DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 2 Buku Yang Lebih Serem Dari Tagihan Listrik

Bab 2

Buku yang Lebih Serem dari Tagihan Listrik

Aku duduk di meja kayu besar di ruang tengah rumah kolonial ini. Udara panas Surabaya sudah mulai mengalahkan udara kipas angin jadul di sudut ruangan. Dina, Fredy, dan Dedy duduk mengawasi, seolah-olah aku lagi mau buka kunci jawaban ujian nasional.

Di hadapanku, buku catatan kakek terbuka. Buku ini kelihatan tua banget. Kulitnya retak-retak, warnanya cokelat kusam, dan aromanya mirip lemari nenek-nenek yang udah lama nggak dibuka. Aku menatap halaman pertama. Di sana Tertulis bahasa jerman. Milik Reich Ketiga. Hanya untuk komando utama. Aku langsung mendecak.

"Lah, ini buku Nazi? Aku kira buku resep rahasia oma-oma Bavaria."

Fredy mendekat, matanya tajam. "Iya, Mas. Itu memang buku peninggalan Nazi. Kakek Anda pernah ikut lelang rahasia di Eropa. Buku itu dicuri dari bunker terakhir di Berlin sebelum Perang Dunia II selesai."

Aku menelan ludah.

Aku buka halaman selanjutnya. Ada banyak catatan tangan. Gambar simbol aneh, diagram portal, foto hitam-putih mahluk tinggi kurus bermata hitam berkuping lancip, sampai sketsa naga dengan tanduk panjang. Aku membaca pelan-pelan, meski rasanya kayak baca buku teori relativitas sambil dengerin lawakan Srimulat.

"Tahun 1938, kami menemukan bukti bahwa dunia kita bukan satu-satunya. Ada dimensi lain, dihuni mahluk mitologi, naga, elf, orc, dwarf dan makhluk-makhluk yang selama ini dianggap legenda.

Portal alami pernah terbuka ratusan tahun lalu di pegunungan Alpen. Tapi belum sempurna dan menutup kembali. Penelitian terakhir menunjukkan portal akan terbuka sepenuhnya pada tahun 1989, di perairan Laut Jawa, Indonesia. hal ini diketahui, karena ada aura mistis yang terasa di sana. Beberapa anak indigo merasakan aura yang menekan psikologi mereka.

Aku lanjut membaca. Disana tertulis. Apabila mahluk-mahluk itu masuk ke bumi, manusia akan punah dalam 10 tahun. Kita tidak bisa menghadapi mahkluk dengan teknologi mistis atau teknologi sihir untuk saat ini"

Aku langsung mendadak haus. "Laut Jawa? Lah, deket sini? Seriusan?"

Dina mendekat. "Iya, Mas. Itu alasan utama kakekmu mendalami penelitian ini. Dia nggak cuma kolektor benda antik, tapi juga pengamat lintas dunia."

Aku menoleh ke Dina, lalu ke Fredy dan Dedy.

"Kenapa nggak bikin portalnya di antartika aja? Biar kalau bocor, yang diserang cuma pinguin?" tanyaku setengah serius.

Fredy menahan tawa, tapi Dedy tetap kaku kayak patung Pancoran.

"Portal itu sifatnya alami. Kita nggak bisa pilih lokasi. Karena itu kakek Anda sudah menyiapkan segala persenjataan dan strategi," kata Dedy sambil menunjuk lemari besi di pojok ruangan.

Aku lanjut membaca. Di halaman berikutnya ada diagram besar bertuliskan: "Elfische Waffen" — senjata elf. Di bawahnya tergambar: pedang panjang, dua belati, perisai, busur. Semua dilabeli kode aneh.

"Senjata elf harus dikumpulkan sebelum portal terbuka. Jika tidak, mahluk yang keluar akan terlalu kuat untuk dikalahkan senjata biasa." Kataku membaca catatan kakek.

Aku mendesah panjang.

"Ini serius banget, ya? Kukira pulang ke Indonesia paling parah cuma disuruh ikut arisan sama disuruh nikah cepet," gumamku sambil nutup buku.

Dina menepuk bahuku. "Kakek sudah mempercayakan ini semua ke Mas. Kami akan membantu. Tapi keputusan tetap di tangan Mas."

Aku menatap ketiganya. Rasanya kayak baru dipilih jadi ketua RT dadakan, padahal nggak pernah ikut rapat warga.

Aku membuka lemari besi yang ditunjuk Dedy. Di dalamnya, terlihat sebuah pedang panjang dengan ukiran misterius. Pegangannya berkilau kehijauan, terasa dingin meski tidak disimpan di kulkas. Aku mendekat, mencoba mengangkatnya. Berat, tapi pas digenggam... rasanya kayak disetrum semangat. Ada sensasi aneh, semacam "klik!" di otak.

"Ini... pedang elf?" tanyaku pelan.

"Benar, Mas," jawab Fredy. "Itu hanya salah satu. Kita masih harus cari belati, perisai, dan busur. Semuanya tersimpan di kolektor benda antik, yang nggak kalah gila dari kakek Mas."

Aku menghela napas.

"Portal, elf, naga, pamanku yang dramatis... Kenapa sih nggak ngasih warisan tanah sawah aja? Simpel, bisa ditanami kangkung," kataku sambil memandangi pedang.

Dedy mendekat, menepuk bahuku pelan.

"Selamat datang di misi terbesar hidup Anda, Mas."

Dan malam itu, sambil minum teh manis di ruang tengah, aku baru benar-benar sadar, Warisan ini bukan sekadar rumah dan duit. Tapi tiket menuju petualangan yang kemungkinan besar bikin aku tambah single selamanya.

Malam itu aku akhirnya masuk ke kamarku sendiri. Kamar ini luas banget. Kalau mau, bisa diisi dua meja pingpong sama satu kasur king size, masih muat juga buat parkir motor.

Aku duduk di ranjang, lampu baca remang-remang. Buku catatan kakek masih kupegang, tapi pikiranku ke mana-mana. Ya, kini aku nggak perlu pusing soal keuangan. Tapi pusing tentang tugas yang dibebankan kepadaku. Tugas yang hanya ada di buku fantasi dan mimpi saja.

Aku mendesah panjang.

"Dulu aku kira, kalau dapet warisan gede, masalah terbesar cuma mau beli mobil sport dulu atau investasi sawah? Atau, kalau lagi waras dikit, mikir nikah, punya anak, tiap weekend main ke mall, posting foto keluarga harmonis."

Aku menatap langit-langit, ngebayangin prewedding di kebun teh, anak pertama disuapin bubur organik, atau bikin video keluarga "Tips Mengatur Keuangan Warisan".

Tapi kenyataannya?

Aku malah harus selamatin dunia. Melawan mahluk yang akan keluar dari portal. Ngumpulin senjata elf yang aku kurang tahu kekuatannya seperti apa?.

Aku tepuk jidat.

"Handoyo, nasibmu ini antara pahlawan super penyelamat Bumi dan bapak-bapak gagal arisan," gumamku.

Aku turun ke ruang tamu. Fredy lagi bersihin pedang elf sambil nyanyi pelan lagu "anak singkong" Ari Wibowo.

"Fredy, sini bentar," panggilku.

Fredy langsung tegak kayak abis dengar komando. "Siap, Mas!"

Aku duduk, melambai supaya dia santai.

"Fred, kita harus ngomong serius. Tentang senjata elf lain itu. Gimana cara kita dapetinnya? Masa nunggu pak pos kirim paket itu?" tanyaku.

Fredy langsung serius. Mukanya berubah kayak pas tentara disuruh push-up 500 kali.

"Pemilik senjata elf lainnya adalah kolektor benda antik. Nama aslinya Pak Suroso, tinggal di kawasan Darmo, Surabaya juga. Dia kaya raya, punya koleksi dari pedang samurai sampai garpu makan Titanic."

Aku melongo.

"Garpu Titanic? Serius? Kalau makan bakso pakai itu rasanya gimana, ya?"

Fredy berusaha menahan ketawa. "Itu cuma rumor, Mas. Tapi yang pasti, beliau punya dua belati elf, perisai, dan busur. Lengkap."

Aku mengusap dagu.

"Terus, kita mau beli? Atau nego barter sama kol? Atau...?" tanyaku.

Fredy mendekat, suaranya dikecilin kayak mau bisikin rahasia dapur warung soto.

"Beliau nggak akan mau jual. Bahkan nggak akan mau kasih lihat. Jadi... satu-satunya cara, ya... kita harus ambil diam-diam."

Aku langsung merinding.

"Pencurian? Serius nih? Aku kan baru aja resmi jadi pewaris, masa langsung masuk berita kriminal? Keluarga kakekku bisa ngamuk di alam kubur," kataku sambil melotot.

Fredy tetap serius. "Kalau senjata itu jatuh ke tangan orang salah, kita semua bisa tamat sebelum portal kebuka. Paman-paman Mas juga pasti incar itu. Kita harus cepat."

Aku menghela napas.

"Baiklah... Kalau memang harus... Tapi abis ini aku tetap boleh cari istri, kan? Setidaknya buat jaga warisan ini biar nggak masuk jalur sinetron," kataku setengah bercanda.

