Kabinet Boneka
Hari kedua setelah pelantikan, istana negara kembali dipenuhi sorotan. Ruang rapat kabinet dipoles dengan mewah, kursi kursi berlapis kulit hitam ditata rapi, meja panjang penuh dengan dokumen, mikrofon kecil di setiap sisi, dan bendera negara berdiri gagah di sudut ruangan. Kamera televisi sudah dipasang di beberapa titik, siap menyiarkan langsung sidang kabinet pertama di bawah kepemimpinan Presiden Aveline.
Pintu ruang rapat terbuka. Satu per satu sosok masuk dengan langkah ragu ragu. Mereka mengenakan jas resmi, dasi ketat, dan wajah yang dipoles dengan make up agar tampak lebih berwibawa. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang janggal. Gerakan mereka canggung, tatapan mereka gelisah, dan bisikan kecil sering terdengar di antara mereka.
Seorang pria berperut buncit dengan rambut tipis mendekat ke kursinya. Wajahnya pernah dikenal masyarakat, tetapi bukan di dunia politik. Ia adalah mantan aktor komedi situasi yang pernah populer bertahun tahun lalu. Kini ia berdiri dengan setelan jas rapi, mencoba terlihat tegas. Saat ia duduk, kursinya hampir jatuh karena ia tidak terbiasa dengan suasana resmi.
Di sampingnya, seorang wanita berusia empat puluhan mencoba membuka map berisi catatan. Jemarinya gemetar, matanya berusaha membaca tulisan yang jelas bukan miliknya. Ia adalah mantan penyanyi panggung kecil yang gagal, kini direkrut untuk memerankan Menteri Ekonomi. Suaranya serak karena latihan menyanyi yang sia sia, namun wajahnya dipoles agar tampak serius.
Seorang pria jangkung dengan kacamata tebal duduk di ujung meja. Ia sebenarnya guru teater dari sebuah sekolah pinggiran. Kini ia memerankan Menteri Hukum. Tatapannya kosong setiap kali kamera menyorot, lalu ia buru buru membuka mapnya, seolah sedang mempelajari dokumen penting. Padahal di dalamnya hanya ada naskah yang ditulis tim Aveline.
Pintu kembali terbuka. Seorang pria berseragam militer masuk dengan langkah kaku. Orang awam mungkin mengira ia benar benar seorang jenderal. Tetapi jika diperhatikan baik baik, sepatu botnya tampak terlalu besar, dan sikap tegapnya lebih mirip aktor film perang kelas B. Dia pernah bermain dalam sebuah iklan deterjen yang menampilkan adegan militer. Kini ia harus meyakinkan rakyat bahwa ia Menteri Pertahanan.
Sorakan kecil terdengar dari para staf media yang berdiri di belakang kamera. Semuanya berjalan sesuai rencana. Kamera menyorot wajah wajah baru itu, memperkenalkan mereka sebagai otak baru bangsa. Rakyat yang menonton di televisi merasa bangga, percaya bahwa pemimpin baru telah memilih kabinet yang segar dan inovatif.
Presiden Aveline masuk dengan langkah mantap. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya. Semua berdiri menyambut. Ia duduk di kursi utama di ujung meja.
“Selamat pagi. Inilah hari pertama kita memulai perjalanan besar. Kabinet ini adalah tulang punggung bangsa. Aku percaya kita semua bisa bekerja sama membawa negara ini ke masa depan yang lebih cerah.”
Kata kata itu terdengar manis. Kamera televisi merekamnya dengan jelas. Tetapi di bawah meja, beberapa aktor menteri saling melirik dengan panik. Mereka baru menerima naskah semalam, dan belum hafal sepenuhnya.
Aveline melirik mereka satu per satu. Tatapannya tajam namun penuh senyum. Ia tahu mereka takut. Ia tahu mereka bukan pemimpin sejati. Dan justru itu yang membuatnya puas.
“Menteri Ekonomi, silakan beri pandangan tentang kebijakan fiskal kita ke depan” katanya sambil tersenyum.
Wanita penyanyi gagal itu berdiri dengan gugup. Tangannya gemetar memegang map. Ia membuka halaman pertama, membaca dengan suara serak.
