Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
1.9K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Pak Joko

“Tanya apa ya, Den Raksa?” kata Pak Joko lagi.

“Hm, begini ….” Raksa terdiam sejenak, mencoba memikirkan kata yang tepat untuk menanyakan maksudnya.

Tanpa sadar, Raksa malah kelepasan melamun. Beberapa hari belakangan ini dia kembali kesulitan tidur malam. Lagi-lagi karena nama ‘Sekar’, tetapi Raksa masih belum bisa memastikan apakah Sekar yang sedang dipikirkannya ini adalah Sekar yang dia kenal atau bukan.

Tiga hari lalu sepulang dari Desa Alun usai tragedi ngerem mendadak yang dilakukan oleh Pak Joko, Raksa diam-diam meletakkan ponselnya di rak pintu mobil. Dalam mode senyap, dia mengaktifkan rekaman suara atau recorder. Barulah dia turun dan meninggalkan Pak Joko yang masih ada di dalam mobil ini.


BERENGSEK, MARNI, DAN SEKAR;
adalah tiga kata yang diucapkan Pak Joko dengan penuh emosi, seperti pria yang telah menjadi sopir pribadi keluarganya selama setahun terakhir ini tampak sangat frustrasi.

Ada banyak nama Sekar di negara ini, termasuk di Desa Alun, pikir Raksa mencoba menggunakan lebih banyak logika seperti biasanya. Namun, menghubungkan rekaman itu dengan bagaimana sikap Pak Joko yang selalu aneh dan gelisah setiap kali berkunjung ke Desa Alun, membuat Raksa menaruh curiga. Untuk pertama kalinya, perasaan lebih mendominasi dirinya.

“Den?” Suara Pak Joko membuyarkan lamunan Raksa.

“Eh, ya?”

Pak Joko menunjuk Nadia yang melambaikan tangannya di dekat pintu masuk toko grosir tersebut, memanggil Raksa dengan kode.

Raksa teralihkan dan langsung turun.

“Kenapa?” ujarnya agak keras.

“Bawain, barang!”

“Oh, oke-oke.” Raksa mengintip Pak Joko dari lubang jendela. “Saya ke sana dulu.”

“Ya, Den.” Pak Joko memperhatikan kepergian majikannya.

Selang beberapa saat kemudian, Raksa kembali muncul bersama Nadia dan Rani. Mereka membawa kardus di tangan masing-masing—Raksa bawa dua kotak bertumpuk. Itu adalah beberapa snack seperti biskuit, wafer, dan susu kotak mini. Serta, cadangan alat tulis kalau-kalau ada anak yang membutuhkannya. Kardus-kardus itu lalu diletakkan di bagasi.

Mereka mampir sebentar untuk makan sore di rumah makan Padang pinggir jalan. Kemudian, melanjutkan perjalanan. Mobil itu melajun santai, masih di sepanjang jalan raya kecil. Mereka hampir tiba di kawasan Desa Alun.

“Sa, ini kita numpang naro mobil di kios lagi?” tanya Nadia. “Kita bawa-bawa kardus, loh. Lumayan pegel juga kalo jalan kaki ke Balai Desa.”

Rani menimpal, “Nah, bener tuh. Apa mau gue WA Pak Rojali dulu, nanya baiknya gimana?”

Mata Raksa konsisten melihat lurus ke depan jalan, tetapi pikirannya mengawang-awang. Sedangkan, Pak Joko diam-diam terkejut usai mendengar Rani menyebut nama ‘Rojali’.

“Hm, menurut Pak Joko gimana?” tanya Raksa semakin membuat Pak Joko kaget.

“Eh, sa-saya, Den?”

“Lah, kenapa malah nanya Pak Joko, Sa?” Nadia sewot. “Ayo ih, putusin gimana?! Bentar lagi kita sampe depan gerbang Desa Alun ini.”

Rani mengerutkan kening. Gadis berjilbab itu adalah satu-satunya orang yang peka dengan keanehan sikap Raksa sejak mereka bertemu lagi pagi ini di kampus.

Raksa menghela napas. Otaknya berusaha berpikir cepat. Parkir di mana pun sebenarnya bukan masalah. Semalam, dia sudah mempertimbangkan untuk tetap menyelidiki lebih lanjut hubungan Pak Joko dengan seseorang bernama Sekar—dan Marni, yang kemungkinan besar juga tinggal di desa ini.

“Raksa!” seru Nadia. Menstruasi hari kedua membuatnya jadi gampang emosi.

Sorry-sorry. Iya, masuk aja.”

“Parkir di mana?” tanya Nadia lagi.

Raksa akhirnya menengok ke kursi belakang.

“Ran, coba WA Pak Rojali. Boleh gak kita parkir mobil persis di depan Balai Desa? Ada warga yang parkir kendaraannya juga gak di situ kalo malem?”

“Oke, Sa. Bentar.”

