Bab 8Tahun Baru, Batu Belah, Dan Obsesiku Pada Chintya
Bab 8
Tahun Baru, Batu Belah, dan Obsesiku pada Chintya
Tahun 1990, Januari
Langit Surabaya masih rame sama kembang api semalam, orang-orang sibuk tiup terompet sampai urat leher nongol. Sementara aku... duduk di halaman rumah warisan, megang pedang elf, napas berat.
Aku sadar... aku sudah bukan Handoyo yang dulu. Bukan lagi si Handoyo yang mikir hidup cukup makan rawon, tidur, dan cari sandal hilang.
Sekarang. Aku ahli pedang. Aku bisa motong batu segede kulkas bekas, selembut ngiris mentega. Cuma perlu satu pikiran: dompetku kecopetan. Coba bayangin, raja copet sepertiku... kecopetan. Emosinya udah kayak habis diprank se-RT. Langsung WUUUSS, pedang jadi setajam mulut ibu-ibu arisan.
Kalau mau hancurin beton?
Gampang. Cukup bayangin Fredy kepleset nginjek sabun. Nggak tau kenapa, bayangan itu bikin aku ngakak sekaligus marah. Kombinasi aneh, tapi cocok buat bikin pedang jadi super destructive mode.
Soal pengetahuan dunia fantasy?
Gila... buku catatan Pak Suroso udah kulalap habis kayak makan mie rebus tengah malam. Isinya udah masuk otak, meskipun beberapa bagian kayaknya nyangkut di amandel.
Aku hafal ras elf, centaurus, orc, goblin, dragonian, beastkin... sampai peri imut yang hobi nipu.
Tapi yang paling sering aku ulang baca? Bagian tentang elf langit. Dan siapa lagi kalau bukan... bangsanya Chintya.
Kadang Fredy lewat di ruang baca sambil geleng-geleng. "Mas... buku monster lain jarang disentuh, cuma elf langit yang udah lecek kayak buku catatan anak IPS," katanya sambil nyeduh kopi.
Aku cuma senyum tipis. "Prioritas, Fred. Kalau jodoh, harus diutamain," jawabku sambil serius ngelus gambar kuping lancip Chintya.
Fredy sampe pusing. "Mas... yang kita hadapin itu naga, orc, monster. Bukan lamaran Elf"
Aku nyengir, narik napas panjang. "Fred... hidup ini harus balance. Setengah fokus ke monster, setengah ke jodoh," kataku sambil sok bijak.
Fredy tepok jidat.
"Kalau gitu, nanti kalo portal kebuka, kita bikin spanduk aja: 'Selamat datang, Chintya! Mau nikah nggak?'," katanya nyindir.
Aku langsung semangat."Bagus juga idemu, Fred!"
Fredy langsung banting sendok, kabur ke dapur sambil teriak, "Astaga... otak Mas Handoyo udah kebakar kembang api tahun baru!"
Tapi di balik semua candaan itu. Aku tahu. Sebentar lagi kami bakal berangkat ke Laut Jawa. Portal aneh itu bakal terbuka. Dunia fantasy bakal nyembur keluar, mungkin bawa kengerian, mungkin juga... bawa Chintya.
Dan aku sudah siap. Siap sebagai Handoyo yang baru. Ahli pedang, ahli nyontek rasa marah, dan... ahli ngarep jodoh.
Telepon Ajaib, Fairy Kecil, dan Garis Kuning Misterius
Aku lagi asyik ngelap pedang sambil ngebayangin Chintya duduk di ayunan (ya, biasa... halu pagi hari). Tiba-tiba...
TRINGGG TRINGGG!
Telepon rumah bunyi. Telepon kuno, bunyinya keras banget, kayak alarm kebakaran. Aku kaget sampe hampir motong meja.
Aku angkat, "Halo... rumah warisan Sukarno, calon mantu elf langit di sini, ada apa?"
Suara di seberang pelan tapi tegas. "Handoyo... ini Suroso. Ada masalah darurat!"
Aku langsung duduk tegak, narik napas. "Ada apa, Pak? Jangan bilang Chintya pacaran sama dragonian...," jawabku sambil deg-degan.
Pak Suroso ngelanjutin, nadanya makin serius. "Di Laut Jawa... sudah muncul retakan bercahaya. Baru sekitar 30 cm, tapi sempat muncul kepala fairy kecil. Untung langsung ditembak anak buahku sebelum kabur!"
