BAB 2 Malam Yang Gelap
Malam itu, selepas hujan, Azzam pulang ke kamar kos sederhana dengan langkah gontai. Matanya masih menyisakan merah. Ingatannya kembali berulang pada kata-kata terakhir Nadia di kafe.
“Aku sudah memilih Reza…”
Kata itu bergema di kepalanya, menusuk berkali-kali seperti pisau.
Azzam menjatuhkan tubuhnya ke ranjang kecil yang sudah agak usang. Ia menatap langit-langit, merasa hampa. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Kenapa, ya Allah? Kenapa aku harus ditinggalkan saat aku sedang berjuang? Bukankah aku selalu percaya pada-Mu?” suaranya bergetar di ruang sempit itu.
Telepon genggamnya berbunyi. Sebuah pesan dari sahabatnya, Farhan:
Farhan: “Zam, kamu di mana? Aku denger Nadia mutusin kamu… kamu nggak apa-apa, kan?”
Azzam: “Aku nggak apa-apa, Han. Aku cuma butuh waktu sendiri.”
Padahal kenyataannya, ia benar-benar hancur.
Dialog dengan Diri Sendiri
Azzam duduk di tepi ranjang, menatap tumpukan baju dan beberapa sketsa desain yang ia buat. Ia bergumam lirih, seolah berbicara dengan dirinya sendiri.
“Aku ini siapa? Hanya seorang pemuda tanpa harta. Mungkin Nadia benar, cinta saja nggak cukup. Aku nggak bisa kasih kepastian, cuma janji-janji.”
Namun di dalam hati kecilnya, ada suara lain yang berbisik:
“Kalau kamu berhenti sekarang, semua perjuanganmu sia-sia. Kamu ingin dikenal sebagai lelaki gagal hanya karena ditinggalkan seorang wanita?”
Suara itu membuat Azzam terdiam lama. Dadanya masih sesak, tapi pikirannya perlahan mencari pegangan.
Doa di Sepertiga Malam
Pukul tiga dini hari, Azzam terbangun. Matanya masih sembab, tapi hatinya mendorong langkahnya ke sajadah. Ia menundukkan diri, sujud dengan air mata.
“Ya Allah… aku kehilangan yang aku sayang. Tapi aku percaya, Engkau nggak pernah mengambil sesuatu kecuali menggantinya dengan yang lebih baik. Kalau memang dia bukan untukku, maka kuatkan aku. Tunjukkan jalan agar aku bisa bangkit.”
Dalam keheningan malam, Azzam merasakan ketenangan yang aneh. Luka itu belum sembuh, tapi doanya memberi sedikit cahaya.
Janji untuk Diri Sendiri
Pagi menjelang, matahari menembus tirai kosnya. Azzam menatap cermin kecil di meja belajar. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada sinar baru di tatapannya.
Ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Aku boleh gagal dalam cinta, tapi aku tidak boleh gagal dalam hidup. Kalau aku jatuh, biarlah jatuh karena berusaha, bukan karena menyerah. Aku akan buktikan… aku bisa berdiri tanpa siapa pun.”
Dengan tekad itu, Azzam mulai membuka laptopnya, menatap kembali sketsa desain yang sempat ia abaikan. Hari itu, di tengah luka, ia menyalakan api baru api yang kelak membawanya menuju cahaya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...