Dari Luka Menjadi Cahaya

Reads
1.8K
Votes
12
Parts
11
Vote
Report
Dari luka menjadi cahaya
Dari Luka Menjadi Cahaya
Penulis Bayu Alfianur

BAB 8 UJIAN PERTAMA

Kesuksesan awal LUMINA membuat Azzam merasa percaya diri. Followers Instagram naik, pesanan datang lebih banyak, dan semangatnya menyala. Namun, dunia bisnis tak selalu berjalan mulus. Justru ketika ia mulai menapaki jalan pertumbuhan, ujian pertamanya datang.

Pesanan yang Membengkak

Setelah event kampus, LUMINA kebanjiran pesanan. Dari biasanya hanya 15–20 hoodie per minggu, kini mencapai 150 dalam waktu kurang dari sebulan.

Di satu sisi, ini kabar baik. Namun di sisi lain, Azzam kelimpungan. Konveksi kecil milik Pak Arman tidak mampu memenuhi pesanan tepat waktu. Produksi molor, pelanggan mulai bertanya-tanya.

Customer: “Bang, aku pesan udah 2 minggu, kok belum dikirim ya?”
Customer lain: “Kalau lama gini, takutnya aku keburu butuh, Bang. Bisa refund aja nggak?”

Azzam membaca pesan-pesan itu dengan hati berat. Ia merasa tertekan.

Godaan Jalan Pintas

Suatu sore, seorang pria bernama Bagas menghubunginya lewat DM Instagram. Bagas mengaku punya konveksi besar dengan kapasitas produksi ratusan pcs per minggu. Ia menawarkan harga murah dan waktu produksi cepat.

Azzam sempat tergoda.

Azzam (dalam hati): “Kalau aku kerja sama sama dia, masalah stok selesai. Brand bisa berkembang lebih cepat.”

Namun Farhan mengingatkannya.

Farhan: “Zam, hati-hati. Jangan asal percaya orang yang baru kenal, apalagi kalau tawarannya terlalu indah buat jadi kenyataan.”

Azzam: (gelisah) “Tapi Han, kalau aku nggak ambil langkah ini, bisa-bisa aku ditinggal pelanggan.”

Kegelisahan itu membuat Azzam sulit tidur malam itu.

Kejatuhan Kecil

Akhirnya, Azzam mencoba bekerja sama dengan Bagas. Ia mentransfer sejumlah uang muka yang cukup besar untuk ukuran tabungannya—hasil dari ratusan pesanan yang masuk.

Namun, setelah seminggu, Bagas sulit dihubungi. Nomor ponselnya mati, DM tidak dibalas, alamat konveksinya tidak bisa ditemukan.

Azzam terperanjat. Tangannya gemetar.

Azzam: “Ya Allah… jangan bilang aku ditipu.”

Dan benar saja. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata Bagas adalah penipu yang sudah beberapa kali melakukan hal serupa pada brand lokal lain.

Uang hasil jerih payah Azzam lenyap. Produksi terhambat. Pesanan menumpuk. Pelanggan marah.

Malam Gelap

Di kamarnya, Azzam terduduk lesu. Ia menatap layar ponsel yang penuh pesan komplain. Air matanya jatuh.

Azzam (berbisik): “Aku udah berusaha jujur, kerja keras… tapi kenapa aku malah ditipu? Apa aku harus berhenti aja?”

Telepon dari ibunya tiba-tiba masuk. Suara lembut sang ibu membuat hatinya retak.

Ibu: “Zam, gimana kabar? Usahanya lancar?”
Azzam: (menahan tangis) “Doain aku ya, Bu. Aku lagi diuji… tapi aku nggak mau nyerah.”
Ibu: (tenang) “Nak, ingat. Allah nggak akan kasih ujian di luar batas hamba-Nya. Kalau ini berat, berarti Allah tahu kamu kuat. Jangan lihat uangmu yang hilang, tapi lihat pelajaran yang kamu dapat.”

Kata-kata itu menancap dalam di hati Azzam. Ia menyeka air mata, menatap lagi dinding kamarnya yang penuh coretan motivasi.

Bangkit Lagi

Keesokan harinya, Azzam menemui Pak Arman di konveksi.

Azzam: “Pak, saya kemarin salah langkah. Saya ditipu orang.”
Pak Arman: (terkejut) “Astaghfirullah… terus gimana sekarang?”
Azzam: (menarik napas dalam) “Saya nggak bisa mundur, Pak. Kalau Bapak masih percaya, saya mau terus produksi di sini. Mungkin nggak cepat, tapi saya janji, kita kerjain pelan-pelan sampai semua pesanan selesai.”

Pak Arman menepuk bahu Azzam.

Pak Arman: “Itu baru namanya pebisnis sejati. Belajar dari jatuh, bukan kabur dari masalah.”

Dengan sisa uang tabungannya, Azzam kembali memesan kain dalam jumlah kecil. Ia mulai produksi bertahap, menjelaskan jujur pada pelanggan bahwa pengiriman akan sedikit terlambat.

Beberapa memang kecewa dan meminta refund, tapi lebih banyak yang justru menghargai kejujurannya.

Customer: “Santai aja Bang, aku rela nunggu. Yang penting jujur.”

Pelajaran Berharga

Malam itu, Azzam menulis di bukunya:

“Bisnis bukan cuma soal untung. Bisnis adalah soal kepercayaan. Sekali rusak, sulit dibangun lagi. Aku boleh kehilangan uang, tapi aku nggak boleh kehilangan kepercayaan orang.”

Ia menatap kalimat itu lama, lalu tersenyum tipis. Luka baru memang terbuka, tapi kali ini ia lebih kuat.

Beberapa minggu kemudian, meski terlambat, semua pesanan akhirnya terkirim. Banyak pelanggan mengunggah foto dengan caption positif. LUMINA tetap bertahan, meski sempat hampir tumbang.

Dan di balik semua itu, Azzam tahu satu hal: ujian pertama ini telah membuatnya lebih matang, lebih hati-hati, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.

“Luka lagi-lagi melahirkan cahaya.”



Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Kk

jjj ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Download Titik & Koma