BAB 7 LANGKAH KECIL JEJAK BESAR
Setelah unggahan pertama hoodie “From Pain to Power” viral kecil-kecilan, Azzam merasa seperti menemukan nafas baru. Followers akun Instagram LUMINA naik menjadi 1.200 hanya dalam dua minggu. Bagi brand kecil, angka itu luar biasa.
Pelanggan yang Bertambah
Pesanan demi pesanan masuk, meski jumlahnya masih puluhan. Namun bagi Azzam, setiap paket yang ia kirim terasa seperti tonggak sejarah. Ia menuliskan nama penerima dengan hati-hati, memastikan kualitas produk tak mengecewakan.
Farhan yang setia mendampingi tak henti memberi semangat.
Farhan: “Zam, lihat deh, setiap pelanggan yang upload fotonya pake LUMINA pasti tulis caption motivasi. Itu artinya bukan cuma produknya yang mereka beli, tapi juga semangatnya.”
Azzam: (tersenyum) “Itu memang tujuan awalku, Han. Aku pengen orang yang pakai LUMINA merasa punya cahaya, meski hidup mereka penuh luka.”
Panggilan Tak Terduga
Suatu sore, Azzam menerima pesan DM di Instagram. Seorang mahasiswa bernama Sarah, ketua komunitas kreatif di kampus ternama, menghubunginya.
Sarah: “Halo, Kak Azzam. Aku suka banget sama konsep LUMINA. Komunitas kami mau bikin event bertema Healing Through Art. Boleh nggak kalau brand LUMINA ikut jadi bagian, mungkin buka booth kecil atau sekadar sharing inspirasi?”
Azzam tertegun. Ia tak menyangka karyanya yang lahir dari luka pribadi bisa menarik perhatian komunitas kampus. Dengan cepat ia membalas:
Azzam: “InsyaAllah boleh banget. Terima kasih sudah percaya sama karya saya.”
Persiapan Penuh Semangat
Selama beberapa hari, Azzam dan Farhan mempersiapkan booth sederhana. Mereka meminjam meja lipat dari tetangga, mencetak banner kecil bertuliskan “LUMINA – From Pain to Power”, dan menyiapkan beberapa sample produk.
Modal minim membuat booth mereka sederhana, tapi Azzam yakin: kejujuran dan makna yang kuat akan lebih berbicara daripada kemewahan.
Malam sebelum acara, Azzam tak bisa tidur. Ia duduk di depan sajadah, berdoa dengan mata berkaca-kaca.
“Ya Allah, semoga langkah kecil ini Engkau ridhoi. Semoga dari sinilah cahaya itu makin menyebar.”
Hari Event
Acara digelar di aula kampus yang ramai dengan lampu warna-warni, mural seni, dan pertunjukan musik akustik. Booth LUMINA berada di pojok, bersebelahan dengan brand lokal lain.
Awalnya, hanya segelintir mahasiswa yang lewat sambil melirik. Namun ketika Sarah memperkenalkan Azzam sebagai founder LUMINA dan memintanya berbicara singkat di atas panggung, segalanya berubah.
Azzam berdiri dengan kemeja sederhana dan suara bergetar.
Azzam: “Saya Azzam, pendiri LUMINA. Brand ini lahir bukan dari uang besar, tapi dari luka. Saya ditinggalkan, diremehkan, bahkan nyaris menyerah. Tapi saya percaya, luka bisa jadi tenaga kalau kita mau mengubahnya. Itulah kenapa saya tulis: From Pain to Power.”
Suasana hening sejenak, lalu tepuk tangan bergema. Banyak mahasiswa yang langsung menghampiri booth LUMINA setelah itu, membeli hoodie, totebag, bahkan hanya untuk berfoto bersama Azzam.
Resonansi
Malam itu, akun Instagram LUMINA melonjak 3.000 followers tambahan. Pesanan meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Lebih penting lagi, Azzam menerima banyak pesan pribadi:
“Bang, terima kasih. Cerita abang bikin aku semangat lagi.”
“Aku pakai hoodie ini bukan karena desainnya aja, tapi karena maknanya.”
Membaca semua itu, Azzam menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata jatuh bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur yang mendalam.
Obrolan Malam dengan Farhan
Setelah acara selesai, mereka duduk di pinggir jalan, makan nasi goreng kaki lima.
Farhan: “Zam, lihat kan? Aku udah bilang, karya kamu bakal didengar orang. Bukan karena gaya, tapi karena makna.”
Azzam: (tersenyum lebar) “Han, aku baru sadar. Dulu aku kira aku hancur karena ditinggalkan. Tapi ternyata luka itu justru yang menuntunku sampai sini.”
Farhan: “Betul. Luka kamu berubah jadi cahaya. Dan aku yakin, ini baru awal.”
Malam itu, saat Azzam pulang ke kontrakannya yang sederhana, ia menatap dinding yang penuh dengan coretan target. Dengan spidol hitam, ia menambahkan satu kalimat besar:
“Jangan pernah remehkan langkah kecil. Karena langkah kecil hari ini bisa jadi jejak besar esok hari.”