Aku langsung merinding. "Astaga... fairy kecil? Itu yang suka nyanyi dan nipu orang ya?!"
Pak Suroso ngangguk (kayaknya, soalnya di telepon nggak keliatan). "Benar. Segera kumpulkan timmu, kita harus ke sana sekarang juga!"
Aku langsung banting telepon, lari keliling rumah sambil teriak. "FREDDYYYY! AGUUUUS! DINA! DEDY! ALBEEEERT! SIAPIN SEMUA! BERANGKAT!!!"
Satu per satu muncul kayak team marvel comic kesiangan.
Fredy bawa senapan, Agus bawa busur dan pedang, Dina bawa belati elf, Pak Dedy bawa perisai yang udah jadi gelang di tangannya.
Albert?
Dia bawa kotak aneh penuh kabel dan panci, katanya "alat penangkap signal energi" — padahal bentuknya kayak rice cooker gagal modif.
Kami langsung bergegas ke Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai sana, suasana rame. Bau solar, teriakan kuli, suara kapal, dan aroma bakso keliling semua nyampur jadi satu.
Tim kami naik satu kapal besar. Di dek, aku berdiri sambil pegang pedang elf, feeling udah nggak karuan.
Aku kasih aba-aba. "Ayo! Gas ke koordinat yang dikirim Pak Suroso! Ini bukan rekreasi mancing cumi, ini misi selamatkan dunia!"
Kapal tancap gas, air laut muncrat kayak iklan sabun cuci.
Kami semua diam, tegang.
Fredy cek senapan, Dina dan Agus latihan ayunan senjata, Albert sibuk colok kabel ke helm lele nyetrum (iya, helm lele nyetrum dia bawa juga, entah buat apa).
Beberapa jam kemudian. Akhirnya kami sampai. Laut Jawa tampak aneh. Air di sekitar kapal berwarna biru kehijauan, berkilau. Di tengah, kami melihat. Garis bercahaya kuning, sekitar 30 cm panjangnya. Seperti retakan di kaca, tapi di air. Di sekitar retakan itu, ada 10 kapal lain, semua bersenjata lengkap. Ada yang bawa meriam, senapan berat, bahkan rudal.
Aku melongo, napas berat. "Astaga... ini kayak nonton film sci-fi, tapi beneran," gumamku.
Fredy mendekat. "Mas... itu garis retakan udah mulai membesar. Kalau kita telat, bisa-bisa bukan cuma fairy yang nongol... bisa naga, orc, atau Calon istri kamu juga ikut," katanya sambil serius.
Aku ngelus dada.
"Ya Allah... semoga jangan mantan. Orc aja gapapa asal jangan mantan, kalau Chintia boleh" kataku sambil tutup muka.
Aku menatap retakan itu lama.Ini bukan cuma soal monster. Ini soal dunia. Dan... soal jodohku yang kemungkinan ada di balik sana.
Aku genggam pedang erat. "Siap... ini saatnya...," bisikku.
Tas Ajaib, Fredy Sakti, dan Persiapan Tempur
Malam itu di Laut Jawa, angin kencang, ombak pecah-pecah, kapal bergoyang kayak perut abang-abang habis makan seblak.
Kami semua sudah siap. Semua jaga bergantian, mata tajam, senjata standby. Prinsip kami, apapun yang keluar dari retakan, langsung dihajar! Mau fairy, naga, goblin, tuyul, atau mantan yang pura-pura minta maaf — semua sama rata.
Aku keliling dek kapal, periksa kondisi. Aku lihat Fredy lagi tiduran, matanya setengah merem, tapi tangannya tetap pegang senapan runduk.
Aku samperin sambil tepuk bahunya.
"Fred... kamu ini manusia atau kamera pengawas? Bisa gitu, ngintai sampai 1 hari tanpa pindah tempat, cuma tidur 15 menit pas aman," kataku sambil ngakak.
Fredy cuma melirik, senyum tipis. "Kalau dulu di Jerman nggak bisa gini, udah diculik copet stasiun," katanya santai.
Tiba-tiba, di belakang kami, langkah kaki berat.
Pak Suroso muncul bareng Albert.
Pak Suroso bawa sesuatu... tas pinggang aneh, warnanya coklat keemasan, mirip tas pinggang bapak-bapak yang suka naik motor.
