Pengakuan
Pas sekali, Raksa baru kembali dari mushola bersama Rani dan Nadia. Balai Desa kebetulan terlihat masih sepi. Seperti seleksi alam, beberapa anak sudah mulai molor datangnya, beberapa ada yang sering bolos, bahkan ada juga yang tak datang lagi.
“Eh, Sekar udah dateng!” seru Rani seraya menghampiri Sekar yang sudah duduk lesehan di belakang salah satu meja kayu. Dia ikutan duduk. Yang lainnya menyusul.
“Hai, Kak Rani,” sekar menyapa. Matanya lalu melirik Raksa dan Nadia secara bergantian, lalu menyapa mereka juga.
“Tumben sendiri. Bima mana?” tanya Nadia.
Sekar pun menjelaskan.
Kemudian, Sekar berkata pada Raksa. “Kak, aku mau kasih persyaratan yang Kak Raksa minta.”
Sekar lalu menyerahkan beberapa dokumen kepada Raksa untuk mendaftar sebagai peserta belajar sebelum mengikuti ujian kesetaraan Paket B tingkat SMP.
Rani dan Nadia yang sudah tahu, terlihat senang.
“Wah, Sekar semangat banget ya mau lanjut sekolah.” Nadia tersenyum lebar.
Sekar tersenyum malu-malu.
Raksa menerimanya, lalu mengecek dokumen yang Sekar berikan. Itu adalah ijazah SD, Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran. Semuanya asli karena Sekar tidak memiliki salinannya.
Mata Raksa membaca daftar nama anggota keluarga di lembar KK tersebut. Dia lalu menemukan nama seseorang yang tentu saja dia kenal.
JOKO WIBOWO.
Sopir pribadinya.
Raksa seharusnya terkejut, atau setidaknya memberikan reaksi dramatis. Namun, Pak Joko sudah mengakui siapa dirinya yang sebenarnya pada Raksa bahkan tanpa diminta; bahwa pria tersebut adalah ayah kandung Sekar.
Pikiran Raksa terbawa mundur ke beberapa hari lalu.
***
“Saya mohon, Den Raksa.”
Pak Joko melirih. Dia panik setelah mengetahui rumah lamanya bersama sang mantan istri sudah ditempati orang lain. Pikirannya seketika kosong. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berkata jujur bahwa salah satu peserta murid belajar di Balai Desa adalah putrinya, Sekar.
“Saya mau tahu, Sekar tinggal di mana sekarang,” lanjut Pak Joko memelas pada Raksa agak dibantu. Sebab, pergerakannya di desa ini sangat terbatas. Dia bahkan lebih banyak duduk bersembunyi di mobil karena menghindari bertemu mata dengan Pak Rojali dan warga lain yang masih suka datang untuk melihat kegiatan belajar di sana setiap malam.
Saat itu, keduanya berbicara empat mata di dekat moncong mobil sebelum pulang. Yang lainnya masih rapi-rapi di Balai Desa.
Mendengar pengakuan itu, tentu saja Raksa terkejut. Selama hidup, dia hampir tak pernah merasakan jantungnya berdetak tak terkendali. Dia berusaha menghidupkan logika yang biasanya selalu mendominasi dirinya.
Akhirnya, Raksa mengeluarkan ponselnya, lalu memutar rekaman suara Pak Joko tempo hari.
BERENGSEK. MARNI. SEKAR.
“Saya udah tahu,” kata Raksa sok santai.
Pak Joko membulatkan matanya. Pupilnya bergetar. Pria itu lalu menurunkan masker yang menutupi wajahnya.
Raksa berkata lagi, “Maaf karena saya udah lancang ngerekam suara Pak Joko diam-diam, tapi melihat gerak-gerik Bapak yang mencurigakan akhir-akhir ini, saya merasa perlu mencari tahu. Soalnya, ini berhubungan sama kinerja Bapak yang ikut-ikutan menurun. Bapak bawa mobil, bawa nyawa orang.”
Pak Joko tertunduk, dia mengakui kelalaiannya. “Saya minta maaf, Den Raksa.”
“Terus, apa rencana Pak Joko? Bapak mau nemuin Sekar?”
Wajah Pak Joko terangkat lagi. Dia menggeleng cepat. “Nggak, Den! Saya nggak bisa! Saya …..”
