Bab 6. Senjata Ajaib Dan Otak Ngaco
Bab 6
Senjata Ajaib dan Otak Ngaco
Selain latihan fisik, sore-sore aku suka nongkrong di perpustakaan rumah warisan. Ruangan penuh debu, bau kamper, dan buku-buku tebal yang kayaknya udah lebih tua dari Pak Dedy.
Aku buka satu buku catatan kakek, ngebahas soal senjata elf.Awalnya aku kira isinya resep herbal atau tips menghindari arisan keluarga, ternyata... isinya detail semua senjata!
Aku mulai dari pedang elf yang sekarang jadi senjata utamaku. Katanya, pedang ini bisa mengubah beratnya sesuai kondisi emosi si pemegang.
Kalau aku marah? Pedangnya jadi ringan kayak kapas, tajem banget, bisa motong semangka kayak mentega.
Kalau aku lagi stress, otak ngaco? Pedangnya mendadak berat kayak beton, tumpul, dan lebih cocok buat ngecor jalan daripada berantem.
Aku langsung tepok jidat.
"Lah... otak gue kan sering ngaco. Berarti nanti pas lawan monster bisa-bisa malah ngangkat beban gym," gumamku.
Aku lanjut baca. Belati kembar elf hutan milik Dina. Belati itu bikin pemiliknya bisa bergerak super cepat, mirip adegan film kungfu yang bisa lari di atas bambu. Tidak hanya itu, pemiliknya bisa berjalan di udara dengan kecepatan suara. Kalau dilempar ke musuh, belati bakal menghilang begitu nancep dan langsung balik ke tangan yang satunya.
Aku langsung kebayang Dina nanti di medan tempur: lempar belati, hilang, balik lagi, lempar lagi... kayak main bumerang.
Lanjut lagi ke busur elf, punya Agus. Busur ini ajaib banget,nggak butuh anak panah. Begitu talinya ditarik, anak panah langsung muncul dari cahaya hijau, kayak bonus narik busur.
Saat kena target Anak panah berubah jadi akar besar, siap melilit, menahan, bahkan meremukkan musuh. Dan semuanya sesuai instruksi si pemanah.
Aku langsung kebayang Agus teriak "Remukkan! Peluk! Gigit!"
Busurnya nurut semua, kayak anjing dilatih di pet show.
Terakhir, perisai elf milik Pak Dedy. Perisai ini bisa menumbuhkan tanaman merambat yang bikin dinding pelindung super kuat. Kalau dibutuhkan, tanaman itu juga bisa jadi akar raksasa yang keluar dari tanah, siap nyergap musuh.
Aku manggut-manggut.
"Wah... perisai ini mah udah kayak tanaman rambat di rumah nenek, cuma bedanya bisa nonjok orang," kataku sambil garuk-garuk kepala.
Sambil baca, aku sesekali lihat pedang elf yang lagi aku sandarkan di samping kursi.
Aku elus pelan.
"Plis... besok jangan tumpul pas ketemu monster. Saya udah cukup beban hidup, jangan ditambah lagi," bisikku.
Aku tutup buku, langsung duduk lemes.
Bayangan misi ke Laut Jawa makin deket. Bayangan monster makin jelas. Tapi di satu sisi...
Aku nggak pernah ngerasa segini hidup. Segini gila. Dan segini... siap mati.
Emosi, Godam, dan Kuping Lancip
Malam itu, halaman rumah warisan seluas lapangan bola, sepi. Cuma ada suara jangkrik, sesekali kodok, dan aroma bak sampah tetangga yang misterius.
Aku berdiri di tengah halaman, sambil megang pedang elf. Nafasku ngos-ngosan. Keringat udah kayak habis lari maraton keliling Suroboyo.
Aku ayun pedang pelan-pelan. Bukan cuma gerak tubuh yang aku latih malam itu, tapi juga emosi.
Soalnya pedang ini bener-bener absurd. Kalau mau jadi godam, tinggal mikir hal-hal konyol, misalnya: "Sinetron yang episodenya nggak kelar-kelar!" atau "Kenapa Indomie goreng sekarang makin kecil?!".