Fredy tersenyum kecil. "Kalau selamat, boleh banget, Mas."

Aku diam sejenak, menatap jendela luar. Malam Surabaya sunyi. Angin bertiup pelan, kayak bisikin, "Selamat datang di kehidupan baru."

Oke.

Rencana pencurian senjata elf resmi dimulai.

Aku, Fredy, Dina, dan Dedy. Bukan tim super hero. Bukan juga Robin Hood. Tapi... inilah yang ada. Dan sialnya, aku ketuanya. Ketua yang dipilih hanya karena aku penerima warisan.

Pagi harinya, aku bangun dengan punggung pegal. Ternyata, meski kasurnya empuk, pikiran yang berat bikin badan serasa habis di seruduk kerbau. Aku turun ke ruang makan. Dina sudah duduk sambil minum kopi hitam, tatapan galak kayak penjaga loket parkir pas kita lupa stempel.

"Mas, ada yang mau ketemu," kata Dina begitu lihat aku masih ngucek-ngucek mata.

Aku mengerutkan dahi. "Ketemu? Siapa? Debt collector?"

Dina menggeleng. Dia berdiri, lalu membuka pintu samping. Masuklah seorang pria tinggi, kulit agak gelap, rambut sedikit cepak, bahu lebar, otot kelihatan jelas meski pakai kaos oblong.

"Ini Agus," kata Dina. Suaranya mendadak lebih lembut 0,3 persen daripada biasanya.

"Agus ini mantan atlet nasional panahan. Pernah juga jadi pelatih panahan, sekarang jadi tentara bayaran. Plus... dia pacarku," lanjut Dina dengan nada santai, tapi matanya melirik Agus sambil senyum tipis.

Aku melongo. "Tentara bayaran? Lha, bukannya tentara bayaran tuh kerjanya di film-film Hollywood? Ini beneran ada di Surabaya?" tanyaku sambil masih meraba-raba logika.

Agus maju, tangannya besar, pas dia salaman, tanganku kayak habis dijepit pintu mobil.

"Salam, Mas Handoyo. Saya sudah dapat cerita dari Dina. Tentang portal, senjata elf, pamannya Mas yang mirip mafia gagal, dan monster dunia lain," katanya sambil menatap lurus ke mataku.

Aku hanya bisa manggut-manggut.

"Jadi... kamu minat gabung? Ikut misi aneh ini?" tanyaku sambil setengah berharap dia bilang "nggak".

Agus menghela napas.

"Mas, selama ini saya kerja bantu pasukan di konflik luar negeri. Tapi nggak ada yang seaneh ini. Portal, mahluk mitologi, elf, naga... Ini gila.

Tapi kalau nggak ada yang bergerak, kota ini bisa habis. Negara pun nggak akan sempat turun tangan. Karena itu saya setuju ikut," katanya sambil matanya menyala kayak habis kena lampu motor langsung.

Aku menatap Dina. Dina menatap Agus sambil senyum—senyum yang jarang banget dia kasih ke manusia lain.

Aku bisa lihat, chemistry mereka tuh kayak duet penyanyi dangdut pas dapet saweran banyak.

Fredy datang sambil bawa nampan berisi teh dan gorengan.

"Wah, sudah kenalan ya? Cocok banget nih Mas Agus. Pas banget kita butuh ahli senjata jarak jauh," kata Fredy yang memang dia adalah sniper. Punya partner nih ceritanya.

Aku duduk sambil ambil tempe goreng.

"Oke... Jadi tim kita sekarang. aku, Fredy, Dedy, Dina, sama Agus. Lengkap banget. Ini kita mau selamatin dunia, atau daftar lomba 17 Agustus cabang panjat pinang ekstrim?" kataku sambil nyengir.

Semua pada ketawa pelan. Suasana jadi agak cair, meski di belakang otak, rasa takut soal portal masih nongkrong sambil goyang kaki.

Agus menepuk pundakku. "Mas nggak usah khawatir. Saya di sini bantu penuh. Dan soal senjata elf, saya sudah punya rencana buat bantu masuk ke rumah Pak Suroso. Semua taktik sudah saya siapkan."

Aku menatapnya.

"Bagus... Bagus... Tapi nanti abis misi ini kita boleh piknik ke Batu dulu, kan? Refreshing lah." jawabku sambil cengengesan.

Dina mendecak, tapi kelihatan juga dia senang ada Agus di tim.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak pulang, aku ngerasa... sedikit lebih kuat.

Meski di dalam hati tetap ngedumel."Kenapa sih nggak dapat warisan kebun salak aja... Atau minimal kontrakan 12 pintu, kan bisa pensiun tenang..."



Other Stories
Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Testing

testing ...

Download Titik & Koma