Ch 1. Namaku Amelia
Sore ini, ditemani langit yang mulai menguning ditambah dengan semburan merah dari matahari yang mau terbenam, aku duduk di kursi kayu di teras rumahku sambil menunggu suamiku pulang. Di tanganku terdapat sebuah album usang yang baru ku temukan tadi siang saat membersihkan rumah. Ditemani secangkir teh, ku coba mulai membuka lembar demi lembar secara perlahan. Senyuman tipis terkulum di bibirku. Sampai dimana aku berjumpa dengan halaman yang membuatku berhenti sejenak. Tanpa terasa,aku menghela nafas. Mataku menatap seperti fokus padahal kosong pada sebuah foto yang ada di halaman itu. Foto seorang anak gadis berseragam merah putih yang tersenyum, tapi tampak terselip sebuah kesedihan di sana.
Ya, itu diriku 17 tahun yang lalu, pada waktu aku duduk di bangku SD kelas 5.
Bayanganku kembali ke masa itu . . .
* * *
Gadis kecil itu berjalan dengan gembira dari rumahnya ke sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama kenaikan kelas, dia sudah naik ke kelas 5. Dengan wajah tanpa dosa dia sampai di tikungan menuju gerbang sekolahnya. Dia berjumpa dengan beberapa temannya dari kelas 4 dulu. Dengan riang dia menyapa dan teman-temannya balas menyapa. “Sepertinya, tahun yang bahagia akan dimulai lagi hari ini,” batinnya.
Gadis kecil itu masuk ke sekolah dan mulai mencari namanya di papan pengumuman. “Aku kelas 5B” teriaknya dengan gembira. Di belakangnya ada seorang gadis lain yang juga terlihat senang mengetahui kalau gadis itu masuk di kelas 5B.
Tepat jam 7 lonceng sekolah berdentang, semua murid sudah duduk di bangku secara bebas. Gadis kecil itu duduk di bangku kedua dari depan dekat meja guru. Dia duduk sebangku dengan murid perempuan yang ia kenal karena sekelas pada waktu kelas 4 dulu.
Suasana yang tadinya ramai menjadi tenang saat bu guru masuk.
“Yey! Wali kelas kita Bu Santi!” Teriak salah seorang siswa dari belakang. Teriakan itu disambut dengan teriakan ricuh murid-murid sekelas. Tentunya, gadis itu juga ikut teriak bahagia. Bagaimana tidak? Bu Santi terkenal sebagai guru yang sangat sabar. Beliau yang terbilang cukup muda dan berparas cantik serta berkerudung ini merupakan salah satu guru favorit di SD tersebut.
“Sudah tenang, mulai hari ini, Ibu yang akan menjadi wali kelas kalian. Sekarang, kita mulai dengan perkenalan satu per satu ya,” jawab Bu Santi dengan suara lembutnya. Jam pertama di hari itu dipakai untuk perkenalan. Satu per satu 25 murid di kelas itu akan memperkenalkan diri. Tiba giliran gadis kecil itu maju dan di depan kelas dengan riang ia memperkenalkan dirinya, “Halo semua, perkenalkan namaku Amelia! Aku harap tahun ini bisa menjadi tahun yang bahagia ya. Terima kasih.” Bu Santi tersenyum melihat semangat Amelia dalam memulai tahun ini. Begitu pula dengan Amelia, ia tidak sabar ingin menjalani tahun yang bahagia.
Setelah perkenalan dan beberapa pelajaran hari itu selesai, bel kembali berdentang menandakan jam istirahat tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas, demikian pula Amelia berlari dengan segera. Di dalam kelas, ada sepasang mata yang terus mengamati gerak-gerik Amelia dengan seksama. Ya, itu adalah sepasang mata dari gadis yang tersenyum saat mengetahui Amelia sekelas dengannya. Tampaknya, ia ingin bicara dengan Amelia tapi tak punya kesempatan ataupun nyali. Gadis itu sama sekali tak ada niatan untuk mengejar Amelia bahkan gadis itu tampak tak berani meninggalkan kelas. Sepertinya, ia ketakutan.
“Pak, beli pak, 1 bungkus pentol,” teriak Amelia sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang Rp1000,00 melalui sela-sela dinding sekolah. Ya, memang di luar tembok sekolah ada banyak pedagang berjejer menjajakan makanan dan seringkali siswa-siswi membeli jajan melalui lubang-lubang yang ada di dinding. Sepertinya, dinding-dinding ini memang didesain berlubang agar para siswa bisa berbelanja, haha.
