf, Den Raksa! Itu, tadi ada kucing nyebrang.” Pak Joko berbohong. “Saya izin jalan lagi.” Dia kembali menginjak gasnya.
Seperti di hari pertama, Raksa bersama Pak Joko mengantar secara bergantian Rani dan Nadia ke rumah masing-masing. Hampir dua jam berlalu, Raksa dan Pak Joko baru benar-benar sampai di tujuan akhir pada pukul 12 malam.
Pak Joko memarkirkan mobil itu di halaman rumah Raksa.
Sebelum Raksa turun, dia berkata pada Pak Joko, “Pak Joko. Saya bilang kan gapapa ambil cuti, kalo emang lagi kurang enak badan. Daripada kayak tadi, bahaya. Apalagi ada 2 perempuan di belakang. Mereka tanggung jawab saya.”
“Maaf sekali lagi, Den Raksa.” Pak Joko menunduk sesal. “Saya akan lebih hati-hati.”
Raksa melirik tangan Pak Joko yang saling menggosok pelan satu sama lain. Tingkah pria itu juga tampak gelisah. Pemandangan yang tentu saja mengundang kecurigaan dan tanda tanya di hati Raksa. Pemuda itu lalu beranjak turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Sedangkan Pak Joko masih duduk di kursi kemudi.
Tangan Pak Joko tiba-tiba memukul stir.
“Berengsek!” pekiknya seperti kesetanan. Kemudian, mengacak dan mencengkram jambak rambutnya sendiri dengan jemari. Matanya menyiratkan amarah.
Pria itu berakhir menangis sesenggukan. Nama Sekar yang tiba-tiba Nadia sebut beberapa saat lalu membuatnya teringat dengan sang puteri sulung yang memiliki nama yang sama dan juga tinggal di Desa Alun.
6 tahun sudah berlalu.
Pak Joko tak menyangka akan terhubung lagi dengan tempat yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Urusan Raksa bersama teman-temannya di Desa Alun yang membuat pikiran Pak Joko akhir-akhir ini kalut. Apalagi, setiap kali melakukan perjalanan ke sana dan harus menunggu majikannya selesai di depan gerbang desa tersebut.
Setiap detik yang bergulir, terasa lambat dan menyiksa. Semua hal tentang Desa Alun sebenarnya tak pernah lagi ingin Pak Joko ingat-ingat. Namun, sebesar apa pun dia ingin menghapus rekam jejaknya sebagai pria kejam yang tak bertanggung jawab, takdir justru berkata sebaliknya.
“Marni … Sekar,” ujar Pak Joko gemetar.
***
Keesokan harinya, Sekar sudah beres masak dan membuat kue untuk dia jual hari ini. Dia juga sudah selesai memandikan ibunya, dan memberi makan wanita itu. Sekitar pukul setengah satu setelah sholat Zuhur, dia bersiap-siap berangkat. Sesuai rencana, hari ini dia akan menjajakan kuenya sepanjang jalan di desa ini menuju ke luar kampung.
“Kue-kue ….”
“Loh, Sekar. Baru keluar tengah hari bolong gini?” Ibu Rehan menyapa sambil mengeluarkan sepeda keranjang. Dia mau jemput anaknya.
“Iya, Bu. Pagi tadi masih agak repot. Beli, Bu?” Sekar meletakkan bakulnya di tanah.
“Hmm ….” Wanita itu menutup pagar. “Eh, boleh deh beli buat si Rehan. Biasa, donat meses. Sama gorengannya ada apa aja hari ini?” Dia melihat isi bakul kue Sekar. “Wih, penuh bener nih keranjang kue.”
Sekar terkekeh.
Mereka pun bertransaksi.
Sekar lanjut berkeliling. Ada saja yang beli setiap dia melintas, atau berpapasan dengan orang, pun saat melewati warung dan sekolah. Hingga tanpa terasa, kakinya telah menginjakkan pintu gerbang utama Desa/Kampung Alun.
Sekar melirik sekilas dan membaca papan yang sudah usang itu. Selanjutnya adalah jalan raya kecil atau biasa masyarakat sana sebut sebagai perbatasan. Di sepanjang jalan itu adalah pemukiman warga dari desa lain. Jika terus diikuti, akan membawa siapa pun ke jalan raya besar.
