Gadis Loak & Dua Pelita

Reads
1.9K
Votes
2
Parts
17
Vote
Report
Gadis loak & dua pelita
Gadis Loak & Dua Pelita
Penulis Indira Isvandiary

Ngeloak Bareng

Keesokan harinya, Bima menjemput Sekar.

Tin!

Sekar yang sudah selesai memandikan dan memberi sarapan ibunya, lantas segera pamit. “Bu, Sekar berangkat dulu ya.” Dia menyalami ibunya yang duduk bersandar bantal di ranjang. “Sekar usahain pulang cepet. Assalamualaikum.”

Gadis itu melangkah meninggalkan kamar ibunya, lalu beranjak keluar rumah. Sesuai perkataan Bima semalam, hari ini lelaki bertopi itu menggunakan gerobak motor yang biasa digunakan ayahnya. Gerobak panjang beroda dua itu terhubung langsung di belakang motor bebek tersebut.

“Siap?” tanya Bima.

“Siap, dong!” Sekar mengangguk tersenyum. Dia lalu naik dan duduk di kursi bonceng.

Sekar dan Bima mulai berkeliling. Selain menyisir desa sendiri, mereka berencana mengunjungi desa sebelah. Sepanjang perjalanan santai itu, keduanya saling bergantian berseru, “Barang bekas, barang bekasnya, Bu … Pak, barang bekas.”

Sekar terlihat senang, karena ini seperti jalan-jalan baginya.

“Bim, berarti Pakde pake gerobak yang biasa kamu pake ya?” tanya Sekar.

“Iya, Kar. Tukeran. Tapi hari ini Bapak gak jalan, males katanya. Aku curiga, kayaknya Bapak mau pensiun makanya sengaja minta kamu ikut aku ngeloak gantiin dia, haha. Nanti jangan kaget kalo tiba-tiba Bapak nyuruh kamu bawa gerobak sendiri.” Bima terkekeh meledek Sekar.

“Bima ….” Sekar kehilangan kata-kata.

Seorang bapak-bapak dari desa sebelah memanggil. Bima menghentikan gerobak motornya. Pria itu meminta Bima mengangkut sebuah TV jadul.

Sekar ikut turun, memperhatikan.

“Rusak, Pak?” tanya Bima.

“Iya, mati total. Mau saya singkirin gak sempet-sempet. Mau ta' service, udah tanya-tanya, malah jadi kena mahal. Emang udah disuruh ganti kayaknya ama yang layar tipis. Udah beli, sih hehe~” katanya cengengesan sekalian pamer.

Bima ikut terkekeh. “Saya kenain 5.000, mau?”

“Hehe.” Bapak itu garuk-garuk kepala. “50.000 gak bisa ya?”

“Gak bisa, Pak, kan udah rusak berat~”

“Iya sih, hehe. Ya udah, angkut aja dah.” Bapak itu sebenarnya juga cuman iseng menyebut nominal barusan. Kalau Bima iyakan, lumayan buat jajan bakso orang-orang di rumah.

Bima mengucapkan terima kasih. Kemudian, memindahkan TV konde itu ke dalam gerobaknya, lalu melanjutkan perjalanannya bersama Sekar

Di perjalanan, Sekar bertanya, “Aku baru tau, kalo kamu juga harus bayar ke orang yang ngasih barang bekas, Bim.”

“Gak semua kok, Sekar. Sesuai kondisi barang dan kesepakatan aja. Dan aku gak pernah ngasih lebih dari 20.000. Namanya barang bekas ya, sama aja mereka nyuruh kita buangin tanpa dibayar.”

“Gitu ya.”

Sekar dan Bima diberhentikan lagi oleh seorang ibu-ibu. Kali ini, mereka dapat sepatu anak-anak bekas, 2 pasang. Karena ini hari pertama Sekar, Bima memutuskan untuk mereka pulang lebih awal. Dia kepikiran ibunya Sekar. Lelaki itu lalu mengantar Sekar sampai ke depan rumah.

