Kabinet Boneka

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bunker Rahasia

Aveline melangkah melewati koridor istana yang sepi. Malam baru saja jatuh, tirai jendela ditutup rapat, lampu-lampu kristal menyala lembut, menciptakan bayangan yang bergetar di dinding. Sepatu hak tipisnya berdetak pelan. Dari kejauhan, para ajudan pura-pura sibuk dengan dokumen, padahal mereka semua tahu, malam ini sang Presiden punya urusan pribadi. Urusan yang tidak boleh seorang pun ikuti.

Ia berhenti di depan sebuah pintu baja setinggi dua meter. Pintu itu tersembunyi di balik rak buku besar di ruang kerjanya. Dengan senyum kecil, ia menarik buku merah yang menjadi kunci, terdengar bunyi mekanis berderit. Rak itu bergeser pelan, memperlihatkan lift sempit dengan dinding logam dingin. Aveline masuk ke dalam, menekan tombol tanpa tanda. Lift turun jauh ke bawah tanah, melewati lantai demi lantai, sampai akhirnya berhenti dengan suara mendesis.

Pintu lift terbuka. Udara lembap bercampur bau besi tua langsung menyergap. Lampu neon panjang menyala dengan cahaya putih pucat. Lorong itu membentang lurus, dipenuhi pintu-pintu besi dengan jendela kecil seukuran telapak tangan. Dari dalam, suara samar terdengar: batuk, desahan, dan kadang teriakan lirih. Aveline tersenyum. Baginya, ini bukan penjara. Ini adalah panggung pribadi, tempat ia memegang kendali penuh.

“Selamat malam, penonton setiaku,” bisiknya lirih, sambil berjalan anggun di tengah bau karat dan keringat.

Di pintu pertama, ia berhenti. Matanya mengintip melalui jendela kecil. Seorang pria tua dengan jas kusut tergeletak di sudut ruangan, rantai membelenggu tangannya. Itu Menteri Keuangan asli, yang dulu dikenal piawai mengatur neraca negara. Kini, ia hanya bisa mengatur napas agar tetap bertahan. Aveline mengetuk jendela kecil itu dengan kuku jarinya.

“Bangunlah, Pak Menteri. Acara malam ini baru saja dimulai.”

Pria tua itu membuka mata. Wajahnya pucat, janggut tipis tumbuh acak. Ia menatap Aveline dengan pandangan penuh benci. “Kau… perempuan gila. Apa maumu sebenarnya?”

Aveline tersenyum. “Aku hanya ingin memastikan kau tidak lupa bahwa negara ini berjalan baik-baik saja… meski tanpamu. Kabinet boneka lebih menghibur daripada kalian yang membosankan.”

Pria itu meronta, rantai berderak. “Itu semua palsu! Kau mempermainkan bangsa ini!”

“Tentu saja,” jawab Aveline sambil tertawa kecil. “Tapi bukankah seluruh dunia memang sebuah panggung? Aku hanya sutradara yang lebih jujur daripada kalian.”

Ia melangkah lagi, melewati pintu demi pintu. Para menteri lain ada yang berteriak, ada yang diam membisu. Ada yang berdoa, ada yang menangis. Semua wajah itu adalah bagian dari koleksi pribadinya. Setiap kali melihat mereka, Aveline merasa puas. Ia tahu, di atas sana, rakyat menatap layar televisi dengan kagum, percaya sepenuhnya pada drama besar yang ia ciptakan.

Sampai akhirnya ia tiba di aula kecil di ujung lorong. Ruangan itu lebih luas, seperti ruang teater mini. Kursi-kursi besi berderet, dan di tengahnya, enam menteri asli duduk terikat. Lampu sorot murahan menggantung di atas, menghadap ke panggung sederhana dengan tirai merah. Di panggung itu, ada papan kayu, mikrofon tua, dan beberapa properti konyol: topi badut, boneka tangan, dan poster bertuliskan “Kabinet yang Sejati.”

Aveline naik ke panggung. Ia merentangkan tangan, seperti seorang diva menyambut penonton. “Selamat datang di pertunjukan malam ini! Hari ini, tema kita adalah… Kepemimpinan Sejati!”

Salah satu menteri berteriak, seorang wanita dengan rambut uban yang dulu dikenal sebagai Menteri Pendidikan. “Kau sakit jiwa! Apa yang kau lakukan pada bangsa ini, Aveline? Anak-anak belajar dari kebohonganmu!”

Aveline menatapnya tajam, lalu tertawa renyah. “Bukankah itu pelajaran paling penting? Dunia memang dipenuhi kebohongan. Aku hanya mengajarkannya lebih cepat.”