Itu adalah jalan yang semalam Raksa lewati bersama teman-temannya, dan yang sesekali pula Bima lintasi untuk berburu barang loak di luar kampung.
Sekar masih berdiri tak jauh dari gerbang desanya. Dia lalu melihat orang-orang di rentetan kios seberang jalan. Ada warkop, warung madura, warung soto, warung tegal, hingga toko pecah belah. Ada dua buah mobil dan beberapa motor yang terparkir di depannya.
Semalam saat mengobrol dengan Raksa di depan rumah, lelaki itu bilang dua hari ini sopirnya selalu memarkirkan mobil di lahan dekat kios itu. Meski sebenarnya muat, alasan Raksa tak membawa mobilnya masuk ke lingkungan Desa Alun adalah karena ingin menghormati penduduk setempat dan enggan menyita perhatian.
Sekar pun menyeberang. Dia ingin mencoba peruntungan menawarkan jualannya di sana.
Waktu pun berlalu, senja menjelang, dan kumandang adzan maghrib mulai terdengar di mana-mana. Sekar melangkah menapaki arah balik di sepanjang jalan raya kecil meninggalkan hiruk pikuk dunia luar.
Bakul kuenya sudah kosong.
Sekar menyeka keningnya yang berkeringat. Jarak yang harus dia tempuh masih lumayan jauh karena berjalan kaki. Melihat mushola milik desa lain, Sekar memutuskan untuk istirahat sebentar di sana sekalian sholat Maghrib.
Selang beberapa saat kemudian, Sekar baru benar-benar menginjakkan kakinya di tanah Desa Alun sekitar pukul setengah 8 malam. Dia mampir sebentar ke warung madura langganannya untuk membeli tambahan bahan kue. Kali ini lebih ekstra, karena besok malam adalah acara tahlilan 40 harian mendiang ibunya Bima.
“Besok kerja rodi lagi deh,” gumam Sekar seraya menghitung uang yang dia bawa dan hasil yang dia dapat hari ini di dalam dompet. Dia menyerahkan uang tersebut dan menukarnya dengan belanjaan yang langsung dia taruh di bakul kue.
Hampir sampai, Sekar tiba-tiba memperlambat langkah kakinya saat dia mendapati seorang wanita berdiri di depan rumahnya.
“Assalamualaikum, woy. Kagak ada orang apa, yak? Dari tadi dipanggilin. Ampe digigit nyamuk gua.” Tangannya menepuk pipi.
Sekar langsung tahu siapa pemilik suara cempreng dan celotehan menyebalkan itu. “Ngapain dia ke sini?” gumam Sekar. Dia berjalan mendekat, dan menjawab salam Mpok Mina.
“Waalaikum salam.”
Mpok Mina terperanjat dan membalikkan tubuhnya. “Eh, Sekar! Ngagetin aja lu. Gua kira demit.”
Sekar meletakkan bakul kuenya ke atas meja. Matanya melirik tangan Mpok Mina yang membawa piring berisi sesuatu dan ditutupi selembar tisu.
“Ada apa Mpok? Tumben dateng ke rumah saya,” ujar Sekar.
“Sopan apa lu begitu ama tamu?” Mpok Mina memicingkan matanya. “Eh, gua abis bikin kue. Lu cobain dah, Sekar. Kira-kira enak kagak? Nih!”
Mpok Mina menunjukkan isi piring yang dia bawa, memamerkan hasil eksperimennya pada Sekar. Itu adalah 5 potong kue marmer panggang.
“Gua ampe gagal 3 kali,” kata wanita itu lagi.
Sekar termangu. Dia sama sekali tidak memahami cara Mpok Mina membangun hubungan dengannya. Wanita itu jelas sekali tidak suka padanya dan juga ibunya. Tapi malam ini, malah tiba-tiba datang dan memberinya kue.
Sekar akhirnya melihat kue marmer buatan Mpok Mina. Dia cukup terkesima dengan tampilannya yang meyakinkan.
“Nah, lu makan dah.”
Sekar tak langsung mengambil. Dia melirik Mpok Mina sebentar.
“Lah, ngapa diem? Takut lu, gua racunin?”
“Sa, ada apa sih?!” tanya Nadia berseru. Jantungnya masih berdegup kencang. Pikirnya, dia akan mati malam ini.
Rani tak berkomentar. Dia bersandar kaku sambil memejamkan mata. Bibirnya terus bergerak mengucap istighfar tanpa suara.
“Pak?” tegur Raksa.
“Eh, maaf, Den Raksa! Itu, tadi ada kucing nyebrang.” Pak Joko berbohong. “Saya izin jalan lagi.” Dia kembali menginjak gasnya.
Seperti di hari pertama, Raksa bersama Pak Joko mengantar secara bergantian Rani dan Nadia ke rumah masing-masing. Hampir dua jam berlalu, Raksa dan Pak Joko baru benar-benar sampai di tujuan akhir pada pukul 12 malam.
Pak Joko memarkirkan mobil itu di halaman rumah Raksa.
Sebelum Raksa turun, dia berkata pada Pak Joko, “Pak Joko. Saya bilang kan gapapa ambil cuti, kalo emang lagi kurang enak badan. Daripada kayak tadi, bahaya. Apalagi ada 2 perempuan di belakang. Mereka tanggung jawab saya.”
“Maaf sekali lagi, Den Raksa.” Pak Joko menunduk sesal. “Saya akan lebih hati-hati.”
Raksa melirik tangan Pak Joko yang saling menggosok pelan satu sama lain. Tingkah pria itu juga tampak gelisah. Pemandangan yang tentu saja mengundang kecurigaan dan tanda tanya di hati Raksa. Pemuda itu lalu beranjak turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Sedangkan Pak Joko masih duduk di kursi kemudi.
Tangan Pak Joko tiba-tiba memukul stir.
“Berengsek!” pekiknya seperti kesetanan. Kemudian, mengacak dan mencengkram jambak rambutnya sendiri dengan jemari. Matanya menyiratkan amarah.
Pria itu berakhir menangis sesenggukan. Nama Sekar yang tiba-tiba Nadia sebut beberapa saat lalu membuatnya teringat dengan sang puteri sulung yang memiliki nama yang sama dan juga tinggal di Desa Alun.
6 tahun sudah berlalu.
Pak Joko tak menyangka akan terhubung lagi dengan tempat yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Urusan Raksa bersama teman-temannya di Desa Alun yang membuat pikiran Pak Joko akhir-akhir ini kalut. Apalagi, setiap kali melakukan perjalanan ke sana dan harus menunggu majikannya selesai di depan gerbang desa tersebut.
Setiap detik yang bergulir, terasa lambat dan menyiksa. Semua hal tentang Desa Alun sebenarnya tak pernah lagi ingin Pak Joko ingat-ingat. Namun, sebesar apa pun dia ingin menghapus rekam jejaknya sebagai pria kejam yang tak bertanggung jawab, takdir justru berkata sebaliknya.
“Marni … Sekar,” ujar Pak Joko gemetar.
***
Keesokan harinya, Sekar sudah beres masak dan membuat kue untuk dia jual hari ini. Dia juga sudah selesai memandikan ibunya, dan memberi makan wanita itu. Sekitar pukul setengah satu setelah sholat Zuhur, dia bersiap-siap berangkat. Sesuai rencana, hari ini dia akan menjajakan kuenya sepanjang jalan di desa ini menuju ke luar kampung.
“Kue-kue ….”
“Loh, Sekar. Baru keluar tengah hari bolong gini?” Ibu Rehan menyapa sambil mengeluarkan sepeda keranjang. Dia mau jemput anaknya.
“Iya, Bu. Pagi tadi masih agak repot. Beli, Bu?” Sekar meletakkan bakulnya di tanah.
“Hmm ….” Wanita itu menutup pagar. “Eh, boleh deh beli buat si Rehan. Biasa, donat meses. Sama gorengannya ada apa aja hari ini?” Dia melihat isi bakul kue Sekar. “Wih, penuh bener nih keranjang kue.”
Sekar terkekeh.
Mereka pun bertransaksi.
Sekar lanjut berkeliling. Ada saja yang beli setiap dia melintas, atau berpapasan dengan orang, pun saat melewati warung dan sekolah. Hingga tanpa terasa, kakinya telah menginjakkan pintu gerbang utama Desa/Kampung Alun.
Sekar melirik sekilas dan membaca papan yang sudah usang itu. Selanjutnya adalah jalan raya kecil atau biasa masyarakat sana sebut sebagai perbatasan. Di sepanjang jalan itu adalah pemukiman warga dari desa lain. Jika terus diikuti, akan membawa siapa pun ke jalan raya besar.