Langsung: BAM, pedang jadi berat kayak godam, cocok buat ngepret kepala monster.
Kalau mau jadi tajam dan ringan kayak silet? Tinggal mikir hal yang bikin emosi, misalnya: "Kenapa mantan ghosting?!", "Kenapa harga bakso naik?!".
Langsung: SWISH, pedang jadi ringan dan tajam, bisa motong rambut.
Masalahnya? Otakku ini sering ngaco. Kadang di tengah serius, tiba-tiba kepikiran kucing nyemplung got atau video warkop kocak. Pedang langsung nyangkut, jadi tumpul kayak sendok warteg.
Aku ulang gerakan, berkali-kali.
"Fokus... fokus... pikir mantan... pikir harga bakso...," gumamku sambil ayun pelan.
Lama-lama, aku mirip orang gila. Teriak sendiri, ketawa sendiri, kadang marah sendiri.
Sampai akhirnya. Aku kelelahan. Badanku gemeter, tangan nggak bisa megang pedang dengan bener. Aku jatuh duduk, lalu rebah di rumput.
Langit malam buram di mataku.
Dan... gelap.
Aku pingsan.
Aku terbangun di sebuah hutan aneh. Kabut tipis, daun-daun berpendar hijau. Ada suara air mengalir, bau bunga kayak di iklan sabun mandi. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok...
Seorang perempuan tinggi, anggun, kulitnya putih kehijauan, rambut panjang berkilau, dan... kupingnya lancip!
Aku mendadak lupa napas.
"Siapa... kamu...?," tanyaku terbata.
Perempuan itu mendekat, senyumnya lembut. "Namaku Chintya. Aku pemilik asli pedang yang kau pegang sekarang," katanya dengan suara lembut, kayak backsound drama Korea.
Aku langsung duduk.
"Eh... serius? Jadi kamu elf? Kupingmu kayak pisau cutter...," kataku, mulut ngaco lagi.
Chintya tertawa kecil.
"Ya... aku elf. Dulu pedang itu adalah lambang perlindungan bagi bangsaku di Kerajaan elf. Sekarang... aku sudah memilihmu sebagai pewaris."
Aku langsung kaget.
"Waduh... aku kan mantan copet Jerman. Kamu yakin? Banyak orang lain yang lebih cocok... misalnya Jackie Chan...," jawabku sambil garuk kepala.
Chintya menatapku lama.
"Tidak masalah siapa kau dulu. Yang penting hatimu. Pedang itu merespon emosi. Kau harus bisa mengendalikannya. Jika tidak... kau akan gagal, dan pedang akan menolakmu."
Aku langsung merinding.
"Berarti... selama ini, pedang itu berat pas otak gue ngaco... itu beneran karena dia 'ngambek'?," tanyaku.
Chintya mengangguk pelan. "Benar. Pedang itu hanya mau dipakai oleh seseorang yang bisa menguasai dirinya sendiri."
Aku narik napas dalam.
"Oke... berarti aku harus latihan bukan cuma ayunan pedang... tapi juga ayunan perasaan...," kataku sambil melamun.
Chintya mendekat, tangannya menyentuh pundakku. "Saat kau bangun... fokuslah. Percaya pada teman-temanmu, dan kendalikan hatimu. Aku percaya padamu... Handoyo."
Aku mau jawab...
Tapi mendadak.
Aku kebangun di halaman, basah kuyup sama embun.Aku masih megang pedang elf, napasku berat.
Aku lihat ke atas. Langit udah mulai terang, ayam tetangga berkokok kayak sirine ambulan.
Aku duduk lemas.
"Chintya... elf cantik... aku bakal coba... janji...," gumamku sambil elus pedang.
Dan sejak malam itu, aku sadar...Senjata ini nggak cuma tentang otot, tapi juga tentang hati.
Wanita Mimpi, Jodoh, dan Literasi Gila
Pagi itu, aku bangun di halaman rumah. Masih linglung, rambut kayak singa habis dicatok.
Aku duduk sambil melamun.
"Astaga... itu cewek di mimpi tadi... cantik banget... kupingnya lancip... namanya Chintya...," gumamku.
Aku garuk-garuk kepala. Aku bukan tipe cowok bucin, tapi kali ini... aku langsung mikir aneh.
"Kalau bisa... aku nikah sama dia aja. Mau dia elf, mau kupingnya kayak pisau cutter... bodo amat. Yang penting cantik!"
Saking bucin mendadak, aku langsung panggil Fredy. "Fredy! Cepet ke sini!" teriakku sambil lari ke dalam rumah.
Fredy keluar dari gudang senjata sambil bawa kain lap. "Wah, ada apa, Mas? Latihan pedang lagi? Atau pingsan lagi?"
Aku langsung narik lengannya.
"Bukan! Aku butuh kamu bantu cari literasi! Kita ke perpustakaan kakek!"
Fredy langsung ngelus dada. "Waduh... biasanya kamu ngajak nyuri bakso di kulkas, ini mendadak ngajak baca buku..."
Kami berdua masuk perpustakaan rumah warisan. Perpustakaan ini horor. Buku-buku tua, debu tebal kayak bedak tante-tante arisan, dan bau apek yang bikin hidung mules.
Aku langsung buka lemari kaca, ngacak buku. Fredy bantu di sisi lain, sambil batuk-batuk.
"Mas... tolong... lain kali beli vacuum cleaner...," katanya sambil garuk hidung.
Setelah berjam-jam ngubek, akhirnya Fredy nemu buku tebal berjudul "Makhluk Langit & Hutan: Catatan Rahasia Sukarno".
Aku buka cepat-cepat. Dan... bener! Ada halaman khusus tentang Chintya.
Aku baca keras-keras.
Chintya adalah elf langit yang kabur dari negerinya. Dia membawa sebuah pedang khusus, Pedang Pembuka Gerbang Dimensi. Pedang ini memiliki kekuatan untuk merobek ruang dan menciptakan portal antara dunia fantasy dan bumi. Hingga kini, keberadaan pedang itu hilang bersama Chintya...
Aku langsung bengong.
Fredy menatapku, matanya melotot "Mas... itu... berarti pedang yang kamu pegang sekarang?!"
Aku ngangguk sambil pelan-pelan nenggak teh botol (yang kebetulan di meja).
"Iya, Fred... itu pedang yang sekarang di tanganku...," jawabku sambil gemeter.
Fredy langsung duduk, napasnya berat. "Berarti... kalau kita nggak hati-hati... kamu bisa bikin portal sendiri?!"
Aku mikir.
Iya juga.
Kalau pedang ini bisa merobek dimensi... berarti, kalau aku salah ayun, bisa bikin lubang ke dunia elf, atau malah bikin lubang ke planet Mars.
Aku langsung merinding.
"Fred... Aku tadi udah mikir mau jadikan Chintya jodoh... sekarang malah takut. Lah... kalau dia marah, bisa-bisa aku dilempar balik ke dunia elf," kataku sambil ngelus pedang.
Fredy pelan-pelan ngambil buku, dibaca lagi. "Tapi di sini nggak dijelasin gimana cara pakai fungsi pembuka portal itu... cuma dibilang 'menyesuaikan emosi dan tujuan si pemegang'."
Aku langsung menutup buku pelan-pelan.
"Udah, Fred... jangan dibaca keras-keras. Ntar pedang ini keburu kepanasan, tau-tau portal kebuka di dapur... mendadak muncul naga bakar rice cooker," kataku sambil meringis.
Fredy cengengesan.
"Siap, Mas. Yang penting... hati-hati aja. Jangan kebanyakan ngelamun, apalagi mikirin Chintya, ntar salah channel!"
Aku tarik napas panjang.
Oke.
Sekarang pedang ini bukan cuma pedang... tapi kunci ke dua dunia.
