Bab 5 Latihan, Kapal, Dan Ilmu Balisong
Bab 5
Latihan, Kapal, dan Ilmu Balisong
Pagi itu, suasana rumah warisan sudah kayak markas superhero di komik. Semua orang sibuk dengan persiapan masing-masing. Dina dan Agus? Mereka berdua lagi di halaman belakang. Dina pakai belati elf-nya, Agus dengan busur elf yang udah jadi gelang di lengannya.
Aku intip dari balik jendela.
Dina melempar belati sambil salto kecil. Agus nembak target sambil ngelirik Dina, lalu pura-pura serius.
Aku garuk kepala.
"Waduh... latihan atau honeymoon? Nih orang kayak audisi film laga plus sinetron romantis," gumamku.
Info pak dedy, Pak Suroso sibuk ngatur armada kapal. di tanjung perak. Ada kapal utama, dua kapal kecil, dan satu kapal logistik. Semuanya udah diparkir di pelabuhan.
Pak Suroso teriak ke anak buahnya. saat aku mampir ke pelabuhan. "Jangan lupa stok bahan bakar! Dan pastikan semua peralatan sonar dan radar aktif! Ini bukan mancing cumi-cumi, ini misi selamatkan dunia!"
Aku berdiri di teras, sambil pegang pedang elf yang rasanya makin berat di tangan. Lalu Fredy muncul dari dalam rumah, bawa dua pedang kayu. Dia lempar satu ke arahku.
"Nih, Mas. Mulai latihan sekarang," katanya.
Aku nangkep pedang kayu itu dengan gaya ala kadarnya.
"Ealah... Fred, aku biasa pakai pisau balisong, copet-copet gitu. Ini pedang ... kayak bawa lingis," protesku.
Fredy langsung nyamperin, menatapku dengan muka sok serius. "Mas, kalau kita mau jagain portal, nggak bisa cuma andelin copet gaya Jerman. Ini pedang elf. Berat, panjang, dan butuh teknik."
Aku narik napas panjang.
"Ya udah, ajarin lah. Tapi pelan-pelan... aku bukan Bruce Lee," kataku sambil nyiapin posisi setengah kuda-kuda (yang lebih mirip pose mau pipis di semak-semak).
Fredy maju, langsung ayun pedangnya ke arahku.
Aku reflek nutup muka.
Fredy berhenti pas pedang kayunya di depan hidungku, nyaris bikin bulu hidungku tegang.
"Mas! Jangan tutup muka! Pedang itu harus diperangin, bukan ditakutin!" katanya keras.
Aku berusaha senyum, meskipun jantung sudah kayak drum band 17 Agustus.
"Siap... siap... ayo lanjut..."
Fredy mulai ngajarin teknik dasar, Cara pegangan yang benar. Posisi kaki supaya nggak jatuh ke got. Cara menebas dan menangkis.
Kadang Fredy sengaja mukul pelan ke pinggang atau tangan.
Aku teriak.
"ADUH! Fred! Itu pinggang bukan chopping board!"
Fredy cuma ketawa sambil balik ke posisi. Aku nyengir kecut sambil megang pinggang, rasanya kayak habis ikut senam SKJ di lapangan komplek.
Beberapa jam latihan, keringet sudah kayak abis lari keliling kampung. Aku akhirnya duduk di lantai teras, nyender ke tiang.
"Napas... napas... aku nggak mau mati sebelum nikah," kataku ngos-ngosan.
Fredy duduk di sebelahku, nyodorin botol air.
"Bagus, Mas. Perlahan, nanti terbiasa. Gimana pun juga, latihan ini penting buatmu. Kalau kita gagal... ingat perjanjianmu sama Pak Suroso," katanya pelan, tapi nadanya serius banget.
Aku menunduk. Iya juga!!
Kalau gagal... aku mati.
Aku lihat pedang elf di sampingku. Perlahan aku elus, sambil ngomong pelan. "Please... jangan bikin aku mati konyol, ya. Aku masih pengen makan rawon, keliling Eropa, dan... nikah," gumamku.
Fredy menepuk bahuku.
"Kita semua di sini buat bantu, Mas. Santai. Pelan-pelan, tapi pasti."
Aku menghela napas panjang, lalu berdiri lagi.
"Oke! Sekali lagi, Fred! Ajarin terus... kalau perlu sampai subuh!" kataku, setengah semangat setengah putus asa.