Ia tersenyum, menyalakan laptop, dan mulai merancang desain baru. Api semangatnya kini tak lagi kecil ia sedang membangun nyala yang lebih besar.
Pelanggan yang Bertambah
Pesanan demi pesanan masuk, meski jumlahnya masih puluhan. Namun bagi Azzam, setiap paket yang ia kirim terasa seperti tonggak sejarah. Ia menuliskan nama penerima dengan hati-hati, memastikan kualitas produk tak mengecewakan.
Farhan yang setia mendampingi tak henti memberi semangat.
Farhan: “Zam, lihat deh, setiap pelanggan yang upload fotonya pake LUMINA pasti tulis caption motivasi. Itu artinya bukan cuma produknya yang mereka beli, tapi juga semangatnya.”
Azzam: (tersenyum) “Itu memang tujuan awalku, Han. Aku pengen orang yang pakai LUMINA merasa punya cahaya, meski hidup mereka penuh luka.”
Panggilan Tak Terduga
Suatu sore, Azzam menerima pesan DM di Instagram. Seorang mahasiswa bernama Sarah, ketua komunitas kreatif di kampus ternama, menghubunginya.
Sarah: “Halo, Kak Azzam. Aku suka banget sama konsep LUMINA. Komunitas kami mau bikin event bertema Healing Through Art. Boleh nggak kalau brand LUMINA ikut jadi bagian, mungkin buka booth kecil atau sekadar sharing inspirasi?”
Azzam tertegun. Ia tak menyangka karyanya yang lahir dari luka pribadi bisa menarik perhatian komunitas kampus. Dengan cepat ia membalas:
Azzam: “InsyaAllah boleh banget. Terima kasih sudah percaya sama karya saya.”
Persiapan Penuh Semangat
Selama beberapa hari, Azzam dan Farhan mempersiapkan booth sederhana. Mereka meminjam meja lipat dari tetangga, mencetak banner kecil bertuliskan “LUMINA – From Pain to Power”, dan menyiapkan beberapa sample produk.
Modal minim membuat booth mereka sederhana, tapi Azzam yakin: kejujuran dan makna yang kuat akan lebih berbicara daripada kemewahan.
Malam sebelum acara, Azzam tak bisa tidur. Ia duduk di depan sajadah, berdoa dengan mata berkaca-kaca.
“Ya Allah, semoga langkah kecil ini Engkau ridhoi. Semoga dari sinilah cahaya itu makin menyebar.”
Hari Event
Acara digelar di aula kampus yang ramai dengan lampu warna-warni, mural seni, dan pertunjukan musik akustik. Booth LUMINA berada di pojok, bersebelahan dengan brand lokal lain.
Awalnya, hanya segelintir mahasiswa yang lewat sambil melirik. Namun ketika Sarah memperkenalkan Azzam sebagai founder LUMINA dan memintanya berbicara singkat di atas panggung, segalanya berubah.
Azzam berdiri dengan kemeja sederhana dan suara bergetar.
Azzam: “Saya Azzam, pendiri LUMINA. Brand ini lahir bukan dari uang besar, tapi dari luka. Saya ditinggalkan, diremehkan, bahkan nyaris menyerah. Tapi saya percaya, luka bisa jadi tenaga kalau kita mau mengubahnya. Itulah kenapa saya tulis: From Pain to Power.”
Suasana hening sejenak, lalu tepuk tangan bergema. Banyak mahasiswa yang langsung menghampiri booth LUMINA setelah itu, membeli hoodie, totebag, bahkan hanya untuk berfoto bersama Azzam.
Resonansi
Malam itu, akun Instagram LUMINA melonjak 3.000 followers tambahan. Pesanan meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Lebih penting lagi, Azzam menerima banyak pesan pribadi:
“Bang, terima kasih. Cerita abang bikin aku semangat lagi.”
“Aku pakai hoodie ini bukan karena desainnya aja, tapi karena maknanya.”
Membaca semua itu, Azzam menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata jatuh bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur yang mendalam.
Obrolan Malam dengan Farhan
Setelah acara selesai, mereka duduk di pinggir jalan, makan nasi goreng kaki lima.
Farhan: “Zam, lihat kan? Aku udah bilang, karya kamu bakal didengar orang. Bukan karena gaya, tapi karena makna.”
Azzam: (tersenyum lebar) “Han, aku baru sadar. Dulu aku kira aku hancur karena ditinggalkan. Tapi ternyata luka itu justru yang menuntunku sampai sini.”
Farhan: “Betul. Luka kamu berubah jadi cahaya. Dan aku yakin, ini baru awal.”
Malam itu, saat Azzam pulang ke kontrakannya yang sederhana, ia menatap dinding yang penuh dengan coretan target. Dengan spidol hitam, ia menambahkan satu kalimat besar:
“Jangan pernah remehkan langkah kecil. Karena langkah kecil hari ini bisa jadi jejak besar esok hari.”
Ia tersenyum, menyalakan laptop, dan mulai merancang desain baru. Api semangatnya kini tak lagi kecil ia sedang membangun nyala yang lebih besar.
Other Stories
Horor
horor ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...