Pak Joko terhenti. Sementara Raksa mencoba menjadi lebih manusiawi. Ini mungkin situasi yang bukan hanya sulit bagi Sekar dan ibunya, tetapi juga bagi Pak Joko. Berhubung, Raksa sudah mengetahui gambaran masa lalu dan hubungan rumit keluarga ini dari Pak Rojali.
Di sisi lain, sampai detik ini, Raksa belum tahu persis bagaimana kehidupan pribadi Pak Joko dengan keluarga barunya. Sejak datang sekitar setahun lalu dan menjadi sopir pribadi di rumahnya, Pak Joko memilih untuk tetap tinggal. Dia tak pernah pulang kampung, bahkan di hari cuti atau hari raya besar.
Raksa berniat bertanya pada orang tuanya tentang latar belakang Pak Joko. Namun, karena perkuliahannya kian sibuk, dia jadi tak sempat-sempat.
“Pak Joko, saya gak mau mencampuri urusan Bapak sama Sekar. Tapi, saya gak akan nolak semisal Bapak minta bantuan saya dengan catatan … ‘tidak’ menyakiti hati Sekar dan ibunya lagi, atau menimbulkan potensi keributan lainnya.”
Mendengar pernyataan Raksa, Pak Joko terhenyak seolah majikannya tahu betapa buruknya dia bagi kedua wanita itu.
“Den Raksa … apa … Sekar cerita sama Aden soal saya?” tanya Pak Joko gugup.
Raksa menggeleng.
“Sekar gak pernah sedikit pun menyinggung nama Pak Joko ke saya. Tapi, sejauh yang saya sadari, rekam jejak Pak Joko udah bukan rahasia lagi di desa ini. Pak Rojali cerita semuanya, tentang; sosok ayah Sekar yang mencampakkan keluarganya. Bagaimana orang-orang kadang memandang sentimen Sekar dan ibunya.”
Pak Joko tertunduk lagi. Dia seharusnya tidak perlu bertanya. Dia tahu bagaimana mulut tajam orang-orang di kampung ini.
“Den, saya mau tahu mereka tinggal di mana sekarang ….” Pak Joko kembali ke pertanyaan pertamanya.
“Itu aja? Di RT belakang. Informasi dari Pak Rojali juga, Sekar dan ibunya terpaksa jual murah rumah lama buat nyambung hidup,” jelas Raksa apa adanya. “Saya sama Nadia Rani pernah mampir sebentar. Saya … gak mau menilai buruk, tapi ….”
Raksa agak ragu menyampaikan maksudnya karena takut menyinggung perasaan Pak Joko. Ditambah, dia juga tak tahu bagaimana rumah keluarga mereka yang sebelumnya.
“Intinya, Sekar dan ibunya tinggal di … tempat yang … lingkungannya kurang nyaman,” lanjut Raksa.
Pak Joko merasa dirinya sangat kecil dan tak berdaya. Dia tahu bagaimana lingkungan di RT belakang. Dia juga mengerti apa yang Raksa coba sampaikan.
“Bapak tahu ibunya Sekar sakit-sakitan? Kejiwaannya terganggu?” tanya Raksa tiba-tiba.
Pak Joko terbelalak lagi. “Nggak, Den. Saya baru tahu dari Aden ini.” Tangan pria itu sampai gemetar kecil.
Raksa mengangguk pelan. “Itu yang saya dengar. Saya belom sempet jenguk juga.”
Pak Joko menjatuhkan dirinya ke tanah. Lututnya lemas. Dia meratap.
Raksa hanya memperhatikan. Sejujurnya dia tak mau melibatkan diri terlalu jauh, tetapi hatinya tak bisa bohong. Ada iba bercampur amarah yang diam-diam memercik di hatinya.
***
“Raksa!” Nadia menyenggol lengan Raksa yang malah bengong. “Awas kesambet, ih! Malem-malem, juga!”
“Sorry-sorry,” ujar Raksa mengusap wajahnya.
Rani tak berkomentar. Dia tahu, apa yang sedang Raksa pikirkan sampai melamun begitu apalagi melihat tangan lelaki itu sambil memegang lembar KK milik Sekar.