Itu adalah jalan yang semalam Raksa lewati bersama teman-temannya, dan yang sesekali pula Bima lintasi untuk berburu barang loak di luar kampung.
Sekar masih berdiri tak jauh dari gerbang desanya. Dia lalu melihat orang-orang di rentetan kios seberang jalan. Ada warkop, warung madura, warung soto, warung tegal, hingga toko pecah belah. Ada dua buah mobil dan beberapa motor yang terparkir di depannya.
Semalam saat mengobrol dengan Raksa di depan rumah, lelaki itu bilang dua hari ini sopirnya selalu memarkirkan mobil di lahan dekat kios itu. Meski sebenarnya muat, alasan Raksa tak membawa mobilnya masuk ke lingkungan Desa Alun adalah karena ingin menghormati penduduk setempat dan enggan menyita perhatian.
Sekar pun menyeberang. Dia ingin mencoba peruntungan menawarkan jualannya di sana.
Waktu pun berlalu, senja menjelang, dan kumandang adzan maghrib mulai terdengar di mana-mana. Sekar melangkah menapaki arah balik di sepanjang jalan raya kecil meninggalkan hiruk pikuk dunia luar.
Bakul kuenya sudah kosong.
Sekar menyeka keningnya yang berkeringat. Jarak yang harus dia tempuh masih lumayan jauh karena berjalan kaki. Melihat mushola milik desa lain, Sekar memutuskan untuk istirahat sebentar di sana sekalian sholat Maghrib.
Selang beberapa saat kemudian, Sekar baru benar-benar menginjakkan kakinya di tanah Desa Alun sekitar pukul setengah 8 malam. Dia mampir sebentar ke warung madura langganannya untuk membeli tambahan bahan kue. Kali ini lebih ekstra, karena besok malam adalah acara tahlilan 40 harian mendiang ibunya Bima.
“Besok kerja rodi lagi deh,” gumam Sekar seraya menghitung uang yang dia bawa dan hasil yang dia dapat hari ini di dalam dompet. Dia menyerahkan uang tersebut dan menukarnya dengan belanjaan yang langsung dia taruh di bakul kue.
Hampir sampai, Sekar tiba-tiba memperlambat langkah kakinya saat dia mendapati seorang wanita berdiri di depan rumahnya.
“Assalamualaikum, woy. Kagak ada orang apa, yak? Dari tadi dipanggilin. Ampe digigit nyamuk gua.” Tangannya menepuk pipi.
Sekar langsung tahu siapa pemilik suara cempreng dan celotehan menyebalkan itu. “Ngapain dia ke sini?” gumam Sekar. Dia berjalan mendekat, dan menjawab salam Mpok Mina.
“Waalaikum salam.”
Mpok Mina terperanjat dan membalikkan tubuhnya. “Eh, Sekar! Ngagetin aja lu. Gua kira demit.”
Sekar meletakkan bakul kuenya ke atas meja. Matanya melirik tangan Mpok Mina yang membawa piring berisi sesuatu dan ditutupi selembar tisu.
“Ada apa Mpok? Tumben dateng ke rumah saya,” ujar Sekar.
“Sopan apa lu begitu ama tamu?” Mpok Mina memicingkan matanya. “Eh, gua abis bikin kue. Lu cobain dah, Sekar. Kira-kira enak kagak? Nih!”
Mpok Mina menunjukkan isi piring yang dia bawa, memamerkan hasil eksperimennya pada Sekar. Itu adalah 5 potong kue marmer panggang.
“Gua ampe gagal 3 kali,” kata wanita itu lagi.
Sekar termangu. Dia sama sekali tidak memahami cara Mpok Mina membangun hubungan dengannya. Wanita itu jelas sekali tidak suka padanya dan juga ibunya. Tapi malam ini, malah tiba-tiba datang dan memberinya kue.
Sekar akhirnya melihat kue marmer buatan Mpok Mina. Dia cukup terkesima dengan tampilannya yang meyakinkan.
“Nah, lu makan dah.”
Sekar tak langsung mengambil. Dia melirik Mpok Mina sebentar.
“Lah, ngapa diem? Takut lu, gua racunin?”
Other Stories
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...