Dan di satu sisi...Aku makin penasaran sama Chintya.
Senjata Ajaib dan Otak Ngaco
Selain latihan fisik, sore-sore aku suka nongkrong di perpustakaan rumah warisan. Ruangan penuh debu, bau kamper, dan buku-buku tebal yang kayaknya udah lebih tua dari Pak Dedy.
Aku buka satu buku catatan kakek, ngebahas soal senjata elf.Awalnya aku kira isinya resep herbal atau tips menghindari arisan keluarga, ternyata... isinya detail semua senjata!
Aku mulai dari pedang elf yang sekarang jadi senjata utamaku. Katanya, pedang ini bisa mengubah beratnya sesuai kondisi emosi si pemegang.
Kalau aku marah? Pedangnya jadi ringan kayak kapas, tajem banget, bisa motong semangka kayak mentega.
Kalau aku lagi stress, otak ngaco? Pedangnya mendadak berat kayak beton, tumpul, dan lebih cocok buat ngecor jalan daripada berantem.
Aku langsung tepok jidat.
"Lah... otak gue kan sering ngaco. Berarti nanti pas lawan monster bisa-bisa malah ngangkat beban gym," gumamku.
Aku lanjut baca. Belati kembar elf hutan milik Dina. Belati itu bikin pemiliknya bisa bergerak super cepat, mirip adegan film kungfu yang bisa lari di atas bambu. Tidak hanya itu, pemiliknya bisa berjalan di udara dengan kecepatan suara. Kalau dilempar ke musuh, belati bakal menghilang begitu nancep dan langsung balik ke tangan yang satunya.
Aku langsung kebayang Dina nanti di medan tempur: lempar belati, hilang, balik lagi, lempar lagi... kayak main bumerang.
Lanjut lagi ke busur elf, punya Agus. Busur ini ajaib banget,nggak butuh anak panah. Begitu talinya ditarik, anak panah langsung muncul dari cahaya hijau, kayak bonus narik busur.
Saat kena target Anak panah berubah jadi akar besar, siap melilit, menahan, bahkan meremukkan musuh. Dan semuanya sesuai instruksi si pemanah.
Aku langsung kebayang Agus teriak "Remukkan! Peluk! Gigit!"
Busurnya nurut semua, kayak anjing dilatih di pet show.
Terakhir, perisai elf milik Pak Dedy. Perisai ini bisa menumbuhkan tanaman merambat yang bikin dinding pelindung super kuat. Kalau dibutuhkan, tanaman itu juga bisa jadi akar raksasa yang keluar dari tanah, siap nyergap musuh.
Aku manggut-manggut.
"Wah... perisai ini mah udah kayak tanaman rambat di rumah nenek, cuma bedanya bisa nonjok orang," kataku sambil garuk-garuk kepala.
Sambil baca, aku sesekali lihat pedang elf yang lagi aku sandarkan di samping kursi.
Aku elus pelan.
"Plis... besok jangan tumpul pas ketemu monster. Saya udah cukup beban hidup, jangan ditambah lagi," bisikku.
Aku tutup buku, langsung duduk lemes.
Bayangan misi ke Laut Jawa makin deket. Bayangan monster makin jelas. Tapi di satu sisi...
Aku nggak pernah ngerasa segini hidup. Segini gila. Dan segini... siap mati.
Emosi, Godam, dan Kuping Lancip
Malam itu, halaman rumah warisan seluas lapangan bola, sepi. Cuma ada suara jangkrik, sesekali kodok, dan aroma bak sampah tetangga yang misterius.
Aku berdiri di tengah halaman, sambil megang pedang elf. Nafasku ngos-ngosan. Keringat udah kayak habis lari maraton keliling Suroboyo.
Aku ayun pedang pelan-pelan. Bukan cuma gerak tubuh yang aku latih malam itu, tapi juga emosi.
Soalnya pedang ini bener-bener absurd. Kalau mau jadi godam, tinggal mikir hal-hal konyol, misalnya: "Sinetron yang episodenya nggak kelar-kelar!" atau "Kenapa Indomie goreng sekarang makin kecil?!".
