I See Your Monster, I See Your Pain

Reads
726
Votes
7
Parts
6
Vote
Report
I see your monster, i see your pain
I See Your Monster, I See Your Pain
Penulis Miss E

Nama Yang Terucap

Aku masih bisa merasakan bekas hangat tangannya saat kulepaskan tempo hari. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku: bagaimana dia bisa tahu namaku?

Aku tidak pernah memperkenalkan diri. Tidak sekalipun.

Pikiran itu menghantui selama berhari-hari. Rasa penasaran ini berubah jadi semacam kecurigaan. Apa aku sedang… diincar?

Dan ternyata dugaanku tidak sepenuhnya salah.

Hari itu, dia tiba-tiba muncul lagi. Tanpa teka-teki konyol, tanpa senyum nakal, tanpa basa-basi. Dia datang dengan tatapan yang lebih serius dari biasanya.

“Aku punya sesuatu buat dikatakan,” katanya.

Aku hanya diam, menunggu.

Dia menarik napas panjang, lalu suaranya terdengar lirih. “Namaku Aruni.”

Aku membeku. Nama itu asing di telingaku, tapi anehnya terasa berat, seolah ada cerita panjang di baliknya.

“Aku… lima tahun lebih tua darimu,” lanjutnya.

Aku menahan napas. Hampir tak percaya. Wanita itu terliha seumuran denganku. Mustahil dia lima tahun lebih tua dariku.

Tapi kalimat berikutnya jauh lebih mengejutkan.

“Aku sudah menikah. Aku punya anak.”

Kata-katanya menamparku begitu keras. Jantungku berdegup tak karuan, seakan semua teka-teki yang kususun selama ini hancur dalam sekali tarikan napas.

Aku menatapnya lama. “Kenapa kau… mendekatiku?” suaraku serak, penuh kebingungan.

Aruni tersenyum pahit. Senyum yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. “Awalnya… aku cuma ingin mengerjaimu. Aku sudah lama memperhatikanmu, Keynan. Kamu sering datang ke café itu dengan wanita yang berbeda-beda. Aku juga sering lihat beberapa wanita menangis karenamu. Mungkin karena kamu putuskan mereka.”

Aku terdiam. Kata-katanya menusuk seperti belati.

“Aku geram,” lanjutnya. “Aku sadar… seharusnya aku nggak ikut campur. Itu hidupmu, itu pilihanmu. Tapi entah kenapa… aku ingin bikin kamu merasakan sedikit saja bagaimana rasanya dipermainkan.”

Aku menelan ludah. Hatiku berdenyut aneh.

Dia menunduk, suaranya semakin pelan. “Tapi… ternyata aku salah. Aku pikir aku bisa main-main, bisa lari sebentar dari hidupku yang berantakan. Hubunganku dengan suamiku… tidak baik-baik saja. Dan kamu, entah kenapa… jadi tempat pelarianku.”

Aku menggenggam tanganku sendiri, menahan segala rasa. Marah, kecewa, bingung, tapi juga… sakit.

“Aruni…” aku menyebut namanya untuk pertama kali. Berat sekali rasanya. “Kamu sadar nggak… apa yang kamu lakukan padaku?”

Dia menatapku, matanya berkaca-kaca. “Aku sadar. Dan aku tidak menyangka kalau kamu… benar-benar tertarik padaku. Aku pikir kamu akan cepat bosan, sama seperti dengan wanita lain. Tapi kamu… malah penasaran.”

Aku mengusap wajahku kasar. Semua ini terasa gila. Sejak awal, aku hanya ingin tahu siapa dia. Tapi sekarang, aku justru terjebak dalam kisah yang tidak pernah kusangka.

Dan anehnya… aku tidak bisa berhenti.

Aku menunduk, kedua tanganku mengepal. Kata-kata Aruni barusan masih bergema di telingaku, menusuk dalam-dalam.

Dia menarik napas panjang. “Keynan… sebenarnya aku sadar. Nggak seharusnya aku menghukummu.”

Aku mendongak, menatapnya dengan heran.

