Harapan Dalam Sisa Senja

Reads
35
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Harapan dalam sisa senja
Harapan Dalam Sisa Senja
Penulis Kimijuliaaa

Vonis Dokter

November, 2024

"Anda kena gagal ginjal kronis, harus segera melakukan cuci darah."

Bagai disambar petir di siang bolong, aku tidak mempercayai perkataan dokter tersebut.

Gagal ginjal kronis?

Cuci darah?

Tak pernah dalam benakku terpikirkan akan menerima penyakit tersebut. Bagaimana mungkin ginjalku tiba-tiba tidak berfungsi sama sekali? Namun, hal itu bukanlah sebuah kebetulan.

Akan kuceritakan bagaimana awal bermulanya.

Perkenalkan, aku Devi Juliyanti. Wanita berusia 38 tahun yang kini harus berjuang bertahan hidup dengan bantuan mesin dialisis.

Sejak usia 20 tahun, aku divonis diabetes melitus dan harus menjalani pengobatan suntik insulin setiap mau makan serta kontrol ke dokter penyakit dalam tiap bulan.

Lelah?

Sangat lelah.

Bisa kalian bayangkan hidup bersama penyakit nomor satu yang membunuh manusia secara diam-diam. Menurut data penelitian WHO.

Awalnya aku rajin melakukan pengobatan, tapi lama-lama karena capek dan lelah serta aku yang bandel, mulai tidak peduli lagi dengan pengobatan.

Aku mengindahkan nasihat orangtuaku yang terus menyuruhku berobat. Aku tidak peduli. Tanpa menyadari ketidakpedulianku memberikan dampak buruk pada kesehatan tubuhku.

Dan ... Komplikasi pertama pun kuterima.

Januari, 2018

Sakitnya sangat hebat sekali di bagian perut kanan bawah. Aku bahkan tidak bisa buang air besar, sudah tiga hari! Terpaksa aku dilarikan ke IGD Rumah Sakit Pasar Minggu setelah keadaanku yang sangat lemah dan hampir pingsan.

Inilah komplikasi pertamaku akibat menyepelekan pengobatan diabetes. Usus buntu!

Dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi. Aku harus rawat inap untuk di USG. Luar biasa sakitnya di USG, bukan USG untuk memeriksa kehamilan, tapi lebih tepatnya aku dimasukkan alat medis ke lubang anus untuk diperiksa.

Aku berteriak dan meringis.

Dokter sudah tidak bisa menunggu lama lagi, sebelum usus buntuku pecah dan bisa mengalami pendarahan di dalam. Akan sangat berbahaya sekali jika itu terjadi.

Aku pun menjalani operasi usus buntu.

Setelah menjalani operasi usus buntu, komplikasi lainnya pun menyusul. Organ dalam pertama yang disapa komplikasi diabetes adalah lambungku!

Beberapa bulan setelah operasi usus buntu, seiring aku sedang menjalani pengobatan, aku mengalami GERD (asam lambung kronis) berkali-kali. Rasanya sangat menyakitkan!

Asam lambung kronis membuatku tidak boleh melewatkan jam makan, tidak boleh makan-makanan pedas, tidak boleh begadang dan banyak pikiran.

Sakitnya yang luar biasa, aku sesak napas parah dengan ruam-ruam di sekitar dada dan leherku. Menandakan asam lambungku sudah naik ke kerongkongan. Aku muntah-muntah tapi harus dipaksa memasukkan makanan ditambah lagi ulu hatiku rasanya seperti ditusuk keris yang bergerigi. Sakit bukan main!

Komplikasi diabetes yang menyerang lambungku terus berlanjut. Lambungku sudah tidak sama lagi! Ia kesakitan jika aku bahkan tidak peduli atau menyepelekan pengobatan.

Aku frustasi!

Hampir depresi!

Namun, justru dua kata tersebut; frustasi dan depresi adalah pemicu dari GERD (asam lambung kronis). Aku sendiri baru mengetahui, bukan makanan yang bisa memicu asam lambung, tapi overthinking, frustrasi dan suka begadang adalah pemicu utamanya.

Aku tidak tahu bagaimana pikiranku tidak overthinking setelah menerima penyakit genetik dan asam lambung yang terus menyerang. Aku berusaha untuk positif thinking, jalani hidup sehat, akan tetapi, lagi dan lagi, aku mulai membandel.

Beberapa tahun setelahnya, aku merasa keadaan lambungku mulai membaik. Aku mulai menyepelekan kembali pengobatan. Bahkan aku sering melewatkan sarapan. Padahal tidak boleh! Karena aku ada riwayat asam lambung. Sudah kukatakan, lambungku tidak sama lagi semenjak operasi usus buntu.

Komplikasi diabetes sangat kejam sekali!

Seiring waktu, aku yang bandel semakin bandel, hampir tiap hari minum teh manis, melewatkan sarapan, begadang nonton marathon drama Korea. Sampai akhirnya semua mencapai puncaknya.

Gagal ginjal kronis!

Yap.

Seakan Tuhan ingin menegurku dengan keras, karena aku yang tidak mendengarkan nasihat dan perkataan orangtuaku, Ia memberiku penyakit yang membuatku tidak bisa lagi menyepelekan pengobatan.

Tuhan sepertinya sayang sama aku. Daripada aku terus-terusan membandel, langsung saja diberi penyakit kronis agar aku sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan. Tuhan dan anugerah penyakit kronisnya ingin aku menjalani pengobatan, Ia masih memberiku kesempatan untuk bernapas di bumi, kesempatan untuk melanjutkan hidup.

Apa aku bersyukur?

Sudah seharusnya aku bersyukur.

Vonis dokter yang menghancurkan duniaku dalam seketika adalah bentuk teguran nyata dari Tuhan agar aku menjalani pengobatan.

Tuhan menyayangiku.

Aku tahu!

Dan aku harus lebih menyayangi diriku sendiri. Kujalani pengobatan. Cuci darah yang pertama kali kulakukan di bulan November 2024 adalah pengalaman berharga dalam hidupku.

Bahwa kesehatan sangat mahal harganya dan betapa pentingnya untuk mencintai diri sendiri, merawat kesehatan tubuh, selalu berpikir positif dan bertahan hidup selama masih memiliki kesempatan untuk menikmati oksigen di muka bumi.

Other Stories
Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma