Kita Pantas Kan?

Reads
1.1K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Diahputri

08. Kita Beraksi

Pukul tujuh lewat lima belas menit, Parinita sudah siap untuk kerja,ia keluar dari kamarnya, melihat papanya yang sedang duduk di teras ditemani secangkir kopi tidak membuat nya menoleh sekalipun,"Dasar anak tidak tahu terimakasih.." ucap papa Ita, langkah Ita terhenti sesaat kemudian lanjut jalan,ia seolah sudah terbiasa menghadapi pagi hari yang seperti ini,

sementara Diah yang sedari tadi berusaha mencari space untuk bicara dengan kedua orangtuanya sebelum berangkat kerja.
" Ma...pa...Diah mau bicara sebentar." Ujarnya menghampiri orangtuanya yang sedang bersiap untuk kerja.

"Hmm katakan." Diah tersenyum sesaat.

"Jadi... cerita yang Diah tulis diminati pihak tv, cerita Diah akan diangkat menjadi series pa." Ucapnya excited,tak menyempatkan melirik putrinya itu bahkan papanya Diah hanya diam tidak menggubris apa yang dikatakan Diah.

"Jangan bicara yang tidak mungkin." Sahut mamanya.

"Diah nggak bohong ma,dua hari lagi Diah harus ke kantornya untuk menandatangani kontrak, ijinkan Diah datang kesana ya pa?." Jelasnya memasang muka melasnya.

Papanya menggebrak meja keras membuat nya terkejut, "tidak akan ada yang pergi,semua itu cuma omong kosong,mana ada cerita orang yang bukan dari latar belakang berpendidikan tentang scriptwriter itu ceritanya karyanya bisa di series kan." Ujar tegas papanya Diah.

"Tapi pa...ini memang beneran." Diah masih berusaha memberikan penjelasan tapi semua itu terasa sia sia, akhirnya ia memutuskan diam dan berangkat kerja.

Sampai ditempat kerja ia masih murung dan diam,ia tak pernah menyangka bahwa orangtuanya akan bersikap seperti itu,ia dipaksa untuk menuruti keinginan orangtuanya itu sementara mimpi utamanya? "Kenapa alurnya harus seperti ini sih?" Gumamnya menopang dagu dengan tangannya.
...

Malam hari kembali tiba, mereka memilih untuk kumpul di rumah shreya karena menurut mereka rumah shreya lebih aman,Diah dengan dress panjangnya sedang tiduran di kasur shreya disamping shreya,askia dengan baju mini nya sedang duduk didekat jendela memandangi langit,sementara Ita dengan baju gombrong nya duduk di bawah tepat di depan lemari.

Ita akhirnya bercerita kepada askia tentang dirinya yang sudah ia tutup tutupi selama ini, menceritakan itu berarti seperti membuka setengah luka yang ia simpan paksa. "Ta...gue nggak nyangka bahwa kehidupan Lo akan sekelam itu,Lo yang sabar ya,kita akan selalu disamping Lo." Respon askia setelah mendengarkan penjelasan Ita.

"Kata sabar itu apa? Gue nggak mengenal lagi kata itu saking muak nya." Desisnya kesal.

"Ternyata yang gue bilang di cafe itu salah,gue kira Lo itu emang beneran baik baik saja tapi,Lo nyimpen luka sedalam itu sendirian? Why?"

"Seperti apa yang gue bilang Ki, tidak semua hal perlu di jelaskan karena itu hanya akan membuka luka dan tidak benar benar menghasilkan solusi." Jelasnya seraya memainkan jemarinya.

"Tapi setidaknya kita bisa kuatin Lo ta,kita kan selalu saling merangkul apapun dan dimanapun keadaannya." Sahut shreya sambil memainkan rambutnya.

"Bagi gue melihat kalian seneng itu sudah seperti obat, walaupun saat pulang yang gue sebut rumah itu akan terasa kembali seperti neraka, setidaknya hanya melihat senyum kalian bisa buat gue sedikit tenang." Jelasnya kembali.

"Sudah cukup sikap Lo yang seperti itu ta, udahh besok Lo harus ikut gue ke psikiater,gue akan anter lo,itu harus." Sahut diah yang sedari tadi diam dan menyimak.

"Udahlah gue nggak butuh itu,gue cuma butuh senyum lebar kalian." Mendengar ucapan Ita, mereka terharu karena memiliki seorang sahabat seperti Ita.

"Udah lah jangan bahas gue, mending kita bahas kia tuh,kasian...kakak kita mau dinikahkan dengan om om." Celetuk Ita sontak mereka tertawa.

"Ita ihh bisaan banget gue dijadiin kambing hitam." Respon askia ngedumel, disambut tawa mereka.

"Gue kan udah ada rencana nih untuk kia...?'
"Apaan."

"Pisau." Singkat Ita membuat sahabat sahabatnya menganga membulatkan mata.

"Haa...pisau? Apa yang spesial dengan pisau?" Sambung shreya.

"Jadi kia harus bersikap seolah Ingi bunuh diri karena permintaan orangtuanya yang kekeh itu."

"Nggak ta,gue masih waras yee." Balas askia gelagapan.

"Ya nggak langsung end dong kia... maksud gue tuh cuman buat nakut nakutin mereka doang,kalau memang mereka menuruti Lo setelah hal itu berarti mereka memang sayang tapi cara mereka memaksa Lo mungkin untuk menutupi apa yang menjadi rasa takut mereka, setelah itu kita harus memberikan penjelasan,kalau Lo nggak lakuin itu selama nya mereka akan tetap bersikap seperti itu." Jelas Ita akhirnya membuat mereka mengangguk angguk.

"OHH gitu..bisa lah" sahut diah.

"Hmm oke kalaugitu gue akan lakuin, sebenarnya gue nggak pernah tuh berpikiran kek gini gini nih." Sambung askia.

Mereka melakukan aksi itu malam ini juga, mereka move on ke rumah askia untuk melakukan itu, sampai di rumah askia mereka langsung ke kamar askia, mereka langsung bersembunyi,Diah di bawah kolong ranjang, shreya di balik lemari, sementara Ita ada di balik gorden.

Iya menghampiri orangtuanya untuk berbicara dulu mengenai hak ini untuk memancing mereka,"maaf yah,Bun...kia pengen bicara." Ucapnya seraya duduk disamping bundanya.

"Kalau soal kemarin itu,maaf ayah tidak bisa."

" Setidaknya dengerin dulu." Bundanya terlihat meyakinkan ayahnya untuk mau mendengarkan dulu apa yang mau dikatakan kia, akhirnya setuju.

"Jadi...kia masih tetap dengan pendirian kia untuk menolak pernikahan ini." Ujarnya membuat semburat amarah di mata ayahnya mulai mencuat.

"Jika seperti itu tetap mau mu maaf,ayah tidak akan mendengarnya,karena ini juga untuk kebaikan mu."

"Tolong lah yah,ini demi masa depan kia,ini tentang hidup kia." Kekeh kia seraya berdiri dengan nada bicaranya yang lantang, ayahnya berusaha menahan amarahnya tapi sekali lagi itu tidak bisa dibendung, tangannya melayang ringan hampir menampar kia lagi,tapi dengan sigap kia berlari ke arah kamarnya,sampai didepan pintu ia menoleh ke arah orangtuanya, "jika kalian memang pengen aku menuruti itu,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku hari ini." Titahnya keras langsung masuk ke dalam kamar dan segera melakukan aksinya,ia mengambil pisau yang sudah Ita siapkan, sementara ayahnya masih diam berdiri di ruangtamu dengan bundanya yang sudah mulai khawatir, "ayo kita kejar kia,kalau sampai ini terjadi,aku tidak akan mengampuni mu." Ucap bundanya kia sambil menangis.


Other Stories
Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Download Titik & Koma