“Gimana, Kar? Seru, kan?” tanya Bima.

“Asyik, sih.” Sekar nyengir. “Kalo besok aku mau ikut lagi, boleh gak, Bim?”

“Bolehlah! Eh, tapi besok kita gak keliling, Kar. Jadwalku nyortir. Dateng aja ke rumah ya. Siangan juga gapapa. Pokoknya abis kamu kelar ngurus Ibu.”

“Oke deh.” Sekar memberi jempolnya. “Nanti malem kamu ke Balai Desa lagi, kan?”

Bima sebenarnya malas, tetapi dia mengangguk. “Bareng ya. Aku samper kamu lagi nanti, kayak kemarin.”

Sekar mengiyakan. Bima pun pamit pulang.

***

Sesuai kesepakatan, esoknya Sekar berkunjung ke rumah Bima sekitar pukul 10 pagi. Sekar tak datang dengan tangan kosong. Dia menyempatkan diri untuk membuat roti goreng isi gula, membawa sebanyak 6 bulatan dengan wadah yang dia dapatkan dari rumah loak Bima beberapa waktu lalu.

“Assalamualaikum.”

Terlihat Bima sudah duduk ngejogrog di depan rumah. Dia sedang membongkar TV jadul yang mereka dapat kemarin.

“Waalaikumsalam, Sekar. Eh … kamu bawa apaan itu?” Bima langsung menghentikan pekerjaannya. Matanya menyala melihat Sekar membawa sesuatu. “Kamu bikin kue lagi, Kar?”

“Iseng aja. Nih, sarapan dulu.”

Sekar membuka wadah itu. Bima langsung terkesima melihat roti goreng berwarna keemasan. Rasanya seperti sudah lama sekali dia tidak makan kue buatan Sekar.

“Hoaaa~” Tangannya langsung nyomot satu bola roti goreng. Sebenarnya, Bima sudah makan lontong sayur dari abang yang lewat tadi, tetapi perutnya masih lapar. “Enak, Sekar.”

“Pakde mana, Bim?” Sekar celingukan ke arah pintu rumah Bima.

“Oh, Bapak lagi nginep, Kar. Semalem berangkat abis Maghrib. Mbak lahiran.”

“Wah, selamat ya Bim, kamu jadi Om, dong?”

Bima hanya terkekeh.
Dia memiliki seorang kakak perempuan yang sudah menikah dan tinggal di sebuah kavling yang perjalanannya dari sini sebenarnya tak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam.

“Terus, kamu gak jenguk?” tanya Sekar.

“Nanti, dah. Gampang.”

Setelah beres makan roti goreng 3 bulatan, Bima mengajarkan Sekar bagaimana proses memisahkan komponen-komponen penting dari dalam sebuah elektronik bekas untuk diambil dan dijual lagi ke pengepul.

Sekar memperhatikan tangan Bima yang memegang cutter, menyimak dengan saksama penjelasan lelaki itu.

“Liat nih, Sekar. Kalo kabel kayak gini, kulit luarnya kan plastik. Nah, dalemnya ada tembaganya. Tembaganya ini bisa dihargain lebih mahal. Jadi, kita kupas dikit, baru pisahin dari kabelnya.”

Tangan Bima tampak sudah lihai. Selain cutter, lelaki itu juga menggunakan tang.
“Ati-ati jangan sampe kena jari.”

“Keren, Bima.” Sekar terkesima. Itu pekerjaan yang sangat membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian.

“Mo liat yang lain? Komponen kipas angin rusak yang kemaren duduk sebelahan ama kamu pas naek gerobak? Haha.” Bima sekalian ngeledek Sekar.

Sekar mendengus. “Mana?”

“Sini.”

