Bab 3 Serangan Mendadak & Koleksi Senjata Ajaib
Bab 3
Serangan Mendadak & Koleksi Senjata Ajaib
Sore itu, aku lagi duduk di ruang tengah. Peta rumah Pak Suroso sudah terbentang di meja. Ada coretan strategi yang lebih mirip gambar anak TK latihan mewarnai, tanda panah ke sana-sini, lingkaran, tanda X besar, dan catatan "ingat bawa snack!" di pojok. Semua strategi di catat dengan lugas. Hanya catatanku tentang snack yang agak ngaco. Berhubung aku pemimpinya sekaligus penyandang dana, mereka nggak protes.
Fredy duduk di sampingku sambil bawa koper besar mirip computer. Entah di tahun ini kenapa kakek ku punya alat secanggih James Bond. Disana terlihat rute keluar-masuk menuju ruang rahasia milik Pak Suroso. Dina sibuk mengasah belati sambil humming lagu rock 80-an. Agus di pojok, latihan narik busur sambil ngintip ke arah Dina — fix ini cowok bucin juga.
Aku mengetuk meja. "Jadi gini, kita harus masuk dari balkon lantai dua, lalu —"
BRAAAKK!!
Suara kaca pecah diikuti api yang langsung nyambar ke karpet.
Aku lompat sampai hampir numpang di pundak Fredy.
"API! Ini Surabaya apa Gotham City?!" teriakku.
Dedy langsung berdiri, mukanya kayak komandan pasukan anti-zombie. Dia merogoh kalungnya, lalu meniup peluit kecil di sana.
Dalam hitungan detik...
DORR! DORR!
Pintu samping kebuka. Sepuluh ekor anjing Pitbull berlari masuk, gigi pada keluar, lidah menjulur, mata melotot. Mereka kayak abis denger kata "ayam bakar all you can eat."
Aku langsung tiarap ke bawah meja.
"Dedy! Itu anjing atau pasukan orc?! Jangan sampe salah gigit ya, aku ini pemilik warisan!"
Fredy langsung lari ke lemari besar di belakang ruang makan. Dia muter gagang rahasia, lemari berputar... dan muncul ruangan senjata seluas garasi bus malam. Isi didalamnya sangat lengkap. Mulai senjata api modern sampai senjata tradisional, lengkap. Bahkan berberagai jenis bom juga ada. Dan tepat di simpan di samping ruang kerja kakek. Gimana kalau salah satu bom, iseng meledak pas aku nandatangani surat waris kemarin? Kan pamanku seneng. Aku jadi di tanam di kebon belakang.
Aku melongo.
"Loh, ini rumah warisan atau base cam pasuka PD 2?!"
Fredy dengan cekatan ngambil senapan runduk, matanya fokus kayak habis nelen kafein 10 gelas. Dina langsung masuk, matanya udah nyala kayak lampu sorot konser rock. Dia ambil belati komando kembar, plus satu senapan Uzi.
Agus? Dia masuk sambil senyum tipis, ngambil busur pistol plus pedang mirip mandau.
"Ah, akhirnya mainan serius," katanya santai.
Aku?
Aku berlari ke pojok ruangan. Langsung ambil pedang elf yang kakek warisin, sambil mikir. "Ini harus selamat dulu, kalo ilang bisa digadaiin paman buat beli mobil mewah."
Mataku keliling ruangan. Eh, di sudut ada rak kayu berdebu. Ada keris kuno yang gagangnya ukir naga. Entah kenapa, tanganku reflek ngambil juga.
"Kenapa aku ambil keris?!" tanyaku ke diri sendiri sambil lari-lari panik.
Mungkin... aku berharap keris ini punya kekuatan magis. Siapa tau bisa bantu kasih keberuntungan, atau minimal bisa dipake ngupil kalau kepepet.
Fredy muncul sambil cek senapan.
"Mas, siap! Ada penembak jarak jauh di luar pagar. Tiga orang di belakang, dua di atap!" katanya cepat.
Aku celingak-celinguk, napas ngos-ngosan.
"Fred... rumah ini kenapa sih? Kok lebih lengkap dari markas MILITER?!"
Dina ngebanting magazin ke senapan Uzi. "Mas, ini warisan kakekmu. Bukan sekadar rumah sama genteng bocor. Dari dulu sudah dipersiapkan buat perang ini."
Agus maju sambil narik busur. "Tenang, kita hadapi bareng. Siap, Mas Handoyo!" katanya sambil nunjuk aku.
Aku menghela napas.
"Oke... OKE! Kalian jago semua. Aku... aku pegang pedang elf... sama keris ini!" kataku sambil angkat keduanya.
Mereka semua menatapku aneh.
"Mas... keris itu buat apa?" tanya Fredy sambil nahan ketawa.
Aku garuk kepala.
"Entahlah... feeling aja. Mungkin bisa ngusir sial... atau minimal bikin lawan bingung. Lagian... kenapa di gudang ada keris?!"
Dina ketawa kecil, lalu langsung serius lagi. "Fokus! Mereka mau bakar rumah ini dulu, lalu habisi kita satu per satu."
Aku mengencangkan pegangan pedang dan keris.
"Siap... Gaskeun. Demi Surabaya, demi warisan, dan demi harapan someday aku bisa nikah!"
Dan malam itu. Rencana pencurian senjata elf harus tertunda. Karena ternyata, rumah warisan ini juga harus kita pertahankan dulu.
Pertarungan malam itu. Wah, kalau direkam bisa viral , dijudulin "surabaya 85."
Fredy berjongkok di balkon, menembak dengan senapan runduk. Dina berlari zig-zag, nembak pakai Uzi sambil ngelempar belati. Agus? Dia kayak ninja Jawa, pistol di satu tangan, pedang mandau di tangan lain, lompat sana-sini sambil neriakin, "HEADSHOT!"
Aku?
Aku berdiri di pojok ruang tamu, pegang pedang elf di tangan kanan, keris di tangan kiri. Aku teriak ke Fredy, "Fred! Mau bantu apa nih?!"
Fredy nengok sebentar, "Mas, jaga diri aja dulu! Jangan lupa nafas!"
Aku lihat sekeliling, bingung. Pitbull-pitbull juga sibuk ngejar pasukan bayaran pamanku. Satu anjing ngejar sampai dapur, satu lagi sempet makan roti sobek di tengah jalan, abis itu lanjut ngejar lagi.
Aku coba ayun keris ke udara.
"Nih rasain jurus... eh... keris ini buat apa sih?!"
Saking paniknya, aku cuma muter-muter kayak gangsing rusak, sambil ngelindungin pedang elf biar nggak jatuh.
Setelah sekitar setengah jam baku hantam, akhirnya situasi agak mereda. Beberapa penyerang kabur, yang lain tumbang dihajar Pitbull, Dina, Fredy, dan Agus.
Aku mendadak lemas. Tangan gemetaran, keringet udah kayak air mancur. Aku duduk di kursi sambil ngelap keris pakai tisu.
"Hah... untung dikelilingi orang-orang sakti... Aku? Cuma modal keris sama doa," gumamku.
Tiba-tiba...
BRAKK!
Pintu samping didobrak. Muncul gerombolan orang berseragam putih. Langkah mereka cepat dan rapi, kayak pasukan khusus ninja yang abis nonton tutorial baris-berbaris.
Mereka langsung melumpuhkan sisa penyerang milik pamanku dalam sekejap. Semua gerakan mereka efisien, bersih, tanpa teriakan lebay.
Aku sampai bengong, keris nyaris jatuh dari tangan. "Ini siapa lagi? Satpol PP atau militer?!"
Setelah suasana benar-benar tenang, seorang pria tua maju ke depan. Badannya pendek, cebol, tapi wajahnya... duh, wibawanya kayak kombinasi guru silat, kiai kampung, dan MC acara manten.
Dia maju mendekat, menatapku sambil senyum.
"Salam kenal, Handoyo," katanya dengan suara dalam dan pelan.
