Ch 3. Namanya Sakit Hati
Setelah kejadian kemarin, wajah Amelia tampak agak murung. Ia duduk di bangkunya namun wajahnya tak berseri. Pelajaran akan dimulai pagi itu. Jam dinding menunjukkan pukul 6.55, sebentar lagi bel akan berbunyi. Sesekali Amelia melihat ke arah pintu, ia melihat teman-temannya berdatangan. Sepertinya, Amelia sedang menunggu kedatangan Ica karena cemas padanya. Kemarin setelah mereka berhenti menangis, Amelia diarahkan oleh Bu Santi untuk pulang lebih dulu sedangkan Ica masih mengobrol dengan Bu Santi, entah apa yang mereka obrolkan.
Kringggg!!!!!!!
Bel berbunyi, Ica belum datang.
Semua siswa segera berlari ke depan pintu kelas untuk berbaris siap masuk kelas. Setelah dirapikan oleh ketua kelas dan Bu Santi berdiri di depan pintu, siswa-siswi satu per satu masuk ke kelas. Bu Santi menyapa setiap murid dengan senyum manisnya. Saat Amelia sampai di hadapan Bu Santi, Bu Santi tahu Amelia masih teringat kejadian kemarin. “Semangat menjalani hari ini ya Amelia, Ibu mendukungmu,” suara manis Bu Santi sedikit melegakan hati Amelia, namun ia masih sedih.
Sepulang sekolah, Amelia memutuskan untuk mampir ke rumah Ica.
Tok, tok tok….
“Permisi, Ica - Ica, Ini Amelia.”
Berulang kali Amelia memanggil Ica dan mengetuk pintu rumahnya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Amelia semakin khawatir pada apa yang terjadi dengan Ica. Setelah hampir setengah jam mengetuk pintu, akhirnya secercah harapan terlihat. Pintu mulai terbuka. Namun, itu bukan Ica, neneknya yang keluar.
“Eh, Amelia, mau menemui Ica ya?” Sapanya.
“Iya Nek, apakah Ica ada? Apa Ica sakit karena hari ini tidak sekolah?” Tanya Amelia.
Nenek Ica dengan sedikit senyum yang dipaksakan untuk menutupi kesedihannya hanya bisa mengelus kepala Amelia dan mengatakan kepadanya untuk datang ke sini lain kali saja. Ica sedang dalam kondisi tidak ingin ditemui siapa-siapa. Sepertinya, kondisi Ica tidak baik-baik saja. Amelia menjadi sedih, ia tampak murung. Sambil menundukkan kepala, Amelia pamit kepada neneknya dan menyampaikan kalau ia berdoa supaya Ica baik-baik saja.
* * *
Sepuluh menit sebelum kedatangan Amelia, Ica sudah berpesan kepada Sang Nenek untuk tidak membukakan pintu kalau Amelia datang ke rumahnya. Sebenarnya, Ica sudah berfirasat kalau Amelia pasti akan datang menemui mereka apalagi setelah ia tidak masuk sekolah karena kejadian kemarin. Sebenarnya, Ica ingin bertemu dan bermain dengan Amelia, ia ingin cerita semua, namun ia tidak sanggup. Neneknya berusaha menghibur Ica dan meyakinkan kalau Amelia itu anak yang baik, tidak apa-apa membiarkan ia masuk. Namun, Ica tetap bersikeras bahkan sampai menangis.
Tak lama kemudian, benar saja firasat Ica itu. Sepertinya memang sahabat karib bisa saling merasakan. Terdengar ketukan dan suara Amelia memanggil. Sang nenek ingin segera membukakan pintu, tak tega dengan Amelia yang berpanas-panasan di luar. Apalagi ini masih jam setengah 2 siang, pasti masih panas di luar dan rumah Ica tidak memiliki teras ataupun atap di depan rumah, jadi langsung pintu. Beberapa menit berlalu, Ica menahan neneknya untuk tidak membuka pintu. Semua tirai sudah ditutup dan lampu dimatikan menjadikan rumah begitu gelap.
Setelah kurang lebih setengah jam dan Amelia masih ada di luar sambil sesekali mengetuk pintu dan berteriak, Ica mulai menangis. Ia tidak tega, tapi ia tak mau bertemu Amelia, ia terlalu takut. Melihat itu, Sang nenek akhirnya membuka pintu hingga separuh terbuka. Ica bersembunyi dalam kegelapan sehingga tidak terlihat oleh Amelia.
Sepanjang percakapan Amelia dan Nenek Ica, Ica selalu mendengarkan. Ica menangis karena ia tak sanggup menemui sahabatnya hanya suaranya.
* * *
Tiga hari telah berlalu. Selama tiga hari ini Amelia tak lagi seceria dulu. Ia masih bisa tersenyum dan tertawa sesekali, tapi air mukanya sangat jelas sedang bersedih. Di ruang kelas ini, Amelia masih duduk sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, namun teman-temannya yang lain tidak ada yang mau mendekat padanya. Amelia terus melamun, kedua tangannya dilipat di atas meja menumpu wajah kusutnya sampai ada seseorang yang masuk ke ruang kelas. Sorot mata Amelia mulai berbinar dan kepalanya diangkat dari meja, Amelia mulai tersenyum. “Ica!” Sembari beranjak dari bangku berlari ke arah Ica. Tapi . . .
Ica tak menjawab panggilan Amelia, Ica memalingkan wajah, lalu menunduk dan menghindar.
