Tawaran-Tawaran Mengejutkan
Alih-alih tetap di dalam mobil, Pak Joko turun untuk cari angin sebentar. Kakinya terus melangkah di tanah yang bertahun-tahun tak dipijaknya ini. Namun tanpa sadar, dia tiba tepat di depan sebuah rumah dan lantas terhenti. Ada sebuah motor terparkir di halaman rumah yang sebenarnya familier tersebut. Serta, beberapa baju bayi yang tergantung di besi jemuran.
Suasana yang terasa berbeda jauh bahkan … asing.
“Apa?”
Pak Joko baru menyadari satu hal. Meski Sekar ada di desa ini, tetapi putrinya itu sudah tidak tinggal di rumah mereka yang lama.
***
Sementara itu, di Balai Desa.
Suasana tak sekaku yang dibayangkan. Meja-meja kayu itu sebagian telah diabaikan oleh si empunya. Rani bahkan membuat semacam lingkaran, membentuk koloninya sendiri dengan beberapa anak SD yang mengantri untuk berkonsultasi dengannya; mengerjakan PR dari sekolah masing-masing.
Nadia pun demikian, tetapi muridnya lebih banyak yang dari SMP. Tadinya, Rani yang memegang kelompok ini, tetapi karena gadis itu sudah lupa-lupa ingat dengan materi SMP, akhirnya mereka tukeran.
Di sisi lain, Raksa mendapat kelompok campuran. Ada anak SD, SMP, bahkan SMA—hanya 5 orang. Sekar dan Bima juga masuk tim Raksa. Semua belajar giat tetapi santai, bahkan sambil ngemil jajanan yang dibeli di toko grosir tadi sore.
Raksa tampak sedang mengajari seorang siswi SMP.
Sementara Sekar juga terlihat begitu fokus. Dia dan Bima mendapatkan naskah soal Ujian Nasional SD dari Raksa. Meski Sekar sudah lulus SD, dan soal itu lebih bermanfaat untuk Bima yang hanya sekolah sampai kelas 4, tetapi menurut Raksa, Sekar perlu mempelajari ulang sebelum masuk ke materi kelas 7 SMP.
Sekar mengerjakan sebuah soal tentang bangun ruang sambil bergumam dan menulis, “Jari-jari alas sebuah kaleng adalah 4 cm dan tinggi 12 cm. Jadi ….”
Tangannya menulis rumus menghitung luas permukaan tabung di buku tulisnya:
L = 2πr² + 2πrt
“Kak Raksa,” panggil Sekar.
“Ya, Sekar?” Raksa menoleh.
“Apa yang bedain Pi (π) 22/7 sama 3,4?”
Raksa tersenyum. “Sederhananya, Sekar, kalo angka jari-jari yang diketahui di soal kelipatannya tujuh. Misalnya 7, 14, 21. Lebih enak pake 22/7. Sebaliknya, di luar dari itu pake 3,4.”
“Oh, gitu ya.” Sekar manggut-manggut paham. “Makasih, Kak.”
Sekar lalu melirik Bima yang juga sedang memperhatikannya berbicara dengan Raksa. Bima terlihat asyik makan wafer—itu bungkus ketiga. Remahannya sampai ke baju-baju. Pandangan Sekar berpindah ke kertas soal milik Bima yang jawabannya masih kosong melompong. Lelaki itu belum mulai sama sekali.
“Bima! Makan mulu,” tegur Sekar, antara jengkel dan pengin ketawa.
“Ha?” Bima tetap mengunyah cuek. “Orang disediain, ya dimakanlah.”
Sekar geleng-geleng. Raksa hanya tersenyum tipis hingga Rehan tiba-tiba memanggilnya.
“Kak Raksa, mau nanya!” Rehan ada PR matematika dari sekolahnya. Bocah lelaki kelas 3 itu duduk persis di sebelah Sekar.
“Kak, kalo gambar yang ini, gimana?” Rehan menunjuk sebuah lingkaran yang dibagi menjadi empat bagian sama besar.
Raksa membaca soalnya sebentar lalu menjelaskan, “Jadi, Rehan diminta untuk mengarsir satu bagian dari lingkaran ini. Coba arsir dulu.”
“Satu ya, Kak,” jawab Rehan sambil mulai mengarsir dengan pensilnya. “Udah, Kak.”
“Sekarang tentuin bentuk pecahannya. Dari gambar itu, yang Rehan arsir ada berapa?”