“Eh berdasarkan analisis eh kondisi global kita harus eh menjaga stabilitas dan… mendorong pertumbuhan… investasi asing…”
Suaranya tersendat sendat. Beberapa wartawan mengernyit, tetapi sebagian besar menganggap ini gaya unik. Bahkan ada yang menulis cepat di laptopnya, menyebut gaya bicara menteri baru itu sebagai “strategi komunikasi yang sederhana agar mudah dipahami rakyat.”
Aveline tersenyum lebih lebar. Ia tahu publik akan menelan apa saja yang disiarkan kamera.
Giliran Menteri Hukum. Guru teater itu berdiri, menyesuaikan kacamatanya. Ia membuka map, berbicara dengan nada bergetar.
“Kami akan memastikan hukum ditegakkan dengan adil dan eh transparan.”
Ia berhenti, lupa baris berikutnya. Keringat dingin membasahi dahinya. Kamera menyorot wajahnya. Seketika ia mengangkat map lebih tinggi, pura pura menunduk mempelajari dokumen.
Seorang staf media berbisik pelan, “Bagus. Terlihat serius.”
Menteri Pertahanan palsu kemudian berdiri. Ia menghentakkan kaki, memberi hormat terlalu berlebihan hingga kursinya jatuh. Kamera merekam suara berdebam. Sekilas ruangan tegang, tetapi ia segera berkata dengan nada berat.
“Kita akan menjaga keamanan dengan disiplin ketat. Rakyat tidak perlu khawatir. Kita kuat.”
Nada suaranya seperti aktor yang sedang membaca skrip iklan. Namun wartawan bertepuk tangan kecil. Publik akan menilai itu sebagai ketegasan.
Di luar istana, Ezra si jurnalis menonton siaran langsung melalui layar laptop di sebuah kafe. Ia memperhatikan dengan seksama setiap gerak tubuh para menteri baru. Semakin lama ia menonton, semakin ia merasa aneh. Mereka tidak terlihat seperti teknokrat atau pakar. Mereka lebih mirip aktor panggung yang sedang latihan drama.
Ezra mencatat sesuatu di buku kecil. Ia menulis bahwa ekspresi mereka tidak konsisten, pilihan kata mereka kaku, dan beberapa di antara mereka tampak membaca dari catatan yang jelas bukan ditulis sendiri. Ia mengernyit, merasa ada rahasia besar di balik panggung politik baru ini.
Kembali ke ruang rapat, Aveline mengetuk meja pelan. “Bagus. Sangat bagus. Rakyat pasti bangga memiliki kabinet yang penuh semangat.”
Para aktor menteri menunduk dalam. Mereka tahu ia bukan sedang memuji, melainkan memperingatkan. Ada tatapan dingin yang membuat darah mereka berdesir.
Setelah rapat usai, kamera televisi dimatikan, wartawan meninggalkan ruangan, dan pintu rapat terkunci dari dalam. Aveline berdiri, menatap mereka dengan senyum dingin.
“Kalian tampil cukup baik untuk hari pertama. Tapi jangan lupa, satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan panggung kita. Dan kalian tahu apa yang menunggu jika pertunjukan gagal.”
Suara rantai berderit samar terdengar dari bawah tanah. Para aktor menteri saling menelan ludah. Mereka tahu apa maksudnya.
Menteri Ekonomi palsu memberanikan diri bicara. “Kami akan berusaha lebih keras. Tolong beri kami waktu.”
Aveline mendekat, menepuk pundaknya pelan. “Waktu adalah hal yang paling mahal di dunia politik. Jangan sia siakan milikku.”
Ia lalu meninggalkan ruangan dengan langkah ringan. Para aktor menteri terdiam, jantung mereka berdegup kencang. Mereka sadar, meskipun di atas panggung tampak seperti pejabat berwibawa, di balik layar mereka hanyalah boneka dalam permainan kejam seorang presiden yang licin.
Di luar, rakyat masih bersorak sorai, bangga dengan kabinet baru. Televisi memutar ulang pidato mereka dengan narasi penuh pujian. Tak seorang pun tahu bahwa para menteri asli masih terikat di ruang bawah tanah, dan negara ini kini dipimpin bukan oleh para ahli, melainkan oleh sekelompok aktor yang dipaksa memainkan peran hidup mati.
Ezra menutup bukunya, menatap layar dengan serius. “Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.” gumamnya pelan. Ia tahu ini baru permulaan dari misteri besar yang harus ia bongkar.