Bima bergeser ke bongkaran kipas angin di sisi yang lain. Sekar mengikuti dan kembali memperhatikan apa yang Bima lakukan dan jelaskan.

“Kalo di kipas angin, di dalam motornya ada lilitan kawat tembaga, kadang juga aluminium. Bingkai luarnya biasanya besi. Tembaga, aluminium, sama besi ini harganya beda, makanya kita harus pisahin karungnya,” jelas Bima. Beberapa sudah ada yang dia kerjakan.

Sekar manggut-manggut. “Terus, kalau udah dipisahin?”

“Kumpulin dulu ampe banyak. Nanti kita iket rapi, masukin ke karung. Pengepul suka banget kalo udah dipisahin gini. Harganya bisa naik, Kar. Soalnya tembaga paling mahal, aluminium sedang, besi paling murah. Gitu dah kira-kira.”

Sekar mencoba mempraktikkannya sendiri. Dia mengupas kabel dengan cutter, tapi terlalu kasar sehingga kawatnya ikut tergores. Bima segera membantunya.

“Pelan-pelan, Kar. Kabelnya jangan diteken, iris tipis aja biar plastiknya kebuka.”

“Oh, gitu ya…” Sekar sampai mengerungkan dahi saking fokusnya, lalu kembali mencoba dengan hati-hati.
“Bim, ini kan belom banyak, berarti belom bisa pergi ke pengepul ya? Aku penasaran."

“Iya, Kar. Paling lusa deh sampe aku beres pretelin. Mau ikut?”

“Beneran?” Sekar tampak antusias

Bima mengangguk. “Benerlah.”

“Yeay!”

Bima melanjutkan pekerjaannya pada elektronik-elektronik itu. Sedangkan Sekar membantu merapikan kardus, dan semua yang tampak berantakan di rumah loak Bima.

***

Di hari lainnya, Sekar dan Bima mengunjungi pengepul. Mereka membawa hasil bongkaran kipas angin dan TV jadul yang tempo hari.

“Pak, ini ada besi, kabel tembaga, sama aluminium. Minta ditimbang dulu, yak,” kata Bima usai menurunkan karung yang dia bawa dari gerobak motor.

“Oke.” Pengepul mengangguk, lalu menaruh bongkaran itu di timbangan besar. Jarumnya bergerak.

Hasilnya ada sekitar 6 kg besi, 1 kg tembaga, dan 0,5 kg aluminium.

Sekar memperhatikan dengan saksama bagaimana Bima bertransaksi dengan pengepul itu.

Sang pengepul menghitung cepat sambil menyebut harga satuan.

“Besi dua ribu per kilo. Kabel tembaga empat puluh ribu per kilo. Aluminium sepuluh ribu per kilo.”

Pengepul itu berlanjut menuliskan hitungan di kertas:
Besi: 6 kg × Rp2.000 = Rp12.000
Kabel tembaga: 1 kg × Rp40.000 = Rp40.000
Aluminium: 0,5 kg × Rp10.000 = Rp5.000

“Totalnya lima puluh tujuh ribu,” kata pengepul sambil menyerahkan uang tunai ke Bima.

“Oke, makasih, Pak.” Bima menerimanya.

Sekar terpukau.

***

Hampir sepekan berlalu, Sekar menekuni aktivitas-aktivitas baru setelah dia vakum berjualan kue. Pagi setelah mengurus ibunya, dia berangkat mencari barang bekas bersama Bima. Kemudian malamnya, berlanjut belajar bersama Raksa dan lainnya di Balai Desa.

Malam ini, setelah mempertimbangkan banyak hal dan rasa semangat dalam dirinya yang sedang menggebu-gebu, Sekar berangkat lebih awal ke Balai Desa untuk bicara dengan Raksa. Dia pergi tanpa Bima. Bima hari ini izin tidak masuk, karena dia harus mengunjungi kakak dan keponakan barunya.

Other Stories
Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Testing

testing ...

Download Titik & Koma