Dan di halaman belakang. Terdengar suara Dina dan Agus tertawa sambil lempar-lempar senjata.
Aku teriak ke arah mereka. "Woi! Kalau udah selesai honeymoon, ikut latihan sini! Jangan asik sendiri!"
Mereka cuma balas tertawa.
Info Dedy, di pelabuhan... kapal sudah hampir siap berangkat. Dan di rumah... aku mulai belajar jadi pendekar dadakan, meski aslinya alumni copet Jerman dengan spesialis balisong.
Sore itu, pas aku lagi latihan pedang sama Fredy (dan lagi-lagi kena jitak di pinggang), tiba-tiba pintu pagar depan bunyi.
Fredy nengok.
"Ada tamu, Mas," katanya sambil narik napas.
Aku melongok ke gerbang. Begitu lihat sosoknya, langsung aku loncat kegirangan.
"WOOOI! Albert!"
Sosok tinggi kurus, rambut acak-acakan, bawa koper gede kayak mau pindahan, dan pakai jas putih yang udah belel kayak gorden kosan.
Dia melambai sambil senyum lebar.
"Hallo, mein Freund!"
Aku langsung peluk dia sambil ketawa.
Fredy di belakang cuma geleng-geleng, kayak liat dua bocil ketemu di festival layangan.
Albert—entah kenapa dia nggak pernah mau nyebut nama belakangnya. Katanya rahasia keluarga bangsawan. Padahal, di Jerman, dia tinggal bareng aku di apartemen kumuh, dindingnya udah hampir roboh.
Albert ini ilmuwan, katanya. Penemu. Pencipta barang-barang "visioner", katanya. Tapi... realitanya?
Dia pernah bikin percobaan "matahari portable" di ladang gandum. Hasilnya? Gandumnya gosong semua kayak kerupuk gosong.
Aku narik napas panjang sambil cerita ke Fredy.
"Dia ini pernah ngaku mau bikin matahari buatan supaya bisa jemur baju malam hari. Lah... kita juga nggak butuh planet disulap jadi laundry 24 jam, kan?"
Fredy cuma ngangguk kaku. "Astaga...," bisiknya.
Albert tiba-tiba buka koper.
"Ich habe neue Kreationen! Lihat ini!" katanya sambil ngeluarin satu demi satu benda.
Benda pertama. Sebuah tangan kepiting bionic, bisa gerak-gerak kayak jepit kepiting hidup.
"Ini buat masak kepiting, atau buat musuh?" tanyaku sambil mundur.
Albert cuma ketawa bangga. "Bisa dua-duanya! Multifungsi!"
Benda kedua: Sebuah helm bentuk kepal ikan lele, lengkap dengan kumis elektrik.
"Ini... helm apa alat panggil hujan, Bert?" tanyaku sambil megang kumisnya.
Albert dengan bangga menjelaskan. "Ini Helm Lele Listrik! Kumisnya bisa nyetrum, biar pas mancing, ikannya langsung pingsan! Hemat umpan!"
Aku langsung pegang kepala. "Ya Allah... kita mancing bisa pakai cacing, Bert. Ngapain bikin lele setrum?!"
Fredy di belakang udah nggak sanggup nahan ketawa, sampe duduk di lantai sambil nepuk paha.
Albert lanjut bongkar koper. Ada beberapa gadget aneh lagi: Kacamata yang bisa mendeteksi tempe basi (katanya supaya aman makan pecel).
Sepatu loncat dengan pegas mirip kaki kangguru.
Senter yang bisa berubah jadi korek api (katanya multifungsi, padahal bikin ribet).
Aku geleng-geleng sambil tepok jidat.
"Lha... ini semua idenya darimana, Bert? Kamu overdosis sauerkraut ya?" tanyaku.
Albert ketawa puas, kayak anak kecil habis bikin balon sabun.
"Handoyo, semua mimpi gila ini... sekarang bisa jadi kenyataan! Kau sudah punya warisan, kan? Kita bisa bikin laboratorium sungguhan! Bukan apartemen bocor lagi!"
Aku langsung manggut-manggut, meskipun otakku udah kebayang rekening tabungan bakal megap-megap.
"Terserah deh, Bert. Yang penting kau bantu kita di misi portal ini. Jangan bikin bom matahari lagi ya...," kataku sambil narik napas panjang.
Albert tepuk dadanya.
