Ch 8. Namanya Sakit Fisik
Tidak lama lagi sekolah akan memasuki masa ujian akhir sebelum kenaikan kelas. Ya, kurang lebih sekitar 2 bulan lagi. Hampir setahun sudah Amelia menjalani masa-masa penuh siksaan dan penderitaan ini. Kalau bisa, Amelia ingin segera melompati waktu atau menghapus tahun ini dari kehidupannya. Tapi, ia berpikir masih ada hal-hal yang tidak ingin ia lupakan seperti misalnya Ica dan bagaimana orang tuanya mengasihi dia.
Di sekolah, seperti biasanya Amelia yang murung duduk di bangkunya sendirian. Menoleh ke belakang, di ujung kelas bangku yang masih kosong tempat mantan sahabatnya dulu. Ia merasa sangat sedih. Tapi ia berpikir, masa-masa ini akan segera berakhir, “2 bulan lagi aku akan segera naik ke kelas 6 dan semoga saja aku mendapat teman sekelas yang baik yang mau melindungi aku dari para perundung di sekolah ini. Setelah itu, tak lama kemudian aku lulus dan bisa segera meninggalkan sekolah ini,” katanya dalam hati.
Pelajaran demi pelajaran ia lalui hari itu. Saat jam istirahat, setelah membeli jajan dari dinding sekolah, Amelia segera mencari tempat yang benar-benar sepi. Ia lelah dilempari sampah. Amelia juga membenci toilet sekolah. Di tempat itu, ia pernah disiram air sampai basah kuyup. Untung saja, ia tidak sampai masuk angin karena segera berlari ke uks. Sebisa mungkin, Amelia pergi ke toilet saat suasana benar-benar sepi. Dan, iya, sebisa mungkin sehari hanya sekali ia ke toilet. Sebenarnya, ini bukan hal yang baik tapi terpaksa ia lakukan karena ketakutannya.
Setelah pulang sekolah, Amelia segera berlari pulang ke rumah. Sesekali ia diludahi dan diolok, namun ia berusaha menutup telinga dan mengabaikan semuanya. Inilah cara Amelia bertahan hidup di sekolah yang sangat menakutkan bagi dia.
Sesampainya di rumah, Amelia kebingungan melihat situasi rumah yang sepi. Ia memanggil neneknya tapi tidak ada jawaban. Saat masuk ke kamar mandi, ia terkejut karena melihat neneknya tergeletak di sana. Amelia menangis, ia tak tahu harus berbuat apa. Tangisan Amelia mendatangkan beberapa tetangga yang kebetulan hari itu ada di rumah. Para tetangga segera memanggil Mama Amelia dan juga ambulance untuk membawa neneknya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Amelia yang turun dari mobil ambulance disambut oleh mama dan papanya yang sudah di sana dari tempat kerja. Dengan suasana sedih dan tegang, mereka membawa nenek Amelia ke ruang tindakan dibantu para petugas. Beberapa menit menunggu, seorang wanita berjas putih dengan stetoskop di lehernya dan masker di wajahnya keluar mencari keluarga nenek. Mama Amelia segera berlari ke arah perawat. Amelia melihat dari jauh tak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mamanya dan dokter itu. Tapi, dari tempatnya berdiri, Amelia dapat melihat mamanya menangis. Hal itu membuat Amelia ikut menangis.
Kini Amelia ada di pemakaman neneknya. Beserta seluruh keluarga besar yang sedang berduka atas kepergian Sang Nenek. Mulai saat ini, Amelia kecil harus berjuang sendirian di rumah.
Semua peristiwa ini membuat Amelia tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Saat akan masuk sekolah, badan Amelia terasa panas. Ia demam. Nampaknya semua peristiwa yang terjadi menyita energi dan emosinya hingga kelelahan dan jatuh sakit. Sungguh momen yang sangat luar biasa. Amelia harus izin tidak masuk sekolah lagi.
Sampai dua hari demam tak kunjung reda, Amelia dibawa oleh orang tuanya ke dokter. Saat diperiksa, dokter menemukan sebuah indikasi Amelia terserang cacar air. Setelah diresepkan obat, Amelia pulang ke rumah. Benar saja, keesokan harinya muncul bercak-bercak merah di tubuhnya.
Amelia harus izin tidak masuk sekolah lagi. Izinnya diperpanjang, ia makin lama di rumah. Amelia masih sedih karena kepergian neneknya dan sekarang sakit serta kelihatannya ia tidak akan bisa ikut ujian akhir. Namun, di sisi lain Amelia merasa sedikit lega dan senang karena ia tak harus masuk ke area penyiksaan yaitu sekolahnya.
Waktu demi waktu berlalu, Amelia mulai kunjung sembuh. Besok adalah waktu ujian akhir sekolah. Amelia yang selama ini tidak masuk sekolah juga tidak punya teman untuk ditanya tentang pelajaran menjadi sama sekali tak mengerti apa yang harus dilakukan. Bercak di tubuh Amelia sudah menghilang, namun kata dokter harus menunggu seminggu baru bisa masuk sekolah. Ujian di sekolahnya berlangsung selama dua minggu dan tidak ada susulan, ini artinya Amelia kehilangan separuh ujian yang harus ia kerjakan.
Singkat cerita, Amelia kembali masuk ke sekolah namun benar saja ia tak dapat mengerjakan soal ujiannya. Tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Amelia hanya belajar bersyukur atas apa yang terjadi di hidupnya. Nampaknya sakit fisik yang ia alami memberi ia ruang untuk sedikit memperbaiki kondisi hatinya.
