DARAH NAGA

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
27
Vote
Report
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 4 Perjanjian, Tongkat, Dan Dilema Ala Handoyo

Bab 4

Perjanjian, Tongkat, dan Dilema ala Handoyo

Setelah drama bakar-bakaran live cooking semalam, pagi ini suasana rumah rada aneh.

Fredy lagi ngepel abu bekas pamanku sambil sesekali misuh. Dina duduk di pojok sambil ngelap belati, ekspresinya kayak baru nonton drama Korea yang endingnya nggak sesuai harapan. Agus bantu Dedy bersihin sisa pecahan kaca sambil ngemil roti sobek.

Aku?

Masih duduk di sofa ruang tengah. Kopi di tangan udah dingin, tapi nggak sempat aku seruput.

Pak Suroso duduk di depanku. Wajahnya tetap kalem, kayak guru matematika yang sabar nunggu muridnya paham rumus. Lalu dia membuka pembicaraan dengan suara pelan tapi dalem banget.

"Handoyo... kamu pasti bingung kenapa semua ini terjadi."

Aku menghela napas.

"Pak... kalo bisa dibilang bingung, ini udah level gaban, Pak. Bingung plus stres plus lapar," jawabku sambil megang kepala.

Pak Suroso mengangguk.

"Begini... dulu, aku dan dua pamanmu membuat perjanjian. Pamanmu ingin harta warisan, aku ingin bantuan untuk menjaga portal agar tidak terbuka. Tapi syaratnya jelas: tidak boleh ada korban jiwa."

Aku melongo.

"Jadi... mereka tuh sebenernya mau jadi juragan warisan plus... eh... volunteer portal gitu, Pak?" tanyaku, setengah serius setengah nggak percaya.

Pak Suroso tertawa kecil.

"Kurang lebih begitu. Tapi pamanmu serakah. Mereka melanggar perjanjian dengan membunuh orang tuamu. Itu sebabnya hukuman mereka datang."

Aku terdiam.Tiba-tiba mataku panas. Aku ngerasa kayak lagi nonton film Lebaran yang tiba-tiba mellow.

Pak Suroso menatapku lama, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak ingin kamu mengulang kesalahan yang sama. Karena itu..."

Dia mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya. Sebuah tongkat panjang, terlihat tua, ukiran halus, dan di ujungnya ada kristal hijau yang berpendar lembut.

"Tongkat elf ini... tongkat perjanjian. Siapapun yang memegangnya dan membuat perjanjian, jiwanya akan terikat dengan kesepakatan tersebut. Kalau dilanggar... kau sudah lihat sendiri akibatnya," jelas Pak Suroso sambil mengelus tongkat itu, kayak lagi elus kucing anggora.

Aku mundur sedikit.

"Pak... serem banget, Pak. Ini tongkat atau kontrak dengan jin?" tanyaku sambil gemetar.

Pak Suroso tersenyum.

"Aku mau menawarkan padamu: maukah kamu membuat perjanjian denganku? Kita akan bekerja sama menjaga portal, melindungi bumi, dan tidak boleh ada pengkhianatan. Kalau kau setuju, pegang tongkat ini dan ucapkan janjimu."

Aku terdiam. Fredy, Dina, dan Agus menatapku penuh harap.

Dedy di pojok udah berhenti ngepel, matanya menatapku, seolah bilang, "Ayo Mas, gaskeun, kita udah kepalang basah."

Aku menghela napas panjang. Kepalaku muter.

Aku tatap tongkat itu. Kristalnya makin berpendar, kayak lampu diskotik mini.

Aku menatap Pak Suroso.

"Pak... kalau aku setuju, aku masih bisa nikah kan? Masih bisa nonton bioskop, makan bakso, dan ngopi sambil main catur di warung?" tanyaku serius.

Pak Suroso tertawa pelan.

"Tentu. Asal kau tidak mengkhianati perjanjian."

Aku menghela napas sekali lagi.

Dalam hati aku ngomel. "Ya Allah... ternyata jadi pewaris bukan cuma soal tanda tangan, tapi juga tanda setan—eh, setia!"

Aku maju perlahan, meraih tongkat itu.