Aku melongo. "Eh... Bapak siapa? Mau bayar utang paman saya?"
Pria itu tertawa kecil.
"Namaku... Suroso," katanya sambil membuka sedikit kerah seragam putihnya, kelihatan lambang aneh di dada.
Aku langsung berdiri, setengah goyah.
"Pak Suroso?! Yang punya koleksi senjata elf itu? Yang rumahnya mau kita bobol?!" tanyaku spontan.
Pak Suroso mengangguk sambil senyum kalem.
"Iya, benar. Aku sudah lama memperhatikan kalian. Aku tahu kakekmu, Sukarno, sejak lama. Aku juga tahu... kamu tidak benar-benar berniat jahat. Kamu hanya ingin mencegah bencana."
Aku langsung deg-degan.
"Eh... Pak... saya nggak berniat maling kok! Itu cuma... eh... simulasi... strategi... iseng...," jawabku sambil garuk kepala, malu campur takut.
Pak Suroso tertawa lagi, suaranya dalam tapi hangat. "Tenang. Kalau niatmu benar, kita bisa bekerja sama. Tapi itu urusan nanti. Sekarang... kalian harus istirahat. Kalian sudah menghadapi serangan berat malam ini."
Aku menoleh ke Fredy, Dina, dan Agus. Semuanya sama kagetnya, tapi diam.
Aku akhirnya duduk lagi, keris ditaruh di meja.
"Ya Allah... Baru juga mau tidur siang tadi, tau-tau malamnya kayak main film perang. Terus sekarang... bapak cebol baik hati nongol ngajak kolaborasi," gumamku.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa 'Mungkin... hidupku lebih gila daripada film layar tancap'.
Setelah semua chaos selesai, kami semua—aku, Fredy, Dina, Agus, Dedy—duduk di ruang tengah. Kali ini, suasananya lebih mirip rapat RT dadakan: meja penuh minuman hangat, cemilan, dan beberapa senjata tergeletak santai kayak mainan di playground. Di seberang kami duduk Pak Suroso dan timnya, semua berseragam putih, rapi, wibawa full 100%.
Pak Suroso membuka kotak kayu panjang yang dia bawa. Isinya bikin aku mendadak kebelet pipis saking kagetnya. Satu perisai elf, dua belati elf, plus satu busur kecil elegan.
Dia mendorong kotak itu ke arah kami.
"Sebagai tanda niat baik... semua senjata elf yang selama ini kusimpan, sekarang milik kalian," katanya santai.
Aku langsung melongo.
"Loh, Pak... tadinya kita mau nyolong loh...," kataku spontan sambil elus dada.
Pak Suroso hanya tertawa kecil.
"Aku tahu. Tapi kalian nggak jahat. Kalian hanya belum tahu cara yang benar."
Aku langsung nengok ke Fredy dan Dina, semua kelihatan lega, kayak abis bayar utang kos.
Tiba-tiba, Pak Suroso bertepuk tangan pelan.
Dua pamanku, Om Mursid dan Om Gunawan, digiring masuk oleh anak buahnya. Kedua paman itu mukanya pucat kayak baru ketahuan ngutang di warung.
Pak Suroso berdiri, menatap mereka dengan tatapan dingin. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Handoyo... bisa kamu ceritakan, bagaimana orang tuamu meninggal?" tanyanya pelan.
Aku kaget.
Aku menatap dua pamanku yang tiba-tiba langsung gemetaran. "Aku... aku nggak tau detail, Pak. Yang aku tau, mereka hilang saat ekspedisi kapal ke Antartika, nggak pernah kembali," jawabku lirih.
Pak Suroso mengangguk pelan, lalu menatap dua paman itu lagi. "Bagaimana dengan kalian? Mau cerita?" tanyanya dingin.
Om Mursid langsung jatuh berlutut. Om Gunawan menoleh kanan kiri, mulutnya komat-kamit. Keringatnya menetes kayak air kran bocor.
Tak ada jawaban.
Hening.
Lalu...
Dalam hitungan detik, tubuh mereka mulai berasap. Matanya melebar. Mulutnya berusaha teriak, tapi nggak keluar suara.