“Satu.”
“Total semua bagian termasuk yang diarsir?”
“Ada empat, Kak.”
“Jadi, bentuk pecahannya?”
“Oh, iya. ¼ atau seperempat.”
“Nah, itu paham.”
Sekar menguping perbincangan mereka, lalu dia melirik tangan kecil Rehan yang sedang menulis jawaban di LKS-nya.
Sekar menimpal, “Rehan, anggep aja lingkaran itu donat meses buatanku yang sering kamu beli. Terus Mama kamu potong jadi empat bagian, dan satunya langsung kamu makan. Itu sama loh.”
Rehan bengong sejenak. Penjelasan Sekar lebih cepat masuk ke kepalanya.
“Iya juga ya, Kak Sekar.”
Raksa tertegun. “Keren Sekar. Kamu kayaknya cocok deh ngajar anak-anak.”
“Hehe, enggak, Kak.” Sekar mengelak malu-malu.
Rehan bertanya, “Kak, kenapa gak jualan kue lagi?”
Raksa terkejut. Dia melirik Sekar lagi, menanti jawaban.
Sekar menjawab, “Emang Rehan mau beli?”
“Maulah.” Rehan beralih ke soal berikutnya. “Donat lain yang Mama beli kemarin gak enak. Keras.”
Sekar tidak berkomentar lagi. Dia hanya tersenyum tipis sebelum lanjut menyelesaikan soal yang tadi. Raksa memperhatikan. Dia melihat tulisan tangan Sekar dan hasil jawabannya, diam-diam ikut mengoreksi.
= 2 × 3,14 × 4² + 2 x 3,14 × 4 × 12 = 401,92, сm²
Benar.
Waktu terasa bergulir cepat hingga tanpa terasa sudah pukul sembilan malam. Sesi belajar memang hanya 90 menit per pertemuan. Rani mewakili untuk memberi pesan kepada anak-anak agar kembali datang besok. Dia lalu menutup dengan mengucapkan terima kasih.
Anak-anak itu pun bubar.
Sekar dan Bima juga hendak bersiap pulang. Namun ….
“Sekar,” panggil Raksa. “Boleh ngobrol sebentar?”
“Oh, iya, Kak. Boleh.” Sekar menoleh pada Bima. “Sebentar ya, Bim.”
“Hm.”
Bima lalu memperhatikan Sekar melangkah menghampiri Raksa. Matanya lalu beralih ke titik lain. Terlihat Rani dan Nadia sedang merapikan meja dan membersihkan sampah jajanan yang berserakan. Bima langsung bergerak ikut membantu memungutinya.
“Eh, makasih ya, Bima,” kata Rani.
Sementara itu ….
“Data diri?” tanya Sekar. “Buat apa, Kak?”
“Hm, saya rencananya mau bantu kamu ambil ujian Paket B. Ujian yang setara dengan Ujian Nasional tingkat SMP. Berhubung, seharusnya kamu udah kelas 2 SMA, kan?”
Sekar mengangguk pelan. Dia masih mencerna baik-baik tawaran Raksa. Bagaimanapun, ini terlalu mendadak baginya.
“Sekar, bener-bener serius kan mau menyelesaikan pendidikan?” tanya Raksa lagi.
“Hm, iya sih, Kak. Tapi, Sekar sebenernya nggak maksa juga.” Sekar sadar diri dengan situasinya yang serba terbatas ini.
Raksa tersenyum. Dia mengerti maksud Sekar.
“Mau coba dulu? Saya akan dampingin kamu seenggaknya sampe dapet ijazah SMP.”
Sekar terkesan dengan niat baik Raksa.
“Uh, kenapa Kak Raksa mau bantu Sekar?”
“Apa menolong orang lain harus beralasan, Sekar?”
Sekar makin tertegun. Dia bahkan bingung dengan perasaannya sendiri. Ada senang bercampur khawatir dirinya tidak mampu.
“Gak usah buru-buru, Sekar. Dipikirin dulu aja. Tapi, yang namanya kesempatan itu baiknya dimanfaatkan, kan?” Raksa bicara lagi.
“Iya, Kak.” Sekar bahkan sudah berpikir keras sekarang.
