Ezra Menyusup
Langit malam ibukota tampak pucat, bulan setengah tertutup awan. Di luar pagar istana presiden, Ezra berdiri dalam kegelapan, menyamar dengan jaket hitam dan topi rendah menutupi wajahnya. Ia tahu ini gila. Masuk ke jantung kekuasaan seorang presiden psikopat sama saja dengan bunuh diri. Tapi sejak kebijakan absurd tiga kali pidato sehari diumumkan, Ezra yakin satu hal: kebenaran harus ditemukan.
Ia menatap pagar tinggi dengan kawat listrik di atasnya. Kamera pengawas berputar perlahan. Petugas berpatroli dengan senjata, langkah mereka berat di atas aspal. Ezra menarik napas panjang. Ia sudah mengamati pola jaga selama seminggu. Ada celah kecil di sisi timur istana, dekat taman belakang. Itu satu-satunya kesempatan.
“Baiklah,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kalau aku mati malam ini, setidaknya aku mati mencoba.”
Dengan tubuh rendah, ia bergerak cepat menyusuri tembok. Bayangan pepohonan membantu menyamarkan gerakannya. Setiap kali lampu sorot berputar, ia menempel pada dinding. Jantungnya berdetak keras, keringat dingin membasahi punggung meski udara malam menusuk.
Sampai akhirnya ia tiba di taman belakang. Sebuah gerbang besi kecil terkunci. Ezra mengeluarkan kawat tipis dari sakunya. Tangannya bergetar sedikit, tapi ia paksa tetap tenang. Klik. Gembok terbuka. Ia melangkah masuk.
Taman itu gelap, hanya diterangi lampu taman kecil. Aroma bunga bercampur dengan udara lembap. Ezra berjalan perlahan, menyusuri jalan setapak batu. Suara jangkrik terdengar samar. Untuk sesaat, ia merasa seperti masuk ke dunia lain.
Namun tiba-tiba, terdengar suara batuk di dekatnya. Ezra terhenti, menahan napas. Dari balik semak, muncul sosok tinggi besar dengan seragam militer aktor Menteri Pertahanan boneka. Tapi Ezra tahu, pria itu dulu bukan tentara sungguhan. Ia pernah melihat wajahnya di layar televisi bertahun-tahun lalu. Ia seorang komedian panggung yang terkenal dengan lawakan fisik.
Pria itu berjalan santai, bahu lebar tapi gerakannya kikuk. Ia menghisap rokok, asapnya melayang di udara. Bibirnya bersenandung lagu konyol. Ezra menempel di balik pohon, berusaha tidak bersuara.
Namun sial, ranting kering patah di bawah sepatunya.
“Siapa di sana?” suara pria itu berat, tapi terdengar tidak terlalu menakutkan. Lebih mirip aktor yang sedang latihan peran.
Ezra membeku. Ia tahu jika diam saja, pria itu akan mendekat. Pilihan lain adalah kabur, tapi itu terlalu berisiko. Maka ia nekat keluar dari balik pohon, pura-pura jadi staf istana.
“Maaf Pak,” katanya cepat. “Saya hanya staf kebersihan, diminta memeriksa taman ini.”
Menteri Pertahanan boneka menatapnya dengan mata menyipit. Lalu tiba-tiba, ia tertawa keras. “Staf kebersihan? Di jam segini? Hahaha! Kau pikir aku bodoh?”
Ezra mencoba ikut tertawa, meski jantungnya hampir meloncat keluar. “Ya sebenarnya saya memang bodoh, Pak. Tapi kalau saya tidak kerja sekarang, saya bisa dipecat.”
Pria itu mendekat. Wajahnya besar, hidungnya pesek, mata kecil berkilat. “Aku kenal semua staf di sini. Kau bukan salah satunya. Jadi siapa kau sebenarnya?”
Ezra panik. Ia melangkah mundur, tangannya mencari sesuatu di kantong. Ia hanya membawa senter kecil. Dengan cepat, ia menyalakan senter tepat ke mata pria itu.
“Aaargh!” pria itu teriak, menutupi wajahnya. Ezra mengambil kesempatan untuk berlari. Ia melompat melewati semak, berlari sepanjang jalan setapak. Lampu taman bergoyang, ranting patah di belakang.
“Berhenti!” suara pria itu menggema. “Kau penyusup! Tangkap dia!”
Suara peluit keras terdengar, menggetarkan udara. Dari berbagai arah, petugas istana mulai berdatangan. Lampu sorot berputar, menerangi taman seperti panggung teater raksasa. Ezra berlari sekuat tenaga, menunduk, melompat pagar kecil. Nafasnya berat, paru-paru terasa terbakar.
Ia tahu, jika tertangkap di sini, nyawanya tamat.
Menteri Pertahanan boneka mengejarnya, tapi langkahnya aneh, campuran antara gerakan militer dan gaya slapstick seorang komedian. Ia terjatuh menabrak pot bunga, lalu bangkit lagi dengan teriakan marah.
“Kau pikir bisa kabur? Aku pernah berlari maraton di panggung komedi! Aku bisa kejar kau sampai neraka!”
Ezra tidak punya waktu untuk tertawa. Ia terus berlari, sampai menemukan sebuah pintu samping istana yang terbuka sedikit. Tanpa pikir panjang, ia masuk.
Lorong dalam istana gelap, hanya lampu redup yang menyala setiap sepuluh meter. Ezra menempel pada dinding, mendengar langkah kaki petugas yang mulai menyebar. Dari kejauhan, suara Menteri Pertahanan boneka masih terdengar.
“Cari dia! Jangan biarkan lolos! Kalau tidak, kita semua bisa dipecat atau lebih buruk lagi, dimasukkan ke bunker sialan itu!”
Ezra menelan ludah. Jadi benar, rumor tentang bunker itu bukan hanya gosip. Hatinya berdegup makin cepat. Ia menyelinap lebih dalam ke lorong, mencoba mencari tanda keberadaan bunker.
Di tengah lorong, ia melihat pintu baja besar dengan simbol bintang emas. Ia mendekat, menyentuh gagangnya. Terkunci. Ia menempelkan telinga, mencoba mendengar. Dari dalam, samar-samar terdengar suara… suara orang batuk, teriak, dan bahkan nyanyian lirih.
“Ya Tuhan,” bisik Ezra. “Mereka benar-benar ada di sini.”
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, lampu di lorong menyala terang. Dari ujung lorong, Menteri Pertahanan boneka muncul, wajahnya merah, napas terengah. Di belakangnya, dua petugas bersenjata ikut masuk.
“Ketemu juga kau, tikus kecil,” katanya sambil tersenyum lebar, senyum seorang komedian yang tiba-tiba tampak menyeramkan. “Sekarang kau akan ikut denganku. Presiden pasti senang menonton pertunjukan barumu.”
Ezra mundur, punggungnya menempel pada pintu baja. Jantungnya hampir meledak. Ia tahu tidak ada jalan keluar.
Namun otaknya berpikir cepat. Ia mengangkat senter lagi, tapi kali ini bukan untuk membutakan. Ia memukul saklar listrik di samping pintu. Seketika, lampu lorong padam. Gelap total.
“Dasar pengecut!” teriak Menteri Pertahanan boneka.
Dalam kegelapan, Ezra merayap ke samping, berusaha kabur. Petugas menyalakan senter, sinarnya berputar liar. Terdengar suara benda jatuh, langkah tergesa, teriakan bingung.
Ezra berhasil menyelinap ke lorong lain. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar. Tapi ia tahu satu hal: ia semakin dekat dengan kebenaran.
Di balik punggungnya, suara Menteri Pertahanan boneka menggema marah. “Aku akan dapatkan kau! Tidak ada yang bisa lari dari panggung Presiden Aveline!”
Ezra terus berlari, menembus lorong gelap, sampai akhirnya menemukan tangga menuju atas. Ia bergegas naik, keluar lewat pintu samping, lalu terjun ke halaman belakang. Alarm berbunyi di seluruh istana, sorot lampu menari di langit.
Ia berlari ke arah pagar, lompat dengan tenaga terakhir, lalu terhempas ke tanah di luar. Lututnya lecet, tangannya berdarah. Tapi ia berhasil lolos.
Di kejauhan, ia mendengar suara teriakan marah, namun semakin lama semakin memudar. Ezra bangkit, tubuhnya gemetar, tapi wajahnya tegang penuh tekad.
“Aku lihat sendiri para menteri asli masih ada. Bunker itu nyata. Sekarang aku hanya perlu buktinya.”
