02. Katakan Tidak Kepada Mereka
Sampai didepan rumah,askia masuk sudah disambut ayah dan bundanya yang duduk di sofa," askia...ayo cepat ganti bajumu dan berdandan yang cantik,cowok itu dan keluarganya datang siang ini." Titah bundanya askia yaitu Bu Susan.
"Iya Bun.." askia langsung ke kamarnya untuk mempersiapkan diri.
Askia masih sibuk memilih baju yang akan dipakainya,ia mem video call Diah untuk membantunya bersiap, "Lo nggak sibuk kan? Lo bisa bantu gue nggak?" Tanyanya dengan sibuk mengeluarkan baju baju terbaiknya.
"OHH oke,gue akan bantu." Balas Diah mengacungkan jempol nya.
"Gimana menurut Lo,gue harus pakai dress atau atasan dan bawahan?"
"Lo pakai dress saja Ki."
"Apakah yang ini atau kah ini?" Tanyanya seraya menunjukkan dressnya yang berwarna hitam dan maroon.
"Gue rasa ... Yang maroon sih lebih elegan dan simple."
"Oke thanks Diah,gue matikan dulu telpon nya ya,Lo lanjutin aja aktivitas Lo." Lalu ia mulai bersiap, berkaca menghadap cermin,dress berwarna maroon itu tampak kebesaran dipakainya, "sudah sekitar setahun gue punya nih baju tapi...masih aja kebesaran." Keluhnya sesaat memejamkan matanya,ia terlihat murung, kemudian satu peniti menjadi penyelamat nya,ia mengunci dressnya biar tidak kebesaran,satu masalah terselesaikan selanjutnya ia mulai memakai make up.setelah memakai bedak tabur tapi jerawat nya yang cukup banyak itu tidak Mampu tersamarkan,ia merasa sedikit putus asa karena hal itu yang selalu membuatnya insecure, bagaimana jika nanti cowok itu menolak nya mentah mentah? Tapi hal semacam itu sudah menjadi makanan bagi nya, "capek banget sumpah,..harus menahan semuanya." Gumamnya masih memandangi wajahnya didepan cermin.
"Askia ...ayo kesini mereka sudah datang." Suara lantang Bu Susan membuat askia bergegas menyelesaikan make up nya,ia tidak begitu pandai make up tapi setidaknya bisa.
...
Sementara shreya sedang bersama dengan aji di danau, suasana yang tenang dengan riuh nyaring pepohonan,suara nyiur air melengkapinya tak lupa dua angsa yang sedang ikut menikmati suasana.sebuah gitar berwarna coklat bertuliskan shreya sedang dimainkan aji sedangkan shreya yang nyanyi, "sampai mana tadi?" Tanyanya sambil memperhatikan buku lirik.
"Aku... tidak...harus...," belum setengah nyanyian,aji menghentikan petikan tangannya ke gitar itu
"Kenapa berhenti?" Tanya shreya kebingungan.
"Sayang sepertinya kamu butuh latihan yang lebih ekstra deh,kamu kenapa sih akhir akhir ini sering crack,ini kita besok ada perform loh." Jelas aji membuat shreya terdiam dan menatap nya.
" Iya aku udah usahain kok,aku akan belajar lagi,kamu gausah gitu dong." Responnya kemudian menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Ini masalahnya besok perform loh,kamu yang beneran dong latihan nya." Aji masih terlihat kesal dengan shreya lalu ia kembali memainkan gitarnya diikuti nyanyian shreya.dan lagi.. tidak sengaja terjadi crack saat shreya nyanyi dan membuat aji semakin kesal, "fokus dong shreya...udah ini kek nya kamu sudah kelebihan berat badan deh itu bisa mempengaruhi ke suara," ujarnya sambil meletakkan gitarnya begitu saja dan beranjak ke sisi lain di danau.
shreya menunduk melihat buku liriknya sambil berpikir masih pantaskah dirinya melanjutkan semua ini,akhir akhir ini semuanya serasa berantakan bagi dirinya.
"Pikirkan dulu apa yang sebaiknya kamu harus lakukan." Ujar aji kembali menghampiri shreya yang masih menunduk.
"Kamu tega...kamu udah bikin rasa tidak percaya diri ku naik lagi." Desis shreya,air mata yang sejak tadi membendung aman kini tak tertahankan lagi.
" Jangan salahkan aku, harusnya kamu yang intropeksi diri,menurutku kamu sudah kelebihan banyak berat badan, yang harusnya harum jadi layu lagi,saran dariku...kamu Harus diet ketat agar mendapatkan hasil yang maksimal, untuk kamu untuk aku,juga mereka yang menantikanmu." Jelas aji yang membuat shreya semakin dikuasai dengan rasa kecilnya.
"Kalau begitu pergi lah...pergi aji, biarkan aku sendiri." Tatihnya sambil menangis sontak menutup buku liriknya lalu memasukkan ke dalam tas, dengan emosi yang meluap ia mengambil batu batu kecil untuk dilempar ke dalam air,aji yang masih melihatnya langsung memeluknya, "maafkan aku...aku tidak bermaksud begitu,tapi ini juga demi kebaikanmu." Ucapnya sambil menenangkan pacarnya itu.
Ita yang kebetulan mau pulang lewat di dekat danau melihat shreya menangis langsung menghampirinya, "woi aji...Lo apain sahabat gue ampe banjir gitu air mata.." ujarnya menghadap ke aji.
"Gue nggak apa apain dia, ngapain Lo kesini?"
"Kan emang rumah gue Deket sini."
"Kita aman kok ta,Lo pulang aja sekarang." Ucap shreya sembari berdiri lalu memakai tas nya,"gue juga mau pulang sekarang." Sambungnya lagi.
"Oke ya,gue balik dulu yak,kalau ada apa apa kabarin." Pintanya sambil menatap tajam ke arah aji.
...
Askia keluar dari kamarnya,ia terlihat memukau dengan dress maroon itu,dengan rambutnya yang tergerai,ia tampak elegan dan mahal meskipun dengan bantuan cemiti yang mengait ke dress nya, "permisi..." Ucapnya sopan melewati orangtua cowok itu sambil membungkuk,dan langsung duduk di samping bundanya, askia memperhatikan setiap orang yang ada di hadapannya,tapi tunggu... dimana cowok yang akan dijodohkan dengan nya? Ia hanya melihat dua bapak bapak dan satu ibu ibu.
"Pak Cahyo Bu Susan,ini kakak ku... usianya hampir empat puluh,tapi dia orangnya baik dan penyayang yang mungkin akan cocok dengan putrimu." Jelas ibu ibu itu.
Apa maksudnya...bapak ini yang akan dijodohkan dengan ku? Harusnya ini tidak akan terjadi,tapi...aku tidak mau membuat orangtua kecewa, mereka sudah cukup menerima ejekan karena aku selama ini,gumam askia dalam hati.
"Bagaimana pak,Bu? Apakah kalian menerima kakak ku untuk menjadi menantumu?" Orangtua askia awalnya memang terkejut karena cowok yang akan dijodohkan dengan putrinya itu sudah berusia lebih matang,tapi kesempatan ini tidak datang berturut turut, yang akhirnya membuat mereka setuju untuk menjodohkan mereka,Bu Susan sesekali memperhatikan wajah putrinya yang sedang gelisah,tapi jerawat di wajah putrinya yang cukup banyak itu membuat Bu Susan teringat bahwa mungkin tidak ada cowok yang akan menyukainya,dan beberapa penolakan sudah mereka alami mungkin salah satunya karena hal itu.
Askia berteriak sekuat tenaganya mengatakan tidak di dalam hati,tapi keputusan Kedua orangtuanya sudah bulat,askia dan bapak itu akan segera menikah secepatnya, seolah dirinya mau berlari tapi kakinya di tahan seribu akar yang mengait di kakinya. Tanpa banyak bicara askia hanya mengangguk pelan untuk mengatakan setuju menikah walaupun itu memang terpaksa.
"Baik, pernikahan nya akan dilaksanakan satu Minggu lagi,askia dan kak Danu akan segera menikah, selamat untuk kalian." Ucap ibu ibu itu tapi askia hanya mengangguk menghargai keputusan itu,walau aslinya terpaksa.
"Iya Bun.." askia langsung ke kamarnya untuk mempersiapkan diri.
Askia masih sibuk memilih baju yang akan dipakainya,ia mem video call Diah untuk membantunya bersiap, "Lo nggak sibuk kan? Lo bisa bantu gue nggak?" Tanyanya dengan sibuk mengeluarkan baju baju terbaiknya.
"OHH oke,gue akan bantu." Balas Diah mengacungkan jempol nya.
"Gimana menurut Lo,gue harus pakai dress atau atasan dan bawahan?"
"Lo pakai dress saja Ki."
"Apakah yang ini atau kah ini?" Tanyanya seraya menunjukkan dressnya yang berwarna hitam dan maroon.
"Gue rasa ... Yang maroon sih lebih elegan dan simple."
"Oke thanks Diah,gue matikan dulu telpon nya ya,Lo lanjutin aja aktivitas Lo." Lalu ia mulai bersiap, berkaca menghadap cermin,dress berwarna maroon itu tampak kebesaran dipakainya, "sudah sekitar setahun gue punya nih baju tapi...masih aja kebesaran." Keluhnya sesaat memejamkan matanya,ia terlihat murung, kemudian satu peniti menjadi penyelamat nya,ia mengunci dressnya biar tidak kebesaran,satu masalah terselesaikan selanjutnya ia mulai memakai make up.setelah memakai bedak tabur tapi jerawat nya yang cukup banyak itu tidak Mampu tersamarkan,ia merasa sedikit putus asa karena hal itu yang selalu membuatnya insecure, bagaimana jika nanti cowok itu menolak nya mentah mentah? Tapi hal semacam itu sudah menjadi makanan bagi nya, "capek banget sumpah,..harus menahan semuanya." Gumamnya masih memandangi wajahnya didepan cermin.
"Askia ...ayo kesini mereka sudah datang." Suara lantang Bu Susan membuat askia bergegas menyelesaikan make up nya,ia tidak begitu pandai make up tapi setidaknya bisa.
...
Sementara shreya sedang bersama dengan aji di danau, suasana yang tenang dengan riuh nyaring pepohonan,suara nyiur air melengkapinya tak lupa dua angsa yang sedang ikut menikmati suasana.sebuah gitar berwarna coklat bertuliskan shreya sedang dimainkan aji sedangkan shreya yang nyanyi, "sampai mana tadi?" Tanyanya sambil memperhatikan buku lirik.
"Aku... tidak...harus...," belum setengah nyanyian,aji menghentikan petikan tangannya ke gitar itu
"Kenapa berhenti?" Tanya shreya kebingungan.
"Sayang sepertinya kamu butuh latihan yang lebih ekstra deh,kamu kenapa sih akhir akhir ini sering crack,ini kita besok ada perform loh." Jelas aji membuat shreya terdiam dan menatap nya.
" Iya aku udah usahain kok,aku akan belajar lagi,kamu gausah gitu dong." Responnya kemudian menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Ini masalahnya besok perform loh,kamu yang beneran dong latihan nya." Aji masih terlihat kesal dengan shreya lalu ia kembali memainkan gitarnya diikuti nyanyian shreya.dan lagi.. tidak sengaja terjadi crack saat shreya nyanyi dan membuat aji semakin kesal, "fokus dong shreya...udah ini kek nya kamu sudah kelebihan berat badan deh itu bisa mempengaruhi ke suara," ujarnya sambil meletakkan gitarnya begitu saja dan beranjak ke sisi lain di danau.
shreya menunduk melihat buku liriknya sambil berpikir masih pantaskah dirinya melanjutkan semua ini,akhir akhir ini semuanya serasa berantakan bagi dirinya.
"Pikirkan dulu apa yang sebaiknya kamu harus lakukan." Ujar aji kembali menghampiri shreya yang masih menunduk.
"Kamu tega...kamu udah bikin rasa tidak percaya diri ku naik lagi." Desis shreya,air mata yang sejak tadi membendung aman kini tak tertahankan lagi.
" Jangan salahkan aku, harusnya kamu yang intropeksi diri,menurutku kamu sudah kelebihan banyak berat badan, yang harusnya harum jadi layu lagi,saran dariku...kamu Harus diet ketat agar mendapatkan hasil yang maksimal, untuk kamu untuk aku,juga mereka yang menantikanmu." Jelas aji yang membuat shreya semakin dikuasai dengan rasa kecilnya.
"Kalau begitu pergi lah...pergi aji, biarkan aku sendiri." Tatihnya sambil menangis sontak menutup buku liriknya lalu memasukkan ke dalam tas, dengan emosi yang meluap ia mengambil batu batu kecil untuk dilempar ke dalam air,aji yang masih melihatnya langsung memeluknya, "maafkan aku...aku tidak bermaksud begitu,tapi ini juga demi kebaikanmu." Ucapnya sambil menenangkan pacarnya itu.
Ita yang kebetulan mau pulang lewat di dekat danau melihat shreya menangis langsung menghampirinya, "woi aji...Lo apain sahabat gue ampe banjir gitu air mata.." ujarnya menghadap ke aji.
"Gue nggak apa apain dia, ngapain Lo kesini?"
"Kan emang rumah gue Deket sini."
"Kita aman kok ta,Lo pulang aja sekarang." Ucap shreya sembari berdiri lalu memakai tas nya,"gue juga mau pulang sekarang." Sambungnya lagi.
"Oke ya,gue balik dulu yak,kalau ada apa apa kabarin." Pintanya sambil menatap tajam ke arah aji.
...
Askia keluar dari kamarnya,ia terlihat memukau dengan dress maroon itu,dengan rambutnya yang tergerai,ia tampak elegan dan mahal meskipun dengan bantuan cemiti yang mengait ke dress nya, "permisi..." Ucapnya sopan melewati orangtua cowok itu sambil membungkuk,dan langsung duduk di samping bundanya, askia memperhatikan setiap orang yang ada di hadapannya,tapi tunggu... dimana cowok yang akan dijodohkan dengan nya? Ia hanya melihat dua bapak bapak dan satu ibu ibu.
"Pak Cahyo Bu Susan,ini kakak ku... usianya hampir empat puluh,tapi dia orangnya baik dan penyayang yang mungkin akan cocok dengan putrimu." Jelas ibu ibu itu.
Apa maksudnya...bapak ini yang akan dijodohkan dengan ku? Harusnya ini tidak akan terjadi,tapi...aku tidak mau membuat orangtua kecewa, mereka sudah cukup menerima ejekan karena aku selama ini,gumam askia dalam hati.
"Bagaimana pak,Bu? Apakah kalian menerima kakak ku untuk menjadi menantumu?" Orangtua askia awalnya memang terkejut karena cowok yang akan dijodohkan dengan putrinya itu sudah berusia lebih matang,tapi kesempatan ini tidak datang berturut turut, yang akhirnya membuat mereka setuju untuk menjodohkan mereka,Bu Susan sesekali memperhatikan wajah putrinya yang sedang gelisah,tapi jerawat di wajah putrinya yang cukup banyak itu membuat Bu Susan teringat bahwa mungkin tidak ada cowok yang akan menyukainya,dan beberapa penolakan sudah mereka alami mungkin salah satunya karena hal itu.
Askia berteriak sekuat tenaganya mengatakan tidak di dalam hati,tapi keputusan Kedua orangtuanya sudah bulat,askia dan bapak itu akan segera menikah secepatnya, seolah dirinya mau berlari tapi kakinya di tahan seribu akar yang mengait di kakinya. Tanpa banyak bicara askia hanya mengangguk pelan untuk mengatakan setuju menikah walaupun itu memang terpaksa.
"Baik, pernikahan nya akan dilaksanakan satu Minggu lagi,askia dan kak Danu akan segera menikah, selamat untuk kalian." Ucap ibu ibu itu tapi askia hanya mengangguk menghargai keputusan itu,walau aslinya terpaksa.
Other Stories
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...