Saat tanganku menyentuh, tiba-tiba terasa hangat, ada aliran energi masuk ke lenganku. Aku spontan nyeletuk.

"Waduh... kayak kerokan pake balsem!"

Pak Suroso tertawa lagi, kemudian berdiri.

"Mulai sekarang... kita resmi bekerja sama. Jagalah janji ini, Handoyo."

Aku menatap tongkat di tanganku. "Oke, Pak. Demi bumi, demi warisan... dan demi harapanku punya cucu someday."

Dan sejak hari itu...

Hidupku makin absurd.

Warisan? Dapet.

Portal? Harus dijaga.

Calon istri? Masih wacana.

Tanganku masih gemetaran megang tongkat elf itu. Kristalnya berpendar kayak lampu kelap-kelip di warung pecel lele malam minggu.

Pak Suroso menatapku, tatapannya dalam, serius banget. Suasana tiba-tiba kayak sidang skripsi, cuma minus dosen killer.

Aku akhirnya buka mulut, suara serak.

"Baiklah... aku... Handoyo... berjanji akan membantu menjaga agar tidak ada satu pun mahluk apapun yang bisa keluar dari portal. Aku akan melindungi dunia... meskipun aku lebih suka melindungi saldo rekening," kataku sambil setengah gemetar, setengah pasrah.

Pak Suroso mengangguk.

"Bagus, Handoyo."

Dia lalu mendekat, memegang tongkat elf yang masih di tanganku.

"Aku... Suroso... berjanji akan memberikan seluruh senjata elf kepadamu. Aku akan membantu sepenuh hati dan jiwa, menyediakan sumber daya, pasukan, strategi, semua yang kau perlukan demi misi ini," katanya sambil menatapku, suaranya berat kayak efek mic karaoke.

Aku masih diam. Jantungku deg-degan, rasanya kayak pas nunggu balasan chat gebetan yang centang biru tapi nggak dibales.

Pak Suroso kemudian menghela napas panjang, lalu lanjut ngomong.

"Tapi ingat, Handoyo... perjanjian ini bukan sekadar janji warung bakso. Ini serius. Jika nanti ada satu mahluk saja yang lolos dari portal... kau akan mati."

Aku langsung melongo.

"Mati?! Pak... serius? Nggak bisa ganti penalti disuruh bayar denda atau push-up 100 kali aja, Pak?!" tanyaku panik.

Pak Suroso menggeleng.

"Tidak bisa. Jiwa dan tubuhmu akan hancur bersama terbukanya celah itu. Dan... perjanjian ini juga berlaku padaku. Jika aku gagal membantu sepenuhnya... aku juga akan mati."

Aku langsung lemas.

Aku jatuh terduduk di lantai, napas ngos-ngosan.

"YA ALLAH... KENAPA WARISAN NGGAK SEKALIAN DAPET ASURANSI JIWA?!"

Pak Suroso cuma senyum tipis.

"Karena ini bukan soal harta, Handoyo. Ini soal menjaga keseimbangan dunia. Soal harga diri. Soal janji leluhurmu."

Aku ngelirik tongkat elf yang sekarang rasanya makin berat di tangan.

"Pak... boleh nanya? Kalau aku batalin... misalnya, mau balik aja jadi pegawai kantoran, bisa kan?" tanyaku sambil harap-harap cemas.

Pak Suroso tertawa kecil, tapi matanya tetap tajam.

"Kalau kau mundur... tak akan ada yang bisa menghentikan portal. Dan dunia akan hancur. Kamu... sudah tidak punya pilihan lain."

Aku menelan ludah.

Dalam hati, aku teriak. "Kenapa sih nggak warisin sawah aja, Kek?!"

Akhirnya aku berdiri pelan, megang tongkat elf erat-erat.

"Baiklah, Pak... aku terima. Aku nggak akan biarkan satu pun mahluk lolos. Walau... jujur, aku masih takut sama kecoa terbang."

Pak Suroso mendekat, menepuk bahuku pelan. "Bagus, Handoyo. Mulai sekarang... kita satu tim. Kamu tak sendiri."

Aku menghela napas, berat.

Dina maju, menepuk pundakku juga.

Fredy, Agus, Dedy ikut mendekat, membentuk lingkaran, kayak boyband tapi bawa senjata lengkap.