Ia berjalan tertatih menjauh dari istana, sementara sirene masih meraung. Malam itu, Ezra tahu ia telah membuka pintu menuju mimpi buruk yang lebih besar. Dan Aveline… pasti sudah tahu bahwa ada penonton baru yang berani naik ke panggung.
Ia menatap pagar tinggi dengan kawat listrik di atasnya. Kamera pengawas berputar perlahan. Petugas berpatroli dengan senjata, langkah mereka berat di atas aspal. Ezra menarik napas panjang. Ia sudah mengamati pola jaga selama seminggu. Ada celah kecil di sisi timur istana, dekat taman belakang. Itu satu-satunya kesempatan.
“Baiklah,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kalau aku mati malam ini, setidaknya aku mati mencoba.”
Dengan tubuh rendah, ia bergerak cepat menyusuri tembok. Bayangan pepohonan membantu menyamarkan gerakannya. Setiap kali lampu sorot berputar, ia menempel pada dinding. Jantungnya berdetak keras, keringat dingin membasahi punggung meski udara malam menusuk.
Sampai akhirnya ia tiba di taman belakang. Sebuah gerbang besi kecil terkunci. Ezra mengeluarkan kawat tipis dari sakunya. Tangannya bergetar sedikit, tapi ia paksa tetap tenang. Klik. Gembok terbuka. Ia melangkah masuk.
Taman itu gelap, hanya diterangi lampu taman kecil. Aroma bunga bercampur dengan udara lembap. Ezra berjalan perlahan, menyusuri jalan setapak batu. Suara jangkrik terdengar samar. Untuk sesaat, ia merasa seperti masuk ke dunia lain.
Namun tiba-tiba, terdengar suara batuk di dekatnya. Ezra terhenti, menahan napas. Dari balik semak, muncul sosok tinggi besar dengan seragam militer aktor Menteri Pertahanan boneka. Tapi Ezra tahu, pria itu dulu bukan tentara sungguhan. Ia pernah melihat wajahnya di layar televisi bertahun-tahun lalu. Ia seorang komedian panggung yang terkenal dengan lawakan fisik.
Pria itu berjalan santai, bahu lebar tapi gerakannya kikuk. Ia menghisap rokok, asapnya melayang di udara. Bibirnya bersenandung lagu konyol. Ezra menempel di balik pohon, berusaha tidak bersuara.
Namun sial, ranting kering patah di bawah sepatunya.
“Siapa di sana?” suara pria itu berat, tapi terdengar tidak terlalu menakutkan. Lebih mirip aktor yang sedang latihan peran.
Ezra membeku. Ia tahu jika diam saja, pria itu akan mendekat. Pilihan lain adalah kabur, tapi itu terlalu berisiko. Maka ia nekat keluar dari balik pohon, pura-pura jadi staf istana.
“Maaf Pak,” katanya cepat. “Saya hanya staf kebersihan, diminta memeriksa taman ini.”
Menteri Pertahanan boneka menatapnya dengan mata menyipit. Lalu tiba-tiba, ia tertawa keras. “Staf kebersihan? Di jam segini? Hahaha! Kau pikir aku bodoh?”
Ezra mencoba ikut tertawa, meski jantungnya hampir meloncat keluar. “Ya sebenarnya saya memang bodoh, Pak. Tapi kalau saya tidak kerja sekarang, saya bisa dipecat.”
Pria itu mendekat. Wajahnya besar, hidungnya pesek, mata kecil berkilat. “Aku kenal semua staf di sini. Kau bukan salah satunya. Jadi siapa kau sebenarnya?”
Ezra panik. Ia melangkah mundur, tangannya mencari sesuatu di kantong. Ia hanya membawa senter kecil. Dengan cepat, ia menyalakan senter tepat ke mata pria itu.
“Aaargh!” pria itu teriak, menutupi wajahnya. Ezra mengambil kesempatan untuk berlari. Ia melompat melewati semak, berlari sepanjang jalan setapak. Lampu taman bergoyang, ranting patah di belakang.
“Berhenti!” suara pria itu menggema. “Kau penyusup! Tangkap dia!”
Suara peluit keras terdengar, menggetarkan udara. Dari berbagai arah, petugas istana mulai berdatangan. Lampu sorot berputar, menerangi taman seperti panggung teater raksasa. Ezra berlari sekuat tenaga, menunduk, melompat pagar kecil. Nafasnya berat, paru-paru terasa terbakar.
