Mpok Mina
Sekar akhirnya mengambil satu potong kue marmer buatan Mpok Mina dari piring tersebut. Kemudian, mencobanya dengan gigitan kecil.
Mpok Mina memperhatikan, “Gimana? Enak, kagak?”
“Hm, bisa ditambahin mentega sedikit lagi Mpok, biar gak terlalu seret.”
“Gitu, yak. Oke dah.” Mpok Mina menyerahkan piring itu ke Sekar. “Bakal elu.”
“Makasih, Mpok.” Sekar menerimanya.
“Eh, ibu lu gimana, Sekar? Gua mau jenguk dong. Boleh, kagak?”
Sekar benar-benar tidak mengerti isi pikiran Mpok Mina. “Boleh, Mpok.”
Sekar lalu mengajak masuk Mpok Mina ke rumahnya, meski pikirannya terus dipenuhi tanda tanya. Namun, dia berpikir bahwa bagaimanapun niat baik orang lain tak boleh ditolak.
Mpok Mina melangkah masuk. Matanya mengedar ke seluruh penjuru ruang tamu rumah berdinding anyam bambu itu. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya dia bertamu sampai ke dalam. Baik penerangan di luar maupun di dalamnya sama-sama menggunakan lampu berwarna kuning, membuat rumah tersebut terkesan temaram.
Tangan Mpok Mina menepuk nyamuk di pipinya. Ini sudah kesekian kali.
“Buset dah, Sekar. Bisa lu ya, tinggal di tempat macam gorong-gorong gini?”
Sekar tak menghiraukan. Lama kelamaan, dia mulai kebal dengan lidah tajam Mpok Mina. Mpok Mina terus mengekor hingga mereka tiba di depan kamar ibu Sekar.
“Ibu di dalem. Masuk aja. Saya mau ke dapur mindahin kue Mpok dulu.”
“Iya dah.”
Sekar berlalu. Mpok Mina membuka pintu kamar tersebut, mengintip dengan hati-hati. Dia lalu mendekati ibu Sekar, melihat wanita itu tertidur pulas tetapi tampak kegelisahan di wajahnya.
“Etdah, sian amat lu Marni.” Mpok Mina lalu terbatuk. "Uhuk, rada pengap ya! Keluar dah. Tar kena sakit juga lagi gua!"
Mpok Mina bermaksud menyusul Sekar ke dapur, tetapi Sekar tidak ada di sana. Namun, Mpok Mina mendengar suara air dari arah kamar mandi. Dia lalu melihat piring miliknya yang sudah kosong di atas meja. Di sana, juga ada sisa bahan-bahan kue yang Sekar gunakan untuk membuat kue. Meja tersebut agak berantakan. Pemandangan dapur yang terkesan kumuh menambah kesan dramatis.
Mpok Mina mengeluarkan ponsel dari saku roknya.
Ckrek. Ckrek. Ckrek.
Dia memotret apa pun yang ada dapur atau ruangan paling belakang rumah Sekar.
Sekar lalu keluar dari kamar mandi, Mpok Mina kaget dan langsung memasukkan ponselnya lagi ke saku rok.
“Eh Sekar, lama amat lu!”
“Maaf, Mpok. Saya kebelet tadi. Oh ya, itu … piringnya.”
“Iya dah.” Mpok Mina mengambil piringnya. “Gua balik dulu, assalamualaikum.”
Sekar melihat Mpok Mina melangkah pergi.
“Waalaikumsalam,” gumamnya pelan.
Karena acara keluarga Bima berlangsung besok malam setelah Isya, Sekar akan membuat adonan risol bihun, tahu isi, dan kue mangkok gula merah pagi harinya agar tidak cepat basi—berhubung dia tidak punya kulkas karena sudah dijual. Sehingga, malam ini, selain mengurus ibunya, Sekar punya waktu luang yang lebih panjang dari biasanya untuk belajar.
Sekar mengeluarkan pensil dari dalam kotak yang diberikan oleh Raksa. Dia mengerjakan soal matematika lagi, dan menandai soal-soal yang dia tidak mengerti untuk ditanyakan pada para mahasiswa itu nanti saat sesi belajar di Balai Desa.
Selain matematika, Sekar juga belajar bahasa Inggris, 1 dari 3 buku SMA yang dia bawa dari rumah loak Bima.
“I eat breakfast every morning. I ate breakfast yesterday morning. EAT dan ATE adalah contoh kata kerja tidak beraturan atau irregular verb. Pada kegiatan yang sering dilakukan atau masa kini dan yang sudah dilakukan atau masa lalu. Sedangkan pada contoh kalimat berikutnya ….”
Di sisi lain, di rumah loak Bima yang sudah dirapikan lahannya. Sebuah tenda telah terpasang untuk acara tahlilan 40 hari ibu Bima. Ayah Bima duduk di sofa ruang tamu sambil menenteng plastik hitam. Mengenakan sarung dan kutang, dia baru sempat mengeluarkan jeruk yang baru dibelinya itu tadi sore ke atas meja.
“Cukuplah ya 30 biji.” Tangannya mengecek-ngecek kondisi si jeruk kalau-kalau ada yang busuk. Dia juga sudah beli air mineral kemasan gelas dan tisu makan “Tinggal nambah kuenya si Sekar, beres dah.”
Sementara itu, Bima sedang rebahan sambil memandang langit-langit kamarnya. Tangannya lalu bergerak mengangkat dua buku pelajaran yang tergeletak di kasur, ke udara. Tadi, dia asal ambil saja yang paling atas dari dalam kardus. Sekar bilang akan mengambil buku-buku tersebut kalau gadis itu sudah menyelesaikan pesanan kue untuknya.
Bima meletakkan kembali satu buku itu ke kasur. Matanya kini fokus pada yang masih ada di tangannya. Itu adalah buku pelajaran Kimia tingkat SMA. Bima putus sekolah tepat saat kenaikan kelas 5. Agak nekat juga dia malah hendak membuka pelajaran SMA.
“Cuman penasaran doang. Gak niat belajar.” Bima seolah klarifikasi. Dia mengakui apa yang dikatakan Sekar tempo hari, bahwa dirinya memang gampang ngantuk melihat tulisan banyak. Contohnya, koran.
Tangan Bima lantas membuka asal buku kimia tersebut, membawanya ke halaman tengah. Matanya lalu menangkap sebuah kata yang cukup familier, lengkap dengan definisinya.
Raksa atau air Raksa: ialah logam cair berwarna keperakan (mirip timah), dengan titik beku -38,8 °C, yang biasa digunakan dalam termometer dan alat ukur lainnya.
RAKSA.
Mata Bima menyipit datar. Bisa-bisanya di saat dia akhirnya membuka buku lagi setelah sekian tahun lamanya, malah menemukan kata tersebut.
Bima langsung menutup dan meletakkan buku itu. Dia menghela napas. Sebenarnya, dia malas datang ke Balai Desa, tetapi dia tidak bisa membiarkan Sekar hadir sendirian. Apalagi, bertemu lelaki bernama Raksa itu.
***
Keesokan malamnya ba’da Isya, acara tahlilan 40 harian ibu Bima pun dimulai. Sekar juga datang dan duduk di antara tamu perempuan yang kebanyakan didominasi ibu-ibu. Ada bapak-bapak juga di sana, bahkan remaja. Beberapa anak kecil turut terlihat karena dibawa oleh orang tuanya.
Semuanya masih terlihat normal saat para tamu datang. Mereka tampak berbincang sambil minum air mineral gelas. Beberapa makan jeruk. Usai pembacaan surah Yasin dan surah lainnya selesai dan ada jeda pesan dari Pak Ustadz, ayah Bima mulai mendapati hal tak biasa.
Sambil membenarkan pecinya, ayah Bima lalu menyenggol lengan Bima yang duduk tepat di sebelahnya.
Pria itu berbisik, “Bim, itu orang-orang kenapa gak ada yang makan kuenya si Sekar ya?”
Bima mengerutkan keningnya, mencoba menangkap maksud pertanyaan sang ayah. Dilihatnya memang, kue-kue itu masih tertata rapi di atas piring padahal acara sudah hampir selesai.
Ayah Bima kembali nyeletuk, “Lah, pada diet apa gimana? Jeruknya malah raib duluan, Bim.”
Di sisi lain, Sekar bahkan sudah menyadarinya duluan. Dia sempat memancing dengan memakan kuenya sendiri, risol bihun, agar setidaknya, orang yang duduk di sebelahnya ikutan.
“Kenapa?” batin Sekar.
Hingga acara itu sampai pada pembacaan doa penutup, benar-benar tak ada yang menyentuh kue buatan Sekar.
“Walhamdulillahirrobil alamin.”
Acara tahlilan selesai.
Beberapa orang mulai berdiri untuk bubar.
Ayah Bima berkata, “Bapak-bapak, ibu-ibu. Kuenya boleh dibungkus ya, dibawa pulang.”
“Terima kasih, Pak.”
“Gausa, Pak, makasih.”
“Pamit pulang dulu Pak Aziz.”
“Pulang ya, Pak, Bima.”
“Assalamualaikum.”
Bima yang sudah memegangi plastik untuk dibagikan, benar-benar terdiam kebingungan.
“Oh, iya ….” Ayah Bima sama bingungnya. “Terima kasih juga. Waalaikumsalam.” Kedua tangannya sambil mengatup.
Hamparan karpet di bawah tenda itu akhirnya sepi. Tinggal Bima dan ayahnya yang berdiri hening, serta Sekar yang masih diam terduduk. Kue-kue Sekar tak berpindah dan berkurang dari tempatnya semula. Hanya kulit jeruk dan gelas bekas air mineral yang berserakan di mana-mana.
“Sekar,” ujar Bima menghampiri, ikut duduk di karpet. Lelaki itu terkejut mendapati ternyata Sekar sudah menangis dengan wajah menunduk.
Ayah Bima tetap di titiknya berdiri, masih menyimak dalam diam.
“Bim ….” Sekar menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Bima mencoba menjelaskan. “Sekar, aku gak tau kenapa orang-orang—”
“Aku denger mereka,” sela gadis itu.
Mpok Mina memperhatikan, “Gimana? Enak, kagak?”
“Hm, bisa ditambahin mentega sedikit lagi Mpok, biar gak terlalu seret.”
“Gitu, yak. Oke dah.” Mpok Mina menyerahkan piring itu ke Sekar. “Bakal elu.”
“Makasih, Mpok.” Sekar menerimanya.
“Eh, ibu lu gimana, Sekar? Gua mau jenguk dong. Boleh, kagak?”
Sekar benar-benar tidak mengerti isi pikiran Mpok Mina. “Boleh, Mpok.”
Sekar lalu mengajak masuk Mpok Mina ke rumahnya, meski pikirannya terus dipenuhi tanda tanya. Namun, dia berpikir bahwa bagaimanapun niat baik orang lain tak boleh ditolak.
Mpok Mina melangkah masuk. Matanya mengedar ke seluruh penjuru ruang tamu rumah berdinding anyam bambu itu. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya dia bertamu sampai ke dalam. Baik penerangan di luar maupun di dalamnya sama-sama menggunakan lampu berwarna kuning, membuat rumah tersebut terkesan temaram.
Tangan Mpok Mina menepuk nyamuk di pipinya. Ini sudah kesekian kali.
“Buset dah, Sekar. Bisa lu ya, tinggal di tempat macam gorong-gorong gini?”
Sekar tak menghiraukan. Lama kelamaan, dia mulai kebal dengan lidah tajam Mpok Mina. Mpok Mina terus mengekor hingga mereka tiba di depan kamar ibu Sekar.
“Ibu di dalem. Masuk aja. Saya mau ke dapur mindahin kue Mpok dulu.”
“Iya dah.”
Sekar berlalu. Mpok Mina membuka pintu kamar tersebut, mengintip dengan hati-hati. Dia lalu mendekati ibu Sekar, melihat wanita itu tertidur pulas tetapi tampak kegelisahan di wajahnya.