Aku berdiri panik.
"Loh! Loh! Pak! Ini kenapa?!" teriakku sambil setengah maju, setengah mundur.
Api mendadak muncul dari dalam tubuh mereka.
Aku cuma bisa melongo. Dina nutup mulutnya, Fredy mundur sambil ngarahin senjata, Agus langsung pasang posisi waspada.
Beberapa detik kemudian.Keduanya terbakar habis, hanya menyisakan abu. Lantai marmer langsung gosong, bau sangit memenuhi ruangan.
Aku jatuh duduk, napas megap-megap.
"YA ALLAH... Bapak! Kenapa jadi live cooking gini?!" teriakku.
Pak Suroso tetap tenang, menutup matanya.
"Itu balasan atas kejahatan mereka. Mereka lah dalang kecelakaan kapal yang menewaskan orang tuamu. Mereka ingin warisanmu sejak dulu," katanya pelan, dingin, seolah baru ngomong soal harga tempe di pasar.
Aku terdiam. Kepala rasanya penuh bunyi "ngiiiiiiiiiiiiing" kayak habis kena petasan dekat telinga.
Aku menatap tumpukan abu pamanku.
"Lha... Ini serius banget. Aku kira hidupku sudah aneh... ternyata... bisa tambah aneh plus horor bonus panggang gratis," gumamku lirih.
Pak Suroso menoleh padaku, menepuk pundakku pelan.
"Handoyo, perjalananmu baru dimulai. Kau akan tahu kebenaran yang lebih besar lagi nanti. Untuk sekarang... simpan dulu pedang elf-mu. Dan jangan lagi ragukan keberanianmu."
Aku hanya bisa mengangguk.
Malam itu, Aku kehilangan dua paman. Mendapat sekotak senjata elf. Dan mental yang retak.
Sambil nahan napas, aku melirik keris yang masih kupegang.
"Setidaknya... kamu nggak bikin aku trauma malam ini," gumamku sambil elus keris, seolah itu kucing peliharaan.
Serangan Mendadak & Koleksi Senjata Ajaib
Sore itu, aku lagi duduk di ruang tengah. Peta rumah Pak Suroso sudah terbentang di meja. Ada coretan strategi yang lebih mirip gambar anak TK latihan mewarnai, tanda panah ke sana-sini, lingkaran, tanda X besar, dan catatan "ingat bawa snack!" di pojok. Semua strategi di catat dengan lugas. Hanya catatanku tentang snack yang agak ngaco. Berhubung aku pemimpinya sekaligus penyandang dana, mereka nggak protes.
Fredy duduk di sampingku sambil bawa koper besar mirip computer. Entah di tahun ini kenapa kakek ku punya alat secanggih James Bond. Disana terlihat rute keluar-masuk menuju ruang rahasia milik Pak Suroso. Dina sibuk mengasah belati sambil humming lagu rock 80-an. Agus di pojok, latihan narik busur sambil ngintip ke arah Dina — fix ini cowok bucin juga.
Aku mengetuk meja. "Jadi gini, kita harus masuk dari balkon lantai dua, lalu —"
BRAAAKK!!
Suara kaca pecah diikuti api yang langsung nyambar ke karpet.
Aku lompat sampai hampir numpang di pundak Fredy.
"API! Ini Surabaya apa Gotham City?!" teriakku.
Dedy langsung berdiri, mukanya kayak komandan pasukan anti-zombie. Dia merogoh kalungnya, lalu meniup peluit kecil di sana.
Dalam hitungan detik...
DORR! DORR!
Pintu samping kebuka. Sepuluh ekor anjing Pitbull berlari masuk, gigi pada keluar, lidah menjulur, mata melotot. Mereka kayak abis denger kata "ayam bakar all you can eat."
Aku langsung tiarap ke bawah meja.
"Dedy! Itu anjing atau pasukan orc?! Jangan sampe salah gigit ya, aku ini pemilik warisan!"
Fredy langsung lari ke lemari besar di belakang ruang makan. Dia muter gagang rahasia, lemari berputar... dan muncul ruangan senjata seluas garasi bus malam. Isi didalamnya sangat lengkap. Mulai senjata api modern sampai senjata tradisional, lengkap. Bahkan berberagai jenis bom juga ada. Dan tepat di simpan di samping ruang kerja kakek. Gimana kalau salah satu bom, iseng meledak pas aku nandatangani surat waris kemarin? Kan pamanku seneng. Aku jadi di tanam di kebon belakang.
Aku melongo.
"Loh, ini rumah warisan atau base cam pasuka PD 2?!"
Fredy dengan cekatan ngambil senapan runduk, matanya fokus kayak habis nelen kafein 10 gelas. Dina langsung masuk, matanya udah nyala kayak lampu sorot konser rock. Dia ambil belati komando kembar, plus satu senapan Uzi.
Agus? Dia masuk sambil senyum tipis, ngambil busur pistol plus pedang mirip mandau.
"Ah, akhirnya mainan serius," katanya santai.
Aku?
Aku berlari ke pojok ruangan. Langsung ambil pedang elf yang kakek warisin, sambil mikir. "Ini harus selamat dulu, kalo ilang bisa digadaiin paman buat beli mobil mewah."
Mataku keliling ruangan. Eh, di sudut ada rak kayu berdebu. Ada keris kuno yang gagangnya ukir naga. Entah kenapa, tanganku reflek ngambil juga.
"Kenapa aku ambil keris?!" tanyaku ke diri sendiri sambil lari-lari panik.
Mungkin... aku berharap keris ini punya kekuatan magis. Siapa tau bisa bantu kasih keberuntungan, atau minimal bisa dipake ngupil kalau kepepet.
Fredy muncul sambil cek senapan.
"Mas, siap! Ada penembak jarak jauh di luar pagar. Tiga orang di belakang, dua di atap!" katanya cepat.
Aku celingak-celinguk, napas ngos-ngosan.
"Fred... rumah ini kenapa sih? Kok lebih lengkap dari markas MILITER?!"
Dina ngebanting magazin ke senapan Uzi. "Mas, ini warisan kakekmu. Bukan sekadar rumah sama genteng bocor. Dari dulu sudah dipersiapkan buat perang ini."
Agus maju sambil narik busur. "Tenang, kita hadapi bareng. Siap, Mas Handoyo!" katanya sambil nunjuk aku.
Aku menghela napas.
"Oke... OKE! Kalian jago semua. Aku... aku pegang pedang elf... sama keris ini!" kataku sambil angkat keduanya.
Mereka semua menatapku aneh.
"Mas... keris itu buat apa?" tanya Fredy sambil nahan ketawa.
Aku garuk kepala.
"Entahlah... feeling aja. Mungkin bisa ngusir sial... atau minimal bikin lawan bingung. Lagian... kenapa di gudang ada keris?!"
Dina ketawa kecil, lalu langsung serius lagi. "Fokus! Mereka mau bakar rumah ini dulu, lalu habisi kita satu per satu."
Aku mengencangkan pegangan pedang dan keris.
"Siap... Gaskeun. Demi Surabaya, demi warisan, dan demi harapan someday aku bisa nikah!"
Dan malam itu. Rencana pencurian senjata elf harus tertunda. Karena ternyata, rumah warisan ini juga harus kita pertahankan dulu.
Pertarungan malam itu. Wah, kalau direkam bisa viral , dijudulin "surabaya 85."
Fredy berjongkok di balkon, menembak dengan senapan runduk. Dina berlari zig-zag, nembak pakai Uzi sambil ngelempar belati. Agus? Dia kayak ninja Jawa, pistol di satu tangan, pedang mandau di tangan lain, lompat sana-sini sambil neriakin, "HEADSHOT!"
Aku?
Aku berdiri di pojok ruang tamu, pegang pedang elf di tangan kanan, keris di tangan kiri. Aku teriak ke Fredy, "Fred! Mau bantu apa nih?!"