Sekolah ini memang punya kantin yang menjual beberapa makanan ringan maupun makanan berat berbungkus mika. Tapi, para siswa termasuk Amelia lebih suka jajan lewat lubang-lubang yang ada di dinding sekolah.
Setelah menerima pentol, Amelia segera duduk di bangku dekat sana. Suasana di sana lumayan ramai, beberapa siswa yang telah bergantian berbelanja melalui lubang dinding memilih duduk di bangku dekat sana. Sebagian lagi, makan di kelas. Tapi Amelia berprinsip, kelas adalah tempat belajar, makan ya harus di taman.
Selesai makan, Amelia mau membuang sampahnya ke tempat sampah. Saat berdiri di samping tempat sampah dan selesai melempar sampah ke sana, “Pluk!”, suara sampah plastik mengenai kepalanya. Bersamaan dengan kejadian itu ada tawa beberapa murid laki-laki berjarak 5 kaki darinya. “Ups, ku kira tempat sampah, hahahahah,” kata salah seorang dari murid-murid itu. Amelia segera mengambil sampah di kepalanya lalu membuangnya, bergegas ia berlari ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan rambutnya.
Iya, memang sejak kelas 1 sampai kelas 4 ada saja murid-murid yang tidak suka dan mengusili dia. Kalau ditanya mengapa, mungkin karena Amelia sedikit berbeda. Maksudnya? Amelia berkulit putih dan matanya cenderung lebih sipit dibanding teman-temannya. Ya, benar, Amelia adalah keturunan Tionghoa. Tapi, Amelia tidak pernah mempermasalahkan itu, karena toh, dia orang Indonesia asli, dia juga tidak bisa berbahasa Cina. Semua perlakuan yang ia terima dari beberapa temannya yang usil ia pandang sebagai kenakalan biasa, Amelia tetap tersenyum bahagia. Memang awalnya kaget, tapi setelah dihibur dan dikuatkan oleh mamanya, Amelia tidak pernah takut. Baginya, tahun-tahunnya di SD masih bisa disebut bahagia. Sekali lagi, “Cuma keusilan kecil,” menurutnya. Tapi ia tidak tahu, kalau keusilan kecil yang dialaminya selama 4 tahun di sekolah ini akan menjadi mimpi buruk baginya di tahun ini. Amelia kecil tidak tahu bahwa harapannya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun bahagia, akan segera berubah menjadi tahun yang sangat ingin dia lupakan.
Ya, itu diriku 17 tahun yang lalu, pada waktu aku duduk di bangku SD kelas 5.
Bayanganku kembali ke masa itu . . .
* * *
Gadis kecil itu berjalan dengan gembira dari rumahnya ke sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama kenaikan kelas, dia sudah naik ke kelas 5. Dengan wajah tanpa dosa dia sampai di tikungan menuju gerbang sekolahnya. Dia berjumpa dengan beberapa temannya dari kelas 4 dulu. Dengan riang dia menyapa dan teman-temannya balas menyapa. “Sepertinya, tahun yang bahagia akan dimulai lagi hari ini,” batinnya.
Gadis kecil itu masuk ke sekolah dan mulai mencari namanya di papan pengumuman. “Aku kelas 5B” teriaknya dengan gembira. Di belakangnya ada seorang gadis lain yang juga terlihat senang mengetahui kalau gadis itu masuk di kelas 5B.
Tepat jam 7 lonceng sekolah berdentang, semua murid sudah duduk di bangku secara bebas. Gadis kecil itu duduk di bangku kedua dari depan dekat meja guru. Dia duduk sebangku dengan murid perempuan yang ia kenal karena sekelas pada waktu kelas 4 dulu.
Suasana yang tadinya ramai menjadi tenang saat bu guru masuk.
“Yey! Wali kelas kita Bu Santi!” Teriak salah seorang siswa dari belakang. Teriakan itu disambut dengan teriakan ricuh murid-murid sekelas. Tentunya, gadis itu juga ikut teriak bahagia. Bagaimana tidak? Bu Santi terkenal sebagai guru yang sangat sabar. Beliau yang terbilang cukup muda dan berparas cantik serta berkerudung ini merupakan salah satu guru favorit di SD tersebut.