Ia tahu, jika tertangkap di sini, nyawanya tamat.
Menteri Pertahanan boneka mengejarnya, tapi langkahnya aneh, campuran antara gerakan militer dan gaya slapstick seorang komedian. Ia terjatuh menabrak pot bunga, lalu bangkit lagi dengan teriakan marah.
“Kau pikir bisa kabur? Aku pernah berlari maraton di panggung komedi! Aku bisa kejar kau sampai neraka!”
Ezra tidak punya waktu untuk tertawa. Ia terus berlari, sampai menemukan sebuah pintu samping istana yang terbuka sedikit. Tanpa pikir panjang, ia masuk.
Lorong dalam istana gelap, hanya lampu redup yang menyala setiap sepuluh meter. Ezra menempel pada dinding, mendengar langkah kaki petugas yang mulai menyebar. Dari kejauhan, suara Menteri Pertahanan boneka masih terdengar.
“Cari dia! Jangan biarkan lolos! Kalau tidak, kita semua bisa dipecat atau lebih buruk lagi, dimasukkan ke bunker sialan itu!”
Ezra menelan ludah. Jadi benar, rumor tentang bunker itu bukan hanya gosip. Hatinya berdegup makin cepat. Ia menyelinap lebih dalam ke lorong, mencoba mencari tanda keberadaan bunker.
Di tengah lorong, ia melihat pintu baja besar dengan simbol bintang emas. Ia mendekat, menyentuh gagangnya. Terkunci. Ia menempelkan telinga, mencoba mendengar. Dari dalam, samar-samar terdengar suara… suara orang batuk, teriak, dan bahkan nyanyian lirih.
“Ya Tuhan,” bisik Ezra. “Mereka benar-benar ada di sini.”
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, lampu di lorong menyala terang. Dari ujung lorong, Menteri Pertahanan boneka muncul, wajahnya merah, napas terengah. Di belakangnya, dua petugas bersenjata ikut masuk.
“Ketemu juga kau, tikus kecil,” katanya sambil tersenyum lebar, senyum seorang komedian yang tiba-tiba tampak menyeramkan. “Sekarang kau akan ikut denganku. Presiden pasti senang menonton pertunjukan barumu.”
Ezra mundur, punggungnya menempel pada pintu baja. Jantungnya hampir meledak. Ia tahu tidak ada jalan keluar.
Namun otaknya berpikir cepat. Ia mengangkat senter lagi, tapi kali ini bukan untuk membutakan. Ia memukul saklar listrik di samping pintu. Seketika, lampu lorong padam. Gelap total.
“Dasar pengecut!” teriak Menteri Pertahanan boneka.
Dalam kegelapan, Ezra merayap ke samping, berusaha kabur. Petugas menyalakan senter, sinarnya berputar liar. Terdengar suara benda jatuh, langkah tergesa, teriakan bingung.
Ezra berhasil menyelinap ke lorong lain. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar. Tapi ia tahu satu hal: ia semakin dekat dengan kebenaran.
Di balik punggungnya, suara Menteri Pertahanan boneka menggema marah. “Aku akan dapatkan kau! Tidak ada yang bisa lari dari panggung Presiden Aveline!”
Ezra terus berlari, menembus lorong gelap, sampai akhirnya menemukan tangga menuju atas. Ia bergegas naik, keluar lewat pintu samping, lalu terjun ke halaman belakang. Alarm berbunyi di seluruh istana, sorot lampu menari di langit.
Ia berlari ke arah pagar, lompat dengan tenaga terakhir, lalu terhempas ke tanah di luar. Lututnya lecet, tangannya berdarah. Tapi ia berhasil lolos.
Di kejauhan, ia mendengar suara teriakan marah, namun semakin lama semakin memudar. Ezra bangkit, tubuhnya gemetar, tapi wajahnya tegang penuh tekad.
“Aku lihat sendiri para menteri asli masih ada. Bunker itu nyata. Sekarang aku hanya perlu buktinya.”
Ia berjalan tertatih menjauh dari istana, sementara sirene masih meraung. Malam itu, Ezra tahu ia telah membuka pintu menuju mimpi buruk yang lebih besar. Dan Aveline… pasti sudah tahu bahwa ada penonton baru yang berani naik ke panggung.
Other Stories
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Gm.
menakutkan. ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...