Episode 2
"Kakak mau minum apa?"
Sekar beranjak ke dapur setelah mendorong kursi roda Baskara di ruang tamu. Dia juga berniat melanjutkan cuciannya yang masih menggunung.
"Air putih aja. Aku enggak bisa minum macem-macem, Kar."
"Mau makan sekalian?"
"Boleh lah."
Sekar kembali ke ruang tamu dengan membawa sepiring nasi dan air putih. Baskara tidak peduli apa isinya, dia meminta Sekar untuk meletakkan mangkuk itu di pangkuannya biar dia mudah makan sendiri. Sekar membantunya minum dan Baskara tidak menolak.
"Berarti kamu hari ini enggak kerja?" tanya Baskara setelah selesai minum. Tadi Sekar sudah menjelaskan sedikit tentang pekerjaannya.
"Kerja di sana sampe jam sepuluhan aja, Kak. Nyapu, ngepel, bersihin kebun, ngerapiin bunga. Habis itu pulang. Soalnya udah ada ART bagian nyuci sama masak."
Baskara manggut-manggut. Perasaan Sekar yang tadinya kasihan jadi sedikit lega karena tampaknya Baskara baik-baik saja. Lelaki itu masih bisa senyum, tertawa, bahkan mengoceh panjang lebar. Andai badannya tidak berubah kurus kering, Sekar tidak percaya dia sedang sakit.
"Jadi bunga-bunga rambat di rumah sebelah itu, hasil tangan kamu?" Baskara mengernyit, lalu sesaat kemudian matanya berbinar takjub. Dia baru tersadar jika rumah di sebelah, yang tadi dilewatinya, merupakan rumah tempat Sekar bekerja.
Sekar tersenyum senang. "Cantik ya, Kak?"
"Mirip sakura di Jepang!" Baskara mengacungkan jempol. "Zaman sekarang enggak banyak anak muda yang jago tanam menanam. Kamu keren, Kar," pujinya.
"Apa yang keren, Bas?" tanya Joko dari ambang pintu. Dia mendengar sepotong percakapan barusan. Pria itu lantas duduk di kursi tamu yang tak jauh dari kursi roda Baskara.
"Sekar, Paklik. Bunga yang dia tanam bisa subur begitu," jelas Baskara dengan keceriaan yang belum luntur.
"Ya ampun. Biasa itu. Semua tukang kebun juga bisa." Joko geleng-geleng. Sekar sendiri, seperti sebelumnya, yang tidak tampak tersinggung sama sekali. Baskara jadi heran di tengah mereka. "Padahal asal kamu tahu. Tadinya Paklik kasih nama Sekar Arum biar apa? Biar dia jadi anak yang cantik, harum, disukai banyak orang. Bukannya malah buruh ngurusin bunga. Udahlah dekil, bau, panas-panasan. Kayaknya Tuhan salah tafsir sama doanya Paklik, Bas."
Joko pura-pura mendengus kesal. Anehnya, Sekar tertawa. Baskara memilih menghabiskan makanan di pangkuannya.
"Kamarmu udah diberesin? Barangkali Bas pengin istirahat. Kasihan baru perjalanan jauh," ucap Joko, mengganti topik percakapan. Sekar mengangguk tanda sudah.
"Kamu di sini bakal ditemenin Sekar. Dia full di rumah kecuali kerja pagi. Kalaupun kerja, dia cuma kerja di sebelah. Misal kamu butuh apa-apa, tinggal teriak, dia pasti denger." Joko menjelaskan pada Baskara. Baskara mendengarkan baik-baik. "Paklik mangkal deket pasar. Lumayan deket lah. Jadi, Paklik bisa pulang kapan pun, telepon aja. Atau mau dibeliin diapers juga? Jaga-jaga kalau enggak tahan."
"Enggak usah, Paklik. Aman kok," sahut Baskara. "Makasih banyak udah terima Baskara tinggal di sini."
Tepat ketika obrolan berhenti, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Sekar buru-buru berdiri karena di sana, Cantika melambaikan tangan padanya. "Buruan! Gue udah telat nih!" teriak gadis itu.
"Kenapa, Can?" tanya Sekar sambil mengerutkan kening, saat sudah berhadapan dengan Cantika.
"Nanti sore ada temen ke rumah. Dia mau ngambil pesanan jastip. Gue ada kelas," jelas Cantika.
"Jastip?"
"Gue abis jalan kan, nah dia titip beli. Bego banget sih lo!"
Meskipun sambil marah-marah, Cantika membuka jok motornya, mengeluarkan kantong plastik penuh barang. Cantika menyerahkannya pada Sekar.
"Udah, gue pergi," Cantika pamit. Dia naik lagi ke motor. Namun, matanya menangkap kehadiran lelaki asing di ruang tamu. Cantika menoleh pada Sekar. Dari pandangan matanya, Sekar bisa mengerti jika Cantika sedang bertanya.
"Kak Bas, anaknya Bude," kata Sekar.
"Yang bener aja. Baskara enggak lumpuh."
"Kamu enggak inget? Dia kena kanker, Can."
"Terus, ngapain dia ada di sini? Jangan bilang, Bapak bawa dia buat tinggal bareng kita?"