Pak Suroso senyum misterius, "Fredy... ini hadiah untukmu. Tas pinggang dwarf. Lihat baik-baik."
Fredy langsung garuk kepala. "Pak... ini tas pinggang? Buat nyimpen aqua gelas, ya?"
Pak Suroso geleng-geleng. "Jangan remehkan! Dari luar kecil, tapi di dalam... luasnya seluas lapangan sepak bola!"
Aku langsung melongo. "Waduh... bisa main tarkam di dalam tas ini dong?"
Albert nyamber sambil cengar-cengir. "Di dalam tas ini, aku sudah masukin semua barang ciptaanku. Mulai dari amunisi, senjata api, bom asap, roti lapis, rendang kalengan, sampai teh botol. Pokoknya lengkap, tinggal sebut namanya!"
Fredy bengong.
"Sebutin aja? Contoh, kalau aku mau 'senapan runduk model DKM-49'... tinggal hapal dan sebut, langsung keluar?"
Pak Suroso mengangguk.
"Benar! Asal kamu hapal semua nama benda yang sudah pernah dimasukin. Kalau lupa... ya, bisa-bisa yang keluar malah panci listrik Albert."
Aku langsung ngakak, ngebayangin Fredy di medan perang, teriak "Senapan!" eh yang keluar malah wajan teflon.
"Hahaha... Fred, hati-hati... kalau kamu salah sebut, nanti yang keluar malah helm lele listrik!" kataku sambil tepuk pundaknya.
Fredy masih kaget, tapi akhirnya senyum.
"Pak... ini keren banget. Terima kasih. Saya janji nggak akan sia-siain," katanya sambil peluk tas pinggang kayak peluk bantal guling.
Pak Suroso tepuk pundaknya.
"Gunakan bijak. Tas ini hanya mau nurut pada pemilik yang punya tekad kuat," katanya serius.
Aku ngelus dagu.
"Kalau aku dapet tas gitu... isinya pasti mie instan, sambal, dan bakwan. Habis itu ngantuk," kataku sambil cengar-cengir.
Albert cuma geleng-geleng sambil ngelus alat aneh di tangannya. "Mending Fredy aja yang pegang, Mas. Kalau kamu, tas itu isinya bisa berubah jadi warung tenda dadakan."
Kami semua ketawa.
Tapi di balik tawa itu, kami sadar...
Besok atau lusa... portal bisa makin melebar.
Makhluk apapun bisa keluar.
Dan malam itu, di bawah cahaya bintang dan lampu kapal... kami bersiap.
Dengan tas ajaib dwarf, senjata elf, dan tekad (plus sedikit obsesi ngebucin elf langit), kami menunggu.
Kamus Absurd, Fredy Pingsan, dan Kreativitas Ngawur Albert
Aku masih duduk di samping Fredy, sambil bantu jaga retakan bercahaya yang udah kayak sabuk lampu disco di tengah laut. Fredy lagi serius banget, keringat netes.
Bukan karena takut monster keluar, tapi karena kamus barang di tangannya. Kamus itu tebalnya... astaga... kayak kamus bahasa Inggris-Indonesia zaman dulu. Kertasnya udah kuning, tulisan rapet banget, bikin mata juling.
Fredy bolak-balik halaman, napasnya ngos-ngosan.
Aku intip dari belakang.
Di halaman A:
Amunisi AK-47 (ya, ini masih normal).
Asinan Mang Ucup Depan (Hah?! Ini siapa yang masukin? Siapa pula Mang Ucup?!).
Arak Jerman rasa melon (lah, sejak kapan arak ada rasa melon?!).
Fredy mulai gelisah, mukanya pucat.
Aku tepuk pundaknya. "Fred... santai. Nafas dulu. Ini baru huruf A lho," kataku sambil tahan ketawa.
Fredy menelan ludah, lanjut buka ke huruf B:
Bom asap aroma sate cak suro (INI SIAPA YANG MIKIR?!).
Bakwan anti hujan (lah, makan di musim hujan nggak basah?).
Bendera 'Welcome Fairy' warna pink (ini pasti ulah Albert, fix!).
Fredy langsung melotot, "Mas... sumpah... ini Albert mabok ketan atau gimana pas nulis?!"
Aku cuma ngakak sambil elus perut.
