Dari Luka Menjadi Cahaya

Reads
1.8K
Votes
12
Parts
11
Vote
Report
Dari luka menjadi cahaya
Dari Luka Menjadi Cahaya
Penulis Bayu Alfianur

BAB 6 CAHAYA PERTAMA

Hari-hari setelah pernikahan Nadia terasa berat, tapi Azzam menolak larut dalam kesedihan. Ia mengalihkan semua energi sakitnya ke satu hal: membangun brand kecil yang sudah lama ia impikan.

Ia menamai brand itu “LUMINA”, yang berarti cahaya. Baginya, cahaya adalah simbol harapan sesuatu yang muncul setelah kegelapan.

Kamar Sempit, Mimpi Besar

Di kamar kontrakan mungilnya yang hanya berisi kasur tipis, meja kayu bekas, dan laptop tua, Azzam mulai bekerja. Ia menempelkan kertas-kertas di dinding: daftar target, sketsa desain, bahkan kata-kata motivasi yang ia tulis dengan spidol hitam.

Salah satunya berbunyi:

“Jika dunia meremehkanmu, buktikan dengan karya, bukan dengan kata-kata.”

Setiap malam, meski tubuh lelah setelah mengantar pesanan makanan dan bekerja serabutan, ia tetap meluangkan waktu 2–3 jam untuk menggambar desain. Hoodie, kaos, totebag semua ia buat dengan sentuhan unik, mengangkat tema “pain to power.”

Dukungan Sahabat

Suatu malam, Farhan datang membawa sebungkus gorengan. Mereka duduk lesehan di lantai, sambil menatap layar laptop Azzam.

Farhan: “Zam, desain kamu makin keren, bro. Coba deh kamu pasarkan online, jangan cuma ke teman-teman sekitar.”
Azzam: “Aku kepikiran sih, Han. Tapi modalku terbatas. Bikin stok banyak belum mampu.”
Farhan: (menepuk bahunya) “Mulai kecil aja dulu. Bikin sistem pre-order. Kalau orang pesan dulu, baru kamu produksi.”
Azzam: (terdiam, lalu tersenyum) “Kamu bener juga. Jadi aku nggak rugi banyak di awal.”

Malam itu, mereka membuat akun Instagram untuk brand LUMINA. Farhan membantu menulis caption, sedangkan Azzam fokus mengunggah desain dengan konsep sederhana namun penuh makna.


Postingan yang Mengubah Segalanya

Beberapa hari kemudian, Azzam memberanikan diri membuat desain hoodie dengan tulisan besar di belakang:

“FROM PAIN TO POWER.”

Ia memotret hoodie itu dengan kamera pinjaman dari Farhan, lalu mengunggahnya ke akun Instagram @lumina.project. Caption yang ia tulis sederhana, tapi jujur:

“Setiap orang punya luka. Tapi luka bisa jadi tenaga, kalau kita mau mengubahnya. LUMINA lahir dari rasa sakit, untuk jadi cahaya.”

Awalnya, ia tidak berharap banyak. Tapi keesokan harinya, notifikasi di ponselnya tak berhenti berbunyi.

Like, komentar, dan DM berdatangan. Banyak orang merasa terhubung dengan pesan itu. Bahkan seorang mahasiswa dari Jakarta memesan dua hoodie sekaligus.

> Customer pertama: “Bang, aku suka banget sama makna hoodie ini. Aku pernah gagal kuliah, tapi baca tulisan ini kayak ada harapan lagi.”


Membaca pesan itu, mata Azzam berkaca-kaca.

“Ya Allah… ini dia cahaya pertama yang Kau kasih.”

Perjuangan Produksi

Dengan uang muka dari beberapa pre-order, Azzam pergi ke konveksi kecil di pinggiran kota. Ia berbicara dengan pemilik konveksi, Pak Arman, seorang pria paruh baya yang ramah.

Azzam: “Pak, saya masih kecil-kecilan, jadi pesannya mungkin belum banyak. Bisa ya kalau saya bikin 10 hoodie dulu?”
Pak Arman: (tersenyum) “Bisa, Nak. Semua yang besar pasti dimulai dari kecil. Kalau desainmu bagus, nanti pasti berkembang.”

Azzam mengangguk penuh harapan. Ia melihat kain-kain bertumpuk, mesin jahit berdengung, dan bau khas tekstil. Di sanalah ia merasakan getaran aneh di dadanya—seolah sedang memulai perjalanan panjang yang kelak akan mengubah hidupnya.

Malam Pengiriman Pertama

Hari ketika hoodie pertamanya selesai dijahit, Azzam menatapnya lama. Ia mencium aroma kain baru, meraba huruf sablon yang masih hangat, dan tersenyum lebar.

“Ini… bukan sekadar baju. Ini bukti kalau aku bisa bangkit.”

Malam itu, ia membungkus paket dengan rapi, menuliskan alamat dengan tulisan tangan yang sedikit gemetar, lalu mengantar ke ekspedisi.

Saat menyerahkan paket itu ke petugas, ia berbisik dalam hati:

“Selamat jalan, karya pertamaku. Semoga kau jadi awal cahaya yang besar.”

Harapan yang Membara

Beberapa hari kemudian, pelanggan pertama mengunggah foto mengenakan hoodie LUMINA di Instagram, menandai akun @lumina.project, dengan caption:

“Bangga bisa pakai karya anak muda yang penuh makna. Respect!”

Postingan itu dibagikan ulang oleh banyak orang, membuat followers akun LUMINA naik ratusan hanya dalam sehari.

Azzam duduk di kamarnya, menatap layar ponsel dengan senyum mengembang.

“Alhamdulillah… ini baru awal. Aku nggak akan berhenti sampai di sini.”

Dalam hatinya, ia tahu: cahaya pertama sudah muncul. Dan kali ini, ia berjanji tidak akan membiarkannya padam.




Other Stories
Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Download Titik & Koma