Dan di ruang pribadinya, Aveline tertawa kecil sambil menonton rekaman rapat kabinet pertama. Ia meneguk segelas anggur merah, menatap pantulan wajahnya sendiri di layar. “Pertunjukan ini baru dimulai. Dan aku adalah sutradara sekaligus bintang utamanya.”
Pintu ruang rapat terbuka. Satu per satu sosok masuk dengan langkah ragu ragu. Mereka mengenakan jas resmi, dasi ketat, dan wajah yang dipoles dengan make up agar tampak lebih berwibawa. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sesuatu yang janggal. Gerakan mereka canggung, tatapan mereka gelisah, dan bisikan kecil sering terdengar di antara mereka.
Seorang pria berperut buncit dengan rambut tipis mendekat ke kursinya. Wajahnya pernah dikenal masyarakat, tetapi bukan di dunia politik. Ia adalah mantan aktor komedi situasi yang pernah populer bertahun tahun lalu. Kini ia berdiri dengan setelan jas rapi, mencoba terlihat tegas. Saat ia duduk, kursinya hampir jatuh karena ia tidak terbiasa dengan suasana resmi.
Di sampingnya, seorang wanita berusia empat puluhan mencoba membuka map berisi catatan. Jemarinya gemetar, matanya berusaha membaca tulisan yang jelas bukan miliknya. Ia adalah mantan penyanyi panggung kecil yang gagal, kini direkrut untuk memerankan Menteri Ekonomi. Suaranya serak karena latihan menyanyi yang sia sia, namun wajahnya dipoles agar tampak serius.
Seorang pria jangkung dengan kacamata tebal duduk di ujung meja. Ia sebenarnya guru teater dari sebuah sekolah pinggiran. Kini ia memerankan Menteri Hukum. Tatapannya kosong setiap kali kamera menyorot, lalu ia buru buru membuka mapnya, seolah sedang mempelajari dokumen penting. Padahal di dalamnya hanya ada naskah yang ditulis tim Aveline.
Pintu kembali terbuka. Seorang pria berseragam militer masuk dengan langkah kaku. Orang awam mungkin mengira ia benar benar seorang jenderal. Tetapi jika diperhatikan baik baik, sepatu botnya tampak terlalu besar, dan sikap tegapnya lebih mirip aktor film perang kelas B. Dia pernah bermain dalam sebuah iklan deterjen yang menampilkan adegan militer. Kini ia harus meyakinkan rakyat bahwa ia Menteri Pertahanan.
Sorakan kecil terdengar dari para staf media yang berdiri di belakang kamera. Semuanya berjalan sesuai rencana. Kamera menyorot wajah wajah baru itu, memperkenalkan mereka sebagai otak baru bangsa. Rakyat yang menonton di televisi merasa bangga, percaya bahwa pemimpin baru telah memilih kabinet yang segar dan inovatif.
Presiden Aveline masuk dengan langkah mantap. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya. Semua berdiri menyambut. Ia duduk di kursi utama di ujung meja.
“Selamat pagi. Inilah hari pertama kita memulai perjalanan besar. Kabinet ini adalah tulang punggung bangsa. Aku percaya kita semua bisa bekerja sama membawa negara ini ke masa depan yang lebih cerah.”
Kata kata itu terdengar manis. Kamera televisi merekamnya dengan jelas. Tetapi di bawah meja, beberapa aktor menteri saling melirik dengan panik. Mereka baru menerima naskah semalam, dan belum hafal sepenuhnya.
Aveline melirik mereka satu per satu. Tatapannya tajam namun penuh senyum. Ia tahu mereka takut. Ia tahu mereka bukan pemimpin sejati. Dan justru itu yang membuatnya puas.
“Menteri Ekonomi, silakan beri pandangan tentang kebijakan fiskal kita ke depan” katanya sambil tersenyum.
Wanita penyanyi gagal itu berdiri dengan gugup. Tangannya gemetar memegang map. Ia membuka halaman pertama, membaca dengan suara serak.
“Eh berdasarkan analisis eh kondisi global kita harus eh menjaga stabilitas dan… mendorong pertumbuhan… investasi asing…”
Suaranya tersendat sendat. Beberapa wartawan mengernyit, tetapi sebagian besar menganggap ini gaya unik. Bahkan ada yang menulis cepat di laptopnya, menyebut gaya bicara menteri baru itu sebagai “strategi komunikasi yang sederhana agar mudah dipahami rakyat.”