Langsung: BAM, pedang jadi berat kayak godam, cocok buat ngepret kepala monster.
Kalau mau jadi tajam dan ringan kayak silet? Tinggal mikir hal yang bikin emosi, misalnya: "Kenapa mantan ghosting?!", "Kenapa harga bakso naik?!".
Langsung: SWISH, pedang jadi ringan dan tajam, bisa motong rambut.
Masalahnya? Otakku ini sering ngaco. Kadang di tengah serius, tiba-tiba kepikiran kucing nyemplung got atau video warkop kocak. Pedang langsung nyangkut, jadi tumpul kayak sendok warteg.
Aku ulang gerakan, berkali-kali.
"Fokus... fokus... pikir mantan... pikir harga bakso...," gumamku sambil ayun pelan.
Lama-lama, aku mirip orang gila. Teriak sendiri, ketawa sendiri, kadang marah sendiri.
Sampai akhirnya. Aku kelelahan. Badanku gemeter, tangan nggak bisa megang pedang dengan bener. Aku jatuh duduk, lalu rebah di rumput.
Langit malam buram di mataku.
Dan... gelap.
Aku pingsan.
Aku terbangun di sebuah hutan aneh. Kabut tipis, daun-daun berpendar hijau. Ada suara air mengalir, bau bunga kayak di iklan sabun mandi. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok...
Seorang perempuan tinggi, anggun, kulitnya putih kehijauan, rambut panjang berkilau, dan... kupingnya lancip!
Aku mendadak lupa napas.
"Siapa... kamu...?," tanyaku terbata.
Perempuan itu mendekat, senyumnya lembut. "Namaku Chintya. Aku pemilik asli pedang yang kau pegang sekarang," katanya dengan suara lembut, kayak backsound drama Korea.
Aku langsung duduk.
"Eh... serius? Jadi kamu elf? Kupingmu kayak pisau cutter...," kataku, mulut ngaco lagi.
Chintya tertawa kecil.
"Ya... aku elf. Dulu pedang itu adalah lambang perlindungan bagi bangsaku di Kerajaan elf. Sekarang... aku sudah memilihmu sebagai pewaris."
Aku langsung kaget.
"Waduh... aku kan mantan copet Jerman. Kamu yakin? Banyak orang lain yang lebih cocok... misalnya Jackie Chan...," jawabku sambil garuk kepala.
Chintya menatapku lama.
"Tidak masalah siapa kau dulu. Yang penting hatimu. Pedang itu merespon emosi. Kau harus bisa mengendalikannya. Jika tidak... kau akan gagal, dan pedang akan menolakmu."
Aku langsung merinding.
"Berarti... selama ini, pedang itu berat pas otak gue ngaco... itu beneran karena dia 'ngambek'?," tanyaku.
Chintya mengangguk pelan. "Benar. Pedang itu hanya mau dipakai oleh seseorang yang bisa menguasai dirinya sendiri."
Aku narik napas dalam.
"Oke... berarti aku harus latihan bukan cuma ayunan pedang... tapi juga ayunan perasaan...," kataku sambil melamun.
Chintya mendekat, tangannya menyentuh pundakku. "Saat kau bangun... fokuslah. Percaya pada teman-temanmu, dan kendalikan hatimu. Aku percaya padamu... Handoyo."
Aku mau jawab...
Tapi mendadak.
Aku kebangun di halaman, basah kuyup sama embun.Aku masih megang pedang elf, napasku berat.
Aku lihat ke atas. Langit udah mulai terang, ayam tetangga berkokok kayak sirine ambulan.
Aku duduk lemas.
"Chintya... elf cantik... aku bakal coba... janji...," gumamku sambil elus pedang.
Dan sejak malam itu, aku sadar...Senjata ini nggak cuma tentang otot, tapi juga tentang hati.
Wanita Mimpi, Jodoh, dan Literasi Gila
Pagi itu, aku bangun di halaman rumah. Masih linglung, rambut kayak singa habis dicatok.