Fredy nengok sebentar, "Mas, jaga diri aja dulu! Jangan lupa nafas!"
Aku lihat sekeliling, bingung. Pitbull-pitbull juga sibuk ngejar pasukan bayaran pamanku. Satu anjing ngejar sampai dapur, satu lagi sempet makan roti sobek di tengah jalan, abis itu lanjut ngejar lagi.
Aku coba ayun keris ke udara.
"Nih rasain jurus... eh... keris ini buat apa sih?!"
Saking paniknya, aku cuma muter-muter kayak gangsing rusak, sambil ngelindungin pedang elf biar nggak jatuh.
Setelah sekitar setengah jam baku hantam, akhirnya situasi agak mereda. Beberapa penyerang kabur, yang lain tumbang dihajar Pitbull, Dina, Fredy, dan Agus.
Aku mendadak lemas. Tangan gemetaran, keringet udah kayak air mancur. Aku duduk di kursi sambil ngelap keris pakai tisu.
"Hah... untung dikelilingi orang-orang sakti... Aku? Cuma modal keris sama doa," gumamku.
Tiba-tiba...
BRAKK!
Pintu samping didobrak. Muncul gerombolan orang berseragam putih. Langkah mereka cepat dan rapi, kayak pasukan khusus ninja yang abis nonton tutorial baris-berbaris.
Mereka langsung melumpuhkan sisa penyerang milik pamanku dalam sekejap. Semua gerakan mereka efisien, bersih, tanpa teriakan lebay.
Aku sampai bengong, keris nyaris jatuh dari tangan. "Ini siapa lagi? Satpol PP atau militer?!"
Setelah suasana benar-benar tenang, seorang pria tua maju ke depan. Badannya pendek, cebol, tapi wajahnya... duh, wibawanya kayak kombinasi guru silat, kiai kampung, dan MC acara manten.
Dia maju mendekat, menatapku sambil senyum.
"Salam kenal, Handoyo," katanya dengan suara dalam dan pelan.
Aku melongo. "Eh... Bapak siapa? Mau bayar utang paman saya?"
Pria itu tertawa kecil.
"Namaku... Suroso," katanya sambil membuka sedikit kerah seragam putihnya, kelihatan lambang aneh di dada.
Aku langsung berdiri, setengah goyah.
"Pak Suroso?! Yang punya koleksi senjata elf itu? Yang rumahnya mau kita bobol?!" tanyaku spontan.
Pak Suroso mengangguk sambil senyum kalem.
"Iya, benar. Aku sudah lama memperhatikan kalian. Aku tahu kakekmu, Sukarno, sejak lama. Aku juga tahu... kamu tidak benar-benar berniat jahat. Kamu hanya ingin mencegah bencana."
Aku langsung deg-degan.
"Eh... Pak... saya nggak berniat maling kok! Itu cuma... eh... simulasi... strategi... iseng...," jawabku sambil garuk kepala, malu campur takut.
Pak Suroso tertawa lagi, suaranya dalam tapi hangat. "Tenang. Kalau niatmu benar, kita bisa bekerja sama. Tapi itu urusan nanti. Sekarang... kalian harus istirahat. Kalian sudah menghadapi serangan berat malam ini."
Aku menoleh ke Fredy, Dina, dan Agus. Semuanya sama kagetnya, tapi diam.
Aku akhirnya duduk lagi, keris ditaruh di meja.
"Ya Allah... Baru juga mau tidur siang tadi, tau-tau malamnya kayak main film perang. Terus sekarang... bapak cebol baik hati nongol ngajak kolaborasi," gumamku.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa 'Mungkin... hidupku lebih gila daripada film layar tancap'.
Setelah semua chaos selesai, kami semua—aku, Fredy, Dina, Agus, Dedy—duduk di ruang tengah. Kali ini, suasananya lebih mirip rapat RT dadakan: meja penuh minuman hangat, cemilan, dan beberapa senjata tergeletak santai kayak mainan di playground. Di seberang kami duduk Pak Suroso dan timnya, semua berseragam putih, rapi, wibawa full 100%.