Sekar beranjak ke dapur setelah mendorong kursi roda Baskara di ruang tamu. Dia juga berniat melanjutkan cuciannya yang masih menggunung.
"Air putih aja. Aku enggak bisa minum macem-macem, Kar."
"Mau makan sekalian?"
"Boleh lah."
Sekar kembali ke ruang tamu dengan membawa sepiring nasi dan air putih. Baskara tidak peduli apa isinya, dia meminta Sekar untuk meletakkan mangkuk itu di pangkuannya biar dia mudah makan sendiri. Sekar membantunya minum dan Baskara tidak menolak.
"Berarti kamu hari ini enggak kerja?" tanya Baskara setelah selesai minum. Tadi Sekar sudah menjelaskan sedikit tentang pekerjaannya.
"Kerja di sana sampe jam sepuluhan aja, Kak. Nyapu, ngepel, bersihin kebun, ngerapiin bunga. Habis itu pulang. Soalnya udah ada ART bagian nyuci sama masak."
Baskara manggut-manggut. Perasaan Sekar yang tadinya kasihan jadi sedikit lega karena tampaknya Baskara baik-baik saja. Lelaki itu masih bisa senyum, tertawa, bahkan mengoceh panjang lebar. Andai badannya tidak berubah kurus kering, Sekar tidak percaya dia sedang sakit.
"Jadi bunga-bunga rambat di rumah sebelah itu, hasil tangan kamu?" Baskara mengernyit, lalu sesaat kemudian matanya berbinar takjub. Dia baru tersadar jika rumah di sebelah, yang tadi dilewatinya, merupakan rumah tempat Sekar bekerja.
Sekar tersenyum senang. "Cantik ya, Kak?"
"Mirip sakura di Jepang!" Baskara mengacungkan jempol. "Zaman sekarang enggak banyak anak muda yang jago tanam menanam. Kamu keren, Kar," pujinya.
"Apa yang keren, Bas?" tanya Joko dari ambang pintu. Dia mendengar sepotong percakapan barusan. Pria itu lantas duduk di kursi tamu yang tak jauh dari kursi roda Baskara.
"Sekar, Paklik. Bunga yang dia tanam bisa subur begitu," jelas Baskara dengan keceriaan yang belum luntur.
"Ya ampun. Biasa itu. Semua tukang kebun juga bisa." Joko geleng-geleng. Sekar sendiri, seperti sebelumnya, yang tidak tampak tersinggung sama sekali. Baskara jadi heran di tengah mereka. "Padahal asal kamu tahu. Tadinya Paklik kasih nama Sekar Arum biar apa? Biar dia jadi anak yang cantik, harum, disukai banyak orang. Bukannya malah buruh ngurusin bunga. Udahlah dekil, bau, panas-panasan. Kayaknya Tuhan salah tafsir sama doanya Paklik, Bas."
Joko pura-pura mendengus kesal. Anehnya, Sekar tertawa. Baskara memilih menghabiskan makanan di pangkuannya.
"Kamarmu udah diberesin? Barangkali Bas pengin istirahat. Kasihan baru perjalanan jauh," ucap Joko, mengganti topik percakapan. Sekar mengangguk tanda sudah.
"Kamu di sini bakal ditemenin Sekar. Dia full di rumah kecuali kerja pagi. Kalaupun kerja, dia cuma kerja di sebelah. Misal kamu butuh apa-apa, tinggal teriak, dia pasti denger." Joko menjelaskan pada Baskara. Baskara mendengarkan baik-baik. "Paklik mangkal deket pasar. Lumayan deket lah. Jadi, Paklik bisa pulang kapan pun, telepon aja. Atau mau dibeliin diapers juga? Jaga-jaga kalau enggak tahan."
"Enggak usah, Paklik. Aman kok," sahut Baskara. "Makasih banyak udah terima Baskara tinggal di sini."
Tepat ketika obrolan berhenti, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Sekar buru-buru berdiri karena di sana, Cantika melambaikan tangan padanya. "Buruan! Gue udah telat nih!" teriak gadis itu.
"Kenapa, Can?" tanya Sekar sambil mengerutkan kening, saat sudah berhadapan dengan Cantika.
"Nanti sore ada temen ke rumah. Dia mau ngambil pesanan jastip. Gue ada kelas," jelas Cantika.
"Jastip?"
"Gue abis jalan kan, nah dia titip beli. Bego banget sih lo!"
Meskipun sambil marah-marah, Cantika membuka jok motornya, mengeluarkan kantong plastik penuh barang. Cantika menyerahkannya pada Sekar.
"Udah, gue pergi," Cantika pamit. Dia naik lagi ke motor. Namun, matanya menangkap kehadiran lelaki asing di ruang tamu. Cantika menoleh pada Sekar. Dari pandangan matanya, Sekar bisa mengerti jika Cantika sedang bertanya.
"Kak Bas, anaknya Bude," kata Sekar.
"Yang bener aja. Baskara enggak lumpuh."
"Kamu enggak inget? Dia kena kanker, Can."
"Terus, ngapain dia ada di sini? Jangan bilang, Bapak bawa dia buat tinggal bareng kita?"
Other Stories
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Test
Test ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...