"Tenang Fred, ini kan demi inovasi. Mungkin nanti kita butuh bom aroma sate buat musuh yang doyan makan malam," kataku sambil cengar-cengir.
Fredy lanjut ke huruf C, mukanya makin kayak mahasiswa habis ujian skripsi.
Capit kepiting bionic asam manis (kenapa harus asam manis? Kenapa nggak original?).
Cangkir teh otomatis refill (lah, ini sih enak!).
Cumi-cumi ninja mini, mainan (lah, ninja lagi... kenapa cumi-cumi?).
Fredy nutup buku sambil nepuk jidat. "Mas... aku ngintai enam hari tanpa tidur aja sanggup. Tapi ngafalin kamus ini... rasanya lebih berat dari nyelam sendirian di laut Jawa," katanya setengah nangis.
Albert muncul entah dari mana, bawa solder di tangan.
"Halah... jangan protes lah. Aku ahli bikin alat, bukan ahli bikin nama barang. Aku random aja, biar lebih variatif," katanya santai sambil ketawa kayak setan abis dapet THR.
Fredy melotot. "Variatif?! Lah ini namanya bikin pusing, Bang!"
Aku samperin Fredy, tepuk pundaknya pelan. "Fred... santai. Anggap aja ini kayak main tebak-tebakan. Kalau nanti kamu kepepet, tinggal sebut apa aja, paling keluar bom sate, ya kan?"
Fredy menghela napas panjang, akhirnya duduk sambil buka kamus lagi.
"A... B... C... Tuhan... semoga bisa hafal sebelum portal kebuka penuh," gumamnya sambil ngelus jidat.
Aku cuma ngakak keras, sambil elus pedang elf.
Dalam hati, aku bilang. Kalau Fredy bisa hafal semua ini, dia pantas dapet gelar profesor tas dwarf absurd internasional.
Dan malam itu, di geladak kapal yang berderak kena ombak, kami semua duduk bareng.
Aku, Fredy, Albert, Dedy, Dina, Agus... semua menatap langit. Sambil nunggu portal yang kapan aja bisa mangap. Dan sambil nunggu Fredy hafal bom sate, asinan Mang Ucup, sama cumi ninja.
Tahun Baru, Batu Belah, dan Obsesiku pada Chintya
Tahun 1990, Januari
Langit Surabaya masih rame sama kembang api semalam, orang-orang sibuk tiup terompet sampai urat leher nongol. Sementara aku... duduk di halaman rumah warisan, megang pedang elf, napas berat.
Aku sadar... aku sudah bukan Handoyo yang dulu. Bukan lagi si Handoyo yang mikir hidup cukup makan rawon, tidur, dan cari sandal hilang.
Sekarang. Aku ahli pedang. Aku bisa motong batu segede kulkas bekas, selembut ngiris mentega. Cuma perlu satu pikiran: dompetku kecopetan. Coba bayangin, raja copet sepertiku... kecopetan. Emosinya udah kayak habis diprank se-RT. Langsung WUUUSS, pedang jadi setajam mulut ibu-ibu arisan.
Kalau mau hancurin beton?
Gampang. Cukup bayangin Fredy kepleset nginjek sabun. Nggak tau kenapa, bayangan itu bikin aku ngakak sekaligus marah. Kombinasi aneh, tapi cocok buat bikin pedang jadi super destructive mode.
Soal pengetahuan dunia fantasy?
Gila... buku catatan Pak Suroso udah kulalap habis kayak makan mie rebus tengah malam. Isinya udah masuk otak, meskipun beberapa bagian kayaknya nyangkut di amandel.
Aku hafal ras elf, centaurus, orc, goblin, dragonian, beastkin... sampai peri imut yang hobi nipu.
Tapi yang paling sering aku ulang baca? Bagian tentang elf langit. Dan siapa lagi kalau bukan... bangsanya Chintya.
Kadang Fredy lewat di ruang baca sambil geleng-geleng. "Mas... buku monster lain jarang disentuh, cuma elf langit yang udah lecek kayak buku catatan anak IPS," katanya sambil nyeduh kopi.
Aku cuma senyum tipis. "Prioritas, Fred. Kalau jodoh, harus diutamain," jawabku sambil serius ngelus gambar kuping lancip Chintya.