Sebenarnya, di malam saat Raksa dan Pak Joko berbincang, Rani yang tadinya mau ke mobil, segera menahan langkahnya, dan justru menguping pembicaraan dua pria itu. Namun, hingga kini Rani masih menyimpannya sendiri. Dia terlalu syok, bahkan sampai tak tidur hingga pagi.
Sementara Sekar sedari tadi terus menatap wajah Raksa yang tampak banyak pikiran. Dia membatin, “Kak Raksa kenapa? Kecapean kali ya?”
Raksa lalu mengembalikan Akta Kelahiran Sekar. “Saya ambil KK dan Ijazah SD-nya aja, Sekar. Oh ya, kalo Bima gimana?”
Sekar mendengus.
“Bima bilang, dia belum mau, Kak.”
Akhirnya, Bima sudah memutuskan meski sebenarnya lelaki itu sangat ingin berjuang bersama Sekar. Namun, ternyata hati benar-benar tak bisa dipaksakan. Belajar dan sekolah saat ini bukanlah prioritasnya.
“Begitu, ya.” Raksa manggut-manggut. Kemudian, mengeluarkan ponselnya. “Saya izin minta foto close up Sekar ya, buat saya cetak pas photo. Boleh?”
Sekar sebenarnya terkejut, tetapi dia akhirnya mengiyakan. Raksa lalu memotret Sekar di ponselnya.
Di kejauhan, Pak Joko yang lagi-lagi mengenakan masker hitam, kembali memperhatikan Sekar dari mobil seperti hari-hari sebelumnya. Dia sudah tahu, majikannya menawari putrinya untuk melanjutkan pendidikan.
Pak Joko sangat berutang budi pada Raksa, sehingga dia terus menunaikan kewajibannya mengantar-jemput sang majikan meski hatinya terasa berat setiap kali menginjakkan kaki di desa ini seperti dia kembali membuka luka lama yang bahkan belum atau takkan pernah sembuh. Meski demikian, melihat Sekar, lama-kelamaan membuat hatinya terasa hangat.
Sekalipun Pak Joko terus mengutuk diri, dan menyadari betapa berengsek dirinya, dia tetaplah ayah yang selalu bangga melihat anaknya bertumbuh kembang, tak peduli apa pun alasannya.
***
“Eh, Sekar udah dateng!” seru Rani seraya menghampiri Sekar yang sudah duduk lesehan di belakang salah satu meja kayu. Dia ikutan duduk. Yang lainnya menyusul.
“Hai, Kak Rani,” sekar menyapa. Matanya lalu melirik Raksa dan Nadia secara bergantian, lalu menyapa mereka juga.
“Tumben sendiri. Bima mana?” tanya Nadia.
Sekar pun menjelaskan.
Kemudian, Sekar berkata pada Raksa. “Kak, aku mau kasih persyaratan yang Kak Raksa minta.”
Sekar lalu menyerahkan beberapa dokumen kepada Raksa untuk mendaftar sebagai peserta belajar sebelum mengikuti ujian kesetaraan Paket B tingkat SMP.
Rani dan Nadia yang sudah tahu, terlihat senang.
“Wah, Sekar semangat banget ya mau lanjut sekolah.” Nadia tersenyum lebar.
Sekar tersenyum malu-malu.
Raksa menerimanya, lalu mengecek dokumen yang Sekar berikan. Itu adalah ijazah SD, Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran. Semuanya asli karena Sekar tidak memiliki salinannya.
Mata Raksa membaca daftar nama anggota keluarga di lembar KK tersebut. Dia lalu menemukan nama seseorang yang tentu saja dia kenal.
JOKO WIBOWO.
Sopir pribadinya.
Raksa seharusnya terkejut, atau setidaknya memberikan reaksi dramatis. Namun, Pak Joko sudah mengakui siapa dirinya yang sebenarnya pada Raksa bahkan tanpa diminta; bahwa pria tersebut adalah ayah kandung Sekar.
Pikiran Raksa terbawa mundur ke beberapa hari lalu.
***
“Saya mohon, Den Raksa.”
Pak Joko melirih. Dia panik setelah mengetahui rumah lamanya bersama sang mantan istri sudah ditempati orang lain. Pikirannya seketika kosong. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berkata jujur bahwa salah satu peserta murid belajar di Balai Desa adalah putrinya, Sekar.