"Vertrau mir! Percaya padaku! Aku akan bantu semaksimal mungkin!"
Aku menatap dia lama, sambil elus dada. "Ya Allah... kalau gagal, ini orang bisa bikin portal baru ke planet lain kayaknya," gumamku lirih.
Dan sejak hari itu...
Albert resmi gabung tim.
Sekarang pasukanku makin absurd: ada mantan copet Jerman (aku), sniper serius (Fredy), pasangan romantis lethal (Dina & Agus), master perisai (Pak Dedy), komandan elegan (Pak Suroso), dan... satu ilmuwan gila dengan helm lele nyetrum.
Ini beneran tim penyelamat dunia... atau festival orang sakit dadakan?
Malam, Nuklir, dan Harapan Gila
Malam itu, rumah warisan udah agak sepi. Dina dan Agus entah ke mana (mungkin lagi pacaran sambil latihan salto belati di halaman). Fredy lagi ngelap senapan di gudang, Pak Dedy tidur sambil mendengkur kayak chainsaw.
Aku duduk di teras depan, bawa dua gelas kopi tubruk.
Albert duduk di kursi sebelahku, masih pakai jas putih kesayangannya yang udah kayak lap pel.
Aku sodorin kopi. "Nih, Bert... kopi Jawa. Biar malam ini kita nggak ketiduran kayak batu nisan," kataku.
Albert mengambil gelas, matanya langsung berbinar. "Ahhh... kopi asli Indonesia... wunderbar!" katanya sambil nyeruput pelan.
Aku menatap dia lama.
"Eh, Bert... gue inget dulu kamu pernah ngomong, kamu anti bom nuklir, ya?" tanyaku tiba-tiba.
Albert langsung menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke kegelapan malam.
"Ja... benar, Handoyo. Aku menentang bom nuklir. Menurutku, manusia salah memakainya. Nuklir seharusnya jadi energi alternatif. Layaknya baterai raksasa... bisa menyuplai kota, pabrik, rumah... bukan untuk saling meledakkan," katanya, suaranya dalem banget.
Aku diam, manggut-manggut.
Aku sendiri nggak paham detailnya, tapi sok-sokan pura-pura ngerti.
"Oh... gitu... iya... bener... baterai raksasa..., ya?" tanyaku.
Albert langsung ngakak sambil nyemburin sedikit kopi. "HAH! Ya... semacam itu! energi raksasa untuk bumi!" katanya sambil tepuk paha.
Aku narik napas, lalu ngomong lagi. "Bert... alasan kenapa aku panggil kamu ke Indonesia... ya, bukan cuma karena portal aneh itu. Tapi juga... aku punya modal sekarang. Modal buat penelitianmu itu. Siapa tahu... sebelum 1990, penelitianmu kelar. Jadi, kalau kita sukses selamatin dunia, kamu juga bisa selamatin dunia lewat energi bersih," kataku sambil menatap langit.
Albert langsung terdiam.
Lalu dia taruh gelas kopinya, menoleh ke arahku. Matanya berkaca-kaca, kayak baru dapet kabar disetujui cicilan rumah.
"Handoyo... danke... terima kasih... aku tidak pernah berpikir ada yang mau mendukung penelitianku. Semua orang bilang aku gila. Tapi kamu... kamu satu-satunya yang percaya," katanya lirih.
Aku tepuk pundaknya.
"Tenang, Bert. Di sini gila justru bikin keren. Lihat tuh Agus dan Dina, lempar-lempar belati sambil flirting. Fredy punya senapan yang kayak pacar sendiri. Dan aku... mantan copet yang tiba-tiba jadi pewaris dunia. Hidup kita udah absurd, Bro!" kataku sambil ketawa.
Albert akhirnya ikut ketawa, tapi senyumnya penuh harapan.
"Baiklah, Handoyo... aku akan bantu misi portal ini. Dan aku janji... penelitian nuklirku akan aku selesaikan. Aku akan buktikan bahwa nuklir bisa jadi harapan, bukan malapetaka," katanya sambil mengepalkan tangan.
Aku angkat gelas kopi, kami bersulang pelan.
"Untuk portal... untuk nuklir... dan untuk kita yang belum nikah!" kataku.
Albert langsung ngakak, sampai hampir jatuh dari kursi.
Dan malam itu... untuk pertama kalinya, aku ngerasa...
Meskipun gila, kami punya harapan.
Latihan, Kapal, dan Ilmu Balisong
Pagi itu, suasana rumah warisan sudah kayak markas superhero di komik. Semua orang sibuk dengan persiapan masing-masing. Dina dan Agus? Mereka berdua lagi di halaman belakang. Dina pakai belati elf-nya, Agus dengan busur elf yang udah jadi gelang di lengannya.
Aku intip dari balik jendela.
Dina melempar belati sambil salto kecil. Agus nembak target sambil ngelirik Dina, lalu pura-pura serius.
Aku garuk kepala.
"Waduh... latihan atau honeymoon? Nih orang kayak audisi film laga plus sinetron romantis," gumamku.
Info pak dedy, Pak Suroso sibuk ngatur armada kapal. di tanjung perak. Ada kapal utama, dua kapal kecil, dan satu kapal logistik. Semuanya udah diparkir di pelabuhan.
Pak Suroso teriak ke anak buahnya. saat aku mampir ke pelabuhan. "Jangan lupa stok bahan bakar! Dan pastikan semua peralatan sonar dan radar aktif! Ini bukan mancing cumi-cumi, ini misi selamatkan dunia!"
Aku berdiri di teras, sambil pegang pedang elf yang rasanya makin berat di tangan. Lalu Fredy muncul dari dalam rumah, bawa dua pedang kayu. Dia lempar satu ke arahku.
"Nih, Mas. Mulai latihan sekarang," katanya.
Aku nangkep pedang kayu itu dengan gaya ala kadarnya.
"Ealah... Fred, aku biasa pakai pisau balisong, copet-copet gitu. Ini pedang ... kayak bawa lingis," protesku.
Fredy langsung nyamperin, menatapku dengan muka sok serius. "Mas, kalau kita mau jagain portal, nggak bisa cuma andelin copet gaya Jerman. Ini pedang elf. Berat, panjang, dan butuh teknik."
Aku narik napas panjang.
"Ya udah, ajarin lah. Tapi pelan-pelan... aku bukan Bruce Lee," kataku sambil nyiapin posisi setengah kuda-kuda (yang lebih mirip pose mau pipis di semak-semak).
Fredy maju, langsung ayun pedangnya ke arahku.
Aku reflek nutup muka.
Fredy berhenti pas pedang kayunya di depan hidungku, nyaris bikin bulu hidungku tegang.
"Mas! Jangan tutup muka! Pedang itu harus diperangin, bukan ditakutin!" katanya keras.
Aku berusaha senyum, meskipun jantung sudah kayak drum band 17 Agustus.
"Siap... siap... ayo lanjut..."
Fredy mulai ngajarin teknik dasar, Cara pegangan yang benar. Posisi kaki supaya nggak jatuh ke got. Cara menebas dan menangkis.
Kadang Fredy sengaja mukul pelan ke pinggang atau tangan.
Aku teriak.
"ADUH! Fred! Itu pinggang bukan chopping board!"
Fredy cuma ketawa sambil balik ke posisi. Aku nyengir kecut sambil megang pinggang, rasanya kayak habis ikut senam SKJ di lapangan komplek.
Beberapa jam latihan, keringet sudah kayak abis lari keliling kampung. Aku akhirnya duduk di lantai teras, nyender ke tiang.
"Napas... napas... aku nggak mau mati sebelum nikah," kataku ngos-ngosan.
Fredy duduk di sebelahku, nyodorin botol air.
"Bagus, Mas. Perlahan, nanti terbiasa. Gimana pun juga, latihan ini penting buatmu. Kalau kita gagal... ingat perjanjianmu sama Pak Suroso," katanya pelan, tapi nadanya serius banget.
Aku menunduk. Iya juga!!
Kalau gagal... aku mati.
Aku lihat pedang elf di sampingku. Perlahan aku elus, sambil ngomong pelan. "Please... jangan bikin aku mati konyol, ya. Aku masih pengen makan rawon, keliling Eropa, dan... nikah," gumamku.
Fredy menepuk bahuku.
"Kita semua di sini buat bantu, Mas. Santai. Pelan-pelan, tapi pasti."
Aku menghela napas panjang, lalu berdiri lagi.
"Oke! Sekali lagi, Fred! Ajarin terus... kalau perlu sampai subuh!" kataku, setengah semangat setengah putus asa.
Dan di halaman belakang. Terdengar suara Dina dan Agus tertawa sambil lempar-lempar senjata.
Aku teriak ke arah mereka. "Woi! Kalau udah selesai honeymoon, ikut latihan sini! Jangan asik sendiri!"
Mereka cuma balas tertawa.
Info Dedy, di pelabuhan... kapal sudah hampir siap berangkat. Dan di rumah... aku mulai belajar jadi pendekar dadakan, meski aslinya alumni copet Jerman dengan spesialis balisong.
Sore itu, pas aku lagi latihan pedang sama Fredy (dan lagi-lagi kena jitak di pinggang), tiba-tiba pintu pagar depan bunyi.
Fredy nengok.
"Ada tamu, Mas," katanya sambil narik napas.
Aku melongok ke gerbang. Begitu lihat sosoknya, langsung aku loncat kegirangan.
"WOOOI! Albert!"
Sosok tinggi kurus, rambut acak-acakan, bawa koper gede kayak mau pindahan, dan pakai jas putih yang udah belel kayak gorden kosan.
Dia melambai sambil senyum lebar.
"Hallo, mein Freund!"
Aku langsung peluk dia sambil ketawa.
Fredy di belakang cuma geleng-geleng, kayak liat dua bocil ketemu di festival layangan.
Albert—entah kenapa dia nggak pernah mau nyebut nama belakangnya. Katanya rahasia keluarga bangsawan. Padahal, di Jerman, dia tinggal bareng aku di apartemen kumuh, dindingnya udah hampir roboh.
Albert ini ilmuwan, katanya. Penemu. Pencipta barang-barang "visioner", katanya. Tapi... realitanya?
Dia pernah bikin percobaan "matahari portable" di ladang gandum. Hasilnya? Gandumnya gosong semua kayak kerupuk gosong.
Aku narik napas panjang sambil cerita ke Fredy.
"Dia ini pernah ngaku mau bikin matahari buatan supaya bisa jemur baju malam hari. Lah... kita juga nggak butuh planet disulap jadi laundry 24 jam, kan?"
Fredy cuma ngangguk kaku. "Astaga...," bisiknya.
Albert tiba-tiba buka koper.
"Ich habe neue Kreationen! Lihat ini!" katanya sambil ngeluarin satu demi satu benda.
Benda pertama. Sebuah tangan kepiting bionic, bisa gerak-gerak kayak jepit kepiting hidup.
"Ini buat masak kepiting, atau buat musuh?" tanyaku sambil mundur.
Albert cuma ketawa bangga. "Bisa dua-duanya! Multifungsi!"
Benda kedua: Sebuah helm bentuk kepal ikan lele, lengkap dengan kumis elektrik.
"Ini... helm apa alat panggil hujan, Bert?" tanyaku sambil megang kumisnya.
Albert dengan bangga menjelaskan. "Ini Helm Lele Listrik! Kumisnya bisa nyetrum, biar pas mancing, ikannya langsung pingsan! Hemat umpan!"
Aku langsung pegang kepala. "Ya Allah... kita mancing bisa pakai cacing, Bert. Ngapain bikin lele setrum?!"
Fredy di belakang udah nggak sanggup nahan ketawa, sampe duduk di lantai sambil nepuk paha.
Albert lanjut bongkar koper. Ada beberapa gadget aneh lagi: Kacamata yang bisa mendeteksi tempe basi (katanya supaya aman makan pecel).
Sepatu loncat dengan pegas mirip kaki kangguru.
Senter yang bisa berubah jadi korek api (katanya multifungsi, padahal bikin ribet).
Aku geleng-geleng sambil tepok jidat.
"Lha... ini semua idenya darimana, Bert? Kamu overdosis sauerkraut ya?" tanyaku.
Albert ketawa puas, kayak anak kecil habis bikin balon sabun.
"Handoyo, semua mimpi gila ini... sekarang bisa jadi kenyataan! Kau sudah punya warisan, kan? Kita bisa bikin laboratorium sungguhan! Bukan apartemen bocor lagi!"
Aku langsung manggut-manggut, meskipun otakku udah kebayang rekening tabungan bakal megap-megap.
"Terserah deh, Bert. Yang penting kau bantu kita di misi portal ini. Jangan bikin bom matahari lagi ya...," kataku sambil narik napas panjang.
Albert tepuk dadanya.