Hari itu...

Aku resmi jadi penjaga portal.

Dan rasanya... lebih mendebarkan daripada hari pertama disuruh jadi ketua RT.

Setelah resmi mengucapkan janji, Pak Suroso menggeser kotak senjata elf ke arahku.

Aku menatap isinya dengan mata berbinar.

Tiga senjata elf: Sepasang belati kembar, tajam berkilau kayak habis digosok Sunlight. Busur elegan, bentuknya ramping. Perisai kayu, kelihatan solid dan antik.

Aku menoleh ke timku yang sekarang sudah kayak super hero komik.

Aku berdiri, pegang belati elf. "Dina... ini cocok buatmu. Kamu gesit, lincah, dan... jujur aja, aku takut dilempar belati kalo nolak," kataku sambil nyodorin belati.

Dina senyum lebar, matanya berbinar. "Terima kasih, Mas! Ini pas banget buatku," jawabnya sambil langsung nyambar belati itu.

Aku ambil busur elf, menatap Agus. "Busur ini... cocok buatmu, Gus. Kamu jago panahan, mantan atlet. Dan... kamu nggak pernah lupa bawa snack, artinya kamu orang detail," kataku sambil serahkan.

Agus langsung girang, matanya langsung cling. "Wah... makasih, Mas! Ini lebih keren daripada hadiah undian lempar panah di pasar malam!"

Aku pegang perisai elf, lalu menatap Dedy. "Pak Dedy... perisai ini buat Bapak. Biar bisa jaga kita semua, kayak Bapak jaga kakekku dulu," kataku tulus.

Dedy menatapku lama, matanya berair. "Mas... matur nuwun...," katanya sambil menunduk.

Fredy cuma berdiri santai di pojok, merangkul senapan runduk kesayangannya.

"Mas, aku nggak usah. Senapan ini sudah kayak anak sendiri," katanya bangga, sambil elus senapan kayak lagi elus anak kucing.

Aku manggut-manggut.

"Siap, Fred. Kamu emang setia. Nggak kayak beberapa mantan," kataku setengah bercanda.

Begitu senjata sudah resmi diterima, mendadak...

Cahaya hijau muncul, kayak sinar lampu di konser rock.

BRRRRRTT!!

Belati di tangan Dina berubah jadi gelang perak dengan ukiran daun.

Busur di tangan Agus berubah jadi gelang tembaga dengan kristal hijau di tengah.

Perisai di tangan Dedy berubah jadi gelang lebar mirip jam tangan super retro.

Pak Suroso tertawa kecil, lalu menjelaskan.

"Itu memang teknologi sihir bangsa elf hutan. Agar senjata mudah dibawa, mereka bisa berubah menjadi aksesori. Dengan begitu, tidak bisa dicuri, direbut, atau hilang. Senjata itu hanya bisa beralih tangan dengan cara diberikan secara sukarela... atau diwariskan ke ahli waris tangan terakhir."

Aku bengong.

"Wah... canggih banget. Kalau dijual pasti langsung sold out pas sale," kataku sambil garuk-garuk kepala.

Dina mengamati gelangnya sambil senyum penuh semangat.

"Mas... ini rasanya kayak dapet cheat di game. Aku makin pede!"

Agus sudah sibuk narik-narik busurnya yang kini berubah gelang lalu berubah jadi busur lagi."Wah, ini sih bener-bener bikin turnamen panahan auto menang!"

Pak Dedy mengusap gelang perisai sambil senyum tipis, kelihatan bangga dan haru.

Fredy cuma geleng-geleng sambil cek senapannya. "Ya udah lah... yang penting senapan ini nggak berubah jadi cicin kawin," katanya.

Aku menghela napas, menatap semua orang.

"Mulai sekarang... kita bukan cuma sekumpulan orang warisan. Kita... tim penjaga portal. Keren kan?!" kataku sambil angkat jempol.

Mereka semua tertawa kecil, tapi wajah-wajah mereka penuh semangat.

Hari itu... rasanya seperti kelulusan upacara SMA, cuma bedanya, kelulusannya langsung bonus misi nyelamatin dunia.



Other Stories
Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Download Titik & Koma