Fredy sampe pusing. "Mas... yang kita hadapin itu naga, orc, monster. Bukan lamaran Elf"
Aku nyengir, narik napas panjang. "Fred... hidup ini harus balance. Setengah fokus ke monster, setengah ke jodoh," kataku sambil sok bijak.
Fredy tepok jidat.
"Kalau gitu, nanti kalo portal kebuka, kita bikin spanduk aja: 'Selamat datang, Chintya! Mau nikah nggak?'," katanya nyindir.
Aku langsung semangat."Bagus juga idemu, Fred!"
Fredy langsung banting sendok, kabur ke dapur sambil teriak, "Astaga... otak Mas Handoyo udah kebakar kembang api tahun baru!"
Tapi di balik semua candaan itu. Aku tahu. Sebentar lagi kami bakal berangkat ke Laut Jawa. Portal aneh itu bakal terbuka. Dunia fantasy bakal nyembur keluar, mungkin bawa kengerian, mungkin juga... bawa Chintya.
Dan aku sudah siap. Siap sebagai Handoyo yang baru. Ahli pedang, ahli nyontek rasa marah, dan... ahli ngarep jodoh.
Telepon Ajaib, Fairy Kecil, dan Garis Kuning Misterius
Aku lagi asyik ngelap pedang sambil ngebayangin Chintya duduk di ayunan (ya, biasa... halu pagi hari). Tiba-tiba...
TRINGGG TRINGGG!
Telepon rumah bunyi. Telepon kuno, bunyinya keras banget, kayak alarm kebakaran. Aku kaget sampe hampir motong meja.
Aku angkat, "Halo... rumah warisan Sukarno, calon mantu elf langit di sini, ada apa?"
Suara di seberang pelan tapi tegas. "Handoyo... ini Suroso. Ada masalah darurat!"
Aku langsung duduk tegak, narik napas. "Ada apa, Pak? Jangan bilang Chintya pacaran sama dragonian...," jawabku sambil deg-degan.
Pak Suroso ngelanjutin, nadanya makin serius. "Di Laut Jawa... sudah muncul retakan bercahaya. Baru sekitar 30 cm, tapi sempat muncul kepala fairy kecil. Untung langsung ditembak anak buahku sebelum kabur!"
Aku langsung merinding. "Astaga... fairy kecil? Itu yang suka nyanyi dan nipu orang ya?!"
Pak Suroso ngangguk (kayaknya, soalnya di telepon nggak keliatan). "Benar. Segera kumpulkan timmu, kita harus ke sana sekarang juga!"
Aku langsung banting telepon, lari keliling rumah sambil teriak. "FREDDYYYY! AGUUUUS! DINA! DEDY! ALBEEEERT! SIAPIN SEMUA! BERANGKAT!!!"
Satu per satu muncul kayak team marvel comic kesiangan.
Fredy bawa senapan, Agus bawa busur dan pedang, Dina bawa belati elf, Pak Dedy bawa perisai yang udah jadi gelang di tangannya.
Albert?
Dia bawa kotak aneh penuh kabel dan panci, katanya "alat penangkap signal energi" — padahal bentuknya kayak rice cooker gagal modif.
Kami langsung bergegas ke Pelabuhan Tanjung Perak. Sampai sana, suasana rame. Bau solar, teriakan kuli, suara kapal, dan aroma bakso keliling semua nyampur jadi satu.
Tim kami naik satu kapal besar. Di dek, aku berdiri sambil pegang pedang elf, feeling udah nggak karuan.
Aku kasih aba-aba. "Ayo! Gas ke koordinat yang dikirim Pak Suroso! Ini bukan rekreasi mancing cumi, ini misi selamatkan dunia!"
Kapal tancap gas, air laut muncrat kayak iklan sabun cuci.
Kami semua diam, tegang.
Fredy cek senapan, Dina dan Agus latihan ayunan senjata, Albert sibuk colok kabel ke helm lele nyetrum (iya, helm lele nyetrum dia bawa juga, entah buat apa).
Beberapa jam kemudian. Akhirnya kami sampai. Laut Jawa tampak aneh. Air di sekitar kapal berwarna biru kehijauan, berkilau. Di tengah, kami melihat. Garis bercahaya kuning, sekitar 30 cm panjangnya. Seperti retakan di kaca, tapi di air. Di sekitar retakan itu, ada 10 kapal lain, semua bersenjata lengkap. Ada yang bawa meriam, senapan berat, bahkan rudal.
Aku melongo, napas berat. "Astaga... ini kayak nonton film sci-fi, tapi beneran," gumamku.
Fredy mendekat. "Mas... itu garis retakan udah mulai membesar. Kalau kita telat, bisa-bisa bukan cuma fairy yang nongol... bisa naga, orc, atau Calon istri kamu juga ikut," katanya sambil serius.
Aku ngelus dada.
"Ya Allah... semoga jangan mantan. Orc aja gapapa asal jangan mantan, kalau Chintia boleh" kataku sambil tutup muka.
Aku menatap retakan itu lama.Ini bukan cuma soal monster. Ini soal dunia. Dan... soal jodohku yang kemungkinan ada di balik sana.
Aku genggam pedang erat. "Siap... ini saatnya...," bisikku.
Tas Ajaib, Fredy Sakti, dan Persiapan Tempur
Malam itu di Laut Jawa, angin kencang, ombak pecah-pecah, kapal bergoyang kayak perut abang-abang habis makan seblak.
Kami semua sudah siap. Semua jaga bergantian, mata tajam, senjata standby. Prinsip kami, apapun yang keluar dari retakan, langsung dihajar! Mau fairy, naga, goblin, tuyul, atau mantan yang pura-pura minta maaf — semua sama rata.
Aku keliling dek kapal, periksa kondisi. Aku lihat Fredy lagi tiduran, matanya setengah merem, tapi tangannya tetap pegang senapan runduk.
Aku samperin sambil tepuk bahunya.
"Fred... kamu ini manusia atau kamera pengawas? Bisa gitu, ngintai sampai 1 hari tanpa pindah tempat, cuma tidur 15 menit pas aman," kataku sambil ngakak.
Fredy cuma melirik, senyum tipis. "Kalau dulu di Jerman nggak bisa gini, udah diculik copet stasiun," katanya santai.
Tiba-tiba, di belakang kami, langkah kaki berat.
Pak Suroso muncul bareng Albert.
Pak Suroso bawa sesuatu... tas pinggang aneh, warnanya coklat keemasan, mirip tas pinggang bapak-bapak yang suka naik motor.
Pak Suroso senyum misterius, "Fredy... ini hadiah untukmu. Tas pinggang dwarf. Lihat baik-baik."
Fredy langsung garuk kepala. "Pak... ini tas pinggang? Buat nyimpen aqua gelas, ya?"
Pak Suroso geleng-geleng. "Jangan remehkan! Dari luar kecil, tapi di dalam... luasnya seluas lapangan sepak bola!"
Aku langsung melongo. "Waduh... bisa main tarkam di dalam tas ini dong?"
Albert nyamber sambil cengar-cengir. "Di dalam tas ini, aku sudah masukin semua barang ciptaanku. Mulai dari amunisi, senjata api, bom asap, roti lapis, rendang kalengan, sampai teh botol. Pokoknya lengkap, tinggal sebut namanya!"
Fredy bengong.
"Sebutin aja? Contoh, kalau aku mau 'senapan runduk model DKM-49'... tinggal hapal dan sebut, langsung keluar?"
Pak Suroso mengangguk.
"Benar! Asal kamu hapal semua nama benda yang sudah pernah dimasukin. Kalau lupa... ya, bisa-bisa yang keluar malah panci listrik Albert."
Aku langsung ngakak, ngebayangin Fredy di medan perang, teriak "Senapan!" eh yang keluar malah wajan teflon.
"Hahaha... Fred, hati-hati... kalau kamu salah sebut, nanti yang keluar malah helm lele listrik!" kataku sambil tepuk pundaknya.
Fredy masih kaget, tapi akhirnya senyum.
"Pak... ini keren banget. Terima kasih. Saya janji nggak akan sia-siain," katanya sambil peluk tas pinggang kayak peluk bantal guling.
Pak Suroso tepuk pundaknya.
"Gunakan bijak. Tas ini hanya mau nurut pada pemilik yang punya tekad kuat," katanya serius.
Aku ngelus dagu.
"Kalau aku dapet tas gitu... isinya pasti mie instan, sambal, dan bakwan. Habis itu ngantuk," kataku sambil cengar-cengir.