“Saya mau tahu, Sekar tinggal di mana sekarang,” lanjut Pak Joko memelas pada Raksa agak dibantu. Sebab, pergerakannya di desa ini sangat terbatas. Dia bahkan lebih banyak duduk bersembunyi di mobil karena menghindari bertemu mata dengan Pak Rojali dan warga lain yang masih suka datang untuk melihat kegiatan belajar di sana setiap malam.
Saat itu, keduanya berbicara empat mata di dekat moncong mobil sebelum pulang. Yang lainnya masih rapi-rapi di Balai Desa.
Mendengar pengakuan itu, tentu saja Raksa terkejut. Selama hidup, dia hampir tak pernah merasakan jantungnya berdetak tak terkendali. Dia berusaha menghidupkan logika yang biasanya selalu mendominasi dirinya.
Akhirnya, Raksa mengeluarkan ponselnya, lalu memutar rekaman suara Pak Joko tempo hari.
BERENGSEK. MARNI. SEKAR.
“Saya udah tahu,” kata Raksa sok santai.
Pak Joko membulatkan matanya. Pupilnya bergetar. Pria itu lalu menurunkan masker yang menutupi wajahnya.
Raksa berkata lagi, “Maaf karena saya udah lancang ngerekam suara Pak Joko diam-diam, tapi melihat gerak-gerik Bapak yang mencurigakan akhir-akhir ini, saya merasa perlu mencari tahu. Soalnya, ini berhubungan sama kinerja Bapak yang ikut-ikutan menurun. Bapak bawa mobil, bawa nyawa orang.”
Pak Joko tertunduk, dia mengakui kelalaiannya. “Saya minta maaf, Den Raksa.”
“Terus, apa rencana Pak Joko? Bapak mau nemuin Sekar?”
Wajah Pak Joko terangkat lagi. Dia menggeleng cepat. “Nggak, Den! Saya nggak bisa! Saya …..”
Pak Joko terhenti. Sementara Raksa mencoba menjadi lebih manusiawi. Ini mungkin situasi yang bukan hanya sulit bagi Sekar dan ibunya, tetapi juga bagi Pak Joko. Berhubung, Raksa sudah mengetahui gambaran masa lalu dan hubungan rumit keluarga ini dari Pak Rojali.
Di sisi lain, sampai detik ini, Raksa belum tahu persis bagaimana kehidupan pribadi Pak Joko dengan keluarga barunya. Sejak datang sekitar setahun lalu dan menjadi sopir pribadi di rumahnya, Pak Joko memilih untuk tetap tinggal. Dia tak pernah pulang kampung, bahkan di hari cuti atau hari raya besar.
Raksa berniat bertanya pada orang tuanya tentang latar belakang Pak Joko. Namun, karena perkuliahannya kian sibuk, dia jadi tak sempat-sempat.
“Pak Joko, saya gak mau mencampuri urusan Bapak sama Sekar. Tapi, saya gak akan nolak semisal Bapak minta bantuan saya dengan catatan … ‘tidak’ menyakiti hati Sekar dan ibunya lagi, atau menimbulkan potensi keributan lainnya.”
Mendengar pernyataan Raksa, Pak Joko terhenyak seolah majikannya tahu betapa buruknya dia bagi kedua wanita itu.
“Den Raksa … apa … Sekar cerita sama Aden soal saya?” tanya Pak Joko gugup.
Raksa menggeleng.
“Sekar gak pernah sedikit pun menyinggung nama Pak Joko ke saya. Tapi, sejauh yang saya sadari, rekam jejak Pak Joko udah bukan rahasia lagi di desa ini. Pak Rojali cerita semuanya, tentang; sosok ayah Sekar yang mencampakkan keluarganya. Bagaimana orang-orang kadang memandang sentimen Sekar dan ibunya.”
Pak Joko tertunduk lagi. Dia seharusnya tidak perlu bertanya. Dia tahu bagaimana mulut tajam orang-orang di kampung ini.
“Den, saya mau tahu mereka tinggal di mana sekarang ….” Pak Joko kembali ke pertanyaan pertamanya.