Menunggu balasan Pak Rojali, Raksa meminta Pak Joko untuk parkir sementara di dekat kios. Mesin mobil sudah dimatikan. 3 jendela telah dibuka setengah kaca, kecuali pintu Rani di kursi kanan belakang.

Dalam diam di antara sepoi angin, suara jalan raya yang hanya sesekali dilewati kendaraan, dan sedikit aktivitas warga lokal di kios itu, Raksa melirik tangan Pak Joko yang lagi-lagi saling menggosok pelan di kursi kemudi. Pria bermasker hitam itu terus menoleh ke luar jendela, seakan sedang berusaha menekan rasa gugup. Bagi Raksa, waktu setahun cukup untuk mengetahui karakter seseorang yang paling sederhana.

Sebagaimana yang pernah terjadi di beberapa bulan pertama saat Pak Joko mulai bekerja di rumahnya.

Pak Joko tanpa sengaja pernah menabrak bagian belakang mobil lain hingga membuat bemper mobil keluarga Raksa penyok. Di kesempatan lain adalah ketika ayah Raksa memarahinya gara-gara ada barang yang ketinggalan di tempat cuci steam mobil dan itu baru diketahui sehari kemudian. Saat terjebak pada situasi itu, Pak Joko menggosokkan kedua tangannya karena merasa takut dan tertekan.

“Bisa, Sa. Aman,” kata Rani tiba-tiba mengabarkan balasan WA dari Pak Rojali. “Kata Bapaknya, besok-besok setiap ngajar, parkir di depan Balai Desa aja.”

“Oke. Kita jalan sekarang, Pak Joko.”

“I-Iya, Den.” Mata Pak Joko membulat seraya kembali menyalakan mesin. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin padahal AC baru dinyalakan. Mobil itu pun mulai melaju, menyeberang jalan memasuk gerbang Desa/Kampung Alun.

Setiba di Balai Desa, Pak Joko ikut membantu menurunkan kardus-kardus dari dalam bagasi mobil selagi Raksa, Nadia, dan Rani sedang berbincang dengan Pak Rojali. Pak Joko berusaha keras agar wajahnya tak dikenali oleh Pak Rojali. Dahulu, mereka tetanggaan meski tak terlalu dekat.

Semuanya berlanjut bahu-membahu menata meja-meja kayu berukuran kecil di area balai. Mereka dapat pinjaman dari mushola. Tak banyak, tetapi Raksa yakin itu cukup.

Waktu Maghrib dan Isya pun berlalu.

Raksa dan lainnya kembali ke Balai Desa setelah ikut sholat berjamaah dan tadarus al-Qur’an di mushola. Mereka berjalan kaki bersama Pak Rojali. Setiba di sana, beberapa anak ternyata sudah ada yang datang. Sejauh ini didominasi oleh anak SD, menyusul SMP.

Rani dan Nadia langsung menyapa dan berbincang dengan anak-anak tersebut. Pak Rojali tampak membuka obrolan dengan orang tua yang ikut datang karena kepo. Sedangkan Raksa, diam-diam menantikan kehadiran Sekar.

“Dia dateng, kan?” katanya dalam hati.

Bak gayung bersambut, Sekar datang bersama Bima. Mereka membawa buku dan alat tulis di tangan masing-masing.

“Sekar, Bima!” panggil Raksa seraya mengangkat tangannya.

“Kak Raksa!” Sekar membalas, melambaikan tangan.

Sementara itu, Pak Joko telah memisahkan diri sejak dia selesai bantu-bantu. Dia bahkan solat maghrib duluan alih-alih berjamaah dan langsung kembali ke mobil dengan jendela yang dibiarkan separuh terbuka. Lututnya lemas sedari dia menginjakkan kaki di tanah Desa Alun.

Saat menyadari kedatangan Sekar dan Bima, mata Pak Joko terbelalak. Pupil matanya bergetar.

“Sekar … i-itu Sekar?” gumam Pak Joko lalu melepas masker hitam dari wajahnya.

Jantung pria itu berdetak tak karuan. Aliran darahnya seperti mengalir terlalu cepat, menciptakan uap panas yang menyeruak dari dalam tubuhnya sendiri. Waktu di sekelilingnya seolah bergerak lambat. Dia melihat Sekar tersenyum pada Raksa, pun sebaliknya. Wajah gadis itu tampak cantik dan manis.

6 tahun tanpa terasa telah berlalu. Putri kecilnya kini sudah beranjak dewasa.

Pak Joko tertunduk. Dia merasa tak punya hak melihat sosok Sekar yang sekarang. Anak gadisnya itu benar-benar telah tumbuh tanpa kasih sayang dan cinta darinya sebagai seorang ayah. Dia tahu, Sekar pasti telah banyak melewati kesulitan bersama ibunya setelah dirinya mencampakkan mereka.

“Maaf … maafin Ayah, Sekar.” Pak Joko berkata parau. Entah dirinya masih pantas atau tidak menyebut dirinya ‘ayah’.

Air matanya jatuh tak terbendung di antara kegelapan dalam mobil.


Other Stories
Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Download Titik & Koma