Aveline tersenyum lebih lebar. Ia tahu publik akan menelan apa saja yang disiarkan kamera.
Giliran Menteri Hukum. Guru teater itu berdiri, menyesuaikan kacamatanya. Ia membuka map, berbicara dengan nada bergetar.
“Kami akan memastikan hukum ditegakkan dengan adil dan eh transparan.”
Ia berhenti, lupa baris berikutnya. Keringat dingin membasahi dahinya. Kamera menyorot wajahnya. Seketika ia mengangkat map lebih tinggi, pura pura menunduk mempelajari dokumen.
Seorang staf media berbisik pelan, “Bagus. Terlihat serius.”
Menteri Pertahanan palsu kemudian berdiri. Ia menghentakkan kaki, memberi hormat terlalu berlebihan hingga kursinya jatuh. Kamera merekam suara berdebam. Sekilas ruangan tegang, tetapi ia segera berkata dengan nada berat.
“Kita akan menjaga keamanan dengan disiplin ketat. Rakyat tidak perlu khawatir. Kita kuat.”
Nada suaranya seperti aktor yang sedang membaca skrip iklan. Namun wartawan bertepuk tangan kecil. Publik akan menilai itu sebagai ketegasan.
Di luar istana, Ezra si jurnalis menonton siaran langsung melalui layar laptop di sebuah kafe. Ia memperhatikan dengan seksama setiap gerak tubuh para menteri baru. Semakin lama ia menonton, semakin ia merasa aneh. Mereka tidak terlihat seperti teknokrat atau pakar. Mereka lebih mirip aktor panggung yang sedang latihan drama.
Ezra mencatat sesuatu di buku kecil. Ia menulis bahwa ekspresi mereka tidak konsisten, pilihan kata mereka kaku, dan beberapa di antara mereka tampak membaca dari catatan yang jelas bukan ditulis sendiri. Ia mengernyit, merasa ada rahasia besar di balik panggung politik baru ini.
Kembali ke ruang rapat, Aveline mengetuk meja pelan. “Bagus. Sangat bagus. Rakyat pasti bangga memiliki kabinet yang penuh semangat.”
Para aktor menteri menunduk dalam. Mereka tahu ia bukan sedang memuji, melainkan memperingatkan. Ada tatapan dingin yang membuat darah mereka berdesir.
Setelah rapat usai, kamera televisi dimatikan, wartawan meninggalkan ruangan, dan pintu rapat terkunci dari dalam. Aveline berdiri, menatap mereka dengan senyum dingin.
“Kalian tampil cukup baik untuk hari pertama. Tapi jangan lupa, satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan panggung kita. Dan kalian tahu apa yang menunggu jika pertunjukan gagal.”
Suara rantai berderit samar terdengar dari bawah tanah. Para aktor menteri saling menelan ludah. Mereka tahu apa maksudnya.
Menteri Ekonomi palsu memberanikan diri bicara. “Kami akan berusaha lebih keras. Tolong beri kami waktu.”
Aveline mendekat, menepuk pundaknya pelan. “Waktu adalah hal yang paling mahal di dunia politik. Jangan sia siakan milikku.”
Ia lalu meninggalkan ruangan dengan langkah ringan. Para aktor menteri terdiam, jantung mereka berdegup kencang. Mereka sadar, meskipun di atas panggung tampak seperti pejabat berwibawa, di balik layar mereka hanyalah boneka dalam permainan kejam seorang presiden yang licin.
Di luar, rakyat masih bersorak sorai, bangga dengan kabinet baru. Televisi memutar ulang pidato mereka dengan narasi penuh pujian. Tak seorang pun tahu bahwa para menteri asli masih terikat di ruang bawah tanah, dan negara ini kini dipimpin bukan oleh para ahli, melainkan oleh sekelompok aktor yang dipaksa memainkan peran hidup mati.
Ezra menutup bukunya, menatap layar dengan serius. “Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.” gumamnya pelan. Ia tahu ini baru permulaan dari misteri besar yang harus ia bongkar.
Dan di ruang pribadinya, Aveline tertawa kecil sambil menonton rekaman rapat kabinet pertama. Ia meneguk segelas anggur merah, menatap pantulan wajahnya sendiri di layar. “Pertunjukan ini baru dimulai. Dan aku adalah sutradara sekaligus bintang utamanya.”
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...