Pak Suroso membuka kotak kayu panjang yang dia bawa. Isinya bikin aku mendadak kebelet pipis saking kagetnya. Satu perisai elf, dua belati elf, plus satu busur kecil elegan.
Dia mendorong kotak itu ke arah kami.
"Sebagai tanda niat baik... semua senjata elf yang selama ini kusimpan, sekarang milik kalian," katanya santai.
Aku langsung melongo.
"Loh, Pak... tadinya kita mau nyolong loh...," kataku spontan sambil elus dada.
Pak Suroso hanya tertawa kecil.
"Aku tahu. Tapi kalian nggak jahat. Kalian hanya belum tahu cara yang benar."
Aku langsung nengok ke Fredy dan Dina, semua kelihatan lega, kayak abis bayar utang kos.
Tiba-tiba, Pak Suroso bertepuk tangan pelan.
Dua pamanku, Om Mursid dan Om Gunawan, digiring masuk oleh anak buahnya. Kedua paman itu mukanya pucat kayak baru ketahuan ngutang di warung.
Pak Suroso berdiri, menatap mereka dengan tatapan dingin. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Handoyo... bisa kamu ceritakan, bagaimana orang tuamu meninggal?" tanyanya pelan.
Aku kaget.
Aku menatap dua pamanku yang tiba-tiba langsung gemetaran. "Aku... aku nggak tau detail, Pak. Yang aku tau, mereka hilang saat ekspedisi kapal ke Antartika, nggak pernah kembali," jawabku lirih.
Pak Suroso mengangguk pelan, lalu menatap dua paman itu lagi. "Bagaimana dengan kalian? Mau cerita?" tanyanya dingin.
Om Mursid langsung jatuh berlutut. Om Gunawan menoleh kanan kiri, mulutnya komat-kamit. Keringatnya menetes kayak air kran bocor.
Tak ada jawaban.
Hening.
Lalu...
Dalam hitungan detik, tubuh mereka mulai berasap. Matanya melebar. Mulutnya berusaha teriak, tapi nggak keluar suara.
Aku berdiri panik.
"Loh! Loh! Pak! Ini kenapa?!" teriakku sambil setengah maju, setengah mundur.
Api mendadak muncul dari dalam tubuh mereka.
Aku cuma bisa melongo. Dina nutup mulutnya, Fredy mundur sambil ngarahin senjata, Agus langsung pasang posisi waspada.
Beberapa detik kemudian.Keduanya terbakar habis, hanya menyisakan abu. Lantai marmer langsung gosong, bau sangit memenuhi ruangan.
Aku jatuh duduk, napas megap-megap.
"YA ALLAH... Bapak! Kenapa jadi live cooking gini?!" teriakku.
Pak Suroso tetap tenang, menutup matanya.
"Itu balasan atas kejahatan mereka. Mereka lah dalang kecelakaan kapal yang menewaskan orang tuamu. Mereka ingin warisanmu sejak dulu," katanya pelan, dingin, seolah baru ngomong soal harga tempe di pasar.
Aku terdiam. Kepala rasanya penuh bunyi "ngiiiiiiiiiiiiing" kayak habis kena petasan dekat telinga.
Aku menatap tumpukan abu pamanku.
"Lha... Ini serius banget. Aku kira hidupku sudah aneh... ternyata... bisa tambah aneh plus horor bonus panggang gratis," gumamku lirih.
Pak Suroso menoleh padaku, menepuk pundakku pelan.
"Handoyo, perjalananmu baru dimulai. Kau akan tahu kebenaran yang lebih besar lagi nanti. Untuk sekarang... simpan dulu pedang elf-mu. Dan jangan lagi ragukan keberanianmu."
Aku hanya bisa mengangguk.
Malam itu, Aku kehilangan dua paman. Mendapat sekotak senjata elf. Dan mental yang retak.
Sambil nahan napas, aku melirik keris yang masih kupegang.
"Setidaknya... kamu nggak bikin aku trauma malam ini," gumamku sambil elus keris, seolah itu kucing peliharaan.
Other Stories
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...