“Kamu juga bisa bujuk Bima supaya dia mau ambil ujian Paket A untuk tingkat SD. Kalau kalian bersedia, nanti kita siapin sama-sama berkasnya. Saya perlu pas photo terbaru, Kartu Keluarga, dan akta kelahiran. Khusus Sekar, disiapin juga ijazah SD-nya. Pokoknya, kamu sama Bima gak perlu pikirin biaya.”
Sekar mengangguk mengerti. “Kak, sebelumnya terima kasih banyak ya.” Gadis itu tersenyum.
“Sama-sama, Sekar. Sampe ketemu besok ya.” Raksa membalas senyuman itu.
Sekar dan Bima pun pamit pulang. Selama berjalan kaki bersama, Sekar menyampaikan pesan dari Raksa kepada Bima. Bima tentu saja terkejut. Dia tak menyangka Raksa akan bertindak sampai sejauh itu untuk mereka.
***
Keesokan harinya, Sekar mendatangi rumah Bima.
“Assalamualaikum.”
Sekar membawa piring berisi sesuatu yang ditutupi selembar tisu. Tak lama, seseorang menjawab salamnya dari dalam rumah itu.
“Waalaikumsalam. Eh, Sekar toh,” kata ayah Bima. “Bawa apaan tuh?” Hidungnya sudah menangkap aroma khas gorengan.
“Pisang goreng, Pakde. Uh, Pakde mau?” Sekar sengaja bertanya mengingat kejadian tempo hari ketika orang-orang tak mau memakan kuenya di acara tahlilan 40 harian ibu Bima.
“Maulah, kalo gratis.”
Sekar dan ayah Bima terkekeh bersama. Sekar sekalian mengucapkan terima kasih karena ayah Bima sudah banyak membantunya. Pria itu lalu duduk di kursi depan rumah.
“Sekar, jadinya stop bikin kue apa libur dulu?” Dia mencomot satu pisang goreng dan mengunyahnya. Itu masih hangat. Kulitnya garing. Pisang di dalamnya juga pulen dan manis. “Ya begitulah, Sekar. Kalo kita punya bisnis ada aja orang yang gak suka. Tapi, jangan jadiin alasan buat nyerah. Kue-kue kamu enak, kok.”
“Makasih, Pakde. Hm, soal itu Sekar belum tau. Tapi kalo pun jualan kue lagi, paling ke luar desa.”
Ayah Bima berkata lagi, “Ikut Bima nyari barang loak aja, gih. Tar Pakde bayar. Tenang aja.”
“Eh?” Sekar terbelalak.
Sedari kemarin, ada saja tawaran-tawaran yang bikin kaget.
Suasana yang terasa berbeda jauh bahkan … asing.
“Apa?”
Pak Joko baru menyadari satu hal. Meski Sekar ada di desa ini, tetapi putrinya itu sudah tidak tinggal di rumah mereka yang lama.
***
Sementara itu, di Balai Desa.
Suasana tak sekaku yang dibayangkan. Meja-meja kayu itu sebagian telah diabaikan oleh si empunya. Rani bahkan membuat semacam lingkaran, membentuk koloninya sendiri dengan beberapa anak SD yang mengantri untuk berkonsultasi dengannya; mengerjakan PR dari sekolah masing-masing.
Nadia pun demikian, tetapi muridnya lebih banyak yang dari SMP. Tadinya, Rani yang memegang kelompok ini, tetapi karena gadis itu sudah lupa-lupa ingat dengan materi SMP, akhirnya mereka tukeran.
Di sisi lain, Raksa mendapat kelompok campuran. Ada anak SD, SMP, bahkan SMA—hanya 5 orang. Sekar dan Bima juga masuk tim Raksa. Semua belajar giat tetapi santai, bahkan sambil ngemil jajanan yang dibeli di toko grosir tadi sore.
Raksa tampak sedang mengajari seorang siswi SMP.
Sementara Sekar juga terlihat begitu fokus. Dia dan Bima mendapatkan naskah soal Ujian Nasional SD dari Raksa. Meski Sekar sudah lulus SD, dan soal itu lebih bermanfaat untuk Bima yang hanya sekolah sampai kelas 4, tetapi menurut Raksa, Sekar perlu mempelajari ulang sebelum masuk ke materi kelas 7 SMP.
Sekar mengerjakan sebuah soal tentang bangun ruang sambil bergumam dan menulis, “Jari-jari alas sebuah kaleng adalah 4 cm dan tinggi 12 cm. Jadi ….”
Tangannya menulis rumus menghitung luas permukaan tabung di buku tulisnya:
L = 2πr² + 2πrt
“Kak Raksa,” panggil Sekar.