Amelia mematung berdiri di tempatnya, lalu air mata menetes ke pipinya. Ia tak sanggup menoleh ke arah Ica atau kemanapun. Amelia berlari ke luar.
Di dalam bilik kamar mandi perempuan yang kecil dan bau ini, Amelia menangis. “Kenapa aku tidak bisa bicara sama sahabatku? Kenapa rasanya perih di dadaku? Apakah ini yang namanya sakit hati?”
Kringggg!!!!!!!
Bel berbunyi, Ica belum datang.
Semua siswa segera berlari ke depan pintu kelas untuk berbaris siap masuk kelas. Setelah dirapikan oleh ketua kelas dan Bu Santi berdiri di depan pintu, siswa-siswi satu per satu masuk ke kelas. Bu Santi menyapa setiap murid dengan senyum manisnya. Saat Amelia sampai di hadapan Bu Santi, Bu Santi tahu Amelia masih teringat kejadian kemarin. “Semangat menjalani hari ini ya Amelia, Ibu mendukungmu,” suara manis Bu Santi sedikit melegakan hati Amelia, namun ia masih sedih.
Sepulang sekolah, Amelia memutuskan untuk mampir ke rumah Ica.
Tok, tok tok….
“Permisi, Ica - Ica, Ini Amelia.”
Berulang kali Amelia memanggil Ica dan mengetuk pintu rumahnya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Amelia semakin khawatir pada apa yang terjadi dengan Ica. Setelah hampir setengah jam mengetuk pintu, akhirnya secercah harapan terlihat. Pintu mulai terbuka. Namun, itu bukan Ica, neneknya yang keluar.
“Eh, Amelia, mau menemui Ica ya?” Sapanya.
“Iya Nek, apakah Ica ada? Apa Ica sakit karena hari ini tidak sekolah?” Tanya Amelia.
Nenek Ica dengan sedikit senyum yang dipaksakan untuk menutupi kesedihannya hanya bisa mengelus kepala Amelia dan mengatakan kepadanya untuk datang ke sini lain kali saja. Ica sedang dalam kondisi tidak ingin ditemui siapa-siapa. Sepertinya, kondisi Ica tidak baik-baik saja. Amelia menjadi sedih, ia tampak murung. Sambil menundukkan kepala, Amelia pamit kepada neneknya dan menyampaikan kalau ia berdoa supaya Ica baik-baik saja.
* * *
Sepuluh menit sebelum kedatangan Amelia, Ica sudah berpesan kepada Sang Nenek untuk tidak membukakan pintu kalau Amelia datang ke rumahnya. Sebenarnya, Ica sudah berfirasat kalau Amelia pasti akan datang menemui mereka apalagi setelah ia tidak masuk sekolah karena kejadian kemarin. Sebenarnya, Ica ingin bertemu dan bermain dengan Amelia, ia ingin cerita semua, namun ia tidak sanggup. Neneknya berusaha menghibur Ica dan meyakinkan kalau Amelia itu anak yang baik, tidak apa-apa membiarkan ia masuk. Namun, Ica tetap bersikeras bahkan sampai menangis.
Tak lama kemudian, benar saja firasat Ica itu. Sepertinya memang sahabat karib bisa saling merasakan. Terdengar ketukan dan suara Amelia memanggil. Sang nenek ingin segera membukakan pintu, tak tega dengan Amelia yang berpanas-panasan di luar. Apalagi ini masih jam setengah 2 siang, pasti masih panas di luar dan rumah Ica tidak memiliki teras ataupun atap di depan rumah, jadi langsung pintu. Beberapa menit berlalu, Ica menahan neneknya untuk tidak membuka pintu. Semua tirai sudah ditutup dan lampu dimatikan menjadikan rumah begitu gelap.
Setelah kurang lebih setengah jam dan Amelia masih ada di luar sambil sesekali mengetuk pintu dan berteriak, Ica mulai menangis. Ia tidak tega, tapi ia tak mau bertemu Amelia, ia terlalu takut. Melihat itu, Sang nenek akhirnya membuka pintu hingga separuh terbuka. Ica bersembunyi dalam kegelapan sehingga tidak terlihat oleh Amelia.
Sepanjang percakapan Amelia dan Nenek Ica, Ica selalu mendengarkan. Ica menangis karena ia tak sanggup menemui sahabatnya hanya suaranya.
* * *
Tiga hari telah berlalu. Selama tiga hari ini Amelia tak lagi seceria dulu. Ia masih bisa tersenyum dan tertawa sesekali, tapi air mukanya sangat jelas sedang bersedih. Di ruang kelas ini, Amelia masih duduk sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, namun teman-temannya yang lain tidak ada yang mau mendekat padanya. Amelia terus melamun, kedua tangannya dilipat di atas meja menumpu wajah kusutnya sampai ada seseorang yang masuk ke ruang kelas. Sorot mata Amelia mulai berbinar dan kepalanya diangkat dari meja, Amelia mulai tersenyum. “Ica!” Sembari beranjak dari bangku berlari ke arah Ica. Tapi . . .
Ica tak menjawab panggilan Amelia, Ica memalingkan wajah, lalu menunduk dan menghindar.
Amelia mematung berdiri di tempatnya, lalu air mata menetes ke pipinya. Ia tak sanggup menoleh ke arah Ica atau kemanapun. Amelia berlari ke luar.
Di dalam bilik kamar mandi perempuan yang kecil dan bau ini, Amelia menangis. “Kenapa aku tidak bisa bicara sama sahabatku? Kenapa rasanya perih di dadaku? Apakah ini yang namanya sakit hati?”
Other Stories
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...