Flower From Heaven

Reads
277
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Flower from heaven
Flower From Heaven
Penulis Ninis Ahmadi

Episode 1

Sekar sedang menggosok pakaian saat terdengar suara mesin mobil bapaknya. Gadis itu pun buru-buru mencuci tangan dan lari ke teras. Dia menghampiri bapaknya yang baru turun dari jok pengemudi.

"Bantu bawain tasnya," perintah Joko, bapak Sekar.

Sekar mengangguk. Bersama bapaknya, dia berjalan ke bagasi mobil. Sekar mengambil tas dari dalam sana, sedangkan Joko menggotong kursi roda.

Setelah kursi roda ditaruh teras, Joko membuka pintu penumpang. Sekar ikut di belakangnya berniat membantu. Pikirnya, dia bisa memapah bagian kanan dan bapaknya bagian kiri. Namun, tanpa Sekar duga, lelaki di dalam mobil itu langsung diangkat oleh bapaknya. Joko dengan mudah memindahkannya ke kursi roda yang disiapkan.

Sekar terdiam sekian detik, memperhatikan bapaknya membetulkan posisi kaki di kursi roda. Di hadapannya saat itu, seorang Baskara Pratama bukan lagi lelaki tegap yang dia kenal beberapa tahun lalu. Badannya kurus kering, rambutnya tipis, kulitnya pucat.

Hanya senyumnya yang masih sama. Ceria.

"Kamu bawa kakakmu ke dalem, Bapak kebelet," kata Joko mengakhiri kebisuan Sekar. Tanpa menunggu jawaban anaknya, Joko pergi ke kamar mandi.

"Bunganya bagus, Kar. Seger liatnya." Baskara membuka obrolan. "Bougenville kan nama dia? Bunga kertas?"

Sekar tersenyum sambil mengiyakan. Baskara tampak senang melihat pot-pot Bougenville yang sedang merekah indah. Terselip perasaan senang pula di hati Sekar, sebab dialah yang menanam bunga itu. Sebuah kebahagiaan tersendiri ketika melihat bunga yang dirawatnya bisa menyenangkan hati orang lain.

"Oh iya, Kak," ucap Sekar tiba-tiba karena teringat sesuatu. Baskara mengalihkan matanya dari bunga. "Aku minta maaf kemarin enggak bisa dateng pas Bude enggak ada. Cantika sama Mahira pun enggak ada yang ikut."

Baskara geleng-geleng. Dia kira ada pembicaraan serius. Lelaki itu kembali memandangi bunga-bunga Bougenville.

"Aman, Kar. Doain aja Mama bahagia di sana," jawab Baskara. Sesaat dia menatap Sekar dengan senyum, kemudian kembali ke semula, seakan bunga itu adalah sang mama. "Mama enggak ada Jumat pagi. Posisi lagi narik penumpang. Cari nafkah. Insyaallah husnul khatimah."

"Amin." Sekar mengaminkan sungguh-sungguh.

Selagi Baskara diam, Sekar diam-diam mengamatinya. Hati Sekar bertanya mengapa cepat sekali waktu mengambil semua. Di mata Sekar, Baskara lelaki ceria, tidak pernah neko-neko, hidupnya lurus dan sangat penurut pada orang tua. Tapi Tuhan memberinya penyakit yang demikian berat. Kalau boleh jujur, Sekar tidak ingin melihat keadaan Baskara yang sekarang. Bukan karena jijik, melainkan kasihan. Selama ini Sekar hanya melihat yang semacam itu di TV.

"Ngomong-ngomong, kamu kuliah semester berapa? Dua ya?" Lagi-lagi, Baskara yang membuka obrolan. Lelaki itu berbicara seakan tidak terjadi apa-apa.

"Aku enggak kuliah, Kak. Kemarin nyoba daftar enggak masuk. Cuma Cantika sama Mahira, sekampus," balas Sekar. Bibirnya tersenyum sama seperti Baskara.

"Iya sih, kalau ke swasta emang sulit buat kita. Aku juga kan ngotot negeri waktu itu. Biar biayanya enggak barat. Rasanya agak sayang enggak bisa sampe selesai."

"Otak Sekar enggak se encer kamu, Bas. Kalaupun keterima, kami enggak yakin dia mampu. Bidangnya dia di dapur."

Baskara menoleh ke arah Joko yang baru keluar. Ucapannya sangat enteng, padahal menurut Baskara itu cukup melukai jika didengar Sekar. Namun, ketika beralih menatap Sekar, Baskara tak menemukan raut sedih sama sekali. Sekar malah mengangguk menyetujui ucapan bapaknya.

"Bener kata Bapak, Kak. Kemarin aku nekat banget pemikirannya. Kalau berhasil lolos, aku janji belajar, aku bisa mohon-mohon minta ajari Mahira. Padahal aku sendiri enggak paham jurusan apa yang aku tuju, cuma sekadar ikut-ikutan. Untung seleksi emang ketat, Kak. Kalau keterima, susah sendiri aku. Mahira yang langganan juara aja sering ngeluh materi susah."

Sekar tertawa. Benar-benar tak terlihat sakit hati. Baskara merasa aneh dengan sikap sepupunya itu.

"Paklik mau ke mana?" tanya Baskara.

"Balikin mobil. Itu pinjam punya bosku, Kak."

Baskara mengernyitkan dahi. "Bos?"





Other Stories
Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Testing

testing ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Download Titik & Koma