Aku duduk sambil melamun.
"Astaga... itu cewek di mimpi tadi... cantik banget... kupingnya lancip... namanya Chintya...," gumamku.
Aku garuk-garuk kepala. Aku bukan tipe cowok bucin, tapi kali ini... aku langsung mikir aneh.
"Kalau bisa... aku nikah sama dia aja. Mau dia elf, mau kupingnya kayak pisau cutter... bodo amat. Yang penting cantik!"
Saking bucin mendadak, aku langsung panggil Fredy. "Fredy! Cepet ke sini!" teriakku sambil lari ke dalam rumah.
Fredy keluar dari gudang senjata sambil bawa kain lap. "Wah, ada apa, Mas? Latihan pedang lagi? Atau pingsan lagi?"
Aku langsung narik lengannya.
"Bukan! Aku butuh kamu bantu cari literasi! Kita ke perpustakaan kakek!"
Fredy langsung ngelus dada. "Waduh... biasanya kamu ngajak nyuri bakso di kulkas, ini mendadak ngajak baca buku..."
Kami berdua masuk perpustakaan rumah warisan. Perpustakaan ini horor. Buku-buku tua, debu tebal kayak bedak tante-tante arisan, dan bau apek yang bikin hidung mules.
Aku langsung buka lemari kaca, ngacak buku. Fredy bantu di sisi lain, sambil batuk-batuk.
"Mas... tolong... lain kali beli vacuum cleaner...," katanya sambil garuk hidung.
Setelah berjam-jam ngubek, akhirnya Fredy nemu buku tebal berjudul "Makhluk Langit & Hutan: Catatan Rahasia Sukarno".
Aku buka cepat-cepat. Dan... bener! Ada halaman khusus tentang Chintya.
Aku baca keras-keras.
Chintya adalah elf langit yang kabur dari negerinya. Dia membawa sebuah pedang khusus, Pedang Pembuka Gerbang Dimensi. Pedang ini memiliki kekuatan untuk merobek ruang dan menciptakan portal antara dunia fantasy dan bumi. Hingga kini, keberadaan pedang itu hilang bersama Chintya...
Aku langsung bengong.
Fredy menatapku, matanya melotot "Mas... itu... berarti pedang yang kamu pegang sekarang?!"
Aku ngangguk sambil pelan-pelan nenggak teh botol (yang kebetulan di meja).
"Iya, Fred... itu pedang yang sekarang di tanganku...," jawabku sambil gemeter.
Fredy langsung duduk, napasnya berat. "Berarti... kalau kita nggak hati-hati... kamu bisa bikin portal sendiri?!"
Aku mikir.
Iya juga.
Kalau pedang ini bisa merobek dimensi... berarti, kalau aku salah ayun, bisa bikin lubang ke dunia elf, atau malah bikin lubang ke planet Mars.
Aku langsung merinding.
"Fred... Aku tadi udah mikir mau jadikan Chintya jodoh... sekarang malah takut. Lah... kalau dia marah, bisa-bisa aku dilempar balik ke dunia elf," kataku sambil ngelus pedang.
Fredy pelan-pelan ngambil buku, dibaca lagi. "Tapi di sini nggak dijelasin gimana cara pakai fungsi pembuka portal itu... cuma dibilang 'menyesuaikan emosi dan tujuan si pemegang'."
Aku langsung menutup buku pelan-pelan.
"Udah, Fred... jangan dibaca keras-keras. Ntar pedang ini keburu kepanasan, tau-tau portal kebuka di dapur... mendadak muncul naga bakar rice cooker," kataku sambil meringis.
Fredy cengengesan.
"Siap, Mas. Yang penting... hati-hati aja. Jangan kebanyakan ngelamun, apalagi mikirin Chintya, ntar salah channel!"
Aku tarik napas panjang.
Oke.
Sekarang pedang ini bukan cuma pedang... tapi kunci ke dua dunia.
Dan di satu sisi...Aku makin penasaran sama Chintya.
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...