“Ya, Sekar?” Raksa menoleh.
“Apa yang bedain Pi (π) 22/7 sama 3,4?”
Raksa tersenyum. “Sederhananya, Sekar, kalo angka jari-jari yang diketahui di soal kelipatannya tujuh. Misalnya 7, 14, 21. Lebih enak pake 22/7. Sebaliknya, di luar dari itu pake 3,4.”
“Oh, gitu ya.” Sekar manggut-manggut paham. “Makasih, Kak.”
Sekar lalu melirik Bima yang juga sedang memperhatikannya berbicara dengan Raksa. Bima terlihat asyik makan wafer—itu bungkus ketiga. Remahannya sampai ke baju-baju. Pandangan Sekar berpindah ke kertas soal milik Bima yang jawabannya masih kosong melompong. Lelaki itu belum mulai sama sekali.
“Bima! Makan mulu,” tegur Sekar, antara jengkel dan pengin ketawa.
“Ha?” Bima tetap mengunyah cuek. “Orang disediain, ya dimakanlah.”
Sekar geleng-geleng. Raksa hanya tersenyum tipis hingga Rehan tiba-tiba memanggilnya.
“Kak Raksa, mau nanya!” Rehan ada PR matematika dari sekolahnya. Bocah lelaki kelas 3 itu duduk persis di sebelah Sekar.
“Kak, kalo gambar yang ini, gimana?” Rehan menunjuk sebuah lingkaran yang dibagi menjadi empat bagian sama besar.
Raksa membaca soalnya sebentar lalu menjelaskan, “Jadi, Rehan diminta untuk mengarsir satu bagian dari lingkaran ini. Coba arsir dulu.”
“Satu ya, Kak,” jawab Rehan sambil mulai mengarsir dengan pensilnya. “Udah, Kak.”
“Sekarang tentuin bentuk pecahannya. Dari gambar itu, yang Rehan arsir ada berapa?”
“Satu.”
“Total semua bagian termasuk yang diarsir?”
“Ada empat, Kak.”
“Jadi, bentuk pecahannya?”
“Oh, iya. ¼ atau seperempat.”
“Nah, itu paham.”
Sekar menguping perbincangan mereka, lalu dia melirik tangan kecil Rehan yang sedang menulis jawaban di LKS-nya.
Sekar menimpal, “Rehan, anggep aja lingkaran itu donat meses buatanku yang sering kamu beli. Terus Mama kamu potong jadi empat bagian, dan satunya langsung kamu makan. Itu sama loh.”
Rehan bengong sejenak. Penjelasan Sekar lebih cepat masuk ke kepalanya.
“Iya juga ya, Kak Sekar.”
Raksa tertegun. “Keren Sekar. Kamu kayaknya cocok deh ngajar anak-anak.”
“Hehe, enggak, Kak.” Sekar mengelak malu-malu.
Rehan bertanya, “Kak, kenapa gak jualan kue lagi?”
Raksa terkejut. Dia melirik Sekar lagi, menanti jawaban.
Sekar menjawab, “Emang Rehan mau beli?”
“Maulah.” Rehan beralih ke soal berikutnya. “Donat lain yang Mama beli kemarin gak enak. Keras.”
Sekar tidak berkomentar lagi. Dia hanya tersenyum tipis sebelum lanjut menyelesaikan soal yang tadi. Raksa memperhatikan. Dia melihat tulisan tangan Sekar dan hasil jawabannya, diam-diam ikut mengoreksi.
= 2 × 3,14 × 4² + 2 x 3,14 × 4 × 12 = 401,92, сm²
Benar.
Waktu terasa bergulir cepat hingga tanpa terasa sudah pukul sembilan malam. Sesi belajar memang hanya 90 menit per pertemuan. Rani mewakili untuk memberi pesan kepada anak-anak agar kembali datang besok. Dia lalu menutup dengan mengucapkan terima kasih.
Anak-anak itu pun bubar.
Sekar dan Bima juga hendak bersiap pulang. Namun ….
“Sekar,” panggil Raksa. “Boleh ngobrol sebentar?”
“Oh, iya, Kak. Boleh.” Sekar menoleh pada Bima. “Sebentar ya, Bim.”
“Hm.”
Bima lalu memperhatikan Sekar melangkah menghampiri Raksa. Matanya lalu beralih ke titik lain. Terlihat Rani dan Nadia sedang merapikan meja dan membersihkan sampah jajanan yang berserakan. Bima langsung bergerak ikut membantu memungutinya.
“Eh, makasih ya, Bima,” kata Rani.
Sementara itu ….
“Data diri?” tanya Sekar. “Buat apa, Kak?”
“Hm, saya rencananya mau bantu kamu ambil ujian Paket B. Ujian yang setara dengan Ujian Nasional tingkat SMP. Berhubung, seharusnya kamu udah kelas 2 SMA, kan?”
Sekar mengangguk pelan. Dia masih mencerna baik-baik tawaran Raksa. Bagaimanapun, ini terlalu mendadak baginya.
“Sekar, bener-bener serius kan mau menyelesaikan pendidikan?” tanya Raksa lagi.
“Hm, iya sih, Kak. Tapi, Sekar sebenernya nggak maksa juga.” Sekar sadar diri dengan situasinya yang serba terbatas ini.
Raksa tersenyum. Dia mengerti maksud Sekar.
“Mau coba dulu? Saya akan dampingin kamu seenggaknya sampe dapet ijazah SMP.”
Sekar terkesan dengan niat baik Raksa.
“Uh, kenapa Kak Raksa mau bantu Sekar?”
“Apa menolong orang lain harus beralasan, Sekar?”
Sekar makin tertegun. Dia bahkan bingung dengan perasaannya sendiri. Ada senang bercampur khawatir dirinya tidak mampu.
“Gak usah buru-buru, Sekar. Dipikirin dulu aja. Tapi, yang namanya kesempatan itu baiknya dimanfaatkan, kan?” Raksa bicara lagi.
“Iya, Kak.” Sekar bahkan sudah berpikir keras sekarang.
“Kamu juga bisa bujuk Bima supaya dia mau ambil ujian Paket A untuk tingkat SD. Kalau kalian bersedia, nanti kita siapin sama-sama berkasnya. Saya perlu pas photo terbaru, Kartu Keluarga, dan akta kelahiran. Khusus Sekar, disiapin juga ijazah SD-nya. Pokoknya, kamu sama Bima gak perlu pikirin biaya.”
Sekar mengangguk mengerti. “Kak, sebelumnya terima kasih banyak ya.” Gadis itu tersenyum.
“Sama-sama, Sekar. Sampe ketemu besok ya.” Raksa membalas senyuman itu.
Sekar dan Bima pun pamit pulang. Selama berjalan kaki bersama, Sekar menyampaikan pesan dari Raksa kepada Bima. Bima tentu saja terkejut. Dia tak menyangka Raksa akan bertindak sampai sejauh itu untuk mereka.
***
Keesokan harinya, Sekar mendatangi rumah Bima.
“Assalamualaikum.”
Sekar membawa piring berisi sesuatu yang ditutupi selembar tisu. Tak lama, seseorang menjawab salamnya dari dalam rumah itu.
“Waalaikumsalam. Eh, Sekar toh,” kata ayah Bima. “Bawa apaan tuh?” Hidungnya sudah menangkap aroma khas gorengan.
“Pisang goreng, Pakde. Uh, Pakde mau?” Sekar sengaja bertanya mengingat kejadian tempo hari ketika orang-orang tak mau memakan kuenya di acara tahlilan 40 harian ibu Bima.
“Maulah, kalo gratis.”
Sekar dan ayah Bima terkekeh bersama. Sekar sekalian mengucapkan terima kasih karena ayah Bima sudah banyak membantunya. Pria itu lalu duduk di kursi depan rumah.
“Sekar, jadinya stop bikin kue apa libur dulu?” Dia mencomot satu pisang goreng dan mengunyahnya. Itu masih hangat. Kulitnya garing. Pisang di dalamnya juga pulen dan manis. “Ya begitulah, Sekar. Kalo kita punya bisnis ada aja orang yang gak suka. Tapi, jangan jadiin alasan buat nyerah. Kue-kue kamu enak, kok.”
“Makasih, Pakde. Hm, soal itu Sekar belum tau. Tapi kalo pun jualan kue lagi, paling ke luar desa.”
Ayah Bima berkata lagi, “Ikut Bima nyari barang loak aja, gih. Tar Pakde bayar. Tenang aja.”
“Eh?” Sekar terbelalak.
Sedari kemarin, ada saja tawaran-tawaran yang bikin kaget.
Other Stories
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...