Sebenarnya, Amelia sempat khawatir tidak naik kelas. Namun, Papa dan mamanya berkata jalani saja dengan syukur, karena kita tidak merencanakan sakit ini, ya namanya sakit fisik.
Di sekolah, seperti biasanya Amelia yang murung duduk di bangkunya sendirian. Menoleh ke belakang, di ujung kelas bangku yang masih kosong tempat mantan sahabatnya dulu. Ia merasa sangat sedih. Tapi ia berpikir, masa-masa ini akan segera berakhir, “2 bulan lagi aku akan segera naik ke kelas 6 dan semoga saja aku mendapat teman sekelas yang baik yang mau melindungi aku dari para perundung di sekolah ini. Setelah itu, tak lama kemudian aku lulus dan bisa segera meninggalkan sekolah ini,” katanya dalam hati.
Pelajaran demi pelajaran ia lalui hari itu. Saat jam istirahat, setelah membeli jajan dari dinding sekolah, Amelia segera mencari tempat yang benar-benar sepi. Ia lelah dilempari sampah. Amelia juga membenci toilet sekolah. Di tempat itu, ia pernah disiram air sampai basah kuyup. Untung saja, ia tidak sampai masuk angin karena segera berlari ke uks. Sebisa mungkin, Amelia pergi ke toilet saat suasana benar-benar sepi. Dan, iya, sebisa mungkin sehari hanya sekali ia ke toilet. Sebenarnya, ini bukan hal yang baik tapi terpaksa ia lakukan karena ketakutannya.
Setelah pulang sekolah, Amelia segera berlari pulang ke rumah. Sesekali ia diludahi dan diolok, namun ia berusaha menutup telinga dan mengabaikan semuanya. Inilah cara Amelia bertahan hidup di sekolah yang sangat menakutkan bagi dia.
Sesampainya di rumah, Amelia kebingungan melihat situasi rumah yang sepi. Ia memanggil neneknya tapi tidak ada jawaban. Saat masuk ke kamar mandi, ia terkejut karena melihat neneknya tergeletak di sana. Amelia menangis, ia tak tahu harus berbuat apa. Tangisan Amelia mendatangkan beberapa tetangga yang kebetulan hari itu ada di rumah. Para tetangga segera memanggil Mama Amelia dan juga ambulance untuk membawa neneknya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Amelia yang turun dari mobil ambulance disambut oleh mama dan papanya yang sudah di sana dari tempat kerja. Dengan suasana sedih dan tegang, mereka membawa nenek Amelia ke ruang tindakan dibantu para petugas. Beberapa menit menunggu, seorang wanita berjas putih dengan stetoskop di lehernya dan masker di wajahnya keluar mencari keluarga nenek. Mama Amelia segera berlari ke arah perawat. Amelia melihat dari jauh tak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mamanya dan dokter itu. Tapi, dari tempatnya berdiri, Amelia dapat melihat mamanya menangis. Hal itu membuat Amelia ikut menangis.
Kini Amelia ada di pemakaman neneknya. Beserta seluruh keluarga besar yang sedang berduka atas kepergian Sang Nenek. Mulai saat ini, Amelia kecil harus berjuang sendirian di rumah.
Semua peristiwa ini membuat Amelia tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Saat akan masuk sekolah, badan Amelia terasa panas. Ia demam. Nampaknya semua peristiwa yang terjadi menyita energi dan emosinya hingga kelelahan dan jatuh sakit. Sungguh momen yang sangat luar biasa. Amelia harus izin tidak masuk sekolah lagi.
Sampai dua hari demam tak kunjung reda, Amelia dibawa oleh orang tuanya ke dokter. Saat diperiksa, dokter menemukan sebuah indikasi Amelia terserang cacar air. Setelah diresepkan obat, Amelia pulang ke rumah. Benar saja, keesokan harinya muncul bercak-bercak merah di tubuhnya.
Amelia harus izin tidak masuk sekolah lagi. Izinnya diperpanjang, ia makin lama di rumah. Amelia masih sedih karena kepergian neneknya dan sekarang sakit serta kelihatannya ia tidak akan bisa ikut ujian akhir. Namun, di sisi lain Amelia merasa sedikit lega dan senang karena ia tak harus masuk ke area penyiksaan yaitu sekolahnya.
Waktu demi waktu berlalu, Amelia mulai kunjung sembuh. Besok adalah waktu ujian akhir sekolah. Amelia yang selama ini tidak masuk sekolah juga tidak punya teman untuk ditanya tentang pelajaran menjadi sama sekali tak mengerti apa yang harus dilakukan. Bercak di tubuh Amelia sudah menghilang, namun kata dokter harus menunggu seminggu baru bisa masuk sekolah. Ujian di sekolahnya berlangsung selama dua minggu dan tidak ada susulan, ini artinya Amelia kehilangan separuh ujian yang harus ia kerjakan.
Singkat cerita, Amelia kembali masuk ke sekolah namun benar saja ia tak dapat mengerjakan soal ujiannya. Tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Amelia hanya belajar bersyukur atas apa yang terjadi di hidupnya. Nampaknya sakit fisik yang ia alami memberi ia ruang untuk sedikit memperbaiki kondisi hatinya.
Sebenarnya, Amelia sempat khawatir tidak naik kelas. Namun, Papa dan mamanya berkata jalani saja dengan syukur, karena kita tidak merencanakan sakit ini, ya namanya sakit fisik.
Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...