“Sudah tenang, mulai hari ini, Ibu yang akan menjadi wali kelas kalian. Sekarang, kita mulai dengan perkenalan satu per satu ya,” jawab Bu Santi dengan suara lembutnya. Jam pertama di hari itu dipakai untuk perkenalan. Satu per satu 25 murid di kelas itu akan memperkenalkan diri. Tiba giliran gadis kecil itu maju dan di depan kelas dengan riang ia memperkenalkan dirinya, “Halo semua, perkenalkan namaku Amelia! Aku harap tahun ini bisa menjadi tahun yang bahagia ya. Terima kasih.” Bu Santi tersenyum melihat semangat Amelia dalam memulai tahun ini. Begitu pula dengan Amelia, ia tidak sabar ingin menjalani tahun yang bahagia.
Setelah perkenalan dan beberapa pelajaran hari itu selesai, bel kembali berdentang menandakan jam istirahat tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas, demikian pula Amelia berlari dengan segera. Di dalam kelas, ada sepasang mata yang terus mengamati gerak-gerik Amelia dengan seksama. Ya, itu adalah sepasang mata dari gadis yang tersenyum saat mengetahui Amelia sekelas dengannya. Tampaknya, ia ingin bicara dengan Amelia tapi tak punya kesempatan ataupun nyali. Gadis itu sama sekali tak ada niatan untuk mengejar Amelia bahkan gadis itu tampak tak berani meninggalkan kelas. Sepertinya, ia ketakutan.
“Pak, beli pak, 1 bungkus pentol,” teriak Amelia sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang Rp1000,00 melalui sela-sela dinding sekolah. Ya, memang di luar tembok sekolah ada banyak pedagang berjejer menjajakan makanan dan seringkali siswa-siswi membeli jajan melalui lubang-lubang yang ada di dinding. Sepertinya, dinding-dinding ini memang didesain berlubang agar para siswa bisa berbelanja, haha.
Sekolah ini memang punya kantin yang menjual beberapa makanan ringan maupun makanan berat berbungkus mika. Tapi, para siswa termasuk Amelia lebih suka jajan lewat lubang-lubang yang ada di dinding sekolah.
Setelah menerima pentol, Amelia segera duduk di bangku dekat sana. Suasana di sana lumayan ramai, beberapa siswa yang telah bergantian berbelanja melalui lubang dinding memilih duduk di bangku dekat sana. Sebagian lagi, makan di kelas. Tapi Amelia berprinsip, kelas adalah tempat belajar, makan ya harus di taman.
Selesai makan, Amelia mau membuang sampahnya ke tempat sampah. Saat berdiri di samping tempat sampah dan selesai melempar sampah ke sana, “Pluk!”, suara sampah plastik mengenai kepalanya. Bersamaan dengan kejadian itu ada tawa beberapa murid laki-laki berjarak 5 kaki darinya. “Ups, ku kira tempat sampah, hahahahah,” kata salah seorang dari murid-murid itu. Amelia segera mengambil sampah di kepalanya lalu membuangnya, bergegas ia berlari ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan rambutnya.
Iya, memang sejak kelas 1 sampai kelas 4 ada saja murid-murid yang tidak suka dan mengusili dia. Kalau ditanya mengapa, mungkin karena Amelia sedikit berbeda. Maksudnya? Amelia berkulit putih dan matanya cenderung lebih sipit dibanding teman-temannya. Ya, benar, Amelia adalah keturunan Tionghoa. Tapi, Amelia tidak pernah mempermasalahkan itu, karena toh, dia orang Indonesia asli, dia juga tidak bisa berbahasa Cina. Semua perlakuan yang ia terima dari beberapa temannya yang usil ia pandang sebagai kenakalan biasa, Amelia tetap tersenyum bahagia. Memang awalnya kaget, tapi setelah dihibur dan dikuatkan oleh mamanya, Amelia tidak pernah takut. Baginya, tahun-tahunnya di SD masih bisa disebut bahagia. Sekali lagi, “Cuma keusilan kecil,” menurutnya. Tapi ia tidak tahu, kalau keusilan kecil yang dialaminya selama 4 tahun di sekolah ini akan menjadi mimpi buruk baginya di tahun ini. Amelia kecil tidak tahu bahwa harapannya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun bahagia, akan segera berubah menjadi tahun yang sangat ingin dia lupakan.
Other Stories
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...