Albert cuma geleng-geleng sambil ngelus alat aneh di tangannya. "Mending Fredy aja yang pegang, Mas. Kalau kamu, tas itu isinya bisa berubah jadi warung tenda dadakan."
Kami semua ketawa.
Tapi di balik tawa itu, kami sadar...
Besok atau lusa... portal bisa makin melebar.
Makhluk apapun bisa keluar.
Dan malam itu, di bawah cahaya bintang dan lampu kapal... kami bersiap.
Dengan tas ajaib dwarf, senjata elf, dan tekad (plus sedikit obsesi ngebucin elf langit), kami menunggu.
Kamus Absurd, Fredy Pingsan, dan Kreativitas Ngawur Albert
Aku masih duduk di samping Fredy, sambil bantu jaga retakan bercahaya yang udah kayak sabuk lampu disco di tengah laut. Fredy lagi serius banget, keringat netes.
Bukan karena takut monster keluar, tapi karena kamus barang di tangannya. Kamus itu tebalnya... astaga... kayak kamus bahasa Inggris-Indonesia zaman dulu. Kertasnya udah kuning, tulisan rapet banget, bikin mata juling.
Fredy bolak-balik halaman, napasnya ngos-ngosan.
Aku intip dari belakang.
Di halaman A:
Amunisi AK-47 (ya, ini masih normal).
Asinan Mang Ucup Depan (Hah?! Ini siapa yang masukin? Siapa pula Mang Ucup?!).
Arak Jerman rasa melon (lah, sejak kapan arak ada rasa melon?!).
Fredy mulai gelisah, mukanya pucat.
Aku tepuk pundaknya. "Fred... santai. Nafas dulu. Ini baru huruf A lho," kataku sambil tahan ketawa.
Fredy menelan ludah, lanjut buka ke huruf B:
Bom asap aroma sate cak suro (INI SIAPA YANG MIKIR?!).
Bakwan anti hujan (lah, makan di musim hujan nggak basah?).
Bendera 'Welcome Fairy' warna pink (ini pasti ulah Albert, fix!).
Fredy langsung melotot, "Mas... sumpah... ini Albert mabok ketan atau gimana pas nulis?!"
Aku cuma ngakak sambil elus perut.
"Tenang Fred, ini kan demi inovasi. Mungkin nanti kita butuh bom aroma sate buat musuh yang doyan makan malam," kataku sambil cengar-cengir.
Fredy lanjut ke huruf C, mukanya makin kayak mahasiswa habis ujian skripsi.
Capit kepiting bionic asam manis (kenapa harus asam manis? Kenapa nggak original?).
Cangkir teh otomatis refill (lah, ini sih enak!).
Cumi-cumi ninja mini, mainan (lah, ninja lagi... kenapa cumi-cumi?).
Fredy nutup buku sambil nepuk jidat. "Mas... aku ngintai enam hari tanpa tidur aja sanggup. Tapi ngafalin kamus ini... rasanya lebih berat dari nyelam sendirian di laut Jawa," katanya setengah nangis.
Albert muncul entah dari mana, bawa solder di tangan.
"Halah... jangan protes lah. Aku ahli bikin alat, bukan ahli bikin nama barang. Aku random aja, biar lebih variatif," katanya santai sambil ketawa kayak setan abis dapet THR.
Fredy melotot. "Variatif?! Lah ini namanya bikin pusing, Bang!"
Aku samperin Fredy, tepuk pundaknya pelan. "Fred... santai. Anggap aja ini kayak main tebak-tebakan. Kalau nanti kamu kepepet, tinggal sebut apa aja, paling keluar bom sate, ya kan?"
Fredy menghela napas panjang, akhirnya duduk sambil buka kamus lagi.
"A... B... C... Tuhan... semoga bisa hafal sebelum portal kebuka penuh," gumamnya sambil ngelus jidat.
Aku cuma ngakak keras, sambil elus pedang elf.
Dalam hati, aku bilang. Kalau Fredy bisa hafal semua ini, dia pantas dapet gelar profesor tas dwarf absurd internasional.
Dan malam itu, di geladak kapal yang berderak kena ombak, kami semua duduk bareng.
Aku, Fredy, Albert, Dedy, Dina, Agus... semua menatap langit. Sambil nunggu portal yang kapan aja bisa mangap. Dan sambil nunggu Fredy hafal bom sate, asinan Mang Ucup, sama cumi ninja.
Other Stories
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...