"Vertrau mir! Percaya padaku! Aku akan bantu semaksimal mungkin!"
Aku menatap dia lama, sambil elus dada. "Ya Allah... kalau gagal, ini orang bisa bikin portal baru ke planet lain kayaknya," gumamku lirih.
Dan sejak hari itu...
Albert resmi gabung tim.
Sekarang pasukanku makin absurd: ada mantan copet Jerman (aku), sniper serius (Fredy), pasangan romantis lethal (Dina & Agus), master perisai (Pak Dedy), komandan elegan (Pak Suroso), dan... satu ilmuwan gila dengan helm lele nyetrum.
Ini beneran tim penyelamat dunia... atau festival orang sakit dadakan?
Malam, Nuklir, dan Harapan Gila
Malam itu, rumah warisan udah agak sepi. Dina dan Agus entah ke mana (mungkin lagi pacaran sambil latihan salto belati di halaman). Fredy lagi ngelap senapan di gudang, Pak Dedy tidur sambil mendengkur kayak chainsaw.
Aku duduk di teras depan, bawa dua gelas kopi tubruk.
Albert duduk di kursi sebelahku, masih pakai jas putih kesayangannya yang udah kayak lap pel.
Aku sodorin kopi. "Nih, Bert... kopi Jawa. Biar malam ini kita nggak ketiduran kayak batu nisan," kataku.
Albert mengambil gelas, matanya langsung berbinar. "Ahhh... kopi asli Indonesia... wunderbar!" katanya sambil nyeruput pelan.
Aku menatap dia lama.
"Eh, Bert... gue inget dulu kamu pernah ngomong, kamu anti bom nuklir, ya?" tanyaku tiba-tiba.
Albert langsung menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke kegelapan malam.
"Ja... benar, Handoyo. Aku menentang bom nuklir. Menurutku, manusia salah memakainya. Nuklir seharusnya jadi energi alternatif. Layaknya baterai raksasa... bisa menyuplai kota, pabrik, rumah... bukan untuk saling meledakkan," katanya, suaranya dalem banget.
Aku diam, manggut-manggut.
Aku sendiri nggak paham detailnya, tapi sok-sokan pura-pura ngerti.
"Oh... gitu... iya... bener... baterai raksasa..., ya?" tanyaku.
Albert langsung ngakak sambil nyemburin sedikit kopi. "HAH! Ya... semacam itu! energi raksasa untuk bumi!" katanya sambil tepuk paha.
Aku narik napas, lalu ngomong lagi. "Bert... alasan kenapa aku panggil kamu ke Indonesia... ya, bukan cuma karena portal aneh itu. Tapi juga... aku punya modal sekarang. Modal buat penelitianmu itu. Siapa tahu... sebelum 1990, penelitianmu kelar. Jadi, kalau kita sukses selamatin dunia, kamu juga bisa selamatin dunia lewat energi bersih," kataku sambil menatap langit.
Albert langsung terdiam.
Lalu dia taruh gelas kopinya, menoleh ke arahku. Matanya berkaca-kaca, kayak baru dapet kabar disetujui cicilan rumah.
"Handoyo... danke... terima kasih... aku tidak pernah berpikir ada yang mau mendukung penelitianku. Semua orang bilang aku gila. Tapi kamu... kamu satu-satunya yang percaya," katanya lirih.
Aku tepuk pundaknya.
"Tenang, Bert. Di sini gila justru bikin keren. Lihat tuh Agus dan Dina, lempar-lempar belati sambil flirting. Fredy punya senapan yang kayak pacar sendiri. Dan aku... mantan copet yang tiba-tiba jadi pewaris dunia. Hidup kita udah absurd, Bro!" kataku sambil ketawa.
Albert akhirnya ikut ketawa, tapi senyumnya penuh harapan.
"Baiklah, Handoyo... aku akan bantu misi portal ini. Dan aku janji... penelitian nuklirku akan aku selesaikan. Aku akan buktikan bahwa nuklir bisa jadi harapan, bukan malapetaka," katanya sambil mengepalkan tangan.
Aku angkat gelas kopi, kami bersulang pelan.
"Untuk portal... untuk nuklir... dan untuk kita yang belum nikah!" kataku.
Albert langsung ngakak, sampai hampir jatuh dari kursi.
Dan malam itu... untuk pertama kalinya, aku ngerasa...
Meskipun gila, kami punya harapan.
Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...