Aruni melanjutkan, suaranya tenang tapi ada getar halus di sana. “Semua orang punya sisi gelapnya sendiri, punya monster yang mereka lawan tiap hari. Termasuk aku, termasuk kamu. Aku pikir aku tahu siapa kamu hanya dari apa yang kulihat di café itu. Padahal, aku belum tahu apa pun tentang rasa sakitmu.”

Aku tercekat. Ada sesuatu di balik kata-katanya yang terasa terlalu dekat.

Aruni menatapku lekat-lekat, seolah bisa menembus sampai ke dalam pikiranku. “Kamu mungkin tampak dingin, bebas, suka main-main dengan wanita. Tapi aku rasa… itu cuma tameng. Karena jauh di dalam dirimu, ada sesuatu yang terluka. Ada monster yang kamu sembunyikan, dan rasa sakit yang nggak pernah kamu tunjukkan ke siapa pun.”

Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku kering.

“Dan perjalanan spiritual setiap orang berbeda,” katanya lagi, lebih pelan. “Aku sadar, tugasku bukan menghakimimu. Bukan juga menghukummu. Aku… hanya manusia lain yang kebetulan melihat monster dan rasa sakitmu. Dan itu cukup.”

Aku mengusap wajahku, mencoba menahan semua emosi yang datang bertubi-tubi.

Untuk pertama kalinya, aku merasa… telanjang. Seolah semua tamengku runtuh hanya karena kata-kata seorang wanita yang tadinya asing.

Aruni tersenyum tipis, senyum yang bukan lagi nakal atau menggoda. Senyum itu… penuh pengertian.

“Jadi, Keynan,” katanya lirih, “aku tidak akan lagi mencoba membuatmu merasakan sakit. Karena kamu sudah memikul rasa sakitmu sendiri.”

Aku menutup mata, menahan perih yang tiba-tiba menyeruak dari dalam dada.

Entah kenapa, di hadapan Aruni… aku benar-benar merasa terlihat.

Aku menutup mata, mencoba mengatur napas. Kata-kata Aruni terus terngiang, menghantam bagian paling rapuh dari diriku.

Monster. Rasa sakit.

Dia bahkan tidak tahu betapa benar ucapannya.

Sejak kecil, aku tumbuh di rumah yang penuh suara bentakan, bukan pelukan. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya, ibuku terlalu lelah dengan luka-lukanya sendiri. Aku sering merasa… sendirian, meski tinggal serumah dengan mereka.

Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa kasih sayang itu rapuh, mudah sekali hilang. Jadi saat dewasa, aku memilih untuk tidak terlalu dalam. Aku belajar memainkan peran: lelaki muda yang bebas, yang mudah jatuh cinta, dan sama mudahnya pergi.

Aku pikir itu caraku melindungi diri. Kalau aku pergi duluan, aku tidak akan ditinggalkan.

Tapi kenyataannya, aku hanya semakin kosong. Semakin sering mengganti pasangan, semakin keras pula monster dalam diriku berteriak. Monster itu bilang aku tidak layak dicintai lama-lama. Monster itu mengingatkanku pada semua luka yang pernah kubiarkan menganga.

Dan Aruni… wanita yang baru beberapa kali kutemui ini… entah bagaimana, dia bisa melihat semuanya.

Aku membuka mata, menatapnya. Ada kelembutan di sorot matanya, sesuatu yang membuatku ingin menyerah, setidaknya sekali saja.

“Aruni…” suaraku parau. “Kamu benar. Aku memang punya monster. Dan aku sudah terlalu lelah untuk menutup-nutupinya.”

Dia tersenyum tipis. “Semua orang punya perjalanan masing-masing, Keynan. Tapi kamu nggak sendirian. Kamu cuma belum bertemu orang yang benar-benar melihatmu.”

Aku tercekat. Bagaimana mungkin wanita yang bahkan mengaku sudah punya suami dan anak, justru jadi orang pertama yang membuatku merasa benar-benar… terlihat?

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ingin didengar. Ingin bercerita. Ingin seseorang mengerti bahwa di balik semua wajah dingin dan hubungan singkatku, aku hanya lelaki biasa yang takut dicintai lalu ditinggalkan lagi.

Aruni tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya diam, membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Dan itu cukup.


Other Stories
Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Hibur Libur

Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Download Titik & Koma