“Etdah, sian amat lu Marni.” Mpok Mina lalu terbatuk. "Uhuk, rada pengap ya! Keluar dah. Tar kena sakit juga lagi gua!"
Mpok Mina bermaksud menyusul Sekar ke dapur, tetapi Sekar tidak ada di sana. Namun, Mpok Mina mendengar suara air dari arah kamar mandi. Dia lalu melihat piring miliknya yang sudah kosong di atas meja. Di sana, juga ada sisa bahan-bahan kue yang Sekar gunakan untuk membuat kue. Meja tersebut agak berantakan. Pemandangan dapur yang terkesan kumuh menambah kesan dramatis.
Mpok Mina mengeluarkan ponsel dari saku roknya.
Ckrek. Ckrek. Ckrek.
Dia memotret apa pun yang ada dapur atau ruangan paling belakang rumah Sekar.
Sekar lalu keluar dari kamar mandi, Mpok Mina kaget dan langsung memasukkan ponselnya lagi ke saku rok.
“Eh Sekar, lama amat lu!”
“Maaf, Mpok. Saya kebelet tadi. Oh ya, itu … piringnya.”
“Iya dah.” Mpok Mina mengambil piringnya. “Gua balik dulu, assalamualaikum.”
Sekar melihat Mpok Mina melangkah pergi.
“Waalaikumsalam,” gumamnya pelan.
Karena acara keluarga Bima berlangsung besok malam setelah Isya, Sekar akan membuat adonan risol bihun, tahu isi, dan kue mangkok gula merah pagi harinya agar tidak cepat basi—berhubung dia tidak punya kulkas karena sudah dijual. Sehingga, malam ini, selain mengurus ibunya, Sekar punya waktu luang yang lebih panjang dari biasanya untuk belajar.
Sekar mengeluarkan pensil dari dalam kotak yang diberikan oleh Raksa. Dia mengerjakan soal matematika lagi, dan menandai soal-soal yang dia tidak mengerti untuk ditanyakan pada para mahasiswa itu nanti saat sesi belajar di Balai Desa.
Selain matematika, Sekar juga belajar bahasa Inggris, 1 dari 3 buku SMA yang dia bawa dari rumah loak Bima.
“I eat breakfast every morning. I ate breakfast yesterday morning. EAT dan ATE adalah contoh kata kerja tidak beraturan atau irregular verb. Pada kegiatan yang sering dilakukan atau masa kini dan yang sudah dilakukan atau masa lalu. Sedangkan pada contoh kalimat berikutnya ….”
Di sisi lain, di rumah loak Bima yang sudah dirapikan lahannya. Sebuah tenda telah terpasang untuk acara tahlilan 40 hari ibu Bima. Ayah Bima duduk di sofa ruang tamu sambil menenteng plastik hitam. Mengenakan sarung dan kutang, dia baru sempat mengeluarkan jeruk yang baru dibelinya itu tadi sore ke atas meja.
“Cukuplah ya 30 biji.” Tangannya mengecek-ngecek kondisi si jeruk kalau-kalau ada yang busuk. Dia juga sudah beli air mineral kemasan gelas dan tisu makan “Tinggal nambah kuenya si Sekar, beres dah.”
Sementara itu, Bima sedang rebahan sambil memandang langit-langit kamarnya. Tangannya lalu bergerak mengangkat dua buku pelajaran yang tergeletak di kasur, ke udara. Tadi, dia asal ambil saja yang paling atas dari dalam kardus. Sekar bilang akan mengambil buku-buku tersebut kalau gadis itu sudah menyelesaikan pesanan kue untuknya.
Bima meletakkan kembali satu buku itu ke kasur. Matanya kini fokus pada yang masih ada di tangannya. Itu adalah buku pelajaran Kimia tingkat SMA. Bima putus sekolah tepat saat kenaikan kelas 5. Agak nekat juga dia malah hendak membuka pelajaran SMA.
“Cuman penasaran doang. Gak niat belajar.” Bima seolah klarifikasi. Dia mengakui apa yang dikatakan Sekar tempo hari, bahwa dirinya memang gampang ngantuk melihat tulisan banyak. Contohnya, koran.
Tangan Bima lantas membuka asal buku kimia tersebut, membawanya ke halaman tengah. Matanya lalu menangkap sebuah kata yang cukup familier, lengkap dengan definisinya.
Raksa atau air Raksa: ialah logam cair berwarna keperakan (mirip timah), dengan titik beku -38,8 °C, yang biasa digunakan dalam termometer dan alat ukur lainnya.
RAKSA.
Mata Bima menyipit datar. Bisa-bisanya di saat dia akhirnya membuka buku lagi setelah sekian tahun lamanya, malah menemukan kata tersebut.
Bima langsung menutup dan meletakkan buku itu. Dia menghela napas. Sebenarnya, dia malas datang ke Balai Desa, tetapi dia tidak bisa membiarkan Sekar hadir sendirian. Apalagi, bertemu lelaki bernama Raksa itu.
***
Keesokan malamnya ba’da Isya, acara tahlilan 40 harian ibu Bima pun dimulai. Sekar juga datang dan duduk di antara tamu perempuan yang kebanyakan didominasi ibu-ibu. Ada bapak-bapak juga di sana, bahkan remaja. Beberapa anak kecil turut terlihat karena dibawa oleh orang tuanya.
Semuanya masih terlihat normal saat para tamu datang. Mereka tampak berbincang sambil minum air mineral gelas. Beberapa makan jeruk. Usai pembacaan surah Yasin dan surah lainnya selesai dan ada jeda pesan dari Pak Ustadz, ayah Bima mulai mendapati hal tak biasa.
Sambil membenarkan pecinya, ayah Bima lalu menyenggol lengan Bima yang duduk tepat di sebelahnya.
Pria itu berbisik, “Bim, itu orang-orang kenapa gak ada yang makan kuenya si Sekar ya?”
Bima mengerutkan keningnya, mencoba menangkap maksud pertanyaan sang ayah. Dilihatnya memang, kue-kue itu masih tertata rapi di atas piring padahal acara sudah hampir selesai.
Ayah Bima kembali nyeletuk, “Lah, pada diet apa gimana? Jeruknya malah raib duluan, Bim.”
Di sisi lain, Sekar bahkan sudah menyadarinya duluan. Dia sempat memancing dengan memakan kuenya sendiri, risol bihun, agar setidaknya, orang yang duduk di sebelahnya ikutan.
“Kenapa?” batin Sekar.
Hingga acara itu sampai pada pembacaan doa penutup, benar-benar tak ada yang menyentuh kue buatan Sekar.
“Walhamdulillahirrobil alamin.”
Acara tahlilan selesai.
Beberapa orang mulai berdiri untuk bubar.
Ayah Bima berkata, “Bapak-bapak, ibu-ibu. Kuenya boleh dibungkus ya, dibawa pulang.”
“Terima kasih, Pak.”
“Gausa, Pak, makasih.”
“Pamit pulang dulu Pak Aziz.”
“Pulang ya, Pak, Bima.”
“Assalamualaikum.”
Bima yang sudah memegangi plastik untuk dibagikan, benar-benar terdiam kebingungan.
“Oh, iya ….” Ayah Bima sama bingungnya. “Terima kasih juga. Waalaikumsalam.” Kedua tangannya sambil mengatup.
Hamparan karpet di bawah tenda itu akhirnya sepi. Tinggal Bima dan ayahnya yang berdiri hening, serta Sekar yang masih diam terduduk. Kue-kue Sekar tak berpindah dan berkurang dari tempatnya semula. Hanya kulit jeruk dan gelas bekas air mineral yang berserakan di mana-mana.
“Sekar,” ujar Bima menghampiri, ikut duduk di karpet. Lelaki itu terkejut mendapati ternyata Sekar sudah menangis dengan wajah menunduk.
Ayah Bima tetap di titiknya berdiri, masih menyimak dalam diam.
“Bim ….” Sekar menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Bima mencoba menjelaskan. “Sekar, aku gak tau kenapa orang-orang—”
“Aku denger mereka,” sela gadis itu.
Other Stories
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...