Ia melangkah ke arah para menteri. Dari sakunya, ia mengeluarkan selembar naskah lusuh. “Hari ini, aku ingin kalian membaca dialog yang sudah kusiapkan. Anggap saja gladi bersih sebelum aku menggunakannya di atas.”

Menteri Pertahanan asli, seorang pria tegap yang kini kurus karena berbulan-bulan disekap, mendengus. “Aku tidak akan membaca sampahmu.”

Aveline mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari pria itu. Senyum manisnya tetap terpasang, tapi matanya dingin. “Kalau begitu kau hanya akan jadi penonton selamanya. Dan kau tahu apa yang terjadi pada penonton yang membosankan? Mereka dipaksa keluar teater.”

Pria itu terdiam, rahangnya mengeras. Aveline menepuk bahunya dengan lembut, seolah menenangkan. “Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu. Kalian semua terlalu berharga. Bagaimana aku bisa menikmati pertunjukan kalau para aktor asliku hilang?”

Ia kembali ke panggung. Dengan lincah, ia mengenakan boneka tangan berbentuk singa. Suaranya berubah dramatis, menirukan gaya pidato berapi-api. “Aku, Presiden Aveline, pemimpin yang dicintai rakyat! Lihatlah betapa dunia bertekuk lutut padaku!”

Menteri-menteri asli menatap dengan campuran marah dan ngeri. Beberapa mencoba menunduk, tak sanggup melihat kegilaan itu. Aveline lalu mengganti boneka dengan topi badut, berbicara dengan suara cempreng. “Aku Menteri Boneka! Aku akan menandatangani semua kebijakan, meski tidak paham apa-apa!”

Ia terbahak sendiri, hingga kursinya berderit. Suara tawanya menggema di ruangan sempit. “Kalian harusnya bangga! Kalian adalah penulis asli skenario negara ini. Aku hanya menyempurnakannya.”

Tiba-tiba, dari kursi penonton, seorang menteri yang biasanya diam angkat bicara. Menteri Hukum, dengan suara serak, berkata, “Aveline cepat atau lambat, rakyat akan tahu. Seorang jurnalis sudah mencium kejanggalan. Kau tidak akan bisa menutupinya selamanya.”

Aveline berhenti tertawa. Ia menatap pria itu, lalu melangkah perlahan, tumit sepatunya mengetuk lantai. Ia mendekat sampai tepat di depannya. “Kau bicara tentang… Ezra, bukan?”

Menteri itu terkejut. “Kau… kau tahu namanya?”

“Tentu saja,” kata Aveline pelan, hampir seperti berbisik. “Aku tahu setiap langkahnya. Aku tahu dia bersembunyi di balik kamera, berusaha mengendus kebenaran. Tapi bukankah itu lebih seru? Apa arti panggung tanpa penonton yang kritis?”

Menteri Hukum menelan ludah, wajahnya pucat. Aveline menepuk pipinya pelan. “Tenanglah. Biarkan dia terus menonton. Toh, semakin dekat dia pada kebenaran, semakin besar panggungku bersinar.”

Ia kembali berdiri di tengah ruangan, mengangkat tangan. “Pertunjukan malam ini selesai! Penonton boleh kembali ke sel masing-masing. Jangan lupa, kalian adalah VIP-ku. Tanpa kalian, dunia luar tak akan terlihat seindah ini.”

Para penjaga bayangan orang-orang berseragam hitam yang selalu mengikuti perintah tanpa bicara masuk ke aula. Mereka mendorong kursi-kursi, menarik para menteri kembali ke sel mereka. Suara rantai berderak, langkah sepatu berat menggema. Aveline berdiri anggun, menonton semua itu dengan puas.

Saat aula mulai kosong, ia menatap panggung kecilnya sekali lagi. Tirai merah bergoyang pelan, seolah ikut menunduk pada sang sutradara. Aveline tersenyum. Ia tahu, malam ini hanya satu dari ratusan pertunjukan pribadi yang akan ia ciptakan. Dan semakin lama, semakin besar pula pertunjukan di dunia luar.

Sebelum keluar, ia berbisik pelan, nyaris seperti doa. “Tirai belum ditutup. Babak berikutnya segera dimulai.”

Ia berjalan meninggalkan lorong. Lampu neon berkelip sebentar, lalu kembali stabil. Di kejauhan, suara batuk dan rintihan menteri asli terdengar samar. Lift menutup, membawanya naik kembali ke atas istana, ke dunia penuh sorotan kamera dan tepuk tangan rakyat.

Di atas tanah, rakyat hanya tahu Presiden Aveline adalah pemimpin yang memesona. Mereka tak pernah melihat panggung bawah tanah tempat kebenaran dikurung rapat.

Dan di ruang yang kini kosong, hanya tersisa kursi besi, tirai merah, dan gema tawa Aveline yang seolah tak pernah padam.

Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma