06. Kita Tidak Akan Diam
Lalu pak Cahyo dan Bu Susan meminta askia untuk berbicara secara pribadi dengan mereka, mereka berbicara di kamar askia, sementara Ita yang cukup penasaran mengikuti mereka dan mulai menguping pembicaraan mereka.
"Askia...apa yang temen temen kamu bicarakan itu,siapa mereka berani bicara kepada orangtua yang keputusannya sudah tidak bisa ditentang." Ucap pak Cahyo menatap tajam ke Askia,tapi respon askia masih diam ia tidak berani menatap orangtuanya itu.
"Maaf yah...aku memang cerita kepada mereka kalau aku akan segera menikah tapi sedikit pun aku tidak pernah meminta mereka untuk mengatakan semua itu kepada ayah atau pun bunda." Jelasnya terbata bata masih menunduk.
"Askia... jangan dengerin apa kata temen kamu kita sebagai orangtua pengen yang terbaik untuk kamu,umur kamu itu sudah tidak kecil lagi kalau kamu tidak segera menikah,apa kata mereka nanti, biarlah pasangan kamu mau lebih tua lebih muda yang penting kamu menikah,nanti juga lambat laun kamu akan nyaman dengan sendirinya." Jelas Bu Susan sembari memegang pundak askia yang masih menunduk itu.
"Ayah ingatkan kembali kia, sebaiknya kamu jangan pilih pilih pasangan, seharusnya kamu berkaca apa yang layak dari dirimu untuk dibanggakan? Sudah terlalu banyak laki laki yang menolak kamu,ayah tidak mau lagi selalu mencari cari laki laki lagi untukmu, ayah dan bunda capek Ki." Sahut pak Cahyo,
sementara Ita yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka semakin mengeraskan rahangnya, "kenapa sih orang tua tidak mau mengerti? Ini tuh demi masa depan anak kalian,anak kalian yang menjalani kehidupan,ihh...kesel banget." Gumam Ita ngedumel.
Askia mulai memberanikan diri untuk menatap ayahnya,ia membuka menutup mulutnya ingin bicara, sesekali memejamkan matanya,dan mengatur pernafasannya, "Maaf yah tapi.. kia rasa,kia tidak cocok dengan laki laki itu,bukan soal fisiknya tapi melihat umur? Apakah ayah bisa mengerti itu?" Desisnya pelan.
"Umur hanyalah angka kia,coba mengertilah..."
"Yaampun pak... biarkan kia memilih pasangan nya sendiri.." Ita kembali ngedumel kesal.
"Yah tolong... jangan nikahkan kia dengan orang itu... usianya terpaut sangat jauh dengan kia..." Gejolak Amarah pak Cahyo tidak bisa dibendungnya lagi sehingga tangannya yang semula berat menjadi ringan dan sontak menampar pipi kiri askia,askia memegangi pipinya ia tidak menyangka bahwa ayahnya tega menamparnya hanya karena ia melakukan pembelaan,lantas bundanya? Kenapa diam,Bu Susan diam dalam seribu bahasa.
Mata pak Cahyo memerah semburat amarah itu masih tebal,kia hanya bisa duduk dan menangis,ia berpikir ini tidak akan berhasil.
Sementara Ita bergegas berlari ke kamar mandi, shreya dan Diah yang melihat itu berusaha mengejarnya karena penasaran,tapi dengan cepat ita menutup pintunya. "Ta...lo kenapa?" Ucapnya khawatir,tapi tidak ada jawaban dari Ita.
"Buka ta... apakah semuanya baik baik saja?." Sahut diah, mereka menggebrak nggebrak pintu tapi tidak ada respon juga dari kia, mereka masih berusaha membuka pintunya,tak berselang lama askia menghampiri mereka dengan mata yang masih memerah tersisa titik titik air mata di sekitar mata kia,
"ada apa ini?" Tanya askia yang baru sampai.
" Gue nggak tahu kita sudah mencoba untuk membukanya tapi pintunya dikunci,dan tidak ada respon dari Ita." Jelas shreya, mereka masih berusaha bicara kepada Ita tapi tidak kunjung ada jawaban juga darinya,suara kunci terdengar dari dalam sontak Diah membuka pintunya,
mereka saling tatap kemudian masuk ke kamar mandi,betapa syoknya mereka saat melihat Ita dalam keadaan yang begitu berantakan, tangannya terlihat bergetar dan sesenggukan tangisan terdengar, "ta..." Ujar askia duduk didepan Ita yang memegangi kedua lututnya dengan tangan yang masih bergetar itu.
"Ta...lo kenapa ta?" Sahut diah, respon Ita hanya diam tanpa menatap sahabat sahabatnya itu,tanpa banyak bicara shreya langsung memeluk Ita, tangisan Ita kembali pecah tangannya meremas keras baju shreya,askia dan Diah yang melihat itu merasa tidak tega, mereka ikut menangis padahal belum tahu apa apa yang sebenarnya terjadi dengan ita, mereka ikut shreya untuk memeluk Ita.
Beberapa saat kemudian Ita melepaskan pelukannya, dirinya langsung berdiri dengan grusa grusu berusaha merapikan baju dan rambutnya tapi wajahnya terlihat begitu capek. "Anter gue pulang..." Desis ita pelan, mereka tidak lagi berusaha bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Ita karena menurut mereka ini bukan saat yang tepat,lalu mereka keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju keluar rumah.
" Lo nggak apa apa ta?" Tanya askia sambil memegangi tangan Ita.
"Maaf kalian harus lihat itu,gue tadi gak sengaja ke trigger." Jelasnya datar.
"Maksudnya?" Sahut diah.
"Gue nggak bisa cerita sekarang."
"Oke,nggak apa apa ta,Lo mau pulang kan? Ayo gue anter Lo pulang." Sambung shreya menarik Ita tapi Ita menghentikan nya.
"Nggak,ngga mungkin gue pulang dalam keadaan seperti ini."
"Tolong ajak gue ke rumah salah satu dari kalian,gue butuh waktu untuk nenangin diri setelah itu gue akan pulang." Jelasnya lalu Diah,kia,dan shreya saling bertatap mata.
"Maaf ta gue sih mau mau aja tapi, orangtua gue mungkin yang tidak bisa." Sahut diah mengernyit kan dahinya.
"Kalau disini, seperti nya juga nggak mungkin.." sambung askia clingak clinguk melihat ke dalam rumahnya.
"Yaudah kalaugitu Lo ikut gue aja." Pinta shreya mengangguk anggukkan kepalanya.
" Tapi orangtua Lo?"
"Nggapapa, mereka akan mengijinkan." Ucapnya lalu mereka bergegas pergi tapi,pak Cahyo memanggil askia.
"Kia...masuk.." ucapnya lantang,askia menatap sahabat sahabatnya memberikan kode kemudian shreya dan Diah mengangguk, akhirnya kia tidak ikut ke rumah shreya,ia membalikkan badannya dan berlalu masuk.
...
Shreya,Diah,dan Ita sampai didepan rumah shreya, shreya menekan bel rumah kemudian mamanya keluar, "loh..shreya kok nggak bilang kalau temen temennya mau datang,ayo masuk." Ucap Bu Maya ramah,lalu mereka masuk,dan duduk di sofa.
" Silahkan minum dulu." Ujar Bu Maya setelah menaruh tiga gelas di meja.
"Terimakasih tan." Celetuk Diah.
"Ini kamu kenapa?." Bu Maya tentu penasaran dan khawatir setelah melihat keadaan Ita yang cukup berantakan itu.
"Nggak apa apa ma,boleh aku ke kamar dengan mereka?"sahut shreya melihat kamarnya.
"Iya boleh dong,anggap saja ini seperti rumah kalian." Balas Bu Maya tersenyum ramah lalu mereka ke kamar shreya.
"Askia...apa yang temen temen kamu bicarakan itu,siapa mereka berani bicara kepada orangtua yang keputusannya sudah tidak bisa ditentang." Ucap pak Cahyo menatap tajam ke Askia,tapi respon askia masih diam ia tidak berani menatap orangtuanya itu.
"Maaf yah...aku memang cerita kepada mereka kalau aku akan segera menikah tapi sedikit pun aku tidak pernah meminta mereka untuk mengatakan semua itu kepada ayah atau pun bunda." Jelasnya terbata bata masih menunduk.
"Askia... jangan dengerin apa kata temen kamu kita sebagai orangtua pengen yang terbaik untuk kamu,umur kamu itu sudah tidak kecil lagi kalau kamu tidak segera menikah,apa kata mereka nanti, biarlah pasangan kamu mau lebih tua lebih muda yang penting kamu menikah,nanti juga lambat laun kamu akan nyaman dengan sendirinya." Jelas Bu Susan sembari memegang pundak askia yang masih menunduk itu.
"Ayah ingatkan kembali kia, sebaiknya kamu jangan pilih pilih pasangan, seharusnya kamu berkaca apa yang layak dari dirimu untuk dibanggakan? Sudah terlalu banyak laki laki yang menolak kamu,ayah tidak mau lagi selalu mencari cari laki laki lagi untukmu, ayah dan bunda capek Ki." Sahut pak Cahyo,
sementara Ita yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka semakin mengeraskan rahangnya, "kenapa sih orang tua tidak mau mengerti? Ini tuh demi masa depan anak kalian,anak kalian yang menjalani kehidupan,ihh...kesel banget." Gumam Ita ngedumel.
Askia mulai memberanikan diri untuk menatap ayahnya,ia membuka menutup mulutnya ingin bicara, sesekali memejamkan matanya,dan mengatur pernafasannya, "Maaf yah tapi.. kia rasa,kia tidak cocok dengan laki laki itu,bukan soal fisiknya tapi melihat umur? Apakah ayah bisa mengerti itu?" Desisnya pelan.
"Umur hanyalah angka kia,coba mengertilah..."
"Yaampun pak... biarkan kia memilih pasangan nya sendiri.." Ita kembali ngedumel kesal.
"Yah tolong... jangan nikahkan kia dengan orang itu... usianya terpaut sangat jauh dengan kia..." Gejolak Amarah pak Cahyo tidak bisa dibendungnya lagi sehingga tangannya yang semula berat menjadi ringan dan sontak menampar pipi kiri askia,askia memegangi pipinya ia tidak menyangka bahwa ayahnya tega menamparnya hanya karena ia melakukan pembelaan,lantas bundanya? Kenapa diam,Bu Susan diam dalam seribu bahasa.
Mata pak Cahyo memerah semburat amarah itu masih tebal,kia hanya bisa duduk dan menangis,ia berpikir ini tidak akan berhasil.
Sementara Ita bergegas berlari ke kamar mandi, shreya dan Diah yang melihat itu berusaha mengejarnya karena penasaran,tapi dengan cepat ita menutup pintunya. "Ta...lo kenapa?" Ucapnya khawatir,tapi tidak ada jawaban dari Ita.
"Buka ta... apakah semuanya baik baik saja?." Sahut diah, mereka menggebrak nggebrak pintu tapi tidak ada respon juga dari kia, mereka masih berusaha membuka pintunya,tak berselang lama askia menghampiri mereka dengan mata yang masih memerah tersisa titik titik air mata di sekitar mata kia,
"ada apa ini?" Tanya askia yang baru sampai.
" Gue nggak tahu kita sudah mencoba untuk membukanya tapi pintunya dikunci,dan tidak ada respon dari Ita." Jelas shreya, mereka masih berusaha bicara kepada Ita tapi tidak kunjung ada jawaban juga darinya,suara kunci terdengar dari dalam sontak Diah membuka pintunya,
mereka saling tatap kemudian masuk ke kamar mandi,betapa syoknya mereka saat melihat Ita dalam keadaan yang begitu berantakan, tangannya terlihat bergetar dan sesenggukan tangisan terdengar, "ta..." Ujar askia duduk didepan Ita yang memegangi kedua lututnya dengan tangan yang masih bergetar itu.
"Ta...lo kenapa ta?" Sahut diah, respon Ita hanya diam tanpa menatap sahabat sahabatnya itu,tanpa banyak bicara shreya langsung memeluk Ita, tangisan Ita kembali pecah tangannya meremas keras baju shreya,askia dan Diah yang melihat itu merasa tidak tega, mereka ikut menangis padahal belum tahu apa apa yang sebenarnya terjadi dengan ita, mereka ikut shreya untuk memeluk Ita.
Beberapa saat kemudian Ita melepaskan pelukannya, dirinya langsung berdiri dengan grusa grusu berusaha merapikan baju dan rambutnya tapi wajahnya terlihat begitu capek. "Anter gue pulang..." Desis ita pelan, mereka tidak lagi berusaha bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Ita karena menurut mereka ini bukan saat yang tepat,lalu mereka keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju keluar rumah.
" Lo nggak apa apa ta?" Tanya askia sambil memegangi tangan Ita.
"Maaf kalian harus lihat itu,gue tadi gak sengaja ke trigger." Jelasnya datar.
"Maksudnya?" Sahut diah.
"Gue nggak bisa cerita sekarang."
"Oke,nggak apa apa ta,Lo mau pulang kan? Ayo gue anter Lo pulang." Sambung shreya menarik Ita tapi Ita menghentikan nya.
"Nggak,ngga mungkin gue pulang dalam keadaan seperti ini."
"Tolong ajak gue ke rumah salah satu dari kalian,gue butuh waktu untuk nenangin diri setelah itu gue akan pulang." Jelasnya lalu Diah,kia,dan shreya saling bertatap mata.
"Maaf ta gue sih mau mau aja tapi, orangtua gue mungkin yang tidak bisa." Sahut diah mengernyit kan dahinya.
"Kalau disini, seperti nya juga nggak mungkin.." sambung askia clingak clinguk melihat ke dalam rumahnya.
"Yaudah kalaugitu Lo ikut gue aja." Pinta shreya mengangguk anggukkan kepalanya.
" Tapi orangtua Lo?"
"Nggapapa, mereka akan mengijinkan." Ucapnya lalu mereka bergegas pergi tapi,pak Cahyo memanggil askia.
"Kia...masuk.." ucapnya lantang,askia menatap sahabat sahabatnya memberikan kode kemudian shreya dan Diah mengangguk, akhirnya kia tidak ikut ke rumah shreya,ia membalikkan badannya dan berlalu masuk.
...
Shreya,Diah,dan Ita sampai didepan rumah shreya, shreya menekan bel rumah kemudian mamanya keluar, "loh..shreya kok nggak bilang kalau temen temennya mau datang,ayo masuk." Ucap Bu Maya ramah,lalu mereka masuk,dan duduk di sofa.
" Silahkan minum dulu." Ujar Bu Maya setelah menaruh tiga gelas di meja.
"Terimakasih tan." Celetuk Diah.
"Ini kamu kenapa?." Bu Maya tentu penasaran dan khawatir setelah melihat keadaan Ita yang cukup berantakan itu.
"Nggak apa apa ma,boleh aku ke kamar dengan mereka?"sahut shreya melihat kamarnya.
"Iya boleh dong,anggap saja ini seperti rumah kalian." Balas Bu Maya tersenyum ramah lalu mereka ke kamar shreya.
Other Stories
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...