“Itu aja? Di RT belakang. Informasi dari Pak Rojali juga, Sekar dan ibunya terpaksa jual murah rumah lama buat nyambung hidup,” jelas Raksa apa adanya. “Saya sama Nadia Rani pernah mampir sebentar. Saya … gak mau menilai buruk, tapi ….”
Raksa agak ragu menyampaikan maksudnya karena takut menyinggung perasaan Pak Joko. Ditambah, dia juga tak tahu bagaimana rumah keluarga mereka yang sebelumnya.
“Intinya, Sekar dan ibunya tinggal di … tempat yang … lingkungannya kurang nyaman,” lanjut Raksa.
Pak Joko merasa dirinya sangat kecil dan tak berdaya. Dia tahu bagaimana lingkungan di RT belakang. Dia juga mengerti apa yang Raksa coba sampaikan.
“Bapak tahu ibunya Sekar sakit-sakitan? Kejiwaannya terganggu?” tanya Raksa tiba-tiba.
Pak Joko terbelalak lagi. “Nggak, Den. Saya baru tahu dari Aden ini.” Tangan pria itu sampai gemetar kecil.
Raksa mengangguk pelan. “Itu yang saya dengar. Saya belom sempet jenguk juga.”
Pak Joko menjatuhkan dirinya ke tanah. Lututnya lemas. Dia meratap.
Raksa hanya memperhatikan. Sejujurnya dia tak mau melibatkan diri terlalu jauh, tetapi hatinya tak bisa bohong. Ada iba bercampur amarah yang diam-diam memercik di hatinya.
***
“Raksa!” Nadia menyenggol lengan Raksa yang malah bengong. “Awas kesambet, ih! Malem-malem, juga!”
“Sorry-sorry,” ujar Raksa mengusap wajahnya.
Rani tak berkomentar. Dia tahu, apa yang sedang Raksa pikirkan sampai melamun begitu apalagi melihat tangan lelaki itu sambil memegang lembar KK milik Sekar.
Sebenarnya, di malam saat Raksa dan Pak Joko berbincang, Rani yang tadinya mau ke mobil, segera menahan langkahnya, dan justru menguping pembicaraan dua pria itu. Namun, hingga kini Rani masih menyimpannya sendiri. Dia terlalu syok, bahkan sampai tak tidur hingga pagi.
Sementara Sekar sedari tadi terus menatap wajah Raksa yang tampak banyak pikiran. Dia membatin, “Kak Raksa kenapa? Kecapean kali ya?”
Raksa lalu mengembalikan Akta Kelahiran Sekar. “Saya ambil KK dan Ijazah SD-nya aja, Sekar. Oh ya, kalo Bima gimana?”
Sekar mendengus.
“Bima bilang, dia belum mau, Kak.”
Akhirnya, Bima sudah memutuskan meski sebenarnya lelaki itu sangat ingin berjuang bersama Sekar. Namun, ternyata hati benar-benar tak bisa dipaksakan. Belajar dan sekolah saat ini bukanlah prioritasnya.
“Begitu, ya.” Raksa manggut-manggut. Kemudian, mengeluarkan ponselnya. “Saya izin minta foto close up Sekar ya, buat saya cetak pas photo. Boleh?”
Sekar sebenarnya terkejut, tetapi dia akhirnya mengiyakan. Raksa lalu memotret Sekar di ponselnya.
Di kejauhan, Pak Joko yang lagi-lagi mengenakan masker hitam, kembali memperhatikan Sekar dari mobil seperti hari-hari sebelumnya. Dia sudah tahu, majikannya menawari putrinya untuk melanjutkan pendidikan.
Pak Joko sangat berutang budi pada Raksa, sehingga dia terus menunaikan kewajibannya mengantar-jemput sang majikan meski hatinya terasa berat setiap kali menginjakkan kaki di desa ini seperti dia kembali membuka luka lama yang bahkan belum atau takkan pernah sembuh. Meski demikian, melihat Sekar, lama-kelamaan membuat hatinya terasa hangat.
Sekalipun Pak Joko terus mengutuk diri, dan menyadari betapa berengsek dirinya, dia tetaplah ayah yang selalu bangga melihat anaknya bertumbuh kembang, tak peduli apa pun alasannya.
***
Other Stories
Percobaan
percobaan ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...