Flower From Heaven

Reads
276
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Flower from heaven
Flower From Heaven
Penulis Ninis Ahmadi

Episode 4

Rumah Sekar berubah sepi jika pagi menyapa. Bapak ibunya kerja, Cantika dan Mahira berangkat kuliah, tinggal Sekar seorang diri yang kemudian pergi ke rumah bosnya.

Beberapa waktu terakhir, sejak kedatangan Baskara, Sekar merasa punya teman ngobrol. Baskara akan duduk di teras, menemaninya sambil menyantap sarapan. Mereka bisa membahas berbagai macam topik meskipun rumah Sekar dan bosnya terpisah pagar lumayan tinggi.

Hari ini, Sekar membereskan kebun. Dia memotong bagian-bagian bunga yang sekiranya perlu dipotong.

"Kamu belajar dari mana soal bunga-bunga begini?" tanya Baskara, suaranya agak dikeraskan sedikit agar terdengar.

"Dulu Emak kerja di sini bareng suaminya, Kak. Nah suaminya itulah yang ngurusin bagian kebun. Orangnya baik, suka bercanda. Jadi kalau Cantika sama Mahira enggak mau main sama aku, aku selalu main ke sini. Aku sering ngeliat beliau rawat bunga. Suatu hari, aku iseng pengin tanam bungaku sendiri, aku minta bibitnya, tapi bunga itu mati. Dari situlah aku diajarin cara menanam bunga yang baik."

Karena menyebut soal Cantika dan Mahira, Baskara jadi tertarik bertanya soal mereka. Sudah dari awal Baskara kurang suka dengan sikap keduanya terhadap Sekar. Baskara pun tidak setuju setiap kali Sekar memilih diam—padahal seharusnya bisa menghentikan.

"Cantika sama Mahira dari dulu emang begitu?"

"Begitu gimana, Kak?" Sekar balik bertanya. Dari nada suaranya, Baskara tahu dia tidak sedang pura-pura.

"Suka ngatain, bentak-bentak kamu, nyuruh enggak ada habisnya. Bahkan sesederhana nyuci daleman pun mereka enggak mau."

Baskara diam sebentar. Mengatur kata-kata.

"Aku tahu niat kamu baik, Kar. Kamu cuma pengin balas budi, timbal balik, dan sebagainya. Tapi enggak seharusnya kamu juga membiarkan mereka berlaku seenaknya ke kamu. Baik dan berbakti enggak gini caranya."

"Aku enggak keberatan kok, Kak. Bisaku cuma ini. Aku enggak akan mungkin kalau disuruh kerja di luar sana. Aku enggak pinter, wajahku pun standar."

"Fisik kamu yang lama-lama akan nyerah," jawab Baskara. Antara tegas dan kasihan pada adik sepupunya itu. "Lagian, kata siapa enggak bisa? Kita semua diciptakan sepaket sama kelebihan. Kita ini berharga, Kar."

Tidak ada jawaban Sekar. Satu menit, dua menit, masih hening. Baskara tidak tahu apa yang terjadi di balik tembok tinggi di hadapannya. Mungkinkah Sekar menangis? Apa ucapannya terlalu kasar?

Baskara khawatir. Segera dia berteriak lagi, "Kar, aku enggak bermaksud apa-apa. Aku cuma enggak mau mereka makin keterlaluan sama kamu. Aku minta maaf ya."

Rasa bersalah seketika menyelimuti hati Baskara. Lelaki itu terpaksa diam padahal paling tidak suka dengan sepi. Namun, tanpa dia sangka, Sekar keluar dari pagar dan berjalan menghampirinya. Gadis itu lalu berlutut.

"Apa aku jadi TKW aja ya, Kak?" tanyanya tiba-tiba.

Baskara mendelik, tapi jadi tertawa. "Random amat sih!"

"Serius. Kan aku suka beres-beres, mungkin itulah kelebihanku, Kak. TKW bisa dapet uang banyak loh."

"Kamu kira jadi TKW gampang?" Baskara geleng-geleng. Sekar salah menangkap maksud nasihatnya tadi.

"Aku enggak ngomong kamu harus dapet uang, Kar. Tapi aku pengin kamu bisa menghargai diri kamu. Kamu enggak serendah yang kamu bayangkan.

"Aku tahu kamu udah ikhlas atas fisik maupun kecerdasan yang Tuhan kasih ke kamu. Itu langkah yang bagus, Kar. Tapi ikhlas bukan berarti pasrah.

"Lihat aku. Apa aku enggak mau minum obat? Apa aku berhenti ke dokter? Enggak. Aku emang ikhlas menerima sakitku, tapi aku tetep berusaha sembuh, aku berusaha menjaga apa yang masih bisa aku kendalikan. Aku minum obat, aku kemoterapi. Sebab apa? Tubuh ini titipan Tuhan yang wajib dijaga baik-baik. Kita rawat, kita sayangi. Sehingga ketika Dia mengambil, Dia bakal bangga."

Sekar tersenyum. Tangannya terulur mengusap kaki Baskara. "Kak Bas kuat," ucapnya kagum sekaligus terharu.

"Kamu juga lah! Berhenti menganggap diri kamu bodoh, enggak berguna, enggak mampu. Kita semua istimewa."

Sekar mengangguk kecil. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya. Sekar berjalan ke belakang kursi roda bersiap untuk mendorong kursi roda itu.

"Kak Bas mau liat bunga-bunga di sebelah enggak?"